Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
"Tadi yang membuat masalah benar mantan kekasih kamu yang sering kamu banggakan itu?." Tanya Oma.
"Ya, dia mantan kekasih ku. Dia berselingkuh di belakang ku, intinya hubungan kami sudah selesai." Kata Alen.
"Bisa-bisanya kamu mendapatkan kekasih dengan temperamen buruk seperti itu, tunggu. Lalu mengapa dia menyerang gadis itu?" Tanya oma lagi.
"Intinya pacar dari gadis itu selingkuhan dari kekasihku." Cerita singkat Alen.
"Gadis yang malang." Prihatin Oma Leonard.
"Eh? Oma, cucu oma juga patah hati. Harusnya oma prihatin kepadaku kok malah sama orang lain." Protes Alen.
"Kamu gak tertarik sama gadis itu?" Tanya Oma.
"Oma apa sih? Kan Alen baru putus kemarin, masa ia aku cepet banget gantinya. Gak mungkin lah Oma." Tolak Alen.
'Gak mungkin, karena aku sangat curiga padanya... tapi kenapa aku memiliki keinginan untuk melindunginya? Alen sadarlah.' Bathin Alen
"Coba kamu lihat dia, bagaimana cara dia menatap hasil karya oma sampai mata berkaca-kaca begitu. Tidak seperti kamu yang hanya melihat tanpa tahu artinya, benar-benar hanya sedikit orang yang bisa memahami arti setiap dari karya-karya ini. Kamu?" Ujar Oma lalu meninggalkan Alen sendiri menatap Zie.
Zie menghapus airmata yang turun di sudut mata nya,
"Aku mengerti oma, cuman..."
"Kejadian paman dan bibi kamu sudah berlalu 5th yang lalu, Oma yakin semua kejahatan akan terbongkar pada waktunya. Kamu jangan sampai salah menuduh orang karena satu hal saja, sudah ambil kesimpulan yang salah." Pesan Oma
"Iya Oma. Alen ngerti, tapi Alen tetap akan selidiki dan cari sampai ketemu siapa dalang di balik semua ini." Tegas Alen.
Oma hanya tersenyum dan mengangguk, sementara Zie.
"Ah? Bagaimana bisa hanya aku yang menangisi sebuah maha karya indah ini. Jika aku punya uang yang berlebih ingin rasanya untuk membeli, tapi apakah semua ini bisa di jual? Pasti jika di jual akan sangat mahal aku tidak akan sanggup." Gumam Ziee dan saat ingin lanjut ke karya berikutnya tiba-tiba tangannya di tahan.
Zie melihat itu adalah Antonio. Zie berusaha untuk berontak namun cengkramannya sangat kuat.
"Lepaskan!" Berontak Zie.
"Ikut aku!" Tarik Antonio keluar lewat pintu belakang.
Alen yang tadi hanya sebentar memejamkan mata sudah kehilangan Zie. Ia melihat pintu darurat sempat tertutup, Alen meminta Nero untuk mencari Zie sementara dirinya mencari lewat pintu darurat dengan kedua sahabatnya. Zie,
"Lepaskan aku!" Hentak Zie dan terlepas.
Antonio melepas topi dan masker nya lalu melihat sekeliling yang benar-benar sepi.
"Baru semalam kamu memutuskanku, hari ini kamu sudah bersenang-senang memenangkan karya-karya kamu di pajang dengan seniman teratas. Dasar sombong!" Kesal Antonio.
"Antonio, bagian mana aku menyombongkan diri padamu?" Tanya Zie.
"Lihat pakaianmu itu, apakah kamu sedang menjual diri setelah putus denganku?" Ucap kasar Antonio.
Zie melayangkan tamparan cukup keras di pipi Antonio sampai memerah.
"Jaga mulutmu! Siapa yang menjual diri? Jelas-jelas kamu yang berselingkuh dan tak pernah menerima aku dengan apa adanya!" Marah Zie.
"Kamu berani menamparku? Dasar wanita..."
"Hentikan!" Teriak Alen.
Alen datang di ikuti oleh Nathan dan Arka. Alen menarik Zie untuk berdiri di belakangnya. Antonio mundur beberapa langkah,
"Kenapa lu selalu ada disaat dia kesulitan? Ah! Jangan-jangan kalian juga telah bersama selama ini tapi hanya berlaga bodoh?" Marah Antoonio.
"Tutup mulutmu! Sejak kapan kamu peduli padaku? Bahkan setahun terakhir ini kamu sudah memulai itu semua dan aku yakin bahwa kak Leta bukan selingkuhan pertama mu selama ini!" Balas Zie berteriak.
"Hei, tenangkan diri kamu. Lihat luka kamu bisa terbuka kembali." Ujar Alen.
"Lihat, dia sangat peduli denganmu. Ah! kamu selalu menolak pergi ke hotel berdua denganku apakah kamu sudah naik atas ranjang nya? Kamu menyukai nya? Iya! Kamu takut ketahuan olehku bahwa kamu..."
Tiba-tiba ada yang melempari Antonio dengan batu di bagian kakinya, membuat antonio menekuk satu kaki seperti berlutuut.
"Kak Aksa... bukankah kakak..."
"Tenang saja. Bagus lu nggak jadi adik ipar gua, sekali lagi gua dengar lu sebut nama adek gua atau mengatainya seperti itu. Lu habis di tangan gua!" Marah Aksa.
Aksa sangat sangat sangat marah dan aura nya benar-benar membuat semua orang ketakutan. Antonio terdiam dan sangat ketakutan melihat Aksa, Zie memeluk kakaknya untuk memberikan ketenangan.
"Kak, udah cukup. Nggak ada guna nya meladeni sampah itu, udah yuk pergi dari sini. Kak Alen sama yang lain juga, udah ya biarin aja." Ucap Zie.
"Tadi bukannya kamu yang murka." Kata Aksa dan Alen bersamaan.
Nathan dan Arka hanya tersenyum berpura-pura tidak mengerti situasinya.
"Aiya, kalian ini. Kenapa belum pergi juga?" Pinta Zie.
Mereka pun pergi, namun baru beberapa langkah mereka sadar kalo Zie tidak ikut.
"Lu takut sama kak Aksa tapi berani berbuat salah. Pengecut!" Ujar Zie.
"Lu berani kalo ada mereka doang, sesama pengecut jangan gitu." Protes Antonio.
"Kalau gua berani cuman ada mereka kenapa gua nyuruh mereka pergi? Bener-bener otak kosong. Sudah sana pergi keburu mereka balik lagi, bisa abis beneran lu." Kata Zie.
Mendengar itu Antonio langsung pergi begitu saja, tak lama Antonio pergi pas Zie balik badan mendapat tatapan tajam dari Aksa dan Alen. Untungnya Helen Gea datang tepat waktu jadi bisa menyelamatkan Zie dari amukan mereka.
"Zie! Ya Ampun! Di cariin tahu nggak, Cuman di tinggal bentar ambil makanan lu udah ilang lagi aja." Omel Helen.
"Hehe... iya. Tadi, ah! Tadi cari udara segar bentar sama lepas sepatu, tuh lihat lecet kan kaki aku." Sahut Zie sambil meminta Aksa dan yang lainnya pergi.
Aksa dan Alen masih diam di tempat, sementara Nathan dan Arka meninggalkan mereka.
"Lu lihat apaan sih?" Tanya Gea bingung.
Dengan cepat Zie mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
"Ah! Aku lagi mikir, nanti pas aku makan siang sama oma Leonard kalian kemana? Pasti makan siang bakal berlangsung lama, gimana kalo kalian pulang aja." Tutur Zie.
"Kalo kita pulang, kamu balik sama siapa. Kita nggak mau ninggalin kamu sendirian apalagi di tempat begini penjagaannya longgar kalo Antonio datang gimana? Bahaya!" Tolak Helen dan di angguki Gea, Aksa dan Alen.
"Tadi orang nya udah pergi." Gumam Zie.
"Siapa?" Tanya Gea.
"Antonio. Tadi dia udah pergi, pas lihat aku di kerumunan orang-orang dia jadii nggak berani datang ke aku. Kalian tenang aja, kan abis makan siang aku telepon kak Aksa minta jemput buat makan malam bareng." Jelas Zie.
"Ah, benar juga. Tapi..."
"Aiya, aku janji pokoknya kalo ada apa-apa pasti kabarin kalian. Janji!" Janji Zie sambil mengeluarkan dua jarinya.
Aksa dan Alen geleng-geleng kepala kemudian pergi.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments