"Minum air obat pengar ini dan tetap di belakang aku. Paham?" Pinta Alen.
Zie hanya mengangguk dan mengikuti perintah Alen.
"Heh! Kalo di tanya tuh jawab dong. nggak punya mulut ya!" Kesal Pria-pria itu.
"Kalau kamu takut perkelahian tutup mata kamu." Pinta Alen lagi.
"Ya. Aku mengerti." Sahut Zie.
Saat pria pertama ingin menyentuh Zie kembali, Alen menahannya dan memelintir tangan itu. Alen berkelahi dengan sengit melawan lima pria yang cukup setara dengan preman-preman di jakarta. Zie hanya memejamkan mata dan sesekali mengintip untuk mengetahui situasi sekitar, tiba-tiba ada yang ingin menusuk Alen dengan senjata tajam, pisau kecil. Zie dengan cepat melihat sekitar dan menemukan sebuah kayu lalu memukul pundak pria itu dari belakang, menyebabkan pingsan.
Alen terkejut sekaligus kagum dengan keberanian Zie, namun setelah berhasil membuat pria itu jatuh pingsan ia langsung membuang kayu itu begitu saja seperti takut. Alen hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan dengan tiga orang tersisa yang masih bersikeras melawannya. Tak lama itu dari arah depan Alen ada Nathan dan Arka yang membuat ketiga nya langsung tersungkur di tanah kesakitan. Tak memakan waktu lama, mereka langsung pergi sambil saling menopang satu sama lain.
Aksa berlari memeluk adek perempuannya dan memeriksa secara intens.
"Kamu nggak apa? Ada yang luka?" Tanya Aksa sambil memutar-mutarkan tubuh Zie untuk memeriksa nya.
"Aku nggak apa kak, kok kakak disini?" Sahut Zie.
"Lain kali kalo mau kabur tetap bawa dong ponsel nya, menyendiri boleh aja tapi ini negara asing bukan jakarta yang udah kamu kuasain. Kalau kak Rendra tahu, bisa habis kamu di ceramahin dek." Omel Aksa.
"Iya ya, maaf. Jangan kasih tahu kak Rendra ya kak, please." Mohon Zie.
"Yaudah, yang penting kamu aman." Ucap Aksa.
Sementara Alen yang tadi sempat ingin langsung Ingin marah karena ada pria langsung main peluk Zie, namun di tahan oleh kedua sahabatnya dan memberitahu bahwa itu adalah Aksa salahh satu kakak Zie. Amarah Alen langsung menyusut. Aksa dan Zie menghampiri yang lain,
"Kalian..."
"Kak, ini kakak tingkat kita satu kampus.Itu kak Alen yang tadi bantuin Zie. Dua lagi ada kak Nathan sama kak Arka." Jelas Helen.
Zie mengangguk menyetujui, masih setengah sadar. Zie mendapatkan cubitan di pipi dari Aksa.
"Bagus ya, udah berani minum tanpa izin." Omel Aksa
"Ahhh! Kakak sakit..." Keluh Zie.
Aksa langsung melepas cubitannya dan mengacak-acak rambut Zie,
"Thanks ya, udah datang di waktu yang tepat. Gua Aksa, kakak nya Zie." Ujar Aksa.
"Sama-sama, oh ya kak boleh ngobrol dulu berempat. Cowok-cowokk aja." Kata Arka.
Zie, Helen Gea saling tatap bingung satu sama lain. Sementara yang cowok agak menjauh dari yang cewek yang duduk di bangku taman itu.
"Kak, aku kenalin diri lebih detail ya. Aku Arka dari Group Harrison, ini ada Nathan dari Group Wijaya dan ini tadi yang bantuin Zie namanya Alen dari Group Alister." Jelas Arka yang cukup membuat Aksa terkejut.
"Group perusahaan yang masuk 10 besar mendunia. Ah, maafkan aku nggak sopan ke kalian." Ucap Aksa langsung menunduk dikit memberi hormat kepada perusahaan tertinggi.
"Eh, kak. Kita di luar perusahaan nggak ada mandang itu. Lagian juga kita di ajarkan untuk menghormati yang lebih tua dari umur bukan dari segi pamer perusahaan." Tahan Alen.
"Kalian benar-benar sangat sopan, di umur yang masih muda seperti kalian sangat membanggakan keluarga kalian. Oh, gua lupa ngenalin diri. Gua Aksa dari Group Carrington, sebenernya tujuan gua kesini mau buka cabang biar bisa mengawasi kegiatan Zie kalau-kalau kejadian seperti hal kayak tadi. Tapi udah tinggal 3 hari lagi gua harus balik ke indonesia, cabang disana juga lagi butuh tenaga." Jelas Aksa.
"Besok kakak datang aja ke group Alister. Ini kartu namanya dan alamatnya, ketemu langsung sama sekretaris aku. Aku lagi nggak ke kantor buat beberapa hari kedepan karena alasan pribadi tapi besok aku usahakan buat datang." Tutur Alen menyerahkan kartu nama nya.
"Eh nggak perlu repot-repot kalo memang ada urusan penting lainnya, gua malah terimakasih banget udah mau menawarkan sendiri harusnya gua bisa lebih giat mencari." Ujar Aksa menyalahi diri.
'Kalau nama adik lu nggak mengingatkan gua akan saat itu mungkin bakal gua lepas...' Bathin Alen.
"Nah kak, kalo Group Alister belum cukup kita siap nambahin." Lanjut Nathan disetujui Arka dan kedua nya memberikan kartu nama juga.
"Nggak salah kenal sama kalian, benar-benar orang yang baik. Semoga nanti di balas tuhan kebaikan kalian." Salut Aksa.
"Sudah seharusnya sesama manusia apalagi kebangsaan kita sama jadi harus saling membantu." Kata Arka.
"Yaudah kita balik kesana, kasian mereka udah nungguin." Ajak Alen.
Aksa dan tiga lainnya kembali menghampiri Zie dan dua sahabatnya.
"Kak, kita balik duluuan ya, Ini zie udah teler banget." Ucap Helen.
"Eh tunggu, kalian yang nyetir gitu?" Tanya Nathan.
"Iya kak aku yang nyetir." Sahut Helen.
"Jangan deh. Karena disini ada tiga mobil, mobil kalian biar gua atau Arka yang bawa. Kalian ikut kak Aksa aja, nanti Arka sama Alen." Usul Nathan.
"Emang nya tujuan kita sama?" Tanya Gea.
"Sama. Kita ke asrama kampus kok, kita tinggal disana juga. Gimana? Kalau kalian yang bawa resiko kan." Kata Arka.
Akhirnya mereka sepakat sesuai rencana, saat sampai di tempat mobil berada. Zie mengambil tas nya dan memeriksa ponsel nya sudah banyak sekali menerima panggilan dari Antonio , begitupun dengan ponsel Alen yang dengan sengaja tadi di tinggal di mobil begitu saja. Zie meneguk tegukan terakhir dari obat pengar yang tadi di berikan oleh Alen dalam sebuah botol, kemudian berjalan memasuki mobil Aksa. Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka tiba di Asrama kampus. Zie berpelukan pamitan dengan sang kakak.
"Besok makan malam bareng ya, jam 5 sore kakak jemput." Ucap Aksa
"Kakak harus banget balik 3 hari lagi? Nggak bisa tambah seminggu minta sama kak Rendra." Rengek Zie.
"Bisa aja. Tapi kalau kak Rendra curiga, kakak gak mau bantu kamu." Tukas Aksa.
"Ish! Jahat. Yaudah, besok jam 5 sore kabarin aku." Ujar Zie.
Aksa pun pergi dengan mobilnya setelah berpamitan juga dengan yang lain.
"Kak makasih ya tadi udah tolongin aku, lain kali nggak gitu lagi." Janji Zie.
"Sama-sama. Nggak perlu sungkan..."
"'Bagus ya, oh gini kelakuan lu. Siapa cowok yang tadi ngantar lu pulang? Ini juga, bukannya lu mantannya Leta. Selama ini lu selingkuh juga sama pacar gua?" Kata Antonio yang tiba-tiba muncul.
"Kak, masuk istirahat aja. Dia juga nggak seharusnya masuk wilayah ini, karena dia nggak ada akases beasiswa. Entah siapa yang bantuin, kita masuk aja istirahat." Jawab Zie.
Saat Zie akan menaiki tangga menuju pintu asrama, tangannya di cekram dengan sangat kuat olehh Antonio sampai meringis, di bantu oleh Gea Helen agar melepas cekraman itu. Saking kuat nya itu tidak berefek apapun, tenaga mereka suka sangat terkuras. Tiba-tiba ada yang memelintir tangan Antonio dan menendang nya menjauh dari Zie dan dua lainnya.
"Kalian masuk duluan, tangan nya di kompres air hangat." Pinta Alen.
Zie dan dua lainnya langsung masuk ke dalam asrama. Tak lama itu datang rombongan orang berbaju jas seperti bodyguard yang menghalangi Antonio untuk menghampiri Alen dan dua lainnya.
"Tuan, maaf kami terlambat." Ucap Reza.
"Bawa dia menjauh dari sini dan cari tau siapa yang bantu beri akses buat orang yang non-beasiswa seperti dia, laporkan secepatnya." Perintah Alen.
"Baik tuan." Sahut Reza.
Antonio yang mulai panik ingin segera kabur,
"Lepas! Eh! Lu siapa? Lepasin!" Berontak Antonio.
Dalam sekejap Antonio hilang di bawa oleh bodyguard-bodyguard itu. Alen dan dua lainnya masuk ke dalam Asrama, Keesokkan harinya.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments