Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
Di tempat parkir,
"Makasih udah bantu lindungin Zie, tapi dia nggak akan menyerah gitu aja menargetkan Zie. Terlebih Zie anak nya ceroboh dan gegabah dalam ambil keputusan." Ujar Aksa.
"Nggak apa kak, emang udah tugasnya sesama manusia selalu membantu lagipula kebetulan Zie dan dua temannya adik tingkat di kampus yang sama kayak kita. Apalagi, gegara aku juga Zie terluka jadi bagaimanapun aku berhutang sama Zie." Jawab Alen.
"Perempuan tadi mantan kamu?" Tanya Aksa terkejut.
"Iya kak, sekarang Zie bukannya bahaya dari Antonio aja tapi juga dari Leta. Mereka yang berselingkuh tapi menyalahkan orang lain." Ucap Alen.
"Ya begitulah manusia yang tidak tahu di untung." Sahut Aksa
"Oh ya kak. Kakak bawa proposal tentang kerja sama nya?" Tanya Alen.
"Bawa, ada apa?" Tanya Aksa kembali.
"Coba aku lihat." Kata Alen.
Aksa mengeluarkan sebuah maps berisi proposal kerja sama dengan perusahaan Alister, Harrison dan Wijaya. Tiga maps proposal untuk tiga perusahaan. Alen membaca dengan seksama dan sangat tertarik dengan kerja sama itu, kemudian mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Arka untuk datang ke parkiran pintu depan dengan Nathan. Saat mereka datang, Alen memberikan proposal itu dan keduanya juga sangat tertarik untuk bekerja sama.
Alen mengeluarkan bolpoin dari dalam kantong jas nya dan tanpa ragu menanda tangani nya, kemudian memberikan kepada Nathan. Nathan menanda tangani itu lalu memberikan kepada Arka dan melakukan hal yang sama, Aksa bingung.
"Kalian..."
"Selamat bekerjasama tuan muda kedua Carrington." Ucap Alen mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
'Gua harus menggunakan cara ini untuk tahu lebih jauh...' Bathin Alen.
Aksa mendengar itu tersenyum lebar. Aksa berjabat tangan juga dengan Nathan juga Arka.
"Kami tunggu hasil yang memuaskan di masa depan." Sambung Arka.
"Selamat." Lanjut Nathan.
"Terima kasih. Terima kasih banyak." Sahut Aksa senyum lebar.
"Kakak bisa kembali ke kantor sekarang untuk mengurus semuanya, masalah Zie aku akan memperketat penjagaan sekitar agar tidak kecolongan. Kakak tidak perlu khawatir." Ujar Alen.
"Ya, kalau butuh bantuan kabari saya kapanpun. Ini kartu nama saya disana sudah ada nomor telepon pribadi saya dan alamat kantor yang akan berdiri nanti. Masih tahap menyewa." Jelas Aksa.
"Kak, bagaimana jika kakak pindah ke tempat yang lebih ramai. Aku akan memberikan diskon." Tawar Arka.
"Dipusat kota?" Tanya Aksa.
Keluarga Arka Harrison bergerak di bidang Real Estat, Aktivitas penyewaan gedung, Pengadaan Listrik. Keluarga Nathan Wijaya bergerak di bidang Kontruksi, perdagangan, Hotel dan Restoran. Alen Alister bergerak di bidang Pertambangan, penggalian, industri pengelolaan dan Kecantikan. Perusahaan Carrington bergerak di bidang Akomodasi (Makan dan minum), jasa keuangan dan Kesenian.
"Iya pusat kota, tenang saja. Pembayaran bisa DP dulu sisanya di cicil perbulan, Gimana?" Tawar Arka.
"Kakak bisa pilih-pilih dulu, kapan kakak kembali ke jakarta? Besok?" Tanya Nathan.
"Tidak. Mungkin 4 hari lagi, Di undur dari kantor pusat, buat jagain Zie lebih lama beberapa hari karena kejadian ini." Jawab Aksa.
"Yaudah bagus, kalo gitu ada banyak waktu kakak bisa datang buat survei lihat mana tempat yang buat kakak nyaman." Ujar Alen.
"Sekali lagi benar-benar terimakasih, nggak menyangka ketemu kalian disini. Padahal niat hati buat narik Investor yang nggak terlalu tinggi dulu, ternyata dapat kalian dan titip sepatu ini buat Zie pakai dia gak biasa pake heels." Sahut Aksa.
"Nggak masalah kak, anggap aja ini bayaran dari kita jaga Zie disini. Kakak kembangin perusahaan kakak dengan baik dan segera menyusul kita disini." Tutur Nathan.
"Yaudah kalau begitu, aku nggak ganggu waktu kalian lagi. Silahkan nikmati acaranya, bilang sama Zie aku balik." Pamit Aksa.
Alen mengangguk, kemudian Aksa memasuki mobilnya dan pergi dari tempat pameran itu. Tiba-tiba, Gea datang dengan raut wajah panik.
"Kak Alen!" Panggil Gea.
"Eh! Kamu kenapa kok lari-larian gitu?" Tanya Arka.
"Zie, dia..."
Alen yang baru mendenegar nama Zie sudah langsung lari begitu saja di susul Nathan, sementara Arka menuntun Gea untuk lari pelan. Oma sudah berangkat menuju restoran jadi penjagaan sedikit longgar, saat Nathan dan Arka di telepon untuk menemui Alen Aksa di tempat parkir...
Flashback On
Zie sedang mengamati salah satu karya dari juara ketiga yang menurutnya sangat bagus, Zie bahkan sampai tersenyum mengetahui arti dari karya itu. Saat ingin mengobrol dengan kedua sahabatnya, ia terkejut melihat Gea dan Helen sudah di sekap dengan mulut tertutup oleh pria berbadan besar.
"Siapa kalian? Mau apa kalian? Lepaskan mereka." Tanya Zie.
Pria-pria itu diam tak menjawab. Zie mendekati mereka tanpa rasa takut walaupun Helen Gea memberi kode agar Zie segera pergi mumpung belum terlalu parah situasi nya.
"Arianna Graziella Carrington." Ucap seseorang memanggil nama Zie secara lengkap.
"Kak Leta? Ada apalagi kak?" Tanya Ziee tanpa rasa takut sedikitpun.
"Benar-benar perempuan tak tahu malu! Lu udah ngerrebut Alen dari gua dan perhatian oma Leonard masih nanya ada apa? Gila!" Marah Leta lalu menampar Zie sampai terduduk di lantai beralas karpet.
"Kak, aku sama sekali nggak ada niat sedikitpun kayak gitu. Kakak yang bikin salah sendiri, aku nggak tahu apapun. Kakak takut Antoonio balik ke aku? Nggak kak, aku nggak akan terima kakak bisa ambil sepuasnya. Aku datang kesini benar-benar murni karena acara pameran art nggak ada hubungannya dengan masalah semalam, lagi pula itu salah kalian yang berselingkuh tidak tahu tempat." Balas Zie tegas.
"Lu..."
Satu tamparan mulus mendarat di pipi yang sama untuk kedua kali nya, Kedua sahabat Zie berontak sekuat mungkin untuk menyelamatkan Zie namun kekuatan mereka tidak besar. Orang-orang yang datang ke pameran itu hanya menontonnya bahkan memvideokannya, ada juga yang melakukan siaran langsung.
"Harusnya lu sadar kenapa gua begini Zie, itu karena lu membosankan! Lu nggak mau tidur sama gua atau melakukan hal yang lebih dikit." Emosi Antonio.
Zie yang masih terduduk untuk kedua kalinya benar-benar merasa geram karena kesalahan mereka, benar-benar di putar balik seperti ini. Saat Zie ingin berdiri, tangan yang di perban sengaja di injak oleh Leta sehingga membuat Zie sangat kesakitan. Helen Gea yang melihat itu merasa sangat tidak tega akhirnya saling menggigit tangan yang membekap mulut mereka kemudian, Helen membantu Zie yang tangannya di injak oleh Leta dengan mendorong Leta hingga terpentok tembok. Sementara Gea berhasil kabur mencari keberadaan Alen dan yang lainnya.
Flashback off
Saat Leta ingin melakukan sesuatu lagi kepada Zie yang di halangi Helen, Alen berteriak,
"Hentikan!" Teriak Alen.
Badan Zie bergetar mendengar teriakan Alen dan membuatnya takut. Karena hal itu terjadi kepadanya saat melihat mama dan papa nya berantam hebat dan ayah datang sebagai penengah.
Helen membantu Zie berdiri dan memeluknya untuk menenangkannya.
"Zie, it's okay. Itu bukan buat lu, itu buat kak Leta dan Antonio. Lihat mereka udah di tahan di bawah nggak bisa berbuat apapun, kak Alen nolongin kita terutama lu." Bisik Helen.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments