Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
Hari berikutnya, Zie bangun lebih pagi dan merasa kepala nya cukup pusing. Semalam sebelum tidur, Zie memblokir nomor Antonio dan teman-teman nya agar tidak dapat menghubungi dirinya. Kemudian Zie menuju kamar mandi dan bebersih diri untuk pengumuman pemenang di pameran galery Art dari hasil karya nya akan di publikasikan disana. Saat ingin keluar dari kamar asrama, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Selamat pagi Zie, gimana suasana hati sudah lebih baik?" Tanya Helen.
"Pagi Helen, harus baik dong. Hari ini pengumuman pemenenang karya aku bakal di pajang atau tidak pas pameran besar bareng sama seniman senior. Hufft! Gimana kalau nggak menang?" Gugup Zie.
"Kalau ada yang nggak menang juri nya buta sih akan seni dan kalau nggak ada yang tertarik sama karya kamu, di jamin orang itu nggak paham seni." Sahut Gea.
"Ah, aku setuju sama Gea. Dia cuman datang buat lewat doang, sekarang kita berangkat sebentar lagi acara nya mulai. Kalau nama lu di panggil bisa di diskualifikasi, Ayo!" Ajak Helen.
Mereka menuruni tangga asrama dengan terburu-buru, langsung menuju mobil. Tak memakan waktu yang lama, mereka tiba di tempat acara penyelenggaraan pameran Art. Ketiga nya masuk melalu jalur VIP dan duduk di barisan kedua dari paling depan di bagian tengah, mereka tidak memperhatikan 3 orang di depan mereka. Saat MC membuka acaranya dan mengumumkan babak penyelisihan terakhir yang akan di pajang selama seminggu kedepan di galeri Art bersamaan dengan seniman senior terpilih, akhirnya nama Zie di sebut sebagai juara pertama yang akan di pajang 5 karya terbaiknya. Sedangkan juara kedua dan ketiga hanya mendapat kesempatan 3 hari, Zie yang masih tidak menyangka hanya bisa diam di tempatnya.
"Kepada nona Arianna Graziella Carrington silahkan maju ke depan." Panggil MC.
"Zie, maju." Ujar kedua sahabatnya menyadarkan Zie dari lamunan.
Dengan jantung yang terus berdegup kencang Zie menaiki podium.
"Silahkan kepada tuan muda Alister sebagai perwakilan yang menyelenggarakan acara ini untuk memberikan ucapan selamat dan hadiah nya kepada masing-masing pemenang." Pinta MC.
'Kok gua gak tau kalau dia ikutan lomba ini?' Bingung Bathin Alen
"Bos, maju. Di panggil sama MC nya, buruan." Ucap Nathan sambil menyenggol lengan Alen
Alen yang tadi sempat bingung, namun pada akhirnya dia berdiri dan naik ke atas podiam membuat seisi aula pun menjadi riuh karena kedatangan tuan muda Alister yang sangat di idolakan, bahkan Zie juga sangat gugup.
"Selamat ya, karya kamu memang pantas mendapatkan apresiasi kemenangan dan di ikut di pajang pada pameran ini agar seluruh dunia bahwa ada seniman baru." Ucap Alen.
"Terimakasih kak." Sahut Zie gugup.
Zie dengan kagok hanya tersenyum dan menjabat tangan Alen. Padahal saat memberikan selamat dan hadiah kepada pemenang sebelumnya tidak ada ucapan panjang lalu jabat tangan, hanya kepada Zie.
"Silahkan berfoto bersama." Pinta MC.
Mereka pun berfoto bersama.
'Seingat gua bukannya, kak Alen bilang mau di asrama aja ya buat dua hari kedepan. Kok tiba-tibba orang nya datang ke acara begini, Tunggu tadi MC bilang perwakilan penyelenggara? Oh God!' Dalam hati Zie.
MC meminta semua kembali ke tempat dan dalam 5 menit mereka di perbolehkan untuk keliling galeri melihat-lihat karya yang sudah di pajang. Saat menuruni podium,
"Kakak bukannya mau di asrama? Kok tiba-tiba..."
"Oma Leonard meminta aku untuk datang mewakilkannya, katanya oma tidak enak badan." Jawab Alen lalu berjalan ke arah bangku nya sementara Zie yang mendengar nama Leonard terdiam di tempat.
Leonard adalah seniman paling senior yang sangat di idolakan oleh Zie, semua karya-karya nya tidak ada yang bisa menandingi. Karena terlalu lama berdirii, Helen menarik agar Zie segera duduk kembali.
"Lu kenapa sih hari ini, banyak nggak fokus nya?" Tanya Gea.
"Pasti belum sarapan, iya kan? Kebiasaan deh." Kesal Helen.
"Bukan. Aku udah sarapan tadi pakai roti tawar selai coklat strawberry. Nanti aja aku ceritanya." Bisik Zie.
Setelah 5 menit berlalu, MC meresmikan galeri art untuk seminggu ke depan telah di buka. Semua tepuk tangan riuh dan satu persatu berhamburan, Zie terpisah dengan kedua sahabat nya. Zie pergi ke bagian Art 4D, patung-patung yang seperti nyata di mata nya. Zie tertarik dengan patung orang dan di cat dengan bintik-bintik warna warni, Zie mengelilingi patung itu hampir 5x saking kagumnya. Tiba-tiba ada yang memberikan bucket bunga, zie yang menyadari bahwa itu adalahh Aksa langsung memeluk nya.
"Selamat ya adikku tersayang, kamu sudah berhasil meraih tingkat pertama keinginan kamu." Ucap Aksa.
"Makasih kak, tunggu. Kok kakak kesini? Gimana ketemu klien nya, berjalan lancar kah?" Tanya Zie.
"Masa kakak nggak datang ke acara penting kamu dek, kamu selalu nomor satu buat kakak. Klien, katanya ada acara bentar jadi di undur pas makan siang." Jelas Aksa.
Zie tersenyum, seandainya kak Aksa benar kakak kandung nya mungkin kebahagiaan ini akan berkali-kali lipat.
"Hehe... aku boleh ikut nggak. Habis ini paling aku makan sama petinggi penyelenggara sebagai pemenang, tapi kayak nya aku nggak ikutan kak." Ujar Zie.
"Dek, kamu yakin nggak mau ketemu sama idola kamu selama ini? Siapa tahu nyonya Leonard datang pas jamuan makan siang." Kata Aksa.
"Iya sih kak, tapi kan kakak tahu sendiri aku nggak suka acara-acara pesta gitu. Apalagi itu bisa sampai malam, aku nggak mungkin kan pakai gaun ini terus dan sepatu heels seharian. Pegel kak." Usut Zie.
"Tenang, kakak ada sepatu di mobil. Nanti pas acara selesai kamu bisa langsung ganti." Bujuk Aksa.
"Kak Aksa terbaik, sekali ini aja." Ucap Zie dan di setujui oleh Aksa.
Tiba-tiba ponsel Aksa berdering tertera nama *Mama* Tanpa menunggu lama\, Aksa menjawwab telepon itu. Zie mengira bahwa itu salahh satuu dari klien kakak nya jadi dia melanjutkan melihat karya-karya yang lain\, namun tiba-tiba tangan nya di tarik dengan kasar oleh seseorang. Itu adalah Leta.
"Ngapain lu datang kesini?" Tanya Leta.
"Jangan pakai cara kasar bisa kali kak, sakit." Tutur Zie.
"Heh! Gegara lu, Alen mutusin gua. Pasti lu dan dua temen lu itu kan yang sebarin ke Alen tentang semalam." Tuduh Leta.
"Alen? Maksud kakak, mantan kakak itu kak Alen Alister? Pacar kakak? Eh sudah jadi mantan ya...?" Tanya Zie memastikan.
"Iya! Ngaku lu, lu kan yang ngadu tentang semalam ke dia?" Paksa Leta.
"Kak, aku berani sumpah bukan aku yang kasih tahu kak Alen. Lagian, aku baru tahu ini kalo mantan kakak itu kak Alen. Kak, ini acara yang lumayan besar tolong jangan buat masalah disini. Kalau kakak ada masalah sama kak Alen, kakak selesaikan aja tuh orang nya lagi di kerubunin wartawan." Jelas Zie sambil menunjuk Alen yang benar-benar di kerumunin oleh wartawan papan atas.
"Ya jelaslah. Alen di kerumunin wartawan, dia mewakilkan nyonya Leonard. Lu ngapain disini? Level lu jauh sama pengusaha-pengusaha terkenal disini." Ejek Leta.
Dari balik kerumunan, Alen memperhatikan Zie yang sedang dii interogasi oleh Leta. Alen meminta pengawalnya untuk menahan wartawan dan pergi meenghampiri dua perempuan itu.
"Aku di undang ke sini sebagai pemenang karya yang di pajang kak, kak udah ya aku masih harus keliling." Ujar Zie namun di tahan kasar oleh Leta.
"Apa lu bilang? Lu pemenang acara ini? Mimpi di siang bolong lu." Tanya Leta tidak percaya.
"Iya, dia menjuarai pertama dan itu di pilih langsung oleh oma Leonard. Karena jurinya hanya beliau, lu bukannya gak ada undangan ya kok bisa masuk?" Heran Alen.
Seingat Alen dia meminta bawahannya untuk tidak menerima Leta masuk acara ini.
"Kenapa? Aku tunangan kamu. Kamu lupa ya?" Tanya Leta sambil menggandeng tangan Alen yang langsung di hentak kasar.
"Haha! Lu amnesia kah? Lupa semalam ngapain? Leta gua ingatkan sekali lagi sama lu, masalah pribadi jangan di bawa ke ranah pekerjaan dan ini acara punya oma Leonard ada banyak wartawan juga. Gua saranin, hati-hati dengan perbuatan lu." Peringatan Alen.
"Alen.."
"Kita pergi, kamu gak apa kan?" Tanya Alen yang menggandeng tangan Zie pergi menjauh ke sisi lain.
"Aku nggak apa kak." Sahut Zie sambil melepaskan genggaman Alen karena risih di lihat orang-orang yang melintas.
Tanpa sadar mereka berdiri tepat di depan salah satu karya Zie yang sangat di minati oleh orang-orang ingin bergantian foto disana. Zie merasa sangat puas dengan respon orang-orang yang mendukung karya nya. Tiba-tiba, kedua sahabat zie datang.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments