Bagas mengelus kepala Lyona yang sudah mulai siuman tetapi tetap saja omongan nya masih ngelantur karena pengaruh bius yang cukup kuat, Bagas memegang tanggan Lyona dan luka di tanggan nya bukan main-main itu sangat biru dan merah " kau tenang saja, aku akan menjaga mu " menatap Lyona dengan mata yang sayu dan juga badan nya yang masih dingin tetapi sedikit demi sedikit mulia normal
Lyona memiringkan kepalanya agar dia bisa menatap Bagas yang berada di sisi kanan nya " aku tidak tau siapa dia, tetapi aku takut " ucap nya kepada Bagas, tangganya di kepal lagi dan Lyona melepaskan tanggan Bagas yang dari tadi memegang nya
Clara masuk saat melihat Bagas sudah berada di dalam, dia tidak memperdulikan bagas. Dia datang dan langsung memeluk Lyona lalu menggenggam tangannya yang di kepal sejak tadi " kau tenang saja lyona, kita akan segara tau apa yang sebenarnya terjadi " menangis menatap keadaan lyona yang masih lemah untuk saat ini
Lyona menatap Clara " kak, aku di kurung " ucap nya mulia mengatakan kejadian itu satu persatu
Clara menatap Lyona " di kurung? siapa yang mengurung mu? kau ingat wajah nya dan dimana kau dikurungnya? " mulai menanyakan hal-hal yang mungkin bisa membantu dan memberikan petunjuk
Bagas memejamkan matanya, berharap Lyona tidak ingat dengan wajah Karen dan juga alamat rumah singgah mereka yang selalu di jadikan markas dan tempat pembantaian mereka
Lyona menatap langit-langit kamar nya " tidak kak, aku tidak tau, tetapi wajahnya sangat seram dan juga senyumnya " mulai menutup matanya perlahan
Bagas merasa lega, dia menghembuskan nafas nya " kak, kita sebaiknya keluar saja. Lyona butuh istirahat " menatap Clara dan keluar di luan dari ruangan Lyona
Clara duduk sembari memainkan handphone nya, mungkin dia mengirim pesan kepada kedua orangtuanya bahwa Lyona sudah sadar. Bagas menatap handphone nya dan dia menerima pesan bahwa alat yang dia pesan sudah sampai dan harus di ambil lagi ini
Jam menunjukkan pukul tiga pagi, bagas berusaha mencari cara agar dia bisa keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Clara, namun Clara sadar dengan gerak gerik bagas yang begitu mencurigakan baginya
Clara mendekati Bagas " kenapa? apakah kau ingin ke kamar mandi? itu ada di sana " menunjuk arah kamar mandi
Bagas pikir dia akan lolos jika dia bilang ini urusan pekerjaan dan dia harus pergi karena ini masalah genting " kak " ucap Bagas baru satu kata tetapi Clara sudah menatap nya dengan tajam dan Bagas terdiam
Clara maju lebih dekat lagi menatap wajah Bagas dengan tatapan sinis " mau menikah dengan ku saja? " mundur
Bagas kaget sampai handphone yang tadi ia pegang jatuh ke lantai " apa? " shock
Clara mengambil handphone Bagas yang terjatuh " bukanya memang aku yang akan menikah dengan mu? "
Bagas mengambil handphone nya dari tanggan Clara " tetapi ibuku sudah memilih Lyona kak dan kalian semua juga setuju kan? " Bagas pura-pura memasang wajah khawatir nya, di lubuk hatinya sebenarnya dia ingin menyingkirkan Clara yang sudah berulang kali mencoba membatalkan pernikahan ini
Clara menatap Bagas " kau suka wanita karir bukan? itu yang aku baca mengenai diri mu, lagipula Lyona adalah pilihan ibumu dan aku adalah tipe ideal mu bukan? Mendekat dan berisik di telinga Bagas
Bagas merasa tubuh nya terangsang dan seluruh bulu yang ada di badannya berdiri " tolong jangan dekat-dekat kak " mendorong Lyona untuk lebih jauh dan mengusap leher nya
Clara paham dengan kelemahan bagas, mungkin saja dia bisa berbuat nekat terjadi sesuatu lagi kepada adiknya untuk yang kesekian kalinya " kau akan dalam bahaya jika Lyona mengalami hal buruk lagi saat dia bersama mu " mengancam Bagas lalu masuk ke dalam kamar Lyona
Bagas menatap Clara " kau yang akan dalam bahaya jika kau tau siapa aku, tubuh mu yang kecil itu bisa ku hancurkan dengan memotong nya memasukannya ke dalam blender " ucap Bagas pelan seperti orang sedang berbisik
...****************...
Rumah Adiwiyata
Bagas pulang setelah jam lima subuh, dia Menganti pakaian dan harus mengambil barang nya yang sudah tiba sejak pukul tiga tadi " aku harus cepat " Bagas menghubungi Karen juga karena ada hal yang harus dia sampai kan
Winda menatap Bagas yang sedang turun dari tangga " mau kemana nak? ini masih subuh sekali apakah terjadi hal buruk? " mendekati Bagas
Bagas menatap Winda dan memasang wajah polos nya " tida ibu, aku harus ke suatu tempat karena ada bisnis yang harus aku lakukan " tersenyum
Winda tidak curiga karena selama ini Bagas memang sudah mulai pulih dan kata dokter tidak boleh ada larangan jika dia ingin bekerja, mungkin saja pekerjaan bisa menjadi pengalihan baginya " kau sudah sarapan? "
Bagas melihat jam tangannya " tidak perlu ibu, aku akan pulang lagi nanti dan ibu Lyona sudah sadar jika kalian ingin datang untuk membesuk nya itu sudah bisa sekarang "
Winda tersenyum " baiklah, hati-hati nak " membiarkan Bagas pergi padahal dia juga tidak tau kemana tujuan Bagas
...****************...
Bagas berada di sebuah tempat yang kosong dan hanya ada beberapa tong berisikan air dan juga oli, itu terlihat seperti bengkel lama namun masih di gunakan untuk orang-orang yang memesan senjata rahasia seperti Bagas
Karen juga sudah tiba di sana jauh sebelum Bagas datang " kenapa kau sangat lama? " Karen mendekati Bagas
Bagas menatap nya " aku harus menjaga Lyona di rumah sakit dan mengurus kekacauan yang kau sebab kan " memukul dada bidang Karen
Karen mundur akibat pukulan itu tetapi hanya candaan saja " maaf aku tidak tau dia calon mu " tetap merasa bersalah
Bagas membuka sebuah koper yang berukuran besar dan tersenyum " ini dia yang aku mau " menatap senjata yang sangat panjang, terlihat seperti pistol untuk berburu
Karen mendekat " kau ingin berburu? kenapa memesan senjata ini? "
Bagas mengambil nya dan mencoba untuk mengunakan nya " tentu saja tidak, ini akan ku gunakan untuk melakukan aksi ku lagi " tersenyum ganas
Karen melihat ada surat di dalam kotak senjata itu " Queen? " membaca surat yang ada di dalam kotak
Bagas berbalik dan konsentrasi nya buyar saat mendengar satu nama " apa? " menatap ke belakang
Saat Bagas ingin mengambil surat itu dia di Telpon oleh keluarga nya, mereka bilang polisi sudah datang dan Lyona akan memberikan pernyataan sekarang " aku pergi dulu tolong kau bawa ini ke rumah singgah " menepuk pundak karen
Karen hanya diam saja melihat Bagas yang sangat sibuk dan semua gerakan yang dia lakukan terlihat terburu-buru " selalu begini " menyusun senjatanya
...****************...
Bagas melaju dengan mobilnya karena dia takut jika Lyona mengatakan sesuatu tentang rumah singgah nya dan Karen juga. Saat sudah tiba bagas langsung naik menuju kamar Lyona dan benar polisi sudah ada di sana
Bagas membuka pintu dan masuk dengan pelan " maaf aku terlambat" ucap nya menatap Lyona yang sudah bisa duduk sekarang
polisi memberikan sebuah tali " Apakah benar tali ini yang di gunakan? "
Lyona menatap nya " iya " lesuh
" Ibu mu bilang kau sangat takut saat melihat sebuah pisau, apakah kau di serang dengan alat-alat tajam? " tanya polisi lagi karena dia mendapat laporan bahwa Lyona seperti takut akan pisau
Lyona menatap polisi itu " dia menulis sesuatu di tanggan ku dengan pisau" mengingat dengan jelas kejadian itu
Polisi mengambil sebuah kertas " bisa kau gambarkan wajah nya? "
Lyona menangis pelan " aku tidak ingat wajah nya karena dia tersenyum begitu seram, tetapi saat aku bertemu dengannya lagi aku akan langsung mengenali nya "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments