“Tuan Muda, terima kasih! Hati-hati ada pemuda lain yang masuk lagi ke dalam keretamu! Semoga kita cepat berjumpa lagi!”
Cheng Yao melambaikan tangannya ke kereta yang melaju meninggalkannya di keramaian. Dia baru saja lolos dari kejaran sekumpulan gadis gila yang merasa marah karena dia menjelek-jelekkan idola mereka. Ternyata tidak hanya di dunia modern, perilaku mengidolakan yang berlebihan juga ada di zaman kuno!
“Aku menyebutnya tampan, bukankah aku akan terkesan mesum?”
Cheng Yao kemudian berpikir. Setelah datang ke Kota Feng, rombongannya tidak langsung menuju kediaman Adipati Ning.
Jun Heng, orang kepercayaan Cheng Yao yang diminta memberinya informasi terkait Adipati Ning tidak kunjung datang.
Pos cabang Paviliun Zhanbai di Kota Feng juga tidak bisa segera memberikan informasi karena informasi mengenai keluarga kekaisaran hanya bisa didapat di markas utama. Jadi, Cheng Yao hanya bisa mencari informasinya sendiri dengan menyamar menjadi seorang pemuda.
Dia menanyakan hal-hal tentang Adipati Ning kepada sekumpulan gadis yang sedang makan di Restoran Yunlai. Siapa sangka itu akan berakhir dengan aksi pengejaran yang membabi buta setelah Cheng Yao mengatakan kalau Adipati Ning itu pria tua berusia lebih dari 50 tahun dan gemuk. Para gadis itu sudah patah hati karena Adipati Ning akan menikah dengan seorang Putri, seseorang mengatakan hal jelek tentangnya, mereka tentu saja murka!
“Adipati Ning adalah ketampanan nomor satu di Kota Feng, bahkan pemuda ibukota saja tidak bisa menandinginya. Beraninya kamu mengatakan dia tua dan gemuk!”
“Dia sepupu Kaisar, mengapa usianya tidak boleh jauh berbeda dengan Kaisar?” saat itu Cheng Yao menanggapi dengan ringan, namun perkataannya telah memicu kemarahan para gadis dan berakhir dikejar seperti buronan.
Pada akhirnya, Cheng Yao terpaksa menerobos ke dalam kereta seseorang untuk bersembunyi. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?
Dia hanya mencocokkan usia Adipati Ning dengan ayahnya yang Kaisar itu, karena secara garis keturunan Adipati Ning adalah sepupu ayahnya. Jadi, rentang usia mereka mungkin tidak jauh berbeda.
Cheng Yao jadi berpikir otak para gadis ini pasti bermasalah. Mata mereka pasti buta karena mengidolakan seseorang yang usianya jauh di atas mereka. Adipati Ning jelas-jelas sudah tua seperti ayahnya!
“Putri! Akhirnya aku menemukanmu!”
Xiuli menghampiri Cheng Yao dengan napas terengah-engah. Wajah pelayan itu penuh dengan keringat. Cuaca hari ini lumayan terik, jadi suhu udara secara otomatis naik. Dia mungkin telah berlarian di kota ini untuk mencarinya.
“Apa Jun Heng sudah kembali?”
“Tidak.”
“Jun Heng sialan! Aku akan memberinya pelajaran setelah dia tiba nanti!”
“Putri, aku pergi mencarimu karena kamu belum juga kembali. Aku takut kamu tersesat di Kota Feng yang asing ini.”
Sudut mulut Cheng Yao berkedut. “Apakah aku, Putri Danyang, begitu mudah tersesat?”
Walaupun itu benar, tapi tidak ada orang yang akan berani mengatakannya dengan jujur. Putri Danyang, selain pemalas, bodoh, dan nakal di mata orang, dia juga buta arah. Dia harus didampingi pelayannya setiap kali keluar istana secara diam-diam. Jika tidak, akan sulit menemukannya setelah beberapa jam tidak kembali.
“Tentu saja Putri yang terhebat dan tercantik. Tapi, kita harus segera kembali. Kita harus segera bersiap menuju kediaman Adipati Ning.”
“Ah?bApakah hari pernikahannya sudah tiba?”
Xiuli mengangguk. “Putri, besok adalah tanggal 15.”
Dalam titah dituliskan bahwa Putri Danyang dan Adipati Ning harus menikah di tanggal 15. Cheng Yao sibuk mencari informasi mengenai orang itu sampai dia melupakan tanggalnya.
Ya Tuhan, kalau sampai dia tidak menikah di tanggal 15, maka ayahnya yang Kaisar itu akan mengirim orang untuk meminta penjelasan! Hal-hal akan semakin merepotkan jika rubah tua itu sudah mengirim utusannya!
