Bab. 15

"Yang Mulia lihat ini! Sepertinya baru saja ada perkelahian, banyak darah. Tapi, di mana mayatnya?" Mereka terkejut dan sedikit bingung.

Kemudian mereka mencari ke arah mana darah terbanyak curah, maka di sekitar situ akan ada mayat.

"Lihat! Ini Macan kumbang!" Seru dari asistennya.

Kemudian pengeran pertama mendekat dan membolak balik mayat macan itu. Dia merasa kagum atas orang yang telah membunuh macan tersebut. Karena ini adalah pembunuhan jarak dekat, yang bisa membahayakan pelaku juga.

"Ini luka baru, ini bukan perkelahian antar hewan, tapi manusia. Lihat bagian leher dan perut, di tusuk dengan senjata tajam. Luka di leher kecil tapi dalam dan pas di urat nafasnya, sementara di bagian perut ini pas di jantungnya. Ini pekerjaan seorang profesional." jelas pangeran pertama.

"Mulutnya berdarah yang mulia, apakah orang itu juga terluka?" Dia memperhatikan ada beberapa daging tertinggal di gigi macan tersebut.

"Sepertinya benar, mungkin lukanya dalam. Kalau begitu dia tidak akan jauh dari sini. Coba perhatikan darah yang menetes di tanah atau dedaunan, dia pasti lewat dari situ. Mungkin saja dia mengalami kesulitan dan memerlukan bantuan." Ucap Pengeran pertama.

Kemudian pengawalnya itu memperhatikan sekitar dengan seksama, dan melihat beberapa daun semak ada darah yang menempel di atasnya.

"Yang mulia, lewat sini!" Panggil asistennya dengan melambaikan tangannya. Dia menahan suaranya agar tidak terlalu ribut.

Kemudian mereka mengikuti ceceran darah yang di tanah ataupun daun. Tiba - tiba mereka mendengar suara air. Ternyata jejak darah tersebut menuju ke arah sungai.

"Yang mulia sepertinya dia menuju sungai, mari kita dekati."

"sebaiknya kita manjat pohon agar tidak ketahuan." Baili Changhe juga merasa agak canggung jika bertemu secara langsung

"Baik yang mulia." Pengawalnya tersebut menggangguk.

Mereka melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lain dan tiba di dekat sungai. Mereka sangat terkejut karena yang mereka lihat seorang wanita yang tidak memakai baju.

"Tang Yu, balikkan badanmu, jangan melihat sebelum aku suruh." Ucapnya dengan cepat, sebelum pengawal pribadinya itu menatap dengan sempurna.

"Baik yang mulia." ucapnya dengan wajah yang menghitam.

Ya, di sungai tersebut adalah Ling Nana yang sedang membersihkan dirinya.

Dia membuka seluruh pakaiannya dan beredam di air, hanya saja dia dalam posisi membelakangi pengeran pertama.

Ling Nana menumpuk seluruh rambutnya di pundak sebelah kanan. Jadi pungungnya sangat ter ekpos sampai ke pinggang, karena bagian bawahnya terendam di dalam air sungai.

Dia mulai membersihkan lukanya dengan berlahan.

Pangeran pertama memperhatikan lukanya dengan seksama.

'Luka itu tembus kedepan, bagaimana dia bisa menahannya? Siapa dia? Mengapa berani melawan hewan beringas itu?'

Pangeran pertama merasa kagum terhadap wanita di depannya yang sangat pemberani.

Sementara Popo meletakkan semua peralatan medis yang di butuhkan Ling Nana di sebuah batu yang ada di depan Nana.

Semuanya di tukar dengan koin emasnya. Pertama - tama dia menyuntikkan obat bius lokal di area tubuhnya yang luka.

Luka yang paling besar ada di bawah bahunya, sedangkan di lengannya kulit dan daging yang tecabik gigi macan kumbang.

Dia menunggu beberapa menit setelah lengan atasnya tidak merasakan apa - apa dia mulai menyemprotkan antiseptik setelah itu menjahit lukanya.

Pangeran pertama sangat heran dengan apa yang di lakukan wanita itu.

'dia menjahit? Kenapa kulitnya dia buat seperti kain yang di jahit? Apakah itu tidak sakit?' dia sendiri sudah merasa ngilu di kaki dan kupingnya melihat adegan itu.

Walaupun dia sering berkelahi dan melawan musuh, tapi kalau melihat yang seperti ini dia merinding juga. Karena ini di lukai secara berlahan, pasti lebih sakit dari yang langsung di tebas.

Setelah Ling nana selesai menjahit lukanya, dia menutupnya dengan kain kasa dan membalut semua lukanya agar nanti tidak terkena basah lagi.

Dia meminta popo memberinya handuk, dan dia berdiri, ternyata dia tadi duduk di dasar sungai karena setelah berdiri ukuran air itu hanya sebatas dengkulnya saja.

Ilustrasi Lin Nana

Terpopuler

Comments

Eka Haslinda

Eka Haslinda

gak benner pangeran pertama.. ngintip mbak selir mandi.. wkwkwkwk

2025-01-14

0

Kardi Kardi

Kardi Kardi

KEPINCUT KAU BROOOO

2025-03-21

1

☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️

☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️

awas bintitan 🤣🤣🤣

2025-03-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1 Mati tertabrak mobil
2 Bab. 2 Hidup di dunia lain sebagai Selir
3 Bab. 3 Meminta Yan Sing untuk tinggal bersama
4 Bab. 4 Ruang Portble terbuka.
5 Bab. 5 Yan Sing sadar
6 Bab. 6
7 Bab. 7 Rencana membuat lahan pertanian
8 Bab. 8 Memiliki Dua Misi
9 Bab. 9 Mulai bertani
10 Bab. 10 Menyelesaikan satu Misi
11 Bab. 11
12 Bab. 12 Daging bakar pertama di istana dingin
13 Bab. 13 Bertemu Macan Kumbang
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16 Macan Kumbang akhirnya mati.
17 Bab. 17 Penasaran
18 Bab. 18 Penyesalan Putra Mahkota
19 Bab. 19 Mencari Tabib Lu
20 Bab. 20
21 Bab. 21 Sidang 1
22 Bab. 22
23 Bab. 23 Saksi terakhir
24 Bab. 24 Kebohongan Selir Tang terbongkar.
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27 Menolak menceraikan Selir Ling
28 Bab. 28 Bercerai.
29 Bab. 29 Panen
30 Bab. 30 Luka gigitan terinfeksi
31 Bab. 31 Sungguh tragis nasib adikku
32 Bab. 32 Kekacauan di kamar Ling Nana
33 Bab. 33 Ling Nana sadar
34 Bab. 34 Dekrit Kaisar
35 Bab. 35 Ingin mengetahui rahasia tersembunyi
36 Bab. 36 Mencari pria untuk masa depan
37 Bab. 37 Rencana Jendral kembali ke perbatasan.
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63 Mengoperasi mata penatua He
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81 Pemberian Nama kepada pengawal pribadi Ling Nana
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85 Membebaskan para sandera (1)
86 Bab. 86 Pembebasan para sandera (2)
87 Bab. 87 Membinasakan penyihir di desa kunli
88 Bab. 88 Anak-anak korban sekapan, pertama kali menikmati matahari
89 Bab. 89 Kembali ke utara (1)
90 Bab. 90 Kembali ke utara (2)
91 Bab. 91 Pembuatan jalan baru menuju bendungan.
92 Bab. 92 Membeli tanah di desa Kunli
93 Bab. 93 Kembali ke ibu kota (1)
94 Bab. 94 Kembali ke ibu kota (2)
95 Bab. 95 Mengapa permaisuri sangat menyebalkan.
96 Bab. 96 Surat dari perbatasan
97 Bab. 97 Kemarahan permaisuri atas kepergian Ling Nana ke perbatasan.
98 Bab. 98 Melihat luka paman Ling
99 Bab. 99 Mengoperasi Jendral Ling
100 Bab. 100 Keberuntungan di keluarga
101 Bab. 101 Rencana melengserkan Putra Mahkota
102 Bab. 102 Rencana ikut perang
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 Bab. 107
108 Bab 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab. 124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128
129 Bab. 129
130 Bab. 130
131 Bab. 131
132 Bab. 132
133 Bab. 133
134 Bab. 134
135 Bab. 135
136 Bab. 136
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
141 Bab. 141
142 Bab. 142
143 Bab. 143
144 Bab. 144
145 Bab. 145
146 Bab. 146
147 Bab. 147
148 Bab. 148
149 Bab. 149
150 Bab. 150
151 Bab. 151
152 Bab. 152
153 Bab. 153
154 Bab. 154
155 Bab. 155
156 Bab. 156
157 Bab. 157
158 Bab. 158
159 Bab. 159
160 Bab. 160
161 Bab. 161
Episodes

