Bab 5

"Maaf Nyonya, Tuan. Kedatangan saya ke sini untuk mengembalikan surat surat rumah dab toko yan saya tempati dan saya kelola selama ini, dan ini kunci rumah dan tokonya tuan, maaf klau ada kesalahan saya selama ini, dan terimakasih telah memberi tumpangan di rumah kalian selama ini." ucap Pak Rian menyerahkan beberapa map dan kunci di atas meja berhadapan dengan opa dan oma Rafael.

Deg.....

Oma dan Opa Rafael terkejut mendengar ucapan orang tua Alisa itu, rupanya orang tua Alisa benar benar kecewa dengan perlakuan cucunya itu, sehingga sekarang orang tua Alisa menciptakan jarak dengan mereka, tidak ada lagi kata kata akrab, biasanya mereka akan berbasa basi bertanya ini dan itu, dan juga akan memanggil Oma dan Opa kepada mereka, kini lihat lah, mereka bicara saja formal dan memanggil mereka nyonya dan tuan, sungguh membuat oma dan opa merasa sangat bersalah sekalim

"Pak, jangan begini, itu rumah adalah milik kalian sendiri, dan toko sengaja Rafael dirikan untuk usaha kalian, kenapa di kembalikan." kaget sang oma.

Pak Rian menggelengkan kepalanya.

"Tidak tuan, rumah itu sudah saya gadaikan saat saya sakit keras waktu itu, dan setelah anak saya menikah, rumah itu di tebus oleh tuan Rafael, jadi sekarang anak saya tidak ada hubungan apa apa lagi dengan tuan Rafael, dan kami merasa rumah itu bukan milik kami lagi, makanya kami mengembalikannya kepada kalian." ucap pak Rian menyela ucapan opa Sean.

"Jangan seperti itu pak, itu tetap milik kalian, walaupun nantinya Alisa benar benar berakhir dengan Rafael, itu akan tetap menjadi milik Alisa." tegas opa Sean.

"Kami tidak menginginkan rumah itu lagi, rumah yang membuat anak saya kesakitan, andai waktu bisa di ulang kebelakang, saya memilih mati dari pada anak saya menderita, anak saya mengorbankan masa depannya demi kesembuhan saya, namun dia menderita, saya merasa gagal menjadi seorang ayah." ucap Pak Rian serak, mengingat sang putri yang berpura pura kuat menjalani hari harinya.

Oma Prita meneteskan air matanya, dia sungguh sakit mendengar penuturan pak Rian itu.

"Saya rasa sudah cukup pembahasan kita, kami undur diri Tuan, Nyonya." ucap pak Rian yang tidak ingin berlama lama di rumah itu, dia malas sekali bertemu dengan calon mantan besannya yang bermulut pedas itu.

"Kalian akan tinggal dimana setelah ini?" tanya oma Prita sendu, sungguh dia ingin sekali bertemu dengan Alisa.

"Kami mengontrak di dekat tempat kerja Alisa, Nyonya." bohong bu Lastri yang tidak ingin memberi tau kepergian mereka keluar kota, dan orang tua Alisa benar benar ingin memutuskan hubungan dengan keluarga Rafael itu.

Oma Prita mengangguk tanda mengerti, suatu hari nanti dia bisa mengunjungi Alisa di sana, pikir oma Prita, tanpa tau klau Alisa akan pindah ke kota lain bersama orang tuanya.

Di tempat lain.

Alisa menemui direktur rumah sakit tempat dia bekerja.

"Permisi pak, saya mengganggu waktu bapak." ucap sopan Alisa.

"Duduklah, jangan sungkan." ucap dokter Daniel, dokter rumah sakit dan kebetulan adalah om suaminya sendiri.

"Maafkan keponakan bodoh om itu ya." sesal dokter Daniel, menatap sendu Alisa.

"Tidak apa Dok, mungkin jodoh saya cuma sampai di sini dengan mas Rafael." sahut Alisa lapang dada.

"Dok, saya menemui dokter hanya ingin memberikan surat pengunduran diri saya, dok." ucap Alisa menyodorkan amplop berwarna coklat ke arah dokter daniel.

Hufff.....

Dokter Daniel sudah bisa menebak ini pasti akan terjadi, Alisa sudah pasti tidak akan mau lagi bekerja di rumah sakit keluarganya ini.

"Kenapa harus keluar, kinerja kamu sangat bagus, apa lagi kamu adalah dokter terbaik di rumah sakit ini, tidak bisakah mengesampingkan masalah pribadi dengan masalah kerjaan?" tanya dokter Daniel, dia tidak ingin kehilangan dokter terbaik itu dari rumah sakit itu, apa lagi ibunya pasti akan menanyakan keberadaan Alisa.

"Maaf dok, bukan begitu, saya hanya ingin ikut orang tua saya keluar kota, dok." jujur Alisa.

"Kemana?" tanya dokter Daniel lagi.

"Mau tidak mau Alisa memberi tahu dia akan kemana, agar tidak berlama lama di ruangan itu.

"Baiklah, klau begitu, saya punya tawaran untuk kamu, Alisa. Saya mau kamu lanjutkan cita cita kamu menjadi dokter spesialis jantung di universitas xx, di kota itu, klau kamu tidak mau, saya tidak izinkan kamu keluar dari rumah sakit ini, masalah biaya, kamu jangan risau, saya sudah mendaftar kan kamu di universitas itu, dan kamu saya rekomendasi bekerja di rumah sakit Mulyo." tegas dokter Daniel tidak mau di bantah.

Alisa diam seribu bahasa, klau dia menerima tawaran dokter Daniel, bearti dia akan bertemu lagi dengan Rafael, sementara itu dia sangat sangat tidak ingin bertemu lagi dengan mantan suaminya itu, dan dia tidak ingin Rafael tau klau dia sedang hamil, jangan sampai anaknya di ambil oleh Rafael.

"Saya tidak akan memberitahu keberadaan kamu kepada siapapun, cukup ini hanya menjadi rahasia kita, saya tau kamu sedang hamil muda, saya tidak ingin kamu dan calon cucu saya kenapa napa, saya tidak akan memberitahu si bodoh itu tentang keberadaan kamu, biarlah itu menjadi hukuman untuk dirinya yang berani menyia nyiakan wanita sempurna seperti kamu, malah kembali galau gara gara si buntut lele itu kembali." dengus dokter Daniel ikut kesel dengan keponakannya itu.

Alisa tidak bisa berkata apa apa lagi, ternyata dokter Daniel tau dia sedang hamil muda, ohh... Alisa lupa, siapa yang memeriksanya, yang memeriksa Alisa adalah dokter Tuti, istri dokter Daniel sendiri.

"Bagaimana?" tanya Dokter Daniel lagi.

Alisa menatap mata dokter Daniel mencari kebohongan di sana, namun Alisa tidak menemukannya.

Alisa mengangguk. "Baiklah, saya menerima tawaran dokter." ucap Alisa pada akhirnya.

"Good, sekarang temui HRD, minta gaji terakhir dan pesangon kamu." ucap dokter Daniel.

"Terimakasih dok, saya undur diri." ujar Alisa sopan.

"Jangan sungkan Alisa, kamu sudah saya anggap anak saya sendiri, kamu taukan, saya tidak mempunyai anak, jadi biarkan saya menganggap kamu anak saya dan anak dalam kandunganmu itu, izinkan dia menjadi cucu saya." ujar dokter Daniel penuh harap.

Alisa tidak dapat berkata kata lagi, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju.

"Terimakasih Alisa." ucap dokter Daniel penuh haru.

"Tapi dokter tetap janjikan, tidak akan memberitahu mas Rafael dan yang lainnya?" cemas Alisa.

"Tidak akan Alisa, saya tidak akan memberitahu siapapun, termasuk Amora, yang tau hanya saya dan istri saya saja." ucap dokter Daniel bersungguh sungguh.

"Alisa berangkat, papa." ucap Alisa pelan.

"Apa... Coba ulang lagi!" pinta dokter Daniel berasa mimpi di panggil papa oleh dokter Alisa.

"Papa..." ulang Alisa.

"Huaa.... Kemari nak, peluk papa." pecah sudah tangis laki laki itu di sebut papa oleh Alisa, yang memang dari semasa kuliah sudah menjadi murid kesayangannya.

"Mama juga dong." seru dokter Tuti berkaca kaca, dia datang dan melihat interaksi suami dan anak didik sang suami yang juga istri dari keponakan suaminya itu, sungguh dokter tuti ikut terharu, sudah sangat lama mereka menginginkan kehadiran buah hati, namun Tuhan belum memberi izin mereka menimang buah hati, padahal dari semua pemeriksaan kesehatan mereka tidak ada yang salah semua normal, namun Tuhan belum memberikan mereka momongan sampai saat ini.

"Mama...." panggil Alisa berkaca kaca.

"Pa... Lihat lah, kita lansung mempunyai anak yang sudah besar hiks..." raung dokter Tuti.

"Iya, ma... Bahkan sebentar lagi kita akan mempunyai cucu, hiks..." sahut dokter Daniel dengan terisak.

"Hati hati ya, nak. Jaga diri baik baik, hidup lah bahagia di sana, lupakan semua masalah mu, ingat. Ibu hamil harus happy." tutur dokter Tuti.

Alisa menganggukan kepalanya. "Da.... Ma, pa... Alisa pergi." melambaikan tangannya sebelum keluar dari ruangan, ingin sekali dokter Daniel dan dokter Tuti mengantarkan Alisa sampai ke parkiran, namun mereka tidak ingin mengundang kecurigaan banyak orang, biarlah perpisahan itu mereka lakukan hanya di dalam ruangan dokter Daniel saja.

Alisa berjalan di lorong rumah sakit itu dengan langkah pasti dan penuh senyum di bibirnya, setiap dia berjalan, selalu di sapa oleh rekan sejawatnya bahkan para pasien sekalipun.

"Selamat tinggal kenangan, saatnya menyongsong masa depan." gumam Alisa dalam hati, saat kakinya sudah menapak di luar gedung rumah sakit itu.

Bersambung....

Haiii.... kesayangan mamak, jangan lupa like komen dan vote ya...

Mohon dukungannya, di novel ini mamak memberanikan diri untuk ikut lomba, semoga novel mamak bisa bersaing dengan novel novel lainnya.... Aamiin....

Terpopuler

Comments

ѕαиg ρємιмρι

ѕαиg ρємιмρι

Semangat Menyambut Kisah Baru yang nanti nya membawa Kebahagian untuk mu Alisha. Hempaskan Masa Lalu yang ngga penting untuk di ingat. Jemputlah Kebahagiaan mu

2025-01-08

2

Isna Vania

Isna Vania

semangat Alisa
untuk menata hidup yg baru, lupakan masa lalu
strong women Alisa /Kiss/

2024-11-08

0

Ning Hari Mulyana

Ning Hari Mulyana

Aku jadi ikut terharu bahagia... ternyata banyak yg sayang dengan Alisha

2025-01-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 54
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 63
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 108
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Bab 1
2
Bab
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 54
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 63
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 108
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!