“Baiklah. Mari kembali. Utus seseorang untuk mengabarkan kedatangan kita ke kediaman Adipati Ning.”
Xiuli mengangguk. Mereka kembali ke penginapan setelah berjalan selama lima belas menit. Di kamarnya, Cheng Yao merebahkan diri di atas tempat tidur dan menghela napas. Pernikahannya dengan Adipati Ning adalah besok, tapi dia bahkan belum mengetahui apa-apa perihal orang yang akan dinikahinya.
Cheng Yao hanya tahu kalau Adipati Ning adalah sepupu dari Kaisar. Jika dia adalah seorang Putri yang baik dan diperhatikan, dia mungkin dapat menerima beberapa informasi tentangnya di istana.
Tapi, dia adalah Putri Danyang yang pemalas, bodoh, dan diabaikan. Mengetahui soal saudara-saudara sepupu Kaisar bukan sesuatu yang harus ia perhatikan.
Paviliun Zhanbai punya informasi tentang Adipati Ning, tapi titah pernikahan ini terlalu mendadak bagi Cheng Yao. Tidak ada waktu untuk menyelidiki siapa dan seperti apa sosok Adipati Ning yang sesungguhnya.
Dia ceroboh. Seharusnya dia tidak terlalu mengabaikan tentang saudara-saudara ayahnya yang lain. Sekarang saat Jun Heng tidak ada, dia tidak bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan meski dia sudah mengirimkan surat.
Tampaknya, selain memperbaiki sikap malasnya yang pura-pura, Cheng Yao juga harus memperbaiki manajemen pengelolaan organisasi rahasianya.
Cheng Yao menatap sekilas gaun pengantin yang digantung di sisi kiri tempat tidur. Dia benar-benar akan menikah kali ini.
Di zaman modern, Cheng Yao tidak punya waktu untuk memikirkan soal pernikahan. Setelah bertransformasi menjadi bayi keluarga kekaisaran dan tumbuh menjadi seorang Putri, dia diberikan kesempatan untuk menikahi seseorang.
Ah, apakah dia pernah memikirkannya? Entahlah. Cheng Yao malas memikirkannya. Dia memejamkan matanya dan tidur dengan damai.
Keesokan harinya, rombongan pengantin yang diutus dalam pernikahan Putri Danyang dan Adipati Ning meninggalkan penginapan.
Rombongan itu menarik perhatian seluruh penduduk kota, hingga mereka berbaris di sepanjang jalan untuk menyaksikan sebuah rombongan pengantin dengan mewah melewati jalan.
Orang-orang mulai bergosip.
“Apakah itu adalah rombongan pengantin yang dikirim Kaisar untuk pernikahan Putri Danyang dan Adipati Ning?”
“Mungkin. Selain Kaisar, siapa yang dapat mengirim rombongan sebanyak dan semewah ini?”
“Tapi, mengapa mereka pergi sendirian? Aku tidak melihat orang dari kediaman Adipati Ning ada di antara mereka.”
“Mungkinkah Adipati Ning tidak mengutus seseorang untuk menjemputnya? Tapi, dia adalah Putri Danyang, Putri kandung Kaisar. Adipati Ning juga harus menghormatinya.”
“Aiya, apakah kamu tidak tahu? Katanya, Putri Danyang ini tidak disayangi di istana. Dia diabaikan sejak kecil oleh Kaisar. Selain nakal, dia juga malas dan bodoh. Wajahnya bulat, pipinya tembam, tangan dan kakinya bengkak dan berlapis lemak. Selain itu, dia juga pendek dan gemuk. Adipati Ning kita selalu sempurna, bagaimana bisa menikah dengan orang jelek seperti ini?”
“Perkataanmu masuk akal. Karena tidak dapat melanggar titah, mungkin Adipati Ning hanya tidak ingin menjemputnya secara langsung sebagai bentuk protesnya.”
“Hush! Kalian tidak boleh bicara buruk tentang Adipati Ning!”
Xiuli mengintip dari tirai jendela kereta. Ekspresinya buruk. Orang-orang ini sungguh tidak tahu apa-apa! Mereka dengan seenaknya mengatakan kalau Putri Danyang jelek! Mereka kurang ajar!
“Putri, mereka menjelek-jelekkan Putri. Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja?”
“Abaikan saja. Kita datang bukan untuk mendengarkan ocehan sekumpulan penggosip itu.”
Xiuli hanya bisa merasa sedih dan marah untuk tuannya. Putri Danyang benar-benar abai terhadap rumor buruk tentangnya di luar sana. Selain makan dan tidur, dia hanya mementingkan urusan bisnisnya di balik layar. Dia sangat tidak peduli pada citra dirinya sendiri.
Cheng Yao tentu tahu apa yang dipikirkan oleh pelayannya. Tapi, apa daya?
Dia sudah memutuskan untuk hidup sebagai orang yang tidak berguna di hadapan semua orang, tetapi sangat terampil dan mengejutkan di belakang layar. Cheng Yao sudah sangat nyaman dengan kehidupan gandanya, jadi, reputasi itu tidak penting untuknya.
“Adipati Ning juga sangat keterlaluan! Tidak hanya tidak menjemput pengantin, dia bahkan tidak mengirim satu orang pun sebagai utusan! Putri, Adipati Ning sangat tidak
menghormati Putri!”
“Dia adalah adipati yang berkuasa, dan aku hanya seorang Putri yang tidak berguna. Mungkin saja pria tua itu sedang terbaring di tempat tidur karena sakit sampai tidak bisa bangun.”
“Yang Mulia….” Xiuli merengut.
“Sudahlah. Lihat riasanku, apakah ada yang kurang? Meskipun aku menikahi pria tua seusia ayahku, aku harus tetap terlihat cantik. Wajah pemberian Tuhan ini tidak boleh sia-sia.”
Ketika Xiuli sibuk merengut karena tingkah acuh tak acuh sang Putri, seseorang dari rombongan pengiring pengantin memberitahu mereka bahwa sepuluh meter di depan adalah kediaman Adipati Ning. Xiuli mengintip dari balik tirai kereta, lalu kembali masuk dan merengut. Kali ini lebih parah.
“Kenapa?” tanya Cheng Yao.
“Putri, Adipati Ning bahkan tidak menyiapkan apapun. Xiuli hanya melihat seorang pria setengah baya dan seorang pemuda berbaju hitam membawa pedang sedang berdiri di depan pintu gerbang.”
“Benarkah?”
Cheng Yao ingin mengintip, tapi kereta kuda tiba-tiba berhenti. Sepertinya sepuluh meter yang dikatakan oleh pengiring di luar dilalui dengan cepat. Suara tabuhan musik berhenti tepat ketika rombongan sampai di depan gerbang kediaman Adipati Ning yang megah dan gemilang.
Jing Fu, yang merupakan kepala pengurus kediaman adipati menunggu di depan gerbang. Ling Ren, saudara Ling Yun ikut menunggu bersamanya. Ketika kereta tiba, keduanyansegera datang menyambut mereka.
Jing Fu berdiri di sisi kereta, menundukkan kepala dan memberi postur penghormatan.
“Putri, selamat datang. Mohon maafkan kelalaian kami dalam menyambut kedatangan Putri. Adipati Ning sedang memiliki urusan penting sehingga tidak dapat menyambut Putri secara langsung. Mohon Putri tidak tersinggung.”
“Lancang sekali! Ini adalah Putri Danyang, Putri Kaisar. Adipati kalian bahkan tidak mengirimkan utusan untuk menjemput Putri kami, apakah Adipati Ning kalian tidak menghormati Putri dan Kaisar?”
Jing Fu, Ling Ren, diikuti oleh para penjaga gerbang kediaman seketika berlutut begitu Xiuli berkata dari dalam kereta.
Setiap kata yang dikeluarkannya membuat mereka bergetar. Ya, calon istri Adipati Ning adalah Putri Danyang, meski tidak disayangi dan tidak punya kekuasaan, mereka tetap harus menghormatinya.
“Xiuli, jangan menakuti mereka dan membuat mereka salah paham,” Cheng Yao dengan malas menegur Xiuli. Teguran itu membuat pelayan tersebut diam, menyerahkan segala urusannya kepada sang tuan.
Jing Fu dan Ling Ren masih berlutut, enggan berdiri jika Cheng Yao belum memaafkan kelancangan mereka. Di dalam kereta, Cheng Yao menghela napasnya, mengambil saputangan putih, pura-pura batuk. Kemudian, dia menyuruh Xiuli untuk membantunya turun.
Ketika Jing Fu dan Ling Ren mendongak, mereka terkejut.
Itu…..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Ita Xiaomi
Setuju. Hrs menjaga dan menyayangi apa yg telah diberikan utk kita.
2024-11-06
0
Ita Xiaomi
Sptnya itu penampakkan Cheng Yao waktu msh bayi😁
2024-11-06
0
Ita Xiaomi
Jun Heng lg dibuat sibuk ama Kaisar jd ndak bs beri informasi. Sotoy aku tuh😁.
2024-11-06
0