Updated 161 Episodes

1
Bab. 1 Mati tertabrak mobil
2
Bab. 2 Hidup di dunia lain sebagai Selir
3
Bab. 3 Meminta Yan Sing untuk tinggal bersama
4
Bab. 4 Ruang Portble terbuka.
5
Bab. 5 Yan Sing sadar
6
Bab. 6
7
Bab. 7 Rencana membuat lahan pertanian
8
Bab. 8 Memiliki Dua Misi
9
Bab. 9 Mulai bertani
10
Bab. 10 Menyelesaikan satu Misi
11
Bab. 11
12
Bab. 12 Daging bakar pertama di istana dingin
13
Bab. 13 Bertemu Macan Kumbang
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16 Macan Kumbang akhirnya mati.
17
Bab. 17 Penasaran
18
Bab. 18 Penyesalan Putra Mahkota
19
Bab. 19 Mencari Tabib Lu
20
Bab. 20
21
Bab. 21 Sidang 1
22
Bab. 22
23
Bab. 23 Saksi terakhir
24
Bab. 24 Kebohongan Selir Tang terbongkar.
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27 Menolak menceraikan Selir Ling
28
Bab. 28 Bercerai.
29
Bab. 29 Panen
30
Bab. 30 Luka gigitan terinfeksi
31
Bab. 31 Sungguh tragis nasib adikku
32
Bab. 32 Kekacauan di kamar Ling Nana
33
Bab. 33 Ling Nana sadar
34
Bab. 34 Dekrit Kaisar
35
Bab. 35 Ingin mengetahui rahasia tersembunyi
36
Bab. 36 Mencari pria untuk masa depan
37
Bab. 37 Rencana Jendral kembali ke perbatasan.
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63 Mengoperasi mata penatua He
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81 Pemberian Nama kepada pengawal pribadi Ling Nana
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85 Membebaskan para sandera (1)
86
Bab. 86 Pembebasan para sandera (2)
87
Bab. 87 Membinasakan penyihir di desa kunli
88
Bab. 88 Anak-anak korban sekapan, pertama kali menikmati matahari
89
Bab. 89 Kembali ke utara (1)
90
Bab. 90 Kembali ke utara (2)
91
Bab. 91 Pembuatan jalan baru menuju bendungan.
92
Bab. 92 Membeli tanah di desa Kunli
93
Bab. 93 Kembali ke ibu kota (1)
94
Bab. 94 Kembali ke ibu kota (2)
95
Bab. 95 Mengapa permaisuri sangat menyebalkan.
96
Bab. 96 Surat dari perbatasan
97
Bab. 97 Kemarahan permaisuri atas kepergian Ling Nana ke perbatasan.
98
Bab. 98 Melihat luka paman Ling
99
Bab. 99 Mengoperasi Jendral Ling
100
Bab. 100 Keberuntungan di keluarga
101
Bab. 101 Rencana melengserkan Putra Mahkota
102
Bab. 102 Rencana ikut perang
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
Bab. 107
108
Bab 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab. 124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128
129
Bab. 129
130
Bab. 130
131
Bab. 131
132
Bab. 132
133
Bab. 133
134
Bab. 134
135
Bab. 135
136
Bab. 136
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140
141
Bab. 141
142
Bab. 142
143
Bab. 143
144
Bab. 144
145
Bab. 145
146
Bab. 146
147
Bab. 147
148
Bab. 148
149
Bab. 149
150
Bab. 150
151
Bab. 151
152
Bab. 152
153
Bab. 153
154
Bab. 154
155
Bab. 155
156
Bab. 156
157
Bab. 157
158
Bab. 158
159
Bab. 159
160
Bab. 160
161
Bab. 161

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!