Hati Itu Masih Sama

..."Hati tak pernah berbohong tentang siapa yang ingin dia tuju."...

...-Jianka Putri Dwianka...

.......

.......

.......

"Karena Mahza udah dateng. Jianka pamit dulu, Umma, Abah."

"Bentar, Ji."

Mahza keluar ruangan menemui Arbian. Entah apa yang Mahza bicarakan hingga membuat Arbian pergi tanpa Jianka. Padahal sejak awal, Arbian keras kepala untuk menunggu Jianka.

"Ayo, aku anterin ke depan," ajak Mahza setelah kembali dan membiarkan Arbian pergi.

"Nggak papa, Za. Aku bareng kak Arbian aja, kamu jagain Umma sama Abah aja di sini."

"Temen kamu udah aku suruh pergi," jawab Mahza enteng tanpa merasa bersalah.

"Pergi? Yang bener?"

"Udahlah. Ayo, buruan. Keburu sampe."

Melihat tindakan putranya tersebut, kedua orang tua Mahza saling melirik melempar paham dan menahan tawa mereka.

"Kamu sengaja ngusir kak Arbian?" tanya Jianka dengan nada kesal.

"Mana ada ngusir? Aku cuma bilangin ke dia kalau kamu aku pesenin online, jadi dia boleh pergi kalau pengen pergi."

"Kenapa bilang kek gitu?" tanya Jianka yang mulai menghentikan langkahnya dan menghadap Mahza.

"Ya, emang boleh berduaan sama yang bukan mahram?"

"Kalau gitu, ngapain kamu ada di sini?" tanya ketus Jianka membuat Mahza merasa gemas. Mahza menahan tawanya di balik wajah yang berusaha dia palingkan.

"Ada keperluan. Lagian saya nggak ada bersentuhan dengan kamu."

"Aku sama kak Arbian juga ada keperluan!"

"Beda, Jianka. Udah, sana masuk!" ucap Mahza tegas setelah sampai di samping mobil yang telah dia pesan.

"Mahza keterlaluan! Kan jadi nggak enak sama kak Arbian."

Setelah sampai di kediamannya, Jianka berusaha keras untuk menghubungi Arbian. Berbeda dengan biasanya, kali ini adalah kali pertamanya Arbian tak menjawab panggilannya.

...

Pada lain hari setelah kembali bertemu dengan Jianka, Arbian tampak biasa saja. Dirinya tak lagi begitu tertarik untuk sekedar bertegur sapa.

Arbian dan Fiana yang tampak begitu mesra, mata Iza tak dapat berbohong. Sakit, sangat sakit dia harus tetap berada di Cafe ini sementara dirinya ingin sekali pergi.

Jianka yang duduk di bangku ujung. Dengan segelas minuman yang telah ia pesan tersebut, datang menghampiri Iza.

"Nih, minum. Belum aku minum sama sekali kok. Biar manisan dikit wajah kamu," ledek Jianka.

Gadis itu pergi setelah memberikan minumannya. Mata Iza menatap penuh makna setiap langkahnya, "Sepeka itu kamu, Ji?"

Jianka pergi juga bukan tanpa alasan, hatinya juga tak mampu melihat kemesraan itu. Jianka juga tak mampu melihat Arbian yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya.

"Apa karena kejadian waktu itu, ya? Tapi kenapa harus menghindar seperti ini, kak? Biasanya kalau ada masalah kamu selalu minta kejelasan dan mengutamakan komunikasi. Ini apa?"

"Haruskah aku yang berusaha berkomunikasi? Tidak! Gila sekali, aku juga punya harga diri!"

...

Beberapa bulan tanpa saling berkabar. Saat Jianka kembali datang mengunjungi Cafe, Iza menyampaikan kabar yang membuat Jianka bingung, haruskah dia bahagia atau bagaimana?

"Kak Arbian mau nikah 3 bulan ke depan."

"Hah?" kaget Jianka yang seolah meminta ucapan itu untuk diulang. Bukan tidak mendengar, Jianka hanya refleks memberi reaksi tersebut.

"Yang bener?"

"Lo nggak percaya? Mereka udah lamaran 2 hari yang lalu."

"Demi apa pun! Mereka nggak ngundang aku?"

"Itu yang mau aku tanyain, kamu ada masalah apa sama kak Arbian?"

"Jujur, terakhir kali kayaknya ada selisih paham antara aku, kak Arbian, dan temen cowok aku."

"Kak Arbian cemburu ceritanya?"

"Mungkin, tapi sudahlah. Dia akan menikah, apa yang perlu dikhawatirkan?"

3 bulan ke depan juga menjadi hari di mana Mahza akan kembali pulang untuk berlibur. Saat kepulangannya, Jianka kembali mendatangi rumah Mahza karena panggilan ibunda Mahza yang memintanya untuk datang.

Tak hanya Mahza, ternyata di sana juga terdapat keluar dari abah Mahza yang sedang berkumpul bersama. Tak bermaksud untuk menguping, perbincangan ini terdengar oleh Jianka karena Jianka mempunyai telinga.

"Putramu pernah ditanyakan Kyai Mahfudz, beliau punya putri bungsu yang seumuran dengan putramu."

"Kalau soal itu, aku nggak mau maksa Mahza. Tanyakan saja pada Mahza."

"Aku sudah pernah menanyakan hal ini pada Mahza, tapi dia tidak menerima. Mungkin, kamu bisa membantu."

"Dalam waktu dekat, Mahza memang berencana melamar seseorang."

"Waw, semua orang ingin cepat menikah dalam waktu dekat. Bukan hanya kak Arbian, tapi juga Mahza."

"Lalu, aku kapan?" lanjut Jianka membuang napasnya dengan wajah memelas.

Mahza yang kebetulan melewati Jianka, berhenti sejenak untuk menanyakan keadaannya tersebut, "Kamu baik-baik aja?"

Jianka menegakkan tubuhnya dan berusaha menarik simpul senyum indahnya, "Iya, aku baik-baik aja."

"Maaf, rambutmu keluar," tegur Mahza sambil memalingkan pandangannya, saat melihat beberapa helai rambut Jianka yang keluar dari ujung hijabnya.

"Entah karena alasan apa hatinya tertaut pada gadis ini. Aku tak menemukan sesuatu yang istimewa darinya, tapi hati seolah selalu tertuju padanya," batin Mahza pada langkah yang mulai menjauh dari Jianka.

"Dia putri kyai."

Perkataan itu telah tertangkap oleh telinga Mahza. Mahza menatap hangat wajah yang berusaha mendapatkan hati abahnya tersebut, "Gus, mendapatkan wanita shalihah itu mudah. Tapi ada yang lebih istimewa dari itu, menshalihahkan wanita."

Jianka tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Entahlah, apa yang membuatnya merasa turut berbahagia.

"Wanita itu pasti sangat beruntung. Dia dicintai tanpa dituntut apa pun."

...

Surat undangan pernikahan itu telah sampai pada Jianka juga. Beberapa hari ke depan, resepsi pernikahan akan digelar.

Satu minggu sebelum acara tersebut, entah karena apa Jianka jatuh pingsan saat mengerjakan tugasnya di Cafe. Iza, Arbian, dan Fiana yang juga berada Cafe, tampak begitu panik saat mendengar gelas kaca yang terjatuh dari meja Jianka tersebut.

"Bawa ke rumah sakit! Ayo, buruan!" tegas Arbian yang tampak lebih panik. Dengan sigap mengangkat tubuh Jianka dan meminta seseorang membuka pintu Cafe.

Fiana yang mampu menangkap jelas wajah khawatirnya yang berlebih itu, hanya mematung. Diam tanpa kata, tanpa mengejar langkah mereka.

Bersamaan dengan Jianka yang mulai ditangani oleh pihak rumah sakit. Ambulance datang bersama korban yang tampak tidak asing menurut Arbian. Tubuhnya memang terdapat banyak luka. Namun, Arbian seolah dapat mengenali wajahnya.

...

Beberapa saat, Jianka kembali sadar. Tubuhnya terasa begitu lemas, tak ada yang harus mengkhawatirkan. Jianka hanya terlalu acuh pada dirinya sendiri. Hingga tak memperhatikan pola hidupnya.

Arbian bergegas menemuinya, wajahnya yang masih tampak sangat peduli, dapat ditangkap jelas oleh mata lelah Jianka yang kini tampak senyumnya.

Iza yang menangkap hal tersebut, hanya berdiri dari jarak jauh. Menatap diam perlakuan kakak lelakinya tersebut, "Jianka, gadis seperasa dia memang perlu dipertahankan oleh siapa pun yang berhasil mendapatkan dia. Tapi bodohnya, kak Arbian malah dengan mudah melepaskannya. Bahkan, tidak ada yang pernah peduli dengan perasaanku selain Jianka."

Tak meninggalkan Jianka saat dirinya masih harus dirawat. Tentu, kembali mengundang masalah dengan Fiana.

Sore ini Arbian terpaksa pulang untuk mengambil beberapa keperluan lain.

"Kak, pernikahan kita hanya tinggal beberapa hari lagi!"

"Aku minta diundur! Nggak mungkin kita gelar pesta sementara sahabat kamu sedang terbaring lemah di rumah sakit tanpa siapa-siapa."

Permintaan tak masuk akal itu semakin membuat Fiana merasa kesal.

"Nggak bisa gitu! Semua sudah diatur!"

"Terserah! Pokoknya aku minta mundur!"

Tak menghiraukan Fiana, Arbian bergegas pergi dan kembali menemani Jianka. Iza yang tanpa sengaja menyaksikan ketololan Arbian, dengan sigap membuntuti kakak lelakinya itu.

Sampai di rumah sakit, di kamar Jianka itulah, keduanya memulai perdebatan.

"Kak, lo jangan tolol, ya! Lo nggak mikirin perasaan Fiana? Enak banget lo minta mundur hari!"

"Lo mau? Nikahi aja!" jawab Arbian enteng.

Seolah ingin menghajar lelaki tersebut, Iza mengepalkan tangannya kuat, "Lo punya hati nggak, sih?"

"Apa? Kak Arbian menunda hari pernikahan?" tanya Jianka terkejut.

Keduanya hanya terdiam dan saling menatap, tanpa menjawab pertanyaan Jianka.

"Kak, Jianka baik-baik aja. Kak Arbian nggak perlu sekhawatir itu."

...***...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!