"Aku sebenernya udah nggak ada rasa sama sekali sama dia, tapi aku masih butuh dia biar angkat perusahaan kak Elvan juga setidaknya sampai masuk 20 besar di perusahaan ternama dunia. Kalau aku putusin dia sekarang gimana perusahaan kakak ku bisa naik dan ada yang mau kerja sama." Jelas Leta.
"Ah, maksud kamu jual nama dia buat naikin perusahaan keluarga kamu. Pinter juga kamu." Puji Antonio.
Alen yang mendengar pernyataan itu hanya tersenyum smirk.
"Kalian tunggu disini saja, pelayan. Mana menu utama nya, biar saya yang antarkan." Ujar Alen.
"Tapi tuan.."
"Turutin aja." Pinta Arka.
Pelayan itu memberikan steik sebagai menu utama yang akan di antarkan oleh Alen kemeja Leta dan Antonio. Alen dengan langkah yang percaya diri sambil membawa baki lalu meletakkannya di atas meja sengaja bersuara, sehingga mendapat protes dari Leta dan Antonio.
"Gimana sih nggak sopan banget taruh piring kayak gitu aja nggak becus sampai bersuara." Protes Leta.
"Heh! Lu nggak lihat mood pacar gua lagi buruk. Jangan makin memperburuk suasana kali." Kesal Antonio.
Leta tak mengenali bahwa itu adalah Alen, karena Alen menggunakan topi dan hanya menunduk. Tanpa berkata apapun Alen hanya berbalik tiba-tiba di tarik kasar oleh Antonio sehingga topi yang di gunakan Alen terlepas. Leta berdiri terkejut dan sedikit gemetar.
"Kamu, kamu sejak kapan disini?" Tanya Leta dengan gugup dan suara yang bergetar takut.
"Sejak sore tadi. Kenapa kaget banget? Nggak nyangka ya?" Kata Alen santai.
"Alen, aku bisa jelasin. Dia, dia siapin semua buat ungkapin perasaannya ke pacarnya. Dia ngajak aku buat latihan biar nanti nggak salah, iya kan?" Ujar Leta minta pembelaan dari Antonio.
"Iy... iya, gua anggap Leta cuman rekan kerja aja kok. Gua latihan buat ungkapin perasaan ke cewek gua." Bela Antonio.
"Oh gitu, kalian mengatakan hal yang berbeda lagi ya? Tadi bukankah kalian mengatakan satu rekan kerja dan satu lagi sepupu? Bagaimana kalian bisa berubah-ubah seperti itu? Yaudah di lanjut, oh ya mulai detik ini kita putus nggak ada hubungan apapun." Ucap Alen tegas berbalik badan namun di tahan oleh Leta.
"Alen, maafin aku. Alen tunggu dulu..."
Alen menepis tangan Leta dengan tegas hingga membuat Leta menabrak meja.
"Lu mau tahu satu kenyataan disini? Pertama ini restoran Cabang milik Nathan jadi gua juga pasti bakal tahu kalau lu datang. Kedua lu juga pernah datang bahkan nginep di hotel salah satu milik Arka. Ketiga gua siapin semua ini buat lu, rencana nya besok gua mau lamar lu di depan keluarga dan teman-teman semuanya. Tapi, gua beruntung karena belum melakukan itu. Lu nggak perlu datang ke rumah atau cari-cari gua lagi. Hubungan kita putus sampai disini." Jelas Alen membuat kedua nya sangat terkejut.
"Kamu bohong kan? Kamu..."
Tiba-tiba seorang pelayan datang ingin memberikan wine sebagai penutup.
"Tuan, ini wine yang anda minta apakah di keluarkan juga?" Tanya pelayan itu sambil mengeluarkan Wine yang sangat langka dan mahal.
"Jangan, berikan saja pada dua temanku di dalam ruangan. Mereka sudah terlalu di manja, ahh kalian tidak perlu khawatir soal tagihannya aku sudah melunasi semuanya. Nikmati dinner kalian dan ini sebagai ucapan selamat tinggal terakhir aku mentraktir kalian, nikmati dengan baik." Ujar Alen.
Pelayan itu masuk dan meletakkan Wine di meja Arka dan Nathan. Sementara Alen masih di tahan oleh Leta yang sudah mulai menangis dengan penuh penyesalan.
"Alen, aku benar-benar minta maaf. Tolong kasih aku kesempatan terakhir aku janji akan berubah aku bakal cintai kamu dengan