Bab. 9 Mulai bertani

Kemudian dia memperhatikan pedang yang tergeletak, dia juga merasa senang karena pedang yang dia terima berkualitas bagus.

Begitu juga dengan belati dan perlatan lainnya, semua yang terbaik. Memang barang- barang dari ruang portable semuanya barang berkualitas tinggi. Tidak percuma di bayar mahal dengan emas.

Tak berapa lama pelayannya masuk membawa beberapa roti yang masih tersisa dari hari yang kemaren malam.

"Kenapa kamu tak memakan roti itu Yan sing?" Tanya Ling Nana menatap pelayannya tersebut.

"Saya sudah memakannya tadi pagi nyonya." Jawabnya, merasa tidak enak hati jika dia memakan semuanya. Karena Nyonyanya pasti lapar juga.

"Ya sudah simpan aja untukmu, aku masih ada di kamar."

"Oh begitu ya, eh? Dari mana ini semua nyonya?"

"Hmm, ada yang mengantar tadi dari paman jendralku." Ling Nana memberi alasan yang bisa di terima akal, karena dia tidak mungkin mengatakan terus terang.

Ling Nana memperhatikan Popo dan Yan Sing bergantian.

'Apakah dia tidak melihat Popo?' bisiknya dalam hati.

"orang lain tidak bisa melihat saya tuan" ucap popo yang mendengar suara hati Ling Nana.

Dia hanya mengangguk kecil mendengar perkataan Popo tersebut. Dia tidak ingin bertindak gegabah yang nantinya malah membuat pelayannya itu kebingungan.

"Yan sing, hari ini kita akan menanam beberapa bibit ini. Agar nantinya kita tidak kelaparan di hari - hari berikutnya."

"Baik nyonya." Dia menyetujuinya tanpa bertanya dari mana bibit tersebut di peroleh.

Karena hari masih panjang mereka mulai mencangkul di halaman belakang. Menggemburkan tanah agar ketang dan lobak serta ubi bisa memiliki buah yang banyak.

Sedangkan padi dan jagung cukup mereka lubangi saja dan memasukkan bibit.

Jenis padi ini, padi yang bisa di tanam di darat tanpa rendaman air. Biasanya pohonnya tidak terlalu tinggi, sering di sebut padi darat atau padi gogo dan kadang padi huma.

Dan dia bertumbuh hampir sama dengan jagung tidak memerlukan terlalu banyak air yang berlebihan.

Mereka tidak bisa menyelesaikannya selama sehari, karena menggemburkan itu yang memakan waktu.

Setelah 3 hari baru mereka selesai menanam semuanya bibit yang di beli di ruang portabel.

Dan bawang yang dia beli juga beberpa dia tanam agar bahan - bahan mereka tidak langsung habis.

Dari cabe yang dia beli juga, bijinya dia keringkan dan di tanam.

Di sela - sela istirahat ketika masa penanaman bibit dia selalu menyerut beberapa batang bambu yang akan dia gunakan menjadi anak panah.

Di area istana dingin itu ada 2 sumur yang berfungsi, satu di area dapur dan yang satunya ada di belakang dekat mereka menanam bahan pokok tersebut.

Awalnya sumur itu di tumbuhi rumput yang lebat dan mereka tidak mengira bahwa itu sumur. Ketika mereka membersihkan dan ternyata sumur itu berisi air yang jernih dan melimpah yang hampir sampai ke bibir sumur.

Hanya saja dia harus memagari sumur tersebut dengan batang - batang kayu agar tidak terjatuh atau terpeleset.

Ya, sumur itu hanya berupa lubang saja tanpa ada tembok yang mengelilingi dan jika tidak sadar dalam melangkah bisa masuk ke dalam.

Jadi Ling nana memagarinya sekeliling dengan pagar kayu, karena dia belum memiliki batu dan semen untuk menembok keliling.

Jadi berkat sumur ini mereka menjadi mudah untuk menyirami tanaman yang mereka tanam.

Hari sudah sore dan dia menghentikan aktifitas pertaniannya dan mengajak pelayannya masuk ke kastil dan membersihkan tubuh.

Selesai mereka makan malam, mereka duduk di ruang tengah sambil minum teh.

