“Ya ampun.”
“Maaf … loh, dokter Lena.”
Lena berdecak manakala pria yang menabraknya adalah Radit. Padahal ia berencana ke kantin untuk menunggu pria itu datang.
“Mau ke mana sih, buru-buru amat.”
“Dok, bantu saya dong. Ini penting banget dan ….”
“Cari tempat dulu deh, sambil duduk. Saya baru saja sampai,” tutur Lena.
Radit menatap sekeliling, melihat deretan bangku tunggu stainless dan koridor yang tidak ramai lalu lalang karena area tersebut biasa digunakan untuk rawat jalan.
“Kita duduk disitu,” ujar Radit menunjuk ke arah kursi.
Radit dan Lena duduk bersisian meskipun berjarak, agak menyerong jadi posisi mereka berhadapan. Lena mendengarkan cerita Radit tentang sosok yang sering mengganggunya juga Deo. Gangguan yang bukan hanya di rumah sakit, tapi juga di rumah. Wanita itu mengernyitkan dahi ketika Radit menyampaikan hubungan sosok yang kerap muncul dengan jenazah tanpa identitas yang ditemukan kepolisian dan masih berada di rumah sakit tersebut.
“Maksud kamu, hantu itu adalah mayat perempuan yang masih ada di ….”
“Iya, betul,” sahut Radit menyela ucapan Lena. “Awalnya saya tidak sadar, tapi saat saya lihat lagi foto di dokumen jenazah. Sangat mirip.”
Tidak kurang informasi yang disampaikan Radit pada Lena, berharap wanita itu bisa membantunya mengurai hubungan antara Deo, dirinya dan hantu tersebut. termasuk Deo yang berada di area ditemukannya jenazah perempuan itu.
“Ada kemungkinan teman kamu yang membunuh perempuan itu,” gumam Lena.
“Saya juga menduga begitu, tapi tidak ada bukti dan saya hanya ingin gangguan ini berakhir,” tutur Radit lalu menghela nafasnya.
“Dia mau jemput malam ini dan teman kamu tidak sadar selalu melukai dirinya. Kalau memang pelakunya teman kamu, hantu itu mau dia juga mati … begitu?”
“Anggaplah begitu, lalu apa hubungannya denganku. Kenapa dia juga ingin aku tanggung jawab dan mengantarnya pulang?”
Lena menggelengkan kepala.
“Kita cek dulu jenazahnya,” ajak Lena dan sudah beranjak, Radit pun ikut serta.
Saat tiba di kamar jenazah, masih ada shift dua yang bertugas. Lena minta izin mengecek jenazah, tentu saja tidak akan dipersulit.
“Tapi kami nggak temani ya Dok, saya mau ke lantai sepuluh ada pasien meninggal.”
“Oh, silahkan. Biar saya ditemani Radit,” ujar Lena lalu bergegas menuju ruang bagian dalam dan sudah berdiri di depan pintu ruangan di mana di dalam terdapat lemari pendingin.
Benar apa yang dikatakan Radit, kalau handle pintunya agak berat dan macet. Radit mengganjal pintu agar tidak tertutup sendiri.
“Biar nggak kayak semalam,” gumam Radit lalu terkejut melihat Lena yang berdiri terpaku. “Kenapa?” tanyanya.
“Kamu dengar ‘kan?”
Radit terdiam dan menganggukan kepala. Sayup-sayup ia mendengar tangisan.
“Suara tangis begini memang sering saya dengar, Dok. Padahal baru beberapa malam saya kerja disini,” keluh Radit.
“Suaranya berasal dari ….” Lena mendekat menuju lemari pendiri dan tangannya sudah memegang tuas pengunci salah satu loker di mana tersimpan jenazah perempuan tanpa identitas yang wujudnya sering mengganggu Radit dan Deo. “Suaranya dari sini.”
Radit ikut mendekat. Tuas pembuka pintu loker pun di tekan oleh Lena lalu membuka pintu dan tangisan itu semakin terdengar. Lena dan Radit sempat saling tatap, sampai akhirnya wanita itu menarik alas stainless semacam tandu di mana di atasnya ada kantong berisi jenazah.
Detak jantung Radit tidak karuan bahkan sempat mundur satu langkah karena tangisan itu semakin nyaring terdengar. Tidak mungkin sosok di dalam nya hidup kembali, jelas itu bukan tangisan manusia hidup. Bahkan bulu kuduknya merinding. Lena seakan tanpa rasa takut menarik resleting kantong jenazah dan perlahan menyibak lalu ….
“TOLONG AKU!!!!”
“Astagfirullah.” Reflek Lena mendorong kembali jenazah tersebut dan menutup lagi pintu lokernya.
“Aaa!” teriak Radit berbarengan dengan Lena yang beristighfar.
Brak.
Lena dan Radit menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.
“Tadi udah gue ganjel, sumpah,” ujar Radit lirih lalu berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya. “Woi, buka!” teriak Radit dan Lena berdiri di belakangnya.
Blam.
Radit berhenti berteriak, perlahan ia menoleh ke arah suara dari belakang mereka. Begitu pun dengan Lena. Pintu loker tempat jenazah tadi sudah kembali terbuka dan perlahan tandu stainless keluar dari loker lalu sosok yang bersemayam di sana beranjak duduk.
“Astagfirullah.”
“Lo lihat ‘kan, gue nggak berhalusinasi kalau dia bangun,” tutur Radit dengan suara bergetar.
Krek krek krek. Sosok tersebut menggerakan kepalanya dan menimbulkan suara tulang-tulang seakan patah, perlahan ia menoleh. wajahnya pucat, bekas luka di dahi masih terlihat juga sayatan di leher. Tatapan horor dengan kedua bola mata menghitam dan menyeringai memperlihatkan cairan hitam di sekitar gigi dan mulutnya.
“DIA HARUS IKUT AKU!”
Radit kembali berbalik dan mencoba membuka pintu. “Woi, buka!!!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓 𝒂𝒕𝒖𝒉 𝑵𝒆𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒈 𝒅𝒊 𝒄𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒐𝒍𝒖𝒔𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑹𝒂𝒅𝒊𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝑳𝒆𝒏𝒂
2024-10-30
0
novita setya
hantu baperan..lg jg dicariin solusi udh ngeyel aja mw ngikut. sabar napaaa
2024-06-19
0
Michelle Ardina
yg biasa komen pd kemana ini kbur jg kh😅
2024-06-14
0