Evakuasi menuju makan siang

Selamat Membaca :)

.

.

.

.

.

Zie perlahan mulai lebih tenang dan tidak bergetar tubuhnya, Luka yang di perban berdarah lagi, badan nya sangat lemas tidak berani mengangkat wajah nya melihat Alen dan yang lain datang. Alen perlahan mendekati Zie dan menggenggam tangannya, Leta yang masih disana berontak ingin di lepaskan.

Alen memberikan kode untuk membawa Leta, Antonio dan bawahannya pergi dari area ini serta menggamankan video atau foto agar tidak di ketahui oleh keluarga Zie.

"Kamu nggak apa?" Tanya Nathan pada Helen.

"Nggak kak. Aku malah khawatir sama Zie, selama beberapa bulan ini aman-aman saja tidak ada hal seperti ini. Terlebih sebenarnya Zie tidak bisa mendengar bentakan teriakan apapun walaupun bukan untuk dia. Karena dia terauma kak, dia ngelihat bagaimana kedua orang tua nya saling berdebat ketika akan bercerai." Jelas Helen.

Alen yang mendengar itu menekuk satu lutut nya menyentuh pipi Zie yang basah karena airmata, Zie membuka matanya dan mereka saling menatap lekat satu sama lain.

"Maafin aku." Ucap Alen.

Zie menggelengkan kepala nya dan meminta agar Alen berdiri.

"Aku nggak apa kak." Jawab Zie dengan suara nya yang kecil namun terdengar jelas di telinga Alen.

"Kita ke ruang tunggu dulu yuk, aku bantu perban ulang luka kamu. Darah nya semakin banyak." Pinta Alen.

Zie melihat tangannya yang di genggam Alen, ia bahkan tidak merasakan perih sebelumnya. Zie tersenyum dan mengangguk ke arah Alen, Alen berdiri dan menuntun perlahan Zie ke ruang VIP miliknya. Tiba-tiba Zie hilang kesadaran alias pingsan, untung nya Alen sigap dan segera meminta bawahannya membuka ruang VIP tanpa menunggu lama.

Sementara Helen, Gea, Arka dan Nathan menunggu di ruang VIP yang lain. Arka dan Nathan beberapakali juga memeriksa apakah ada luka yang Helen juga Gea dapatkan. Namun Gea Helen meyakinkan bahwa mereka tidak terluka sedikitpun, justru mereka merasa gagal tidak melindungi Zie.

RuangVIP

Alen meletakkan dengan sangat lembut Zie di atas sofa, tak lama itu Nero masuk membawa kotak P3K.

"Tuan ini kotak medis nya. Apakah tidak perlu memanggil seorang perawat?" Tanya Nero.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri, segera bereskan semua kekacauan ini. Usut hingga tuntas ke akar, jangan biarkan mereka berkeliaran lagi." Pinta Alen.

"Baik tuan. Saya bawa ke markas untuk di introgasi, tapi tuan apakah ini tidak akan jadi masalah dengan group Martin?" Khawatir Nero.

"Kita hanya menahannya sampai besok. Lagi pula kakak nya ataupun keluarga nya hanya tahu jika Leta keluar denganku, kita manfaatkan itu." Sahut Alen.

"Baik tuan, saya mengerti. Kalau begitu saya pamit untuk menunggu di luar ruangan, oh ya bagaimana dengan jamuan undangan makan siang Nyonya besar? Ini sudah jam 11 siang." Ujar Nero.

"Kita lihat nanti, tunggu sampai Zie..."

"Emmm..." Keluh Zie terbangun sambil memegangi kepala nya.

"Zie, dah bangun? Gimana keadaannya? Butuh sesuatu?" Tanya Alen.

Zie mengangguk.

"Kita nggak ikut jamuan makan siang oma nggak apa kan? Kesehatan kamu tidak memungkinkan." Nasihat Alen.

"Aku tetap ingin datang. Aku ingin datang." Yakin Zie.

"Baiklah kalau begitu. Ro, amankan jalan menuju ke restoran kita berangkat setengah jam lagii." Perintah Alen.

"Baik tuan, segera di laksanakan." Sahut Nero lalu keluar ruangan.

Alen membantu Zie untuk duduk menyender di sofa kemudian memberikan segelas air. Alen mulai membuka kotak medis nya, mengeluarkan alat-alat yang akan di gunakan. Zie menatap setiap gerakan Alen, sesekali Zie meringis perih saat diobati Alen meniupi setiap mengoleskan betadine ke luka Zie. Setelah selesai memasang perban dengan benar,

"Kakak bisa perban?" Tanya Zie.

"Begini aja bisa kok." Jawab Alen.

Zie belum tahu aja jika hampir sekujur tubuh nya Alen banyak bekas-bekas luka.

"Soalnya pemasangan perban kakak lebih rapih dari perawat tadi dan kakak kayak lebih berpengalaman dalam hal mengobati begini. Oh ya, Gea sama Helen mana? Mereka nggak apa kan?" Tanya Zie.

"Mereka ada di ruangan samping, kamu beneran udah gak apa?" Tanya Alen balik.

"Aku nggak apa-apa. Kita berangkat sekarang ya?" Pinta Zie.

"Tunggu, aku konfirmasi dulu sama Nero gimana evakuasi nya." Tahan Alen.

"Kak Alen aku ini bukan siapa-siapa, nggak perlu evakuasi segala. Nggak ada juga yang mau bermasalah dengan aku, lagian evakuasi buat kakak aja toh kan kakak lebih penting sebagai cucu dari tokoh seniman terkenal di dunia." Ucap Zie.

Alen mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video yang sedang viral bahkan sampai trendiing 1 dalam pencarian internet. Zie yang melihat itu membesarkan mata nya,

"Ini... Kenapa ini bisa menyebar?" Tanya Zie bingung.

"Nah, sekarang kamu bukan orang biasa lagi. Bahkan karya-karya kamu sudah di kenal oleh banyak orang, Tapi bukan itu yang penting seekarang, banyak pro dan kontra tentang video itu. Terutama kamu di tuduh sebagai orang ketiga dalam putusnya aku dan Leta, paling utama adalah kontra dari fans bar-bar nya Leta yang sudah mendukung. Aku benar-benar meminta maaf tentang kejadian ini." Tulus Alen.

Zie hanya diam dan melihat komentar-komentar jahat yang memenuhi video itu.

"Aku mengerti. Tapi, hal ini tidak menghambat aku dalam menerima makan siang bersama oma kan?" Tanya Zie.

"Tenang saja. Itu tidak akan terjadi, Aku sudah meminta Nero untuk mengatur nya dengan baik. Kita akan sampai sana tepat waktu." Sahut Alen.

"Baiklah. Itu sudah cukup untukku, namun..."

"Kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Tanyakan atau katakan saja." Tukas Alen.

"Tidak apa-apa." Jawab Zie.

Zie berdiri mengambil ponselnya di nakas kemudian melihat group dengan Gea dan Helen

{Zie apakah belum siuman?}

{Aku tidak tahu harus berbuat apa pada orang-orang ramai menunggu zie di depan. Aku juga tidak tahu apakah mereka benar-benar mendukung zie atau malah sebaliknya.}

{Kembalilah ke ruangan Ge, jangan di intip lagi. Kita tunggu kabar dari zie dulu, lagi pula kita tidak akan ikut ke restoran itu. Arah kita berbeda.}

{Ahh... kamu benar. baiklah aku segera kembali ke ruangan. Meskipun aku tidak tenang bagaimana jika nanti sesuatu yang buruk terjadi. Hal ini bisa memancing Cyta untuk menjatuhkan Zie dalam waktu singkat.}

{Ahhh! Benar juga. Perempuan itu, anak kecil itu... ah sudahlah kita tunggu saja nanti keputusan Zie.}

{Zie, kalo udah bangun segera balas pesan kita.}

{Zie, cepatlah. Apakah kamu baik-baik saja?}

{Maaf, aku baru saja siuman, bagaimana kabar kalian? Apakah kalian terluka?}

{Oh! Zie, tidak. Kami tidak apa-apa, Tenang saja.}

{Kalian bisa pergi melalui pintu belakang dan masalah Cyta biar aku yang mengurusnya.}

{Kamu yakin?}

{Ya. Aku yakin, jika ada apa-apa aku akan segera memberitahu kalian. Kembali ke asrama dan beristirahatlah. Oh! Kak Nero sudah datang.}

"Tuan. Nona." Sapa Nero.

"Bagaimana?" Tanya Alen.

"Semua sudah di siapkan dengan baik, kita berangkat sekarang." Ucap Nero.

"Baiklah." Sahut Alen dan Zie.

Mereka keluar dari ruangan itu dan menuju pintu utama, sebelum keluar kedua nya bertemu dengan masing-masing sahabat. Tanpa menunggu lama Alen menggenggam tangan Zie dan menggandeng nya sepanjang melewati kerumunan. Memastikan Zie sudah masuk kedalam mobil, Alen naik ke bagian pengemudi. Mereka berangkat dengan mobil pribadi Alen yang belum pernah di naiki siapapun. Leta? Itu adalah mobil pengawwal.

"Kakak yakin akan nyetir sendiri nggak perlu kak Nero atau lainnya?" Tanya Zie.

"Ini adalah rencanaku untuk mengalihkan musuh. Kamu tahu saat aku masuk, ada lima orang yang kita temui lagi semalam. Mereka tidak akan menyerah dengan mudah, terlebih nona martin yang kita ssentuh. Mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang nona mereka minta, termasuk membunuh mu." Jelas Alen.

"Apakah sebahaya itu? Kalau begitu bukankah seharusnya aku pergi sendiri saja? Kakak juga akan kena bahaya jika bersama denganku." Ujar Zie.

"Tidak akan ada yang bisa menyentuhku, Nero sudah membuka jalan untuk kita. Kita berangkat sekarang." Jawab Alen.

Alen mengendarai mobil dengan di kawal lima mobil di depan, dua mobil kanan kiri dan lima mobil belakang. Nero di depan sementara Reza bagian belakang. Tak membutuhkan waktu yang lama, dalam 30 menit mereka tiba di restoran. Saat mereka tiba berdiri di loby restoran, Alen memperhatikan gaun Zie yang sudah tidak rapih karena sempat terkena darah dan ada juga bagian yang sobek terkena pecahan kaca. Alen memanggil Nero,

"Ya tuan." Sahut Nero.

"Carikan beberapa gaun dan sepatu kemudian lakukan make over pada Zie." Pinta Alen.

"Ah! Aku lupa soal itu." Gumam Zie.

"Baik tuan, Reza antar tuan dan Nona ke ruangan nya. Bukan ke ruang restoran nyonya besar, tapi ruang kamar." Perintah Nero.

"Ok!" Jawab Reza.

Alen menggenggam tangan Zie memasuki hotel milik Keluarga Nathan, sebelum masuk lebih jauh. Zie berhenti.

"Kenapa?" Tanya Alen.

Zie melihat ke arah tangannya yang masih di genggam oleh Alen, Alen segera melepaskan itu dan berjalan lebih dulu lalu Zie mengikuti dari belakang sampai tiba di sebuah ruangan.

"Duduklah dulu. Tunggu baju dan sepatu kamu di sini, oh ya rias wajahnya tipis-tipis jangan terlalu polos. Aku susul oma dulu, nanti kamu datang bareng Nero dan yang lainnya." Pinta Alen.

Zie mengangguk mengerti. Tak lama setelah Alen meninggalkan ruangan Zie itu baju2 dan beberapa sepatu serta tas bermerek datang,

.

.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

.

.

Terimakasih sudah membaca :)

Episodes
1 Awal Pertemuan
2 Memergoki Perselingkuhan
3 Membatalkan Pertunangan
4 Tersesat
5 Kembali Ke Asrama Kampus
6 Pengumuman pameran seni
7 Kericuhan di Pameran
8 Pembuat Onar
9 Menyerang Psikis
10 Evakuasi menuju makan siang
11 Lunch With Idola
12 Cerita Masa Lalu, Benarkah?
13 Kenyataan yang pahit
14 Mulai merasakan
15 Pengganggu
16 Dinner With Second Family
17 Second Family
18 Club Bar
19 First Snow With You
20 Usaha Pertama, Gagal!
21 Mendadak Pindah
22 Mengatur Kerja sampingan
23 Rencana Bocor
24 Berkeliling Masion Alen
25 Ruang Rahasia
26 Belanja Oleh-Oleh
27 Perjalanan Ke Bandara
28 Usaha kedua, gagal?
29 Terbongkarnya perselingkuhan
30 Penculikan dalam Taksi
31 Menjauh Darinya
32 Tetap dengan Kecurigaan
33 Kerusuhan Di Kampus
34 Rumah Sakit
35 Keluarga Baru
36 Rencana Mendadakan
37 Rencana A Gagal
38 Semakin Dekat
39 Ungkapan Hati, Kita Pacaran?
40 Peresmian Keluarga Baru
41 New Couple
42 Introgasi di Pagi hari
43 Mengundang tamu tak diundang
44 Mengupas masa lalu
45 Tanpa Aba-Aba
46 Tidur Siang
47 Perjanjian Kita
48 Pertanyaan masa lalu
49 Rasa Gengsi
50 Hotpot di California
51 Kecurigaan
52 Masa Lalu 1
53 Masa Lalu 2
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Awal Pertemuan
2
Memergoki Perselingkuhan
3
Membatalkan Pertunangan
4
Tersesat
5
Kembali Ke Asrama Kampus
6
Pengumuman pameran seni
7
Kericuhan di Pameran
8
Pembuat Onar
9
Menyerang Psikis
10
Evakuasi menuju makan siang
11
Lunch With Idola
12
Cerita Masa Lalu, Benarkah?
13
Kenyataan yang pahit
14
Mulai merasakan
15
Pengganggu
16
Dinner With Second Family
17
Second Family
18
Club Bar
19
First Snow With You
20
Usaha Pertama, Gagal!
21
Mendadak Pindah
22
Mengatur Kerja sampingan
23
Rencana Bocor
24
Berkeliling Masion Alen
25
Ruang Rahasia
26
Belanja Oleh-Oleh
27
Perjalanan Ke Bandara
28
Usaha kedua, gagal?
29
Terbongkarnya perselingkuhan
30
Penculikan dalam Taksi
31
Menjauh Darinya
32
Tetap dengan Kecurigaan
33
Kerusuhan Di Kampus
34
Rumah Sakit
35
Keluarga Baru
36
Rencana Mendadakan
37
Rencana A Gagal
38
Semakin Dekat
39
Ungkapan Hati, Kita Pacaran?
40
Peresmian Keluarga Baru
41
New Couple
42
Introgasi di Pagi hari
43
Mengundang tamu tak diundang
44
Mengupas masa lalu
45
Tanpa Aba-Aba
46
Tidur Siang
47
Perjanjian Kita
48
Pertanyaan masa lalu
49
Rasa Gengsi
50
Hotpot di California
51
Kecurigaan
52
Masa Lalu 1
53
Masa Lalu 2
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!