"Yan sing, besok kamu seperti bisa ya, menyiram tanaman pagi dan sore. Karena saya besok berencana memanjat tembok dan berburu di dalam hutan di belakang tembok ini."

"Nyonya, saya ikut menemani nyonya ya, Takutnya nanti anda kenapa - kenapa nyonya." Dia kuatir dengan tuannya ini jika pergi sendirian.

"Tidak perlu, kamu tunggu saja di sini. Saya akan baik - baik saja"

Dengan wajah lesu dia menuruti keinginan tuannya itu. Walau hatinya tidak setuju, tapi dia tidak bisa membantah.

Hutan terlihat dari atas tembok istana

Terpopuler

Comments

kompiang sari

kompiang sari

kirim visual Ling Nana donk thor

2025-02-28

2

sihat dan kaya

sihat dan kaya

kan kau punya rambut purple Popo? aku boleh lihat looorrr. ... hahahahahhaahaha

2024-12-02

1

fitriani

fitriani

astaga kirain ma hutannya gmn gitu ternyata lebat bgt hutannya.... malah bikin ngeri....

2024-11-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1 Mati tertabrak mobil
2 Bab. 2 Hidup di dunia lain sebagai Selir
3 Bab. 3 Meminta Yan Sing untuk tinggal bersama
4 Bab. 4 Ruang Portble terbuka.
5 Bab. 5 Yan Sing sadar
6 Bab. 6
7 Bab. 7 Rencana membuat lahan pertanian
8 Bab. 8 Memiliki Dua Misi
9 Bab. 9 Mulai bertani
10 Bab. 10 Menyelesaikan satu Misi
11 Bab. 11
12 Bab. 12 Daging bakar pertama di istana dingin
13 Bab. 13 Bertemu Macan Kumbang
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16 Macan Kumbang akhirnya mati.
17 Bab. 17 Penasaran
18 Bab. 18 Penyesalan Putra Mahkota
19 Bab. 19 Mencari Tabib Lu
20 Bab. 20
21 Bab. 21 Sidang 1
22 Bab. 22
23 Bab. 23 Saksi terakhir
24 Bab. 24 Kebohongan Selir Tang terbongkar.
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27 Menolak menceraikan Selir Ling
28 Bab. 28 Bercerai.
29 Bab. 29 Panen
30 Bab. 30 Luka gigitan terinfeksi
31 Bab. 31 Sungguh tragis nasib adikku
32 Bab. 32 Kekacauan di kamar Ling Nana
33 Bab. 33 Ling Nana sadar
34 Bab. 34 Dekrit Kaisar
35 Bab. 35 Ingin mengetahui rahasia tersembunyi
36 Bab. 36 Mencari pria untuk masa depan
37 Bab. 37 Rencana Jendral kembali ke perbatasan.
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63 Mengoperasi mata penatua He
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81 Pemberian Nama kepada pengawal pribadi Ling Nana
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85 Membebaskan para sandera (1)
86 Bab. 86 Pembebasan para sandera (2)
87 Bab. 87 Membinasakan penyihir di desa kunli
88 Bab. 88 Anak-anak korban sekapan, pertama kali menikmati matahari
89 Bab. 89 Kembali ke utara (1)
90 Bab. 90 Kembali ke utara (2)
91 Bab. 91 Pembuatan jalan baru menuju bendungan.
92 Bab. 92 Membeli tanah di desa Kunli
93 Bab. 93 Kembali ke ibu kota (1)
94 Bab. 94 Kembali ke ibu kota (2)
95 Bab. 95 Mengapa permaisuri sangat menyebalkan.
96 Bab. 96 Surat dari perbatasan
97 Bab. 97 Kemarahan permaisuri atas kepergian Ling Nana ke perbatasan.
98 Bab. 98 Melihat luka paman Ling
99 Bab. 99 Mengoperasi Jendral Ling
100 Bab. 100 Keberuntungan di keluarga
101 Bab. 101 Rencana melengserkan Putra Mahkota
102 Bab. 102 Rencana ikut perang
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 Bab. 107
108 Bab 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab. 124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128
129 Bab. 129
130 Bab. 130
131 Bab. 131
132 Bab. 132
133 Bab. 133
134 Bab. 134
135 Bab. 135
136 Bab. 136
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
141 Bab. 141
142 Bab. 142
143 Bab. 143
144 Bab. 144
145 Bab. 145
146 Bab. 146
147 Bab. 147
148 Bab. 148
149 Bab. 149
150 Bab. 150
151 Bab. 151
152 Bab. 152
153 Bab. 153
154 Bab. 154
155 Bab. 155
156 Bab. 156
157 Bab. 157
158 Bab. 158
159 Bab. 159
160 Bab. 160
161 Bab. 161
Episodes

Updated 161 Episodes

1
Bab. 1 Mati tertabrak mobil
2
Bab. 2 Hidup di dunia lain sebagai Selir
3
Bab. 3 Meminta Yan Sing untuk tinggal bersama
4
Bab. 4 Ruang Portble terbuka.
5
Bab. 5 Yan Sing sadar
6
Bab. 6
7
Bab. 7 Rencana membuat lahan pertanian
8
Bab. 8 Memiliki Dua Misi
9
Bab. 9 Mulai bertani
10
Bab. 10 Menyelesaikan satu Misi
11
Bab. 11
12
Bab. 12 Daging bakar pertama di istana dingin
13
Bab. 13 Bertemu Macan Kumbang
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16 Macan Kumbang akhirnya mati.
17
Bab. 17 Penasaran
18
Bab. 18 Penyesalan Putra Mahkota
19
Bab. 19 Mencari Tabib Lu
20
Bab. 20
21
Bab. 21 Sidang 1
22
Bab. 22
23
Bab. 23 Saksi terakhir
24
Bab. 24 Kebohongan Selir Tang terbongkar.
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27 Menolak menceraikan Selir Ling
28
Bab. 28 Bercerai.
29
Bab. 29 Panen
30
Bab. 30 Luka gigitan terinfeksi
31
Bab. 31 Sungguh tragis nasib adikku
32
Bab. 32 Kekacauan di kamar Ling Nana
33
Bab. 33 Ling Nana sadar
34
Bab. 34 Dekrit Kaisar
35
Bab. 35 Ingin mengetahui rahasia tersembunyi
36
Bab. 36 Mencari pria untuk masa depan
37
Bab. 37 Rencana Jendral kembali ke perbatasan.
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63 Mengoperasi mata penatua He
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81 Pemberian Nama kepada pengawal pribadi Ling Nana
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85 Membebaskan para sandera (1)
86
Bab. 86 Pembebasan para sandera (2)
87
Bab. 87 Membinasakan penyihir di desa kunli
88
Bab. 88 Anak-anak korban sekapan, pertama kali menikmati matahari
89
Bab. 89 Kembali ke utara (1)
90
Bab. 90 Kembali ke utara (2)
91
Bab. 91 Pembuatan jalan baru menuju bendungan.
92
Bab. 92 Membeli tanah di desa Kunli
93
Bab. 93 Kembali ke ibu kota (1)
94
Bab. 94 Kembali ke ibu kota (2)
95
Bab. 95 Mengapa permaisuri sangat menyebalkan.
96
Bab. 96 Surat dari perbatasan
97
Bab. 97 Kemarahan permaisuri atas kepergian Ling Nana ke perbatasan.
98
Bab. 98 Melihat luka paman Ling
99
Bab. 99 Mengoperasi Jendral Ling
100
Bab. 100 Keberuntungan di keluarga
101
Bab. 101 Rencana melengserkan Putra Mahkota
102
Bab. 102 Rencana ikut perang
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
Bab. 107
108
Bab 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab. 124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128
129
Bab. 129
130
Bab. 130
131
Bab. 131
132
Bab. 132
133
Bab. 133
134
Bab. 134
135
Bab. 135
136
Bab. 136
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140
141
Bab. 141
142
Bab. 142
143
Bab. 143
144
Bab. 144
145
Bab. 145
146
Bab. 146
147
Bab. 147
148
Bab. 148
149
Bab. 149
150
Bab. 150
151
Bab. 151
152
Bab. 152
153
Bab. 153
154
Bab. 154
155
Bab. 155
156
Bab. 156
157
Bab. 157
158
Bab. 158
159
Bab. 159
160
Bab. 160
161
Bab. 161

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!