Chapter 18

Keesokan harinya.

Axel bangun pagi-pagi untuk pergi ke rumah orang tuanya dulu. Rumah Axel jauh lebih besar da mewah daripada rumah di apartemennya. Axel masuk ke dalam rumahnya dan semua pekerja disana terkejut melihat Axel karena sudah 16 tahun mereka tidak melihat Axel.

"Tuan Axel.." Lirih bibik yang merawat Axel sejak kecil itu.

Axel tersenyum ke bibik Ratih, dia memegang kedua tangan wanita 60 tahun itu.

"Iya ini aku bibik, aku pulang." Jawab Axel sambil tersenyum.

"Tuan...." Teriaknya dengan histeris lalu dia memeluk Axel dengan erat dan Ratih juga meneteskan air matanya, dia senang bisa melihat Axel kembali di rumah ini lagi setelah Axel di rumorkan meninggal oleh keluarganya sendiri.

Lalu Ratih melepaskan pelukannya, "Tuan baik-baik saja kan?" Tanya bibik itu dengan cemas.

"Iya aku baik-baik saja, seperti yang bibik lihat sekarang." Jawab Axel dengan tersenyum.

Ratih menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, dia terus memegangi lengan Axel karena dia masih tidak menyangka dengan kehadiran Axel disini.

"Siapa ini tamu tidak diundang ini..." Ucap seorang wanita berusia 50 tahun, dia bernama Rose, dia adalah ibu tiri Axel yang membuat Axel terusir dari rumahnya sendiri 16 tahun yang lalu.

Axel menoleh ke Rose dengan tatapan datarnya.

"Kamu semakin tampan ya anakku," Ucap Rose sambil tersenyum dia mau menyentuh pipi Axel tapi Axel menghindarinya.

"Upssss...oke.." Ucap Rose sambil tersenyum.

"Dimana papa?" Tanya Axel dengan wajah datarnya.

"Tentu saja di kantor, kenapa kau mencarinya kau mau kena pukulan lagi, apa masih kurang pukulan yang dulu itu?" Tanya Rose dengan heran.

Axel tersenyum sinis.

"Bagaimana kabar putra manjamu itu? dia tidak mati kan?" Tanya Axel dengan heran.

Rose mengerutkan keningnya dengan heran.

"Ya kalau kau ingat kau menuduhku meracuni putramu itu padahal dia sendiri minum nar-"

"Axel!" Sahut Rose dengan kesal.

Axel tersenyum kecil, dia tahu Rose takut jika semua orang tahu kebusukan putranya itu.

"Aku akan menunggu papa pulang, sekalian aku akan bicara tentang hal penting ke kalian semua. Bibik Ratih, kamarku masih ada sekarang?" Tanya Axel sambil tersenyum ke Ratih.

"Tentu saja tuan, saya membersihkan kamar anda setiap hari." Jawab Ratih sambil tersenyum.

"Terimakasih bibik, aku ke kamar dulu ya." Pamit Axel lalu dia naik lift menuju ke lantai atas karena kamarnya berada di lantai 3.

Rose mengepalkan tangannya dengan kesal.

"Kenapa dia harus kembali," Gumam Rose dengan kesal.

Axel masuk ke dalam kamarnya, dia merasa rindu dengan kamar yang sudah ia tinggalkan selama 16 tahun ini. Semua tidak ada yang berubah, dan dia senang karena Ratih masih menjaga kamarnya ini.

Axel menekan tombol di dekat lukisan dindingnya itu dan dindingnya terbuka menjadi dua. Axel masuk ke dalam dia tersenyum melihat ruang privasinya masih ada. Di ruangan itu ada rak besar untuk buku-buku Axel, ada alat musik, dan juga alat lukis disana. Axel sejak kecil sering menghabiskan waktu sendirian di ruangan ini dan Ivan sering juga main ke sini.

"Vani akan suka dengan ruangan penuh buku ini, Vyan juga akan senang dengan alat musik disini, dia bisa bermain dengan teman-temannya." Gumam Axel dengan senang.

Lalu Axel membuka laci di meja sebelah sofa itu, dia membuka buku catatannya. Dan di sana ada kertas berbentuk bunga dan di kertas itu ada foto tangannya dengan Keara yang bergandengan, Axel tersenyum kecil.

"Sejak kapan dia memasukan ini disini," Gumam Axel dengan heran. Axel mengambil bunga kertas itu dan menyimpannya. Dan Axel membaca buku catatannya, semua catatannya hanya tertulis bagaimana dia terluka.

Hari Kamis, dia mendapat luka cambukan dari papanya karena membuat adik tirinya menangis, hari Jumat dia di hukum mama tirinya di kamar mandi, Axel menutup bukunya. Lalu dia menyimpan buku ini di laci lagi.

.

Rumah Keara.

Keara sudah berangkat ke kedai sejak pagi, dan mereka juga sudah bangun dan sarapan bersama tadi. Sekarang Vyan bersiap untuk pergi, dia ingin ke rumah Aldo untuk memastikan Aldo baik-baik saja.

"Kenapa pergi kesana segala?" Tanya Vani dengan heran.

"Kenapa? kau kesepian tidak ada aku?" Goda Vyan.

"Cihh..." Jawab Vina dengan kesal lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Vyan menghela nafas dengan kesal.

"Gengsi banget sih bilang iya," Gumam Vyan, lalu Vyan segera pergi ke rumah Aldo.

Sedangkan Vina hanya duduk di kamarnya, dia sebenarnya ingin mengajak Vyan ke rumah Axel lagi.

"Kenapa aku sangat ingin bertemu pak Gavin," Gumam Vina dengan heran.

.

Rumah Axel.

Malam harinya.

Axel keluar dari kamarnya saat jam 7, karena dia tahu jam 7 waktu mereka untuk makan malam. Axel turun dengan lift di rumahnya dan menuju ke meja makan.

"Papa." Panggil Axel.

"Axel..." Sontak pria berusia 65 tahun itu dengan terkejut, dia adalah Andre Walter, dia adalah papa Axel.

"Kak Axel..." Lirih Dito dengan terkejut, dia adalah adik tiri Axel yang berusia 25 tahun. Rose menghela nafas dengan kesal melihat Axel.

Lalu Axel ikut duduk dengan mereka.

"Aku kangen masakan rumah," Gumam Axel sambil memperhatikan makanan-makanan itu.

"Kak Axel bagaimana bisa..." Gumam Dito dengan heran.

"Bagaimana kabarmu Dito?" Tanya Axel sambil tersenyum. Dito terlihat canggung dengan Axel.

"Ba.baik." Jawabnya.

"Axel kenapa kau kembali?" Tanya Andre dengan nada dingin. Axel menoleh ke papanya dia tahu jika dia tidak akan di sambut di keluarga ini lagi, dia sedih karena papanya juga masih membenci dirinya.

"Aku masih bagian dari keluarga ini, jadi aku kesini untuk tinggal di tempatku." Jawab Axel dengan nada datarnya.

"Apa kau lupa kau sudah tidak aku anggap anak lagi!!!!" Bentak Andre dengan kesal.

"Tentu saja tahu. Dan meskipun begitu aku tetap bagian dari keluarga ini." Jawab Axel dengan santai.

"Kau kesini karena uangmu habis kah?" Tanya Rose sambil tersenyum kecil.

"Uangku tidak akan habis, karena semua yang disini sudah atas namaku." Jawab Axel.

Mereka bertiga mengerutkan keningnya dengan heran.

"Axel!!!!! kau jangan kurang ajar ke orang tuamu!" Bentak Andre dengan kesal.

"Papa bilang aku tidak dianggap anak, jadi apa aku tetap salah seperti ini. Dulu aku sangat nurut ke papa, papa tetap selalu salahkan aku sekarang aku seperti ini papa tetap menyalahkan aku." Ucap Axel dengan heran.

"Apa sebenarnya tujuan kakak kesini?" Tanya Dito dengan heran.

"Aku ingin memberitahu kalian kalau umurku sudah 30 tahun lewat, dan sesuai dengan wasiat keluarga ini jika aku umur 30 tahun semua aset milik mama akan menjadi miliku. Dengan kata lain selama ini kalian menumpang di rumah mamaku." Ucap Axel.

"Axellll....." Teriak Andre dengan kesal.

"Aku akan mengambil semua yang dari awal memang milikku!" Ucap Axel dengan tatapan tajamnya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!