..."Aku membutuhkan ayahku. Tapi ayahku mengajarkan kepadaku, agar aku tidak membutuhkannya."...
...-Jianka Putri Dwianka...
.......
.......
.......
"Mahza, duduk sini, Nak," panggil lembut kakek Mahza.
"Nak, kamu tau Kyai Mahfudz?"
Mahza mengangguk lembut, menunduk sopan dengan gaya santrinya.
"Beliau punya putri bungsu."
DEG!!!
Seketika kepala Mahza yang hanya tertunduk terangkat. Sepertinya, Mahza mengerti maksud dari ucapan kakeknya yang belum dilanjutkan itu.
"Ning Humairah. Eyang berniat menjodohkan kalian. Bagaimana menurut kamu?"
Mahza hanya terdiam gugup dalam beberapa saat. Mahza tak mampu menerima, tapi juga tak mampu menolak.
"Eyang maaf, Mahza harus ngajar dulu."
Melihat cucunya yang tak memberi jawaban, kakek Mahza cukup mengerti. Bahwa, cucunya tersebut belum mampu menerima tawarannya.
"Ya Allah, bagaimana ini?"
Pada kebimbangan Mahza, lain halnya Jianka yang masih sibuk dengan urusannya yang belum selesai dengan Arbian dan Fiana.
"Lo bisa nggak, jauhin kak Arbian!"
Di taman malam ini, Jianka yang sedang duduk tenang seorang diri bersama laptop dan beberapa lembar tugas kuliahnya. Disapa kasar oleh kedatangan Fiana yang sudah berapi-api.
"Perasaan, gue diem aja."
"Jangan sok polos, lo! Kak Arbian masih sering cerita ke, lo!"
"Ya, salahin cowok kamu! Kenapa nyalahin aku? Dia cerita, aku tanggepin, dong! Masa aku diemin?"
Mustahil rasanya untuk saling menjauh dari hubungan yang telah erat ini. Meski telah terluka, pintu hati Jianka masih membukakan pintu maafnya. Kedekatan mereka masih terjalin seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Sadar diri! Dia cowok gue!"
"Bukannya yang seharusnya sadar diri itu lo! Yang ngerebut dia dari gue bukannya ...."
"STOP!" ucap tegas Fiana menghentikan ucapan Jianka.
Jianka tersenyum licik mendengarnya. Orang yang selama ini dia anggap sebagai sahabat, ternyata selalu berusaha keras untuk menjatuhkan dirinya. Terlebih lagi, merebut kebahagiaannya.
"Kenapa aku baru sadar sekarang, ya? Ternyata selama ini yang nganggep sahabat itu cuma aku, kamu nggak!"
"Aku nggak nyesel pernah sebaik itu ke kamu, aku hanya menyesali kenapa aku pernah sedekat itu dengan kamu!"
"Kita berusaha mencari kebahagiaan, tapi ternyata, kamu lebih sibuk mencari kebahagiaanmu sendiri!"
Arbian yang kebetulan juga datang, tertunduk pasrah melihat hancurnya sebuah persahabatan yang sebelumnya tampak begitu erat. Fiana yang tak lagi tahan dengan segala kebenaran yang Jianka ungkap, bergegas pergi dari hadapan Jianka.
Arbian yang mendekat dengan langkah yang tak lagi bersemangat.
"Kehancuran seperti ini tidak pernah aku rangkai, Jianka."
Jianka menatap langkah lelaki itu dengan sorot mata yang malas.
"Apa Kak Arbian datang untuk membicarakan masalah yang sama? Tugasku masih banyak, aku tidak sempat membahas itu."
Arbian membawa dirinya untuk duduk berhadapan dengan Jianka, "Kata seseorang, jika seseorang meminta untuk berhenti membicarakan sebuah masalah. Itu artinya, masalah itu sangat melukai dirinya. Benar, Jianka?"
Jari-jemarinya Jianka yang awalnya sibuk dengan papan ketiknya seketika terhenti. Jianka menyimpan file yang sudah berusaha keras dia kerjakan, menutup laptopnya dan menatap dalam wajah Arbian.
"Benar!"
"Selain persahabatan kalian, hubunganku dengan saudara lelakiku juga semakin buruk. Aku tidak menyangka, masalah sesederhana itu dapat menghancurkan semuanya."
"Selain masalah ini, Kak Arbian boleh bercerita tentang apa pun denganku. Tapi untuk masalah ini, Jianka tegaskan, tidak!"
"Aku akan tetap berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Kakak. Sama seperti Kak Arbian, Kakak masih menjadi rumah ternyaman untuk Jianka."
"Masih? Masih untuk saat ini. Bukankah berarti akan tidak lagi untuk kemudian hari?"
Jianka tertunduk seketika mendengar pertanyaan cerdas tersebut, "Entahlah, mungkin jika suatu hari nanti, Jianka akan memaksakan diri untuk terlihat kuat di hadapan Kak Arbian juga."
"Jika hari itu benar-benar tiba. Aku akan menjadi orang yang masih mengizinkanmu untuk memperlihatkan sisi lemahmu."
Pada malam yang selarut ini, Jianka yang masih bersama Arbian di bangku taman. Bentangan sajadah di ujung kamar, Mahza tampak khusyu' menghadap. Di sepertiga malam terakhir itu, Mahza berdzikir dan meminta, mendo'akan orang tua dan keluarganya. Tak tertinggal, Jianka yang sedang menempati hatinya.
"Ya Allah, di mana saja dia berada. Tolong jaga dia untuk hamba."
...
"Kak, Jianka mau pulang."
"Udah selesai?"
"Udah."
"Tunggu bentar. Waktu itu aku hubungi kamu kok yang ngejawab cowok? Siapa?" tanya Arbian mengungkit kejadian beberapa hari lalu.
"Siapa?"
"Lah, ditanya malah nanya balik."
Jianka memutar otaknya keras, "Cowok? Siapa? Perasaan, selain kak Arbian nggak ada yang berani megang ponsel aku."
Wajah Jianka yang tertangkap sedang berpikir. Dibuyarkan oleh Arbian yang tak ingin menambah beban pikirannya.
"Udah, lupain aja. Ayo, aku anterin."
"Jangan, Kak. Kakak aku ada acara malam ini, takutnya kalau dia tau. Bisa nambah masalah lagi."
Sesampainya di rumah, Jianka membersihkan dirinya. Memandangi keran air kamar mandi, membuat Jianka teringat saat ibunda Mahza mengajaknya shalat isya' kala itu. JIanka mengambil wudhu, membentangkan sajadahnya.
"Mahza, kenapa tiba-tiba keinget dia?"
Jianka menyelesaikan rangkaian ibadahnya, menatap pintu lemari kaca yang menampakkan sebuah Kitab Suci. Kitab yang entah kapan Jianka terakhir membacanya.
Pada waktu yang sama itulah, kedua insan yang Tuhan pisahkan. Sama-sama berdialog mesra dengan Tuhan lewat Qalam-Nya.
"Kamu ikut Ayah atau Bunda?"
Kamar adik perempuannya yang berdampingan dengan kamar Jianka. Tawaran yang juga di dengar oleh Jianka tersebut, tak hanya menghancurkan hati adik perempuannya, tapi juga Jianka yang belum juga mendengarnya.
"Maksudnya apa?" tanya Jianka pada dirinya sendiri.
Tak lama, pintu kamarnya terketuk. Jianka segera menutup Al-Qur'an dan melepas mukenanya. Lelaki paruh baya itu tampak berdiri di hadapannya sekarang.
"Kamu mau ikut Ayah atau bunda?"
Tak segera memberi jawaban, Jianka hanya diam beberapa saat. Adik perempuannya yang masih berdiri di ambang pintu, menatap dalam wajah penuh lusuh Jianka yang bingung harus menjawab apa.
"Harus banget, Yah. Nanyain kayak gini malem-malem gini?"
"Lagian kamu juga belum tidur."
"Jawab Ayah! Kalau mau ikut Bunda, kemasi barang-barang kamu!"
Tanpa menunggu jawaban Jianka, ayahnya pergi dari hadapan Jianka. Adik perempuannya yang sedari tadi menahan air mata. Berlari mendekati Jianka, menabrak tubuh yang juga berantakan itu. Menjatuhkan dirinya pada pelukan yang masih terasa hangat.
"Kak?"
"It's okay. Semua akan baik-baik saja," ucap Jianka berusaha menenangkannya dan dirinya sendiri.
"Kemasi barang-barang kamu."
"Ikut bunda, Kak?"
"Nggak, kita nggak akan ikut ayah atau bunda. Kita akan hidup sendiri."
Jawaban Jianka membuat adik perempuannya melepas pelukannya seketika, "Kakak yakin?"
"Kamu nggak yakin? Atau kamu boleh ikut salah satu dari mereka."
"Kak?"
Pagi ini, Jianka telah siap bersama sebuah kopernya. Ibunda yang juga tampak siap meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati.
"Kamu ikut Bunda?"
"Nggak! Jianka akan hidup sendiri."
Sang ayah yang mendengar jawaban yang terdengar tampak begitu berani, menarik simpul senyum licik, "Kayak gini, contoh anak sok berani!"
Jianka membalas senyum licik itu dengan senyumnya yang paling indah. Mungkin, ini akan menjadi hari terakhir bagi Jianka untuk tersenyum di hadapan ayahnya.
"Sok berani? Bukankah Jianka sudah seberani itu sejauh ini? Di sini Jianka hanya numpang tidur. Bahkan untuk makan saja, Jianka biasa membeli dengan uang Jianka sendiri."
Seketika seluruh penghuni berusaha membuang pandangannya. Tanpa kata, Jianka melanjutkan langkahnya.
"Jianka, ikut Bunda aja, Nak."
Sebuah sebutan berharga untuk seorang anak. Seseorang yang terbiasa mendapat panggilan tersebut, mungkin merasa itu adalah hal yang sangat biasa. Namun tidak bagi Jianka, yang bahkan tak pernah mendapat sebutan itu dari orang tuanya.
"Jianka akan berusaha mencari kebahagiaan Jianka, Bun. Sama seperti Bunda. Setelah ini, beberapa bulan ke depan. Jianka yakin, Bunda akan mendapat kebahagiaan lain. Jianka tidak ingin terus-menerus hidup dalam pengabaian."
"Jianka permisi. Terima kasih dan maaf untuk semuanya."
Tak ada seorang pun yang mampu menghentikan langkahnya sekarang. Memegang pintu gerbang itu untuk terakhir kalinya, Jianka dikejutkan dengan keberadaan Arbian yang sudah berada di depannya.
"Kak Arbian, ngapain di sini?"
"Ayo aku antar, sudah aku carikan tempat baru buat kamu."
"Kok Kak Arbian tau?"
"Adik kamu," jawab Arbian singkat yang membuat Jianka tak lagi bertanya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments