Chapter 14

"Kau siapa?" Tanya Dion dengan heran.

"Berbaliklah mereka semua menyambutmu." Ucap Axel, lalu Dion membalikan badannya dan dia terkejut karena melihat beberapa polisi yang datang kesini.

"Sejak kapan mereka disini," Gumam Keara dengan heran.

"Menyerahlah, kita juga sudah menangkap bosmu itu." Ucap Leon sambil tersenyum.

Dion berdecih tersenyum, lalu dia mengulurkan kedua tangannya ke Leon.

"Bawa saja aku, lagipula rencanaku hampir berhasil." Ucap Dion dengan senang.

"Apa maksudmu sialan, udah bawa dia dulu." Ucap Leon dengan kesal, lalu mereka membawa Dion keluar.

Leon mengacungkan jempolnya ke Axel, dan Axel hanya diam saja lalu Leon pergi keluar agar mereka berdua bisa berbincang-bincang.

Tapi tidak sesuai ekspetasi Leon, justru Alex pergi begitu saja tapi Keara menahan tangan Axel.

"Tunggu!" Ucap Keara.

Axel sontak terkejut karena Keara memegang tangannya, dan Axel tidak ingin menoleh ke belakang meskipun dia sudah memakai masker dan topi.

"Kau yang pria yang kemarin kan?" Tanya Keara dengan heran.

Axel hanya diam, lalu dia melepaskan tangan Keara yang memegang tanganya itu.

"Kau sudah aman." Ucap Axel.

"Bukan itu, aku heran saja kenapa kau bisa tahu kalau anakku namanya Vyan dan rumahku berada disana. Kau ini sebenarnya siapa?" Tanya Keara dengan heran.

Axel hanya diam, dia tetap tenang meskipun dia tidak tahu harus menjawab Keara dengan bagaimana.

"Kau sudah aman." Jawab Axel lalu dia pergi begitu saja, Keara kesal karena Keara berlari mengejar Axel, dia beridiri di depan pintu sebelum Axel sampai disana, dan Axel langsung menurunkan topinya agar matanya tertutupi.

"Siapa sih kau sebenarnya, kenapa kau tahu tentang aku??" Tanya Keara dengan kesal.

Axel menghela nafas dengan kesal.

"Keara..." Panggil Ivan.

Axel melebarkan matanya dengan terkejut mendengar suara Ivan dari luar, dan dengan cepat dia mendorong Keara dengan pelan agar dia bisa keluar.

"Ehh malah kabur," Ucap Keara dengan kesal.

"Siapa itu?" Tanya Ivan dengan heran.

"Entahlah, Ivan tadi disini ada kejadian tak terduga..." Ucap Keara dengan kesal.

"Apa? ada apa? ada apa?" Tanya Ivan dengan heboh.

Axel bernafas dengan lega karena sudah pergi jauh dari kedai Keara, dia melepas masker dan topinya, setelah itu dia mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi.

Dan dia segera pergi ke kantor polisi.

Sedangkan Keara menceritakan semua kejadian kemarin dan tadi ke Ivan, dan Ivan sangat terkejut mendengarnya.

"Kita harus lapor polisi itu namanya teror." Ucap Ivan dengan kesal.

"Tapi kayaknya pria itu juga polisi deh, tapi kenapa dia misterius banget dan anehnya dia tahu tentang aku lagi...." Ucap Keara.

Ivan diam sejenak sambil memikirkan sesuatu, dia merasa aneh dengan semua cerita dari Keara.

"Dan kenapa juga pria itu mau melukaiku, memangnya apa hubungannya sama aku ya," Ucap Keara dengan heran.

"Keara kenapa kau tidak pindah tempat kerja saja soalnya aku takut jika pria itu kembali lagi." Ucap Ivan dengan cemas.

Keara tersenyum kecil, lalu dia menepuk pundak Ivan. "Kau pikir aku siapa, aku tidak akan takut dengan hal seperti itu." Jawab Keara.

Ivan menghela nafas, "Kenapa susah sekali sih kau ini." Gumam Ivan dengan kesal.

.

Kantor polisi!

Axel masuk ke dalam ruang intrograsi, dan Leon pun berada di dalam ruangan itu.

"Wah ternyata kau polisi," Ucap Dion sambil tersenyum sambil melihat Axel, sedangkan Axel hanya diam dia tidak peduli dengan ucapan Dion itu.

"Kenapa kalian pintar sekali sampai tahu aku disana, wah kagum loh aku...tapi sayang sekali itu tetap akan terjadi." Ucap Dion sambil tersenyum.

"Apa maksudmu?" Tanya Leon dengan kesal.

"Kehancuran Eric, itu yang diinginkan tuanku." Jawab Dion sambil tersenyum.

Axel hanya diam dan menatap Dion dengan kesal.

"Besok akan terjadi ledakan besar." Ucap Dion sambil tersenyum ke Axel, dan Axel dengan cepat menendang Dion sampai dia terjatuh.

"Axel..." Sontak Leon dengan terkejut. Axel yakin percuma jika dia bertanya dimana Dion meletakan ledakan itu.

"Kau menanam bom?" Tanya Axel dengan nada datar.

"Pintar. Pak Gavin." Jawab Dion sambil tersenyum. Axel langsung pergi tanpa mengatakan apapun.

"Axell...Axel..." Teriak Leon, lalu dia menghela nafas dengan kesal.

Lalu Leon membantu Dion untuk duduk kembali di kursinya.

"Kau ini ya benar-benar...tapi jangan mengharap ada orang membantumu karena aku sudah menangkap teman-teman geng pengedar narkobamu itu." Ucap Leon sambil tersenyum.

Dion menganggukkan kepalanyaa dengan mengerti.

"Apa hubungan tuanmu itu dengan direktur Eric?" Tanya Leon.

"Apa yang anda cari tahu itu benar semua, motifnya balas dendam." Jawab Dion sambil tersenyum.

Leon menghela nafas dengan kesal.

.

Axel pergi ke sekolahan, dia mencari setiap tempat keberadaan bom itu, bahkan banyak polisi juga disana. Dan Eric datang ke sekolahan itu karena dia diberitahu oleh satpam.

"Pak Gavin?" Tanya Eric dengan terkejut karena Axel ikut dengan mereka.

Axel menoleh ke Eric, "Maaf mengganggu waktu anda," Ucal Axel.

"Iya tentu saja bisa, saya sudah diberitahu oleh polisi sebelumnya, jadi apa benar pak Gavin ini bukan guru asli?" Tanya Eric.

"Iya saya hanya menyamar, maafkan saya." Ucap Axel dengan nada datar.

Eric terus memperhatikan wajah Gavin, sebenarnya dia merasa tidak asing dengan wajah Gavin sejak dulu.

"Saya permisi dulu," Ucap Axel lalu dia melanjutkan pencariannya.

"Dimana aku melihatnya," Gumam Eric dengan heran.

Sampai malam harinya, mereka tidak menemukan apapun padahal polisi disana sudah memakai alat pendeteksi logam juga tapi mereka tidak menemukan apapun sampai sekarang.

"Sial tidak ketemu," Gumam Axel dengan kesal.

"Pak, kalau tidak segera ditemukan bisa bahaya mungkin saja timer bom itu sudah dinyalakan, apa sebaiknya kita suruh para siswa untuk libur dulu?" Tanya polisi lain.

"Jangan. Mereka nanti bisa ketakutan." Ucap Eric.

"Mungkin saja ini hanya gertakan dari paman saya untuk menakuti saya." Ucap Eric.

Axel hanya diam, dan dia berusaha keras untuk memikirkan jalan keluarnya.

"Kita tetap pantau saja sampai besok, bagaimana pak?" Tanya Eric ke Axel.

"Baiklah, kita tunggu besok kita tetap harus memantau." Jawab Axel.

Mereka semua mengangguk setuju. Setelah berunding di tempat itu, para polisi itu bubar. Dan Axel pun bersiap untuk pulang tapi tiba-tiba Eric mengejarnya.

"Tunggu pak..." Panggil Eric.

Axel menoleh ke Eric.

"Ada apa pak?" Tanya Axel dengan heran. Eric tersenyum kecil melihat Axel.

"Saya sudah mengingat-ingat anda dari tadi, wajah anda ini mirip sekali dengan seseorang." Ucap Eric dengan tersenyum senang.

Axel tetap tenang, dia hanya diam dan menatap Eric.

"Setelah sekian lama akhirnya bisa melihatmu." Ucap Eric.

Axel tetap diam.

"Axel ini kau kan?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!