Eps. 3: Tidak Ada Penyambutan

“Tuan Muda, terima kasih! Hati-hati ada pemuda lain yang masuk lagi ke dalam keretamu! Semoga kita cepat berjumpa lagi!”

Cheng Yao melambaikan tangannya ke kereta yang melaju meninggalkannya di keramaian. Dia baru saja lolos dari kejaran sekumpulan gadis gila yang merasa marah karena dia menjelek-jelekkan idola mereka. Ternyata tidak hanya di dunia modern, perilaku mengidolakan yang berlebihan juga ada di zaman kuno!

“Aku menyebutnya tampan, bukankah aku akan terkesan mesum?”

Cheng Yao kemudian berpikir. Setelah datang ke Kota Feng, rombongannya tidak langsung menuju kediaman Adipati Ning.

Jun Heng, orang kepercayaan Cheng Yao yang diminta memberinya informasi terkait Adipati Ning tidak kunjung datang.

Pos cabang Paviliun Zhanbai di Kota Feng juga tidak bisa segera memberikan informasi karena informasi mengenai keluarga kekaisaran hanya bisa didapat di markas utama. Jadi, Cheng Yao hanya bisa mencari informasinya sendiri dengan menyamar menjadi seorang pemuda.

Dia menanyakan hal-hal tentang Adipati Ning kepada sekumpulan gadis yang sedang makan di Restoran Yunlai. Siapa sangka itu akan berakhir dengan aksi pengejaran yang membabi buta setelah Cheng Yao mengatakan kalau Adipati Ning itu pria tua berusia lebih dari 50 tahun dan gemuk. Para gadis itu sudah patah hati karena Adipati Ning akan menikah dengan seorang Putri, seseorang mengatakan hal jelek tentangnya, mereka tentu saja murka!

“Adipati Ning adalah ketampanan nomor satu di Kota Feng, bahkan pemuda ibukota saja tidak bisa menandinginya. Beraninya kamu mengatakan dia tua dan gemuk!”

“Dia sepupu Kaisar, mengapa usianya tidak boleh jauh berbeda dengan Kaisar?” saat itu Cheng Yao menanggapi dengan ringan, namun perkataannya telah memicu kemarahan para gadis dan berakhir dikejar seperti buronan.

Pada akhirnya, Cheng Yao terpaksa menerobos ke dalam kereta seseorang untuk bersembunyi. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?

Dia hanya mencocokkan usia Adipati Ning dengan ayahnya yang Kaisar itu, karena secara garis keturunan Adipati Ning adalah sepupu ayahnya. Jadi, rentang usia mereka mungkin tidak jauh berbeda.

Cheng Yao jadi berpikir otak para gadis ini pasti bermasalah. Mata mereka pasti buta karena mengidolakan seseorang yang usianya jauh di atas mereka. Adipati Ning jelas-jelas sudah tua seperti ayahnya!

“Putri! Akhirnya aku menemukanmu!”

Xiuli menghampiri Cheng Yao dengan napas terengah-engah. Wajah pelayan itu penuh dengan keringat. Cuaca hari ini lumayan terik, jadi suhu udara secara otomatis naik. Dia mungkin telah berlarian di kota ini untuk mencarinya.

“Apa Jun Heng sudah kembali?”

“Tidak.”

“Jun Heng sialan! Aku akan memberinya pelajaran setelah dia tiba nanti!”

“Putri, aku pergi mencarimu karena kamu belum juga kembali. Aku takut kamu tersesat di Kota Feng yang asing ini.”

Sudut mulut Cheng Yao berkedut. “Apakah aku, Putri Danyang, begitu mudah tersesat?”

Walaupun itu benar, tapi tidak ada orang yang akan berani mengatakannya dengan jujur. Putri Danyang, selain pemalas, bodoh, dan nakal di mata orang, dia juga buta arah. Dia harus didampingi pelayannya setiap kali keluar istana secara diam-diam. Jika tidak, akan sulit menemukannya setelah beberapa jam tidak kembali.

“Tentu saja Putri yang terhebat dan tercantik. Tapi, kita harus segera kembali. Kita harus segera bersiap menuju kediaman Adipati Ning.”

“Ah?bApakah hari pernikahannya sudah tiba?”

Xiuli mengangguk. “Putri, besok adalah tanggal 15.”

Dalam titah dituliskan bahwa Putri Danyang dan Adipati Ning harus menikah di tanggal 15. Cheng Yao sibuk mencari informasi mengenai orang itu sampai dia melupakan tanggalnya.

Ya Tuhan, kalau sampai dia tidak menikah di tanggal 15, maka ayahnya yang Kaisar itu akan mengirim orang untuk meminta penjelasan! Hal-hal akan semakin merepotkan jika rubah tua itu sudah mengirim utusannya!

“Baiklah. Mari kembali. Utus seseorang untuk mengabarkan kedatangan kita ke kediaman Adipati Ning.”

Xiuli mengangguk. Mereka kembali ke penginapan setelah berjalan selama lima belas menit. Di kamarnya, Cheng Yao merebahkan diri di atas tempat tidur dan menghela napas. Pernikahannya dengan Adipati Ning adalah besok, tapi dia bahkan belum mengetahui apa-apa perihal orang yang akan dinikahinya.

Cheng Yao hanya tahu kalau Adipati Ning adalah sepupu dari Kaisar. Jika dia adalah seorang Putri yang baik dan diperhatikan, dia mungkin dapat menerima beberapa informasi tentangnya di istana.

Tapi, dia adalah Putri Danyang yang pemalas, bodoh, dan diabaikan. Mengetahui soal saudara-saudara sepupu Kaisar bukan sesuatu yang harus ia perhatikan.

Paviliun Zhanbai punya informasi tentang Adipati Ning, tapi titah pernikahan ini terlalu mendadak bagi Cheng Yao. Tidak ada waktu untuk menyelidiki siapa dan seperti apa sosok Adipati Ning yang sesungguhnya.

Dia ceroboh. Seharusnya dia tidak terlalu mengabaikan tentang saudara-saudara ayahnya yang lain. Sekarang saat Jun Heng tidak ada, dia tidak bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan meski dia sudah mengirimkan surat.

Tampaknya, selain memperbaiki sikap malasnya yang pura-pura, Cheng Yao juga harus memperbaiki manajemen pengelolaan organisasi rahasianya.

Cheng Yao menatap sekilas gaun pengantin yang digantung di sisi kiri tempat tidur. Dia benar-benar akan menikah kali ini.

Di zaman modern, Cheng Yao tidak punya waktu untuk memikirkan soal pernikahan. Setelah bertransformasi menjadi bayi keluarga kekaisaran dan tumbuh menjadi seorang Putri, dia diberikan kesempatan untuk menikahi seseorang.

Ah, apakah dia pernah memikirkannya? Entahlah. Cheng Yao malas memikirkannya. Dia memejamkan matanya dan tidur dengan damai.

Keesokan harinya, rombongan pengantin yang diutus dalam pernikahan Putri Danyang dan Adipati Ning meninggalkan penginapan.

Rombongan itu menarik perhatian seluruh penduduk kota, hingga mereka berbaris di sepanjang jalan untuk menyaksikan sebuah rombongan pengantin dengan mewah melewati jalan.

Orang-orang mulai bergosip.

“Apakah itu adalah rombongan pengantin yang dikirim Kaisar untuk pernikahan Putri Danyang dan Adipati Ning?”

“Mungkin. Selain Kaisar, siapa yang dapat mengirim rombongan sebanyak dan semewah ini?”

“Tapi, mengapa mereka pergi sendirian? Aku tidak melihat orang dari kediaman Adipati Ning ada di antara mereka.”

“Mungkinkah Adipati Ning tidak mengutus seseorang untuk menjemputnya? Tapi, dia adalah Putri Danyang, Putri kandung Kaisar. Adipati Ning juga harus menghormatinya.”

“Aiya, apakah kamu tidak tahu? Katanya, Putri Danyang ini tidak disayangi di istana. Dia diabaikan sejak kecil oleh Kaisar. Selain nakal, dia juga malas dan bodoh. Wajahnya bulat, pipinya tembam, tangan dan kakinya bengkak dan berlapis lemak. Selain itu, dia juga pendek dan gemuk. Adipati Ning kita selalu sempurna, bagaimana bisa menikah dengan orang jelek seperti ini?”

“Perkataanmu masuk akal. Karena tidak dapat melanggar titah, mungkin Adipati Ning hanya tidak ingin menjemputnya secara langsung sebagai bentuk protesnya.”

“Hush! Kalian tidak boleh bicara buruk tentang Adipati Ning!”

Xiuli mengintip dari tirai jendela kereta. Ekspresinya buruk. Orang-orang ini sungguh tidak tahu apa-apa! Mereka dengan seenaknya mengatakan kalau Putri Danyang jelek! Mereka kurang ajar!

“Putri, mereka menjelek-jelekkan Putri. Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja?”

“Abaikan saja. Kita datang bukan untuk mendengarkan ocehan sekumpulan penggosip itu.”

Xiuli hanya bisa merasa sedih dan marah untuk tuannya. Putri Danyang benar-benar abai terhadap rumor buruk tentangnya di luar sana. Selain makan dan tidur, dia hanya mementingkan urusan bisnisnya di balik layar. Dia sangat tidak peduli pada citra dirinya sendiri.

Cheng Yao tentu tahu apa yang dipikirkan oleh pelayannya. Tapi, apa daya?

Dia sudah memutuskan untuk hidup sebagai orang yang tidak berguna di hadapan semua orang, tetapi sangat terampil dan mengejutkan di belakang layar. Cheng Yao sudah sangat nyaman dengan kehidupan gandanya, jadi, reputasi itu tidak penting untuknya.

“Adipati Ning juga sangat keterlaluan! Tidak hanya tidak menjemput pengantin, dia bahkan tidak mengirim satu orang pun sebagai utusan! Putri, Adipati Ning sangat tidak

menghormati Putri!”

“Dia adalah adipati yang berkuasa, dan aku hanya seorang Putri yang tidak berguna. Mungkin saja pria tua itu sedang terbaring di tempat tidur karena sakit sampai tidak bisa bangun.”

“Yang Mulia….” Xiuli merengut.

“Sudahlah. Lihat riasanku, apakah ada yang kurang? Meskipun aku menikahi pria tua seusia ayahku, aku harus tetap terlihat cantik. Wajah pemberian Tuhan ini tidak boleh sia-sia.”

Ketika Xiuli sibuk merengut karena tingkah acuh tak acuh sang Putri, seseorang dari rombongan pengiring pengantin memberitahu mereka bahwa sepuluh meter di depan adalah kediaman Adipati Ning. Xiuli mengintip dari balik tirai kereta, lalu kembali masuk dan merengut. Kali ini lebih parah.

“Kenapa?” tanya Cheng Yao.

“Putri, Adipati Ning bahkan tidak menyiapkan apapun. Xiuli hanya melihat seorang pria setengah baya dan seorang pemuda berbaju hitam membawa pedang sedang berdiri di depan pintu gerbang.”

“Benarkah?”

Cheng Yao ingin mengintip, tapi kereta kuda tiba-tiba berhenti. Sepertinya sepuluh meter yang dikatakan oleh pengiring di luar dilalui dengan cepat. Suara tabuhan musik berhenti tepat ketika rombongan sampai di depan gerbang kediaman Adipati Ning yang megah dan gemilang.

Jing Fu, yang merupakan kepala pengurus kediaman adipati menunggu di depan gerbang. Ling Ren, saudara Ling Yun ikut menunggu bersamanya. Ketika kereta tiba, keduanyansegera datang menyambut mereka.

Jing Fu berdiri di sisi kereta, menundukkan kepala dan memberi postur penghormatan.

“Putri, selamat datang. Mohon maafkan kelalaian kami dalam menyambut kedatangan Putri. Adipati Ning sedang memiliki urusan penting sehingga tidak dapat menyambut Putri secara langsung. Mohon Putri tidak tersinggung.”

“Lancang sekali! Ini adalah Putri Danyang, Putri Kaisar. Adipati kalian bahkan tidak mengirimkan utusan untuk menjemput Putri kami, apakah Adipati Ning kalian tidak menghormati Putri dan Kaisar?”

Jing Fu, Ling Ren, diikuti oleh para penjaga gerbang kediaman seketika berlutut begitu Xiuli berkata dari dalam kereta.

Setiap kata yang dikeluarkannya membuat mereka bergetar. Ya, calon istri Adipati Ning adalah Putri Danyang, meski tidak disayangi dan tidak punya kekuasaan, mereka tetap harus menghormatinya.

“Xiuli, jangan menakuti mereka dan membuat mereka salah paham,” Cheng Yao dengan malas menegur Xiuli. Teguran itu membuat pelayan tersebut diam, menyerahkan segala urusannya kepada sang tuan.

Jing Fu dan Ling Ren masih berlutut, enggan berdiri jika Cheng Yao belum memaafkan kelancangan mereka. Di dalam kereta, Cheng Yao menghela napasnya, mengambil saputangan putih, pura-pura batuk. Kemudian, dia menyuruh Xiuli untuk membantunya turun.

Ketika Jing Fu dan Ling Ren mendongak, mereka terkejut.

Itu…..

Terpopuler

Comments

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Setuju. Hrs menjaga dan menyayangi apa yg telah diberikan utk kita.

2024-11-06

0

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Sptnya itu penampakkan Cheng Yao waktu msh bayi😁

2024-11-06

0

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Jun Heng lg dibuat sibuk ama Kaisar jd ndak bs beri informasi. Sotoy aku tuh😁.

2024-11-06

0

lihat semua
Episodes
1 Eps. 1: Ditipu Kaisar
2 Eps. 2: Idola Kaum Muda
3 Eps. 3: Tidak Ada Penyambutan
4 Eps. 4: Putri dalam Rumor
5 Eps. 5: Si Buta yang Tampan
6 Eps. 6: Silsilah Kelahiran Adipati Ning
7 Eps. 7: Jangan Bicara Soal Orang Lain
8 Eps. 8: Pernikahan Adipati dan Sang Putri
9 Eps. 9: Harus Mendapatkan Malam Pertama!
10 Eps. 10: Pemuda Flamboyan adalah Tuan Putri!
11 Eps. 11: Tidak Bisa Memaklumi
12 Eps. 12: Kunci Kelemahan Masing-Masing
13 Eps. 13: Adipati Sudah Lari
14 Eps. 14: Kursi Panas
15 Eps. 15: Bicara dengan Kenyataan
16 Eps. 16: Berhenti Pura-Pura
17 Eps. 17: Informasi Payah
18 Eps. 18: Paman Kecil, Mari Bersepakat Denganku!
19 Eps. 19: Perjanjian
20 Eps. 20: Sekarat
21 Eps. 21: Menawar Racun
22 Eps. 22: Ingkar Janji
23 Eps. 23: Melampiaskan Amarah
24 Eps. 24: Ambisi Tersembunyi
25 Eps. 25: Festival Perahu Naga
26 Eps. 26: Menjadi Umpan Meriam
27 Eps. 27: Penjelasan
28 Eps. 28: Mencari Tahu Rencana
29 Eps. 29: Akan Berkunjung
30 Eps. 30: Gagal
31 Eps. 31: Gangguan
32 Eps. 32: Titah Pengawalan
33 Eps. 33: Kebencian
34 Eps. 34: Pemberangkatan
35 Eps. 35: Sebuah Alasan
36 Eps. 36: Pembunuh Utusan
37 Eps. 37: Menuju Ibukota Jin
38 Eps. 38: Ada Orang Lain
39 Eps. 39: Ramah Tamah Ibukota Jin
40 Eps. 40: Jamuan Penyambutan
41 Eps. 41: Tidak Bisa Dibandingkan
42 Eps. 42: Hadiah Pertemuan
43 Eps. 43: Menjadi Sempurna
44 Eps. 44: Kekuatan untuk Chengjia
45 Eps. 45: Penculikan
46 Eps. 46: Pembakaran
47 Eps. 47: Pertolongan
48 Eps. 48: Tidak Mudah Ditindas
49 Eps. 49: Rindu
50 Eps. 50: Panggilan Mendadak
51 Eps. 51: Niat yang Sesungguhnya
52 Eps. 52: Sengaja Masuk Jebakan
53 Eps. 53: Pertemuan
54 Eps. 54: Tangan Jahat
55 Eps. 55: Apakah Kamu Ingin Menjadi Kaisar?
56 Eps. 56: Rencana demi Rencana
57 Eps. 57: Mengadu Siasat
58 Eps. 58: Menghajar Orang Sombong
59 Eps. 59: Menenangkan Istri
60 Eps. 60: Bermain Air
61 Eps. 61: Memulai Rencana
62 Eps. 62: Keagungan yang Jatuh
63 Eps. 63: Tempat Penahanan
64 Eps. 64: Bayangan
65 Eps. 65: Induk Serangga!
66 Eps. 66: Surat Kesepakatan
67 Eps. 67: Menjadi Pemberontak
68 Eps. 68: Memberi Makan
69 Eps. 69: Bagi Tugas
70 Eps. 70: Menangkap Imigran Asing
71 Eps. 71: Khawatir
72 Eps. 72: Memaksakan Takhta
73 Eps. 73: Pemberontak Harus Mati
74 Eps. 74: Pemikiran Lain
75 Eps. 75: Pulih
76 Eps. 76: Rencana Penebusan
77 Eps. 77: Dendam Kesumat
78 Eps. 78: Penundaan
79 Eps. 79: Gelagat Aneh
80 Eps. 80: Bertemu Kaisar Dayan
81 Eps. 81: Kediaman Baru
82 Eps. 82: Pembawa Kabar
83 Eps. 83: Keputusan Kaisar
84 Eps. 84: Perjalanan Kembali
85 Eps. 85: Arogan
86 Eps. 86: Secercah Cahaya Matahari
87 Eps. 87: Tak Tahan Rindu
88 Eps. 88: Kabar dari Perbatasan
89 Eps. 89: Bantuan Paviliun Zhanbai
90 Eps. 90: Kesal
91 Eps. 91: Penghinaan Besar
92 Eps. 92: Kabar untuk Istana
93 Eps. 93: Hadiah
94 Eps. 94: Puncak Pertarungan
95 Eps. 95: Sampai Akhir
96 Eps. 96: Pertanda
97 Eps. 97: Mencari Kabar
98 Eps. 98: Orang yang Kembali dari Kematian
99 Eps. 99: Kesulitan
100 Eps. 100: Keberuntungan
101 Eps. 101: Sayang Anak
102 Eps. 102: Menanyakan Pilihan
103 Eps. 103: Membayar Harga
104 Eps. 104: Mewariskan Takhta
105 Eps. 105: Persinggahan Terakhir
106 Episode Spesial 1: Warisan
107 Episode Spesial 2: Pulang
108 Episode Spesial 3: Keturunan
109 Pemberitahuan Karya Baru
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Eps. 1: Ditipu Kaisar
2
Eps. 2: Idola Kaum Muda
3
Eps. 3: Tidak Ada Penyambutan
4
Eps. 4: Putri dalam Rumor
5
Eps. 5: Si Buta yang Tampan
6
Eps. 6: Silsilah Kelahiran Adipati Ning
7
Eps. 7: Jangan Bicara Soal Orang Lain
8
Eps. 8: Pernikahan Adipati dan Sang Putri
9
Eps. 9: Harus Mendapatkan Malam Pertama!
10
Eps. 10: Pemuda Flamboyan adalah Tuan Putri!
11
Eps. 11: Tidak Bisa Memaklumi
12
Eps. 12: Kunci Kelemahan Masing-Masing
13
Eps. 13: Adipati Sudah Lari
14
Eps. 14: Kursi Panas
15
Eps. 15: Bicara dengan Kenyataan
16
Eps. 16: Berhenti Pura-Pura
17
Eps. 17: Informasi Payah
18
Eps. 18: Paman Kecil, Mari Bersepakat Denganku!
19
Eps. 19: Perjanjian
20
Eps. 20: Sekarat
21
Eps. 21: Menawar Racun
22
Eps. 22: Ingkar Janji
23
Eps. 23: Melampiaskan Amarah
24
Eps. 24: Ambisi Tersembunyi
25
Eps. 25: Festival Perahu Naga
26
Eps. 26: Menjadi Umpan Meriam
27
Eps. 27: Penjelasan
28
Eps. 28: Mencari Tahu Rencana
29
Eps. 29: Akan Berkunjung
30
Eps. 30: Gagal
31
Eps. 31: Gangguan
32
Eps. 32: Titah Pengawalan
33
Eps. 33: Kebencian
34
Eps. 34: Pemberangkatan
35
Eps. 35: Sebuah Alasan
36
Eps. 36: Pembunuh Utusan
37
Eps. 37: Menuju Ibukota Jin
38
Eps. 38: Ada Orang Lain
39
Eps. 39: Ramah Tamah Ibukota Jin
40
Eps. 40: Jamuan Penyambutan
41
Eps. 41: Tidak Bisa Dibandingkan
42
Eps. 42: Hadiah Pertemuan
43
Eps. 43: Menjadi Sempurna
44
Eps. 44: Kekuatan untuk Chengjia
45
Eps. 45: Penculikan
46
Eps. 46: Pembakaran
47
Eps. 47: Pertolongan
48
Eps. 48: Tidak Mudah Ditindas
49
Eps. 49: Rindu
50
Eps. 50: Panggilan Mendadak
51
Eps. 51: Niat yang Sesungguhnya
52
Eps. 52: Sengaja Masuk Jebakan
53
Eps. 53: Pertemuan
54
Eps. 54: Tangan Jahat
55
Eps. 55: Apakah Kamu Ingin Menjadi Kaisar?
56
Eps. 56: Rencana demi Rencana
57
Eps. 57: Mengadu Siasat
58
Eps. 58: Menghajar Orang Sombong
59
Eps. 59: Menenangkan Istri
60
Eps. 60: Bermain Air
61
Eps. 61: Memulai Rencana
62
Eps. 62: Keagungan yang Jatuh
63
Eps. 63: Tempat Penahanan
64
Eps. 64: Bayangan
65
Eps. 65: Induk Serangga!
66
Eps. 66: Surat Kesepakatan
67
Eps. 67: Menjadi Pemberontak
68
Eps. 68: Memberi Makan
69
Eps. 69: Bagi Tugas
70
Eps. 70: Menangkap Imigran Asing
71
Eps. 71: Khawatir
72
Eps. 72: Memaksakan Takhta
73
Eps. 73: Pemberontak Harus Mati
74
Eps. 74: Pemikiran Lain
75
Eps. 75: Pulih
76
Eps. 76: Rencana Penebusan
77
Eps. 77: Dendam Kesumat
78
Eps. 78: Penundaan
79
Eps. 79: Gelagat Aneh
80
Eps. 80: Bertemu Kaisar Dayan
81
Eps. 81: Kediaman Baru
82
Eps. 82: Pembawa Kabar
83
Eps. 83: Keputusan Kaisar
84
Eps. 84: Perjalanan Kembali
85
Eps. 85: Arogan
86
Eps. 86: Secercah Cahaya Matahari
87
Eps. 87: Tak Tahan Rindu
88
Eps. 88: Kabar dari Perbatasan
89
Eps. 89: Bantuan Paviliun Zhanbai
90
Eps. 90: Kesal
91
Eps. 91: Penghinaan Besar
92
Eps. 92: Kabar untuk Istana
93
Eps. 93: Hadiah
94
Eps. 94: Puncak Pertarungan
95
Eps. 95: Sampai Akhir
96
Eps. 96: Pertanda
97
Eps. 97: Mencari Kabar
98
Eps. 98: Orang yang Kembali dari Kematian
99
Eps. 99: Kesulitan
100
Eps. 100: Keberuntungan
101
Eps. 101: Sayang Anak
102
Eps. 102: Menanyakan Pilihan
103
Eps. 103: Membayar Harga
104
Eps. 104: Mewariskan Takhta
105
Eps. 105: Persinggahan Terakhir
106
Episode Spesial 1: Warisan
107
Episode Spesial 2: Pulang
108
Episode Spesial 3: Keturunan
109
Pemberitahuan Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!