“Tidak ada orang, tapi orang-orang papamu kembali menemukan bekas dupa dan kemenyan?” ucap Rain. Sementara di sebelahnya, Hasna yang masih terkantuk-kantuk, berangsur memeluknya dari samping.
“Dan mereka juga sudah berdoa loh Sayang,” ucap Hasna sengaja mengingatkan sang suami.
Dini hari, mereka yang sengaja mengutus ketiga mafia untuk kembali melakukan pemeriksaan ke hutan Tua, dikabari dengan hasil yang masih sama. Bahwa hutan itu tidak ada siapa-siapa. Tak ada seorang pun yang ada bahkan sekadar tanda-tanda.
“Jangan lupa, kita pernah disesatkan di pemakaman, yang kita lihat sebagai rumah sakit besar. Kamu bahkan pernah menenangkan anak kecil dan mengaji untuknya,” ucap Rain. “Yang namanya sihir dan ilmu hitam memang ada. Nabi kita saja pernah merasakannya. Jangan lupa, betapa ngerinya ilmu dari Asnawi,” lanjut Rain.
Menyimak itu, Hasna jadi merenung serius. “Berarti, kita butuh anak kecil buat menjalankan misi kita?”
“Dan pastikan warga kampung tahu, ada anak kecil yang masuk hutan Tua. Karena memang, pelakunya masih orang kampung itu juga,” sergah Rain yang kemudian langsung ditatap kedua matanya oleh Hasna.
“Masuk akal, tapi ...,” ucap Hasna yang malah menunda ucapannya.
“Tapi?” ucap Rain.
“Bagaimana jika sebenarnya, mereka tahu orang-orang kita sudah mengecek keadaan hutan Tua?” balas Hasna. “Di mata orang kita, mereka tidak terlihat. Namun di mata mereka, orang-orang kita terlihat!”
“Owh ... benar juga. Ya, ... yang penting bukan kita yang turun ke hutan, jadi mereka enggak akan mengenali kita,” ucap Rain.
“Percaya kepadaku, mereka enggak mungkin bisa melacak orang-orang kita! Ya sudah, ayo kita tidur. Besok, kita bawa Athan ke rumahnya Ibrahim. Lusanya setelah Syukur sehat, mau enggak mau, kita pancing mereka menggunakan Syukur bahkan Athan. Soalnya kalau aku nyamar jadi anak kecil ... tubuhku sejangkung dan sekekar ini. Aku beneran sudah enggak cocok jadi bocah. Masa iya, bocah raksasa. Kalau jadi ukhty lah masih bisa. Yang penting masih pakai yang tertutup gitu kan,” ucap Rain dan malah membuat Hasna menertawakannya.
***
Keesokan harinya, Rain dan Hasna sungguh mengajak Athan anak mereka ke rumah Ibrahim. Suasana di sana masih ramai antrean. Suara Ibrahim yang melantangkan ayat-ayat al-qur'an juga terdengar sangat jelas.
Rain sengaja mengemban Athan, sementara Hasna yang kali ini memakai jilbab keemasan, berjalan mengikuti di belakangnya. Karena seperti sebelumnya, mereka memang sengaja memarkir mobilnya agak jauh dari rumah Ibrahim.
Seperti biasa juga, pak Yusna tampak mendampingi Ibrahim. Pengobatan yang tengah bergulir tampak sangat lancar tanpa halangan. Ibrahim yang terlihat sehat bugar. Sementara pasien yang langsung mengangguk-angguk paham. Mereka nurut saja meski diarahkan tidak boleh mandi bahkan berkontak langsung dengan air, selama satu minggu pengobatan.
“Assalamualaikum Dek Ibrahim. Saya datang lagi dan sekarang, saya membawa putra saya yang mengalami gangguan dalam berbicara,” jelas Rain.
Ketika akhirnya giliran Rain tiba, pak Yusna yang awalnya baik-baik saja, mendadak gelisah parah. Sebab pak Yusna masih ingat, kemarin, Rain dan Hasna yang membuat Ibrahim tak berdaya.
“Waalaikumsalam, Mas. Ini anaknya bicaranya belum lancar, apa bagaimana?” balas pak Yusna.
Dalam diamnya, Athan yang pura-pura belum bisa bicara, sengaja menunduk. Sebab dari awal ke sana, jin-jin yang mengelilingi Ibrahim, terus menatapnya dengan bengis. Mereka yang kebanyakan gundul bertanduk dua dan merupakan laki-laki, seolah bisa merasakan bahwa Athan merupakan bocah istimewa.
Ada tujuh jin atau malah ibli.s yang mengelilingi Ibrahim. Tiga di antaranya kurcaci, sementara sisanya bertubuh jangkung. Keempat yang jangkung sibuk membungkuk hanya untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Ibrahim.
“Baik, mari kita mulai pengobatannya,” ucap pak Yusna jadi harap-harap cemas.
Kali ini, baik Rain maupun Hasna tak sengaja melakukan perlawanan. Karena alasan mereka ke sana memang hanya untuk memastikan lewat Athan. Hingga tentu saja, Ibrahim dengan sangat mudah melakukan pengobatan kepada Athan. Meski ketika Ibrahim menyentuh ubun-ubun Athan, bocah itu mendadak panik. Ibrahim buru-buru menarik tangan kanannya yang mirip tersetrum hanya karen menyentuh ubun-ubun Athan.
“Nah, ... kena,” batin Rain.
“Kenapa lagi? Sebenarnya mereka siapa?” pikir pak Yusna makin harap-harap cemas.
Saking khawatirnya, pak Yusna sengaja menyuruh seorang kurcaci untuk mengikuti rombongan Rain. Dengan jailnya, kurcaci tersebut naik ke punggung Hasna.
“Duh, ... duh, duh, ini kayak ada yang naik terus nempel di punggung. Dan jadi merinding arah gini,” batin Hasna yang detik itu juga jadi mirip menggendong Athan. Athan bahkan tak seberat apa yang sedang menempel di punggungnya.
Athan yang kembali diemban Rain, langsung menatap marah si kurcaci. “Kamu berani ikut ke kami, aku pastikan, kamu enggak bisa pulang! Apalagi sekarang, kamu berani-beraninya nakal ke mama aku!” tegas Athan tak lama setelah mereka jauh dari rumah Ibrahim.
Detik itu juga, Hasna yang awalnya sudah merinding, jadi makin merinding. Begitu juga dengan Rain yang langsung menjadikan apa yang di punggung Hasna sebagai pusat perhatian. Bahkan meski Rain tidak bisa melihat si kurcaci.
“Tabo.k dan balikin dia ke yang ngirim, Mas!” lirih Rain yang menatap saksama putranya.
Detik itu juga Athan mengambil bambu kuning yang sudah tersimpan di bagasi mobil papanya. Menggunakan tiga bambu kuning berukuran sejempol orang dewasa, Athan menghukum dan memuk uli kurcaci yang mengganggu Hasna. Kurcaci tersebut langsung kesakitan. Namun pada akhirnya, si kurcaci jadi sibuk menempel, minta gendong, dan sangat merepotkan pak Yusna. Karena memang seperti harapan Rain, Athan membuat si kurcaci kembali ke pengirimnya.
“Ini kamu ngapain sih? Malah bikin repot gini! Dikiranya kamu enggak berat?!” marah pak Yusna saking kewalahannya. Ia bahkan melakukannya di depan pasien yang sedang Ibrahim obati. Hingga yang ada, ia langsung diperhatikan.
“Mama langsung sakit ... kita ke hotel dulu Pa. Tapi sebelum itu, kita harus beli garam rendam buat Mama berendam sekaligus mandi. Biar efek kurcaci tadi, hilang!” ucap Athan memberi arahan.
Rain yang duduk di sebelah Hasna, mengangguk-angguk. Sementara Athan yang memang duduk di tempat duduk penumpang belakang orang tuanya, jadi sibuk memijat-mijat punggung mamanya.
“Istighfar Sayang,” ucap Rain sambil menggenggam sebelah tangan Hasna.
Hasna yang jadi sesak, lemas, panas, ngilu tak karuan, berangsur mengangguk-angguk sambil terus beristighfar.
“Enggak apa-apa. Yang penting sekarang sudah ketahuan, siapa dalangnya! Tinggal nunggu Syukur mendingan, terus jebak mereka ke TKP, biar kita punya bukti buat mengusut tuntas kasus ini,” ucap Rain lagi yang kemudian memeluk Hasna.
“Lagian si kurcaci ngapain kecentil.an minta gendong ke kamu sih. Oalah, kamu lagi mens, ya? Mungkin karena ini, demit-demit jadi nempel ke kamu. Berarti besok-besok, kamu jangan ikut!” ucap Rain lagi kali ini merasa kecolongan. Rain lupa mengenai sang istri yang pagi tadi mulai mens. Sementara wanita sedang mens memang jadi sensitif ke hal gaib.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Nur Bahagia
mengemban tuh maksudnya menggendong ya?
2024-06-29
0
Hilmiya Kasinji
iya memang , kata org2 istilahnya wanita yg sedang mens itu keadaannya sedang kotor
2024-06-28
0
Al Fatih
iya betul Bun,, kata mamaq,, perempuan yg haid itu bau nya wangi bagi penciumannya makhluk halus,, maka harus lebih hati-hati
2024-05-17
0