Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
"Nona, silahkan di pilih." Ucap Pelayan itu.
Zie melihat-lihat pakaian gaun yang menurutnya cocok, setelah meneliti bolak-balik lima kali akhirnya Zie menentukan gaun bewarna peach dan sepatu pink lalu tas nya berwarna putih campur gold. Setelah menunggu 20 menit tiba-tiba pintu terbuka, Alen menengok dan terpesona dengan kecantikan Zie.
Oma Leonard juga tersenyum lebar menatap Zie memasuki resstoran hotel dengan dirinya yang percaya diri, sederhana dan tidak terlalu glamor.
"Kak, apakah ada yang salah denganku?" Tanya Zie berbisik di samping Alen.
Alen menyadarkan dirinya,
"Tidak, Tidak ada yang salah. Silahkan duduk." Gugup Alen.
Alen menarik kursi untuk Zie duduk, setelah Zie mengepaskan dirinya Alen baru duduk kembali di bangku nya.
"Kamu cantik sekali siang ini, Pelayan sajikan makanan nya." Pinta Oma Leonard.
"Baik nyonya." Sahut pelayan-pelayan itu.
Satu persatu pelayan berdatangan membawakan makanan terlaris di restoran itu kemudian,
"Kamu mau minum apa?" Tanya Oma.
"Aku Es Blueberry Tea." Sahut Zie.
"Baiklah." Ujar Oma lalu berbicara pada pelayan itu.
"Kamu bisa makan dengan tangan di perban seperti itu? Biar aku memotongkan steak untukmu." Ujar Alen menukar piring itu.
Zie hanya tersenyum mendapatkan perlakuan special seperti itu. Saat sedang menikmati hidangan makan siang, tiba-tiba
"Apakah kalian berpacaran?" Tanya Oma karena Zie dan Alen sejak datang tadi hanya diam tetapi curi-curi pandang.
Namun perkataan oma membuat kedua nya tersedak,
"Oma, apaan sih? Ya gak mungkin, aku sama Zie kan baru sama-sama putus hubungan sama yang lain. Masa iya dalam hitungan jam sudah jadian. Lihatkan Zie sampai tersedak begini." Kata Alen membantu Zie menuangkan segelas air putih dengan sigap.
"Habisnya kalian dari tadi mencurigakan. Maaf ya nak Zie, Oma tidak bermaksud begitu." Ucap Oma.
"Nggak apa Oma. Mungkin Kak Alen belum cerita detail jadi wajar kalau oma curiga begitu, sebenarnya..."
"Alen semalam pergoki Leta selingkuh sama pacarnya Zie oma. Bukan sekali aja mereka jalan bareng atau sekedar ketemuan, bahkan sudah ada setahun berjalan." Jelas Alen.
"Apa? Berani sekali perempuan itu berselingkuh di belakang cucu ku. Nero! Pastikan kita tidak memutuskan kerjasama dengan Group Martin dan... apa marga pacarmu nak?" Tanya Oma.
"Daniswara Antonio Nugroho. Tapi, oma tidak perlu..."
"Ahh... perusahaan itu. Jangan sampai kita melakukan kerjasama dengan orang-orang kotor seperti mereka. Jangan bekerja sama dengan group Martin juga." Perintah Oma.
"Baik Nyonya Besar, Mengerti." Jawab Nero.
"Sekarang tunggulah di meja kalian masing-masing. Kita mulai makan siang ini dengan tenang dan benar sekarang." Pinta Oma.
Semua orang mengambil tempatnya masing-masing dan mulai makan siang, Zie tidak menyangka ternyata Group Alister dermawan sekali bersedia makan bersama dengan para bawahannya walaupun bukan satu meja tetapi satu ruangan. Biasanya itu akan sungkan untuk di terima, tapi ini benar-benar...
"Hei, makan. Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Alen menyadarkan Zie dari lamunan.
"Nggak apa. Aku baik-baik saja." Tutur Zie tersenyum kemudian menyuap sepotong daging ke dalam mulut nya.
"Apakah ada makanan yang kamu inginkan?" Tanya Alen.
"Tidak kak. Ini saja sudah cukup, lagi pula tadi aku juga sudah sarapan dengan Gea Helen. Ah! Aku hampir lupa bagaimana dengan mereka? Mereka tidak datang?" Tanya balik Zie.
"Mungkin mereka makan di hotel sebelah ini milik arka dan di sebelah juga milik Arka. Percayalah, mereka akan baik-baik saja." Jawab Alen.
Zie pun percaya dengan kata-kata Alen, tersisa suapan potongan daging terakhir. Ponsel Zie berdering, ada telepon masuk namun segera di abaikan oleh Zie. Ponsel Zie berdering berulang-ulang kali sampai akhirnya, Zie izin mengangkat telepon di tempat yang agak jauh. Alen mengkode untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Zie. Sementara itu,
[Ada apa?] - Zie
[Ini sudah hampir dua bulan kamu tidak ngirim uang. Kirimkan sekarang juga.] - Perempuan paruh baya
[Maaf, anda siapa ya? Sebelum aku berangkat untuk berkuliah di sini, bukankah sudah diputuskan bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa? Kenapa masih meminta padaku? Masih bagus aku mengirimkan pada bulan-bulan awal.] - Zie
[Kenapa kamu berbicara seperti itu pada ibu kamu. Kamu benar-benar tidak tahu balas budi, kecewa papa selama ini sama kamu.] - Papa
[Papa selalu membela mereka? Awalnya aku merasa sedikit menyesal keluar dari kartu keluarga papa, tapi sekarang aku mengerti. Papa memang tidak pernah menyayangiku. Papa ingin aku mengirim uang kan? Baiklah, tapi ini terakhir kalinya aku kirimkan kepada kalian. Papa akan menyesal satu hari nanti sudah membiarkan aku, Kak Aksa dan kak Rendra bahkan mama pergi. Asal papa tahu saja, Cyta dia berhutang kepada sebuah Bar malam hampir 300 Juta. Aku tahu darimana? Bar itu milik salah satu temanku, aku sungguh malu memiliki keluarga seperti itu. Oh! Papa juga harus tahu ini, Cyta selama bersekolah tidak pernah membayar uang sekolah dengan uang yang papa berikan. Dia menggunakan uang itu untuk bersenang-senang dan berbelanja, aku yang bekerja keras dari pulang sekolah sampai larut malah hanya untuk membayar uang sekolah nya. Ah! Percuma aku mengatakan semua itu, papa tidak peduli bukan?] - Zie
[Apa maksud kakak ngomong begitu? Aku tidak datang ke Bar, aku... aku pergi kerumah teman untuk belajar bersama dan menginap disana. Pah, jangan percaya ucapan kakak.] - Cyta
[Zie, Ibu tahu kamu sangat membenci kami. Tapi tolong jangan memfitnah Cyta seperti itu, bagaimanapun dia adalah adik kamu. Bukankah sudah menjadi hal yang wajar jika Cyta meminta uang jajan kepada kamu.] - Ibu
[Zie, Kamu benar-benar keterlaluan....]
Zie menjauhkan ponselnya dri telinga nya. Hatinya sakit bahwa dirinya benar-benar tidak bisa mendapatkan kepercayaan dari papa kandung nya sendiri.
[Sudah selesai?] - Zie
[Kamu! Kak, Kakak baru saja memenangkan ajang pameran disana dan bahkan ada video kakak viral bersama seorang pria. Apakah kakak sudah tidak bersama Antonio lagi?] - Cyta
[Itu bukan urusanmu. Urus saja hutang-hutang mu itu, tidak perlu mengurusi kehidupanku.] - Zie
[Zie! Kamu kenapa mengikuti ajang pameran seperti itu? Papa kan sudah melarang kamu sejak awal, kamu bagaimana kuliah nya kalau mengiikuti acara seperti itu?]
[Papa tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Setelah ini, aku akan kirimkan dan aku mohon ke kalian semua jangan hubungi aku lagi. Kita sudah memutuskan hubungan, aku adalah anak dari Group ayah Carrington. Bye.] - Zie
[Eh...]
Zie dengan berat hati mentransfer uang sebesar 15 juta, kemudian mengirimkan bukti transfer serta nota hutang yang di berikan teman Zie si pemilik Bar yang sering di datangi Cyta. Setelah itu Zie menenangkan diri dan kembali ke tempatnya. Disana Nero sudah menceritakan dengan detail apa yang terjadi kepadaku, Karena aku menerima telepon cukup lama.
'Sepertinya ada banyak rahasia tentang gadis ini, aku harus lebih menyelidikinya.' Bathin Alen.
"Ada masalah?" Tanya bisik Alen.
"Nggak ada kak. Tadi orang salah sambung aja, aku udahh selesaikan kok masalahnya." Sahut Zie.
Alen mengangguk tidak ingin memaksakan agar Zie menceritakan kebenarannya, namun tatapan khawatirnya tertangkap oleh oma. Tatapan yang tidak pernah ada semenjak satu kejadian lampau yang menewaskan salah satu paman paling dekat dengan Alen.
"Oma Leonard, terimakasih untuk undangan jamuan makan siang nya." Ucap Zie sambil tersenyum manis.
"Ah? Sama-sama sayang, sebuah kehormatan bisa kenal dekat dengan kamu. Kapan-kapan oma akan undang kamu ke rumah, Kamu nggak akan menolak itu kan?" Pinta Oma Leonard.
"Tentu saja aku sangat dengan senang hati menerima ajakan Oma, Pasti sangat banyak karya-karya sebagian yang tidak oma publish ke masyarakat umum atau di pasang dalam pameran. Itu menjadi sebuah kehormatan untukku juga, Terima Kasih oma sudah mengundang aku." Kata Zie.
"Kamu benar. Aku memiliki ruangan sendiri untuk menyimpan karya-karya yang menurutku mungkin tidak seharusnya di publish tapi setelah seluruh keluarga melihatnya, mereka sangat mengagumi karya itu. Terutama Alen, dia sangat senang melihat satu lukisan yang oma lukis dari ia masih kecil sampai sebesar ini hanya lukisan itu yang dia lihat. Benarkan Alen?" Ungkap Oma Leonard.
"Iya. Aku bahkan bingung dengan para juri-juri babak penyisihan kenapa hanya ada lima karya kamu yang terpilih padahal semua yang kamu berikan untuk di pajang dalam pameran menurutku sangat bagus semua." Puji Alen.
Zie tersenyum senang mendengar pujian dari Alen.
"Memang sepertinya kita harus mengganti juri-juri itu karena bagaimana pun mereka sudah bekerja cukup lama disini, mungkin sudah mulai lelah dan sudah tidak bisa melihat mana yang bagus dan tidak." Pikir Oma.
"Terima Kasih atas pujian kalian." Ujar Zie.
Setelah mereka menyelesaikan makan siang itu. Oma pamit pulang lebih dulu untuk beristirahat di rumahnya karena cukup banyak kejadian yang menguras tenaga hari ini. Tersisa hanya Alen, Zie, Nero, Reza dan beberapa bawahan yang menjaga di luar restoran.
"Kak, bolehkan aku memesan minuman penutup?" Tanya Zie.
"Tentu. Kamu mau minum apa?" Tanya balik Alen.
"Sparkling blue Ocean. Ini hanya minuman bersoda, tadinya aku mau memesan koktail tapi ini langit masih terang benderang." Pinta Zie.
'Sepertinya gadis ini tidak seperti yang aku bayangkan, tapi...' Bathin Alen.
Alen memanggil pelayan dan memesan sesuai yang di minta oleh Zie (Sparkling Blue Ocean).
"Seperti nya kamu bukan mendapatkan telepon salah sambung tadi, tidak apa jika kamu belum ingin bercerita. Apakah kamu ingin memesan kentang goreng dan sosis?" Tawar Alen.
Zie menggelengkan kepala nya dan tersenyum.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments