Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
Alen menatap Zie dan bergumam dalam hatinya,
'Bagaimana bisa dia melewati semua itu? Di balik wajah nya yang selalu happy ada banyak penderitaan yang tidak akan di ketahui banyak orang. Kenapa ada orang jahat yang merusak kepercayaannya untuk orang sebaik dia?' Bathin Alen.
Zie yang menengok dan terkejut karena Alen terpaku menatapnya.
"Em... Kak? Kenapa?" Tanya Zie.
"Oh! Nggak. Nggak apa-apa, aku cuman berfikir aja kenapa kamu bisa sembunyikan masalah seberat ini sendirian dan menurut aku di umur kamu yang sekarang belum waktu yang tepat." Ujar Alen.
"Kak, tingkatan kita berbeda. Kakak terlahir sudah apa adanya menerima kekayaan dari keluarga kakak sedangkan aku..."
Zie terhenti tidak melanjutkan kata-kata nya.
"Kamu kenapa?" Tanya Alen.
"Hufft! Aku belum menceritakan ini kepada siapapun, bahkan Gea dan Helen belum tahu tentang hal ini." Tukas Zie.
"Oh? Aku tidak akan memaksakan kamu untuk cerita tidak apa-apa." Tahan Alen.
Zie tersenyum dan meminum minuman nya.
"Aku sebenernya di temukan saat umur 9 tahun di tengah perjalanan. Cerita singkatnya, aku mungkin terlempar saat terjadi kecelakaan mobil terjadi sampai saat ini aku belum mengingat apa-apa dan aku tidak tahu bagaimana asal usulku sebenarnya." Cerita Zie membuat Alen melebarkan bola matanya terkejut.
"Berarti..."
"Kak, aku nggak apa bener. Jangan menatap aku dengan tatapan kasihan seperti itu, aku sudah hampir 10 tahun dengan identitasku yang sekarang. Walaupun jujur aku merasa tersiksa tapi aku bahagia di sayangi oleh kak Aksa, Kak Rendra, mama dan ayah. Jiika satu hari nanti aku di temukan oleh keluarga asliku, aku juga gak akan bisa menjauh dari keluarga yang sekarang. Entahlah, apa yang akan terjadi nanti dan apakah aku memang di cari oleh keluarga ku. Aku tidak tahu." Ungkap Zie dengan senyum tegar nya.
Alen terdiam mendengar kisah Zie.
"Kak?" Panggil Zie.
"Em? Oh ya, sorry aku nggak bermaksud begitu. Tapi, aku yakin satu hari nanti kamu bakal bahagia." Yakin Alen memberi semangat untuk Zie.
Zie tersenyum manis.
"Kak, aku juga akan mendoakan kebahagiaan yang sama untuk kakak." Kata Zie.
"Aku boleh nanya gak?" Tanya Alen.
"Boleh kak, kalau aku bisa jawab pasti aku jawab." Sahut Zie.
"Kamu baik-baik aja kan setelah kecelakaan umur segitu? Maksud aku ada yang pura-pura jadi ortu kamu kah atau hal lainnya?" Tanya Alen.
"Belum sih kak, harusnya pas umur aku segini baru bisa di cari sih kak. Lagi pula bakal susah juga, kan pas di temuin mereka cuman tau nama panggilan aku doang dan belum bisa ngomong banyak. Kayak nya juga pas saat itu aku bener-bener gak ngomong sama sekali berbulan-bulan, entah bagaimana akhirnya aku bisa kayak sekkarang." Jelas Zie.
"Kamu benar juga. Oh kalau ada yang datang ke rumah papa kamu gimana? Nanti mereka bisa ketipu dan Cyta ngaku kalau dia yang jadi..."
"Aku udah bisa nebak kak kalau hal seperti itu pasti bakal terjadi kalau bener aku dari keluarga bangsawan kayak kakak yang terkenal." Ucap Zie.
"Kamu punya foto-foto kamu waktu kecil kan? Ada di apartemen kamu?" Tanya Alen.
"Ada kak. Aku di kasih satu album khusus foto-foto aku sama mama dari awal ketemu masih dirumah sakit sampe tahun ini, sepertinya aku harus mengumpulkan sendiri mulai dari tahun depan. Mama kasih aku sebelum aku berangkat kesini hehe..." Ungkap Zie.
"Zie ini bukan waktunya tertawa, harusnya kamu menangis atau sedih." Bingung Alen.
"Aku menangisi kehilangan seorang Antonio? Nggak deh kak. Lagian orang kayak dia nggak pantas buat di tangisin, Mungkin karena aku udah terlalu mencintainya jadi buat lepas pun gampang-gampang aja. Tapi bukan berarti buat cari pengganti dalam hitungan jam juga, Itu sih namanya cari pelarian." Ujar Zie.
"Kamu benar. Kalau kita sudah mencintai seseorang dengan sepenuh hati dan mempertahankan bagaimanapun kondisinya. Ketika disakiti rasanya kayak udah kebal gitu, oh ya kamu pasti kaget kan dengar berita kalau aku cucu dari oma Leonard. Sejak awal aku nggak mau di publish karena pasti mereka akan menanyakan mengenai oma bukan aku dan secara tidak langsung kehidupan pribadiku akan ikut jadi pemberitaan di seluruh dunia." Kata Alen.
"Ah! Benar. Kak, dengan kakak yang aku belum ketahui sebagai cucu dari oma Leonard aja auura nya udah cukup membuat satu kampus segan gimana di tambah semua tahu kalau kakak benar-benar cucu dari oma Leonard. Semua tentang kehidupan kakak bakall jadi penasaran buat orang-orang luar, wah semoga aku bukan dari orang berada seperti kakak. Aku tidak akan nyaman hidupp selalu di ikuti wartawan atau paparazi." Ucap Zie.
"Em... kamu benar. Eh ini udah jam 3 sore gak kerasa, kamu mau aku antar kemana?" Tanya Alen.
" Oh. Kakak masih ada urusan kah? Tinggal aja kak aku disini, nanti aku minta kak Aksa buat jemput buat makan malam. Kan kak Aksa mau balik ke indonesia." Sahut Zie.
"Kalau aku tinggal sendiri disini kamu bisa di serbu sama fans fanatic Leta, aku saranin balik ke asrama aja yuk." Ajak Alen.
"Kakak nggak apa bolak-balik? Kita arahnya beda." Tutur Zie.
"Nggak apa. Santai aja, tadi juga aku di amanahkan sama oma buat pastikan kamu ada di tempat yang aman. Apalagi kamu lagi di perban gitu dan untuk baju, ambil aja buat kamu nggak perlu di balikin. Anggap aja hadiah bonus karena kamu udah percaya diri mengirim karya-karya kamu dan bantu oma juga di pameran itu." Ucap Alen.
"Tapi kak, baju tas dan sepatu ini bermerk kakak yakin kasih cuma-cuma ke aku?" Tanya Zie.
"Nggak cuma-cuma dong. Kan keringat inspirasi kamu buat 5 karya itu juga nggak mudah, malah menurut aku sangat kurang." Ungkap Alen.
"Eh, nggak usah di tambah kak. Antar aku ke asrama aja, biar kak Aksa jemput aku disana." Pinta Zie.
"Baiklah." Sahut Alen.
Mereka pun memasuki mobil dan meninggalkan restoran di ikuti oleh kedua masing-masing sahabat mereka kembali ke asrama. Selama di perjalanan, mereka banyak membicarakan tentang apapun. Zie menyadari jika dirinya sebenarnya bukan tipe orang yang memulai pembicaraan atau sedikit berbicara. Namun hari ini berbeda, ia banyak bertanya dan aktif menjawab. Begitupun juga Alen, Biasanya setelah sampai duduk di mobil dia akan fokus pada pekerjaan kantornya saja atau mengecheck apa yang terjadi di markas. Namun kali ini, ia tidak melakukan itu dan asik mengobrol banyak hal dengan Zie.
Tak terasa mereka sudah tiba di depan asrama mereka, Zie turun dari mobil. Alen membuka kaca jendela itu,
"Makasih kak untuk tumpangan nya dan salam untuk oma terimakasih untuk makan siang nya." Ucap Zie.
"Tidak masalah. Jangan sungkan untuk meminta tolong padaku di kemudian hari, kalau gitu masuklah ke dalam." Pinta Alen.
Zie membungkuk sebagai tanda terima kasih sambil tersenyum kemudian menaiki tangga dan memasuki gedung asrama. Tak berlangsung lama, Gea dan Helen juga menyusul Zie masuk ke dalam gedung asrama. Alen masih memperhatikan Zie yang tersenyum lebar canda tawa dengan kedua sahabatnya dari dalam mobil. Tiba-tiba...
"Boss. Biasa aja lihatnya, tumbenan senyum nih udah mulai tanda-tanda kah?" Goda Arka yang tiba-tiba muncul menghalangi pandang Alen.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih Sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments