Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
"Zie lu nggak apa kan?" Tanya Gea.
"Gua nggak apa-apa." Jawab Zie.
"Tadi aku ketemu kak Aksa, dia terima telepon dari nyokap. Pas dia nengok kebelakang lu hilang terus dia nyariin lu belum ketemu, sekarang nggak tahu kemana kak Aksa nya." Kata Helen dan Zie langsung mengecheck ponselnya.
Terdapat 5 panggilan group keluarga yang tidak terjawab. Zie akhirnya permisi ke tempat yyang lebih sepi lalu menelepon mama nya, Mama yang masih teleponan sama Aksa menyambungkan ketiga nya.
[Akhirnya! Ini dia anak kebanggaan mama. Selamat sayang!] - Mama
[Makasih mah, ini semua berkat doa kalian. Aku nggak bisa sampai di titik ini tanpa dukungan kalian.] - Zie.
[Kakak! Selamat ya, lihat karla sama kak Rendra bikin kue buat kakak. Baguskan?] - Karla
[Selamat dek, terus berjuang. Ingat jangan tinggi hati, tetap harus merendah.] - Rendra.
[Nak, selamat ya. Ayah bangga punya kamu. Kamu benar-benar hebat.] - Ayah
[Terimakasih. Tanpa dukungan kalian, aku pasti udah nyerah di tengah jalan.] - Zie.
[Tunggu. Kok kak Aksa sama kak Zie beda tempat sih?] - Karla.
[Tanya tuh sama kakak Zie kamu, cepet banget ngilang nya kalo di galeri art begini, susah nyari nya.] - Aksa
[Hehe... maaf kak. Aku excited banget disini.] - Zie
[Wajar, ini penghargaan pertama yang kamu dapatkan. Semoga nanti mimpi buka pameran sendiri jadi kenyataan juga ya sayang.] - Mama
Saat Zie sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada suara pecahan kaca. Zie langsung mengakhiri panggilan dan mengecheck apakah itu salah satu dari miliknya yang di bingkai, ya itu miliknya. Ada 5 orang yang wajah nya seperti tidak asing untuk Zie, sedang menjatuhkan salah satu karya nya lalu di injak-injak sampai robek. Alen dan yang lainnya melihat dari sisi lain sangat marah,
"Bagus lakukan dengan benar. Hancurkan semua karya nya, hancur sampai tak ternilai dimata siapa pun!" Perintah Leta.
Zie berlari dan mendorong pria-pria itu untuk menyelamatkan karya nya yang lain sebelum terlambat tanpa memerdulikan pecahan kaca yang berserakan. Alen yang melihat itu maju dan memerintahkan bawahannya untuk menahan 5 orang itu.
"Kalian lagi? Berani-berani nya kalian merusak acara ini!" Marah Alen setelah menarik Zie sedikit menjauh dari pecahan kaca.
5 pria itu mengenali wajah Alen dan Zie karena kejadian semalam.
"Alen, kamu bener-bener udah buta ya? Karya-karya yang di buat sama dia nggak pantas sebanding sama karya nya Nyonya Leonard. Nyonya Leonard pasti sudah di apa-apa in sama dia, nggak mungkin karya rendahan kayak gini di pajang sama karya yang jauh lebih bagus!" Kesal Leta.
Alen mencekram tangan nya sampai berurat, namun Zie di belakangnya menarik baju nya kecil. Memohon untuk tidak memperbesar masalah ini, Alen langsung menyurutkan emosi nya. Saat Alen ingin angkat bicara tegas ke Leta tiba-tiba Oma Leonard muncul dengan kursi roda nya.
"Siapa yang berani meragukan penilaian saya?" Tanya Oma Leonard.
"Oma." Gumam Alen.
Sebenarnya tadi tangan Zie sempat sedikit tergores saat ingin mengambil karya nya yang sudah jatuh dan sudah sedikit robek, namun ia menyembunyikan itu sambil menahan perih dan darah yangg mulai muncul.
"Nyonya Leonard." Sapa wartawan dan beberapa orangg sebagai tanda hormat.
"Dia oma, lihat di sobek karya salah satu pemenang." Ucap Alen.
"Nyonya Leonard, bukan begitu tapi karya itu tidak pantas ada di panjangan disini. Hasilnya terlalu rendah." Ujar Leta dengan setengah keberaniannya dan dengan percaya diri agar menjauhkan Zie dari Alen.
"Atas dasar apa kamu berkata seperti itu? Semua karya yang di pajang berdasarkan hasil penilaian aku sendiri tidak ada campur tangan orang luar. Alen, bukankah oma sudah bilang untuk memastikan acara ini tidak ada masalah? Bukankah perempuan ini juga akan menjadi tunanganmu?" Tanya Oma Leonard.
"Ngga oma. Aku sama perempuan itu sudah putus, aku membatalkan pertunangannya. Dia berselingkuh dan mengkhianati aku selama ini." Jelas Alen.
"Berani sekali kamu berselingkuh di belakang cucu saya. Benar-benar tidak tahu di untung! Sekretaris Nero, pastikan keluarga Alister membatalkan semua kerja sama dengan group martin. Semua!" Perintah Oma Leonard.
"Cucu? Alen kamu.... Nyonya Leonard aku..."
"Usir dia sekarang dari sini dan bersihkan kekacauan semua ini." Perintah Oma Leonard.
"Baik Nyonya!" Sahut Pengawal-pengawal Alister lalu membawa Leta dan 5 pria itu pergi.
"Alen kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal? Alen lepaskan aku... Alen!" Berontak Leta.
Oma Leonard yang menggunakan kursi roda di dorong oleh sekretaris Nero mendekati Zie, Zie yang masih menyembunyikan tangan kiri nya yang terluka hanya tersenyum dengan wajah yang mulai terlihat pucat.
"Nak, kamu nggak apa kan?" Tanya Oma Leonard.
"Ak... Aku nggap apa nyonya." Gugup Zie.
"Jika benar tidak apa-apa kenapa wajahmu memucat dan kamu menyembunyikan tangan kamu yang lain sayang?" Tanya lembut Oma Leonard.
Alen yang menyadari itu meminta Reza untuk mengambil peralatan P3K dan meminta pihak medis untuk mengobatinya.
"Kamu kenapa nggak bilang? Kalau infeksi bagaimana?" Tanya Alen.
"Itu salah kamu, karena kurang peka. Sudah lanjutkan acara nya, Nak nanti bergabunglah makan siang dengan kami. Ada yang ingin Oma tanyakan, Oh ya panggil saya Oma Leonard jangan Nyonya." Omel dan Pinta Oma.
"Aku lagi yang kena." Gumam Kecil Alen.
"Apa?" Pergok Oma.
"Emm... nggak oma. Alen salah, Alen salah nggak peka." Kata Alen.
"Baik Nyonya... Maksud aku Oma Leonard." Sahut Zie.
Zie sesekali meringis perih saat luka nya di bersihkan dan di obati oleh tim medis.
Acara kembali seperti semula tetapi semua orang sudah mengetahui bahwa Alen adalah cucu dari Oma Leonard, Orang yang paling berpengaruh di dunia. Besok akan menduduki timeline berita teratas, tapi Alen tidak peduli. Oma Leonard meminta agar menyiapkan restoran termewah dengan berbagai macam masakan dari seluruh negara. Sekretaris nya Harry, mengikuti perintah majikannya. Aksa mennghampiri adiknya yang masih diobati oleh tim medis,
"Kamu nggak apa kan?" Tanya Aksa.
"Kak, aku nggak apa-apa. Besok kakak udah harus pulang ke indonesia, jangan khawatuirkan aku. Di sini aku ada Gea juga Helen, mereka akan menjaga ku." Jawab Zie.
"Kak Rendra udah batalin kepulangan kakak, jadi nambah 3 hari lagi. Kamu nggak perlu khawatir, tentang kakak atau perusahaan semua akan baik-baik saja." Ucap Aksa.
"Benarkah? Itu bagus. Tapi kak, tentang pengunduranku dalam beasiswa..."
"Dek, walaupun niat awal kamu bukan untuk benar-benar belajar. Tapi kakak tahu, ini bagian dari impian kamu ingin berkuliah di university ternama begini. Akan sayang jika kamu menyia-nyiakan kesempatan emas ini, walaupun kakak khawatir itu cowok bakal macam-macam sama kamu tapi kakak harap kamu bisa fokus dalam melanjutkan sekolah kamu ini. Bukankah kamu mendapatkannya setengah mati, sembunyi-sembunyi dari ibu. Iya kan?" Nasihat Aksa.
"Kakak benar. Tapi, aku nggak seharusnya disini. Ada kampus yang lebih besar dalam hal kesenian yang mengundangku untuk beasiswa, tapi itu di bakar oleh ibu. Kalau aku terima yang disana mungkin hal seperti bertemu cowok seperti itu tidak akan menjadi ke khawatiran kakak." Ujar Zie.
"Nggak apa, emang di sini takdir kamu. Siapa tahu kakak dapat adik ipar yang bisa di percaya, ya nggak?" Goda Aksa.
"Ish! Nyebelin ya kakak lama-lama. Sudah sana, balik ke kantor aku udah bisa jaga diri soal makan malam nanti aku kabarin lagi." Sahut Zie.
"Okay, bersenang-senanglah bersama nyonya Leonard. Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan buat kamu dan sesuatu yang sudah kamu impi-impikan sejak lama." Kata Aksa.
"Kakak benar. Kakak balik ke kantor urus beberapa masalah dengan kak Rendra saja, aku janji akan hubungi kalian jika ada apa-apa." Pinta Zie setelah para medis selesai mengobati tangan nya.
Aksa hanya mengelus kepala adiknya dengan lembut dan menatap adiknya penuh khawatir.
"Kak?" Panggil Zie.
"Baiklah. Kamu mengusirku sekarang, aku tidak akan mengganggu. Bye sayang!" Pamit Aksa pergi sambil melambaikan tangannya.
Zie melambaikan tangan kepada kakak nya, di kejauhan Alen melihat dengan tatapan penuh haru.
"Zie, lu beruntung banget punya kakak yang selalu siap siaga." Ujar Gea.
"Kalian benar, walaupun aku nggak dapat hal itu dari bokap aku setidaknya aku mendapatkan itu dari kakak dan orang yang mencintaiku nanti di masa depan." Sahut Zie.
"Jangan lupa sekarang kamu punya Ayah Zevan, walaupun bukan ayah kandung tapi dia benar-benar tulus anggap kamu sebagai putrinya juga." Ingat Helen.
"Ayah Zevan benar-benar sahabat mama dari masa sekolah, dia menyimpan rasa cinta nya bahkan rela hadir saat mama dan papa menikah tapi mama salah memilih. Ah! Aku nggak tahu apakah hal ini akan jadi trauma untukku seperti takut menikah di kemudian hari." Ketakkutan Zie.
"Pastilah Zie, aku yakin kok diantara miliyaran orang berhati busuk pasti ada yang bisa jadi obat buat kamu. Entah dimana tapi aku yakin itu ada, jadi lu juga harus percaya itu." Nasihat Gea.
"Kamu nggak sendirian Zie ada kita yang selalu ada buat kamu kapan pun dan dalam keadaan kayak gimana pun." Peluk Helen ke Zie di susul Gea.
"Tidak bisakah kalian memberi muka kepadaku, aku harus makan siang nanti bagaimana jika mata ku sembab karena ulah kalian." Protes Zie.
"Tidak apa, ada kak Alen yang selalu belain kamu." Bisik Helen.
"Haha..." Tawa Gea dan Helen.
"Kalian benar-benar ya, sudah aku mau lanjut keliling lagi." Ucap Zie mulai berkeliling lagi.
Alen melihat Zie tertawa kembali bersama kedua sahabatnya.
"Kamu lihat apa?" Tanya Oma tiba-tiba.
"Nggak oma, nggak lihat apa-apa. Eh? Oma kenapa datang? Bukankah oma bilang tidak enak badan?" Bingung Alen.
"Tadi oma sudah datang tapi menunggu di ruang VIP dan melihat dari layar tv saja, namun setelah merasa mendingan oma malah dengar ada masalah. Tidak mungkin oma diam saja." Jelas Oma Leonard.
"Tapi, karena oma aku jadi ketahuan kalau aku cucu oma. Mereka pasti jadi segan ke aku." Kesal Alen.
Oma menjewer telinga Alen membuat Alen meringis.
"Dasar cucu durhaka, lihat raut muka kamu mereka tuh takut bukan gegara oma." Omel Oma.
"Ahhh, iyaya ampun oma. Ampun." Mohon Alen.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments