Bab 4

"s*alan!!!. Apakah dia m*ninggal, padahal belum seberapa aku menyiksanya". William segera berjongkok menggoyangkan tubuh Zahra tapi tak ada respon, dirabanya nadi tangan Zahra masih berdenyut kemudian beralih ke hidung dan masih bernafas.

"Cih ternyata dia hanya pingsan". Ucap William keluar kamar Zahra.

Tuuuut

Tuuuut

"Ishhhh ada apa sih, ini sudah jam istirahat ku. Kenapa kamu menelpon ku". Teriak laki-laki diseberang telepon sebab dirinya sudah tertidur pulas kini harus terbangun karena mendengar deringan telepon.

"Cepat datang kerumah ku, aku tidak mau dia m*ninggal". Kata William membuat laki-laki tersebut terdiam beberapa saat.

"Siapa yang meninggal ? Kamu m*mb*nuh orang ?". Tanya nya yang penasaran.

"Tidak usah banyak tanya cepat datang kemari atau tidak reputasi mu jadi dokter akan hancur". Ancam William membuat laki-laki itu langsung mematikan teleponnya dan bergegas pergi kerumah William.

Tak berselang lama akhirnya dokter Arnan datang dengan sedikit berlari kecil. Dokter Arnan adalah sepupu William.

Ayah William dan ayah Arnan bersaudara, mereka begitu dekat jadi setiap William membutuhkan tenaganya maka tak tanggung-tanggung William langsung menghubungi nya tanpa melihat waktu.

"Siapa yang mau diperiksa, apa istri kamu". Tanpa banyak bicara William menyuruh Arnan untuk mengikutinya.

Dikamar pembantu tersebut sudah ada Zahra yang terbaring diatas ranjang dengan wajah pucat memar dan juga tangan yang luka.

Arnan begitu tercengang melihat pemandangan yang menurutnya begitu mengerikan bagaimana tidak yang terbaring disana adalah istri William

"Astaga apa yang kamu lakukan kepada istrimu". Pekiknya berjalan kearah Zahra.

"Aku menyuruhmu mengobatinya bukan bertanya tentang hal yang tidak penting". Ucap William dengan wajah datar membuat Arnan mengomel dalam hati.

"Kamu menyiks*nya ?". Tanya Arnan lagi.

"Kenapa kamu tega sekali meny*ksa istri kamu sendiri sampai seperti ini. Dan apa ini kenapa dia berada dikamar pembantu. Astaga kamu benar-benar suami yang tak punya perasaan. Dia rela menggantikan kekasihmu yang kabur itu demi nama baik keluarga, tapi begini perlakuan mu. Tak ada terimakasih sekalipun untuk nya". Arnan mengomel sepanjang mengobati luka Zahra sedangkan William hanya terdiam tanpa ingin berkomentar.

"Aku sudah mengobati nya. Dan ini resep obatnya, ingat obatnya selalu diminum takutnya nanti luka ditangannya sakit. Besok aku akan menyuruh Natasha kesini Mengganti perban nya agar tidak infeksi". Ucap Arnan kemudian berlalu meninggalkan William yang memegang kertas berupa resep obat yang akan dibelikannya di apotik.

****

Setelah beberapa jam pingsan Zahra terbangun dengan mengerjapkan matanya, saat ingin bangun kepalanya begitu sakit dan juga tangannya.

Dilihatnya sekeliling tak ada satu orang pun.

"Siap yang mengangkat ku kesini dan siapa yang mengobati luka ku". Gumamnya berfikir.

"Tidak mungkin dia, apalagi tadi tega menyiksa ku tanpa ampun". Gumam nya lagi.

Zahra terus berfikir, tak lama pintu kamarnya terbuka menampakkan William yang sedang membawa makanan dan juga obat ditangannya.

Zahra hanya menatap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu dengan wajah datar. Hatinya seakan mati ketika mengingat begitu br*ngas nya William menyiks*nya tanpa ampun padahal dirinya tak punya salah apapun.

"Makanlah, dan minum obat mu sendiri. Aku tidak mau kamu m*ti konyol disini. Bikin susah saja". Ucap William mengempas sedikit makanan dan juga obat diatas meja samping tempat tidur Zahra.

William yang menatap Zahra hanya terdiam merasa geram sebab dirinya sudah capek-capek menyediakan semuanya tapi Zahra tak ada respon bahkan berucap terimakasih pun tak ada.

"Kenapa hanya diam, cepat makan". Sentak William membuat Zahra menatapnya dengan tajam.

"Kenapa menatapku seperti itu, sudah berani kamu melawan ku HAAAAA!!. Dasar perempuan kampungan yang tidak punya sopan santun". Kata William sedikit berteriak.

"Cih, sopan santun ?. Jika anda berkata demikian, bercermin lah terlebih dahulu". Ucap Zahra yang kini berbicara formal, hatinya begitu sakit melihat laki-laki yang ada didepannya itu.

"Jaga ucapan mu perempuan s*alan". Ucap William mencengangkan dagu Zahra dengan kuat.

Zahra hanya meringis menahan sakit. Kali ini dirinya tak mau kalah lagi walaupun disakiti berkali-kali.

"Jangan pernah sekali-kali membalikkan perkataan ku. Atau kamu akan tahu akibatnya". Zahra hanya tersenyum kecut mendengar ucapan William.

William yang melihat Zahra tidak berteriak meminta ampun langsung mempererat cengkraman nya hingga dagu Zahra memerah.

Tapi lagi-lagi Zahra hanya diam menahan sakit.

"B*nuh saya bila itu membuat anda puas tuan William Alexander". Ucap Zahra.

"Jangan mimpi, aku akan menyiks*mu hingga kamu m*ti secara perlahan karena tak mau mengakui kesalahan mu". Ucao William melepas cengkeraman nya dengan kasar.

"Sssshhhhh" desis Zahra memegang dagunya.

"Bahkan anda menyiksa saya sampai m*ti pun tak pernah saya menjawab dimana keberadaan mbak intan karena memang saya tidak ada niatan untuk menyembunyikan nya". Willi hanya membuang muka.

"Jika suatu saat nanti Anda mengetahui kebenaran nya. Anda pasti akan menyesal telah melakukan peny*ksaan ini terhadap saya. Ingat kata-kata ini". Kata Zahra dengan penuh penekanan

William berbalik menatap tajam Zahra "menyesal ? Hahahaha tidak ada kata penyesalan dalam kamus ku".

"Kita lihat saja nanti".

William pergi meninggalkan Zahra karena sudah tidak ada lagi yang harus dilakukannya.

***

"Apakah enak ?". Ucap Louis dengan bahasa Jerman yang berada satu selimut dengan intan.

Mereka sedang melakukan pemotretan disalah satu hotel Berlin Jerman. Keduanya sedang beradu didalam selimut dengan hanya memakai pakaian d*lam.

Intan menggigit bibirnya ketika Louis mengeluarkan sedikit miliknya menyentuh milik intan.

Louis Rukan adalah pemain film dewasa yang sudah terkenal di Berlin. manager intan sengaja mengajaknya kerja sama agar mereka cepat terkenal melalu Louis.

Louis yang memang mata keranjang ketika melihat intan yang m*lus langsung menyetujui nya dengan senang hati apalagi adegan tersebut akan berdua dengan intan.

Intan yang merasakan enak menahan suaranya agar tidak keluar karena tak mau membuat Indra marah kepadanya.

Memang saat ini Indra berada diluar kamar karena permintaan Louis agar leluasa menj*m*h tubuh intan tanpa ada yang cemburu.

bersuara lah sayang, kekasih mu sudah tidak ada didepan pintu. Dia sedang makan di restoran hotel". Kata Louis dengan bahasa Jerman.

Intan masih menahannya sebab bukan cuma Mereka berdua tapi juga ada sang fotografer disana. Louis yang melihat kegelisahan intan segera menyuruh fotografer itu keluar karena memang pemotretan sudah selesai.

"bersuara lah dengan nyaring sayang karena sebentar lagi kamu akan merasakan milik ku menembus menembus milik mu yang sempit dan nikmat itu". Louis menyeringai menatap intan.

"Ahhhhhh". Desahan intan keluar begitu saja ketika mereka sudah berdua saja. Intan sudah tak tahan dengan apa yang diperbuat oleh Louis benar-benar membuatnya terbang melayang.

intan terus saja merancau merasakan nikmat ketika Louis menghi*s*p gunung kembarnya yang berwarna coklat.

Louis yang mendengar teriakan itu semakin gencar mengg*rayangi tubuh intan.

"Wajah mu sungguh manis sayang ketika berteriak begitu menggoda". Intan tersipu malu mendengar gombalan Louis.

"Aku mau lebih Louis. Masukkan lah milik mu yang panjang itu agar aku bisa merasakan dibawa terbang bersama mu". Louis tersenyum licik mendengar ucapan intan. Menurutnya intan seperti perempuan murahan yang selalu dipakainya.

"Baik sayang, apakah punyaku lebih n*kmat dan b*sar dari kekasih mu". Tanya Louis.

"Tentu, walaupun hanya melihatnya saja tapi aku bisa merasakan betapa nikmat dan perkasanya Milik mu itu. Membayangkannya saja membuatku merinding". Kata intan meremas milik nya sendiri, membayangkan milik Louis masuk menembus dinding rahimnya.

Intan mulai menc*um Louis dengan penuh nafsu karena tak mau dianggap jika tak menggairahkan melihat keberanian intan tentu Louis begitu senang.

Setelah puas bermain akhirnya Louis memasukkan miliknya kedalam milik intan. Intan memekin kala benda tumpul yang begitu besar mencoba masuk disana.

Dengan dorongan paksa akhirnya milik louis berhasil masuk membuat intan kesakitan karena miliknya begitu besar dari pada Indra.

"percepat Louis ini nikmat sekali". Ucap intan ketika Louis mulai menggerakkan benda tumpulnya.

"milik mu begitu nikmat sayang".

Des*han bersahutan dikamar hotel tersebut, begitu nyaring ditelinga mereka masing-masing. Setelah bertempur lama akhirnya mereka tumbang karena telah mencapai kenikmatan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

ih...ih...hiper banget intan dan William lihat sendiri kelakuan intan yg di rindukan

2024-11-16

0

Mimik Pribadi

Mimik Pribadi

Zahra jga bego demi nama baik klrga mau2 aja mendptkan KDRT dari William,,,😏😏😏

2024-11-16

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

bener² jalang si intan 🤮
tuh wanita idaman kekasih pujaan hatimu 🙄🙄

2024-11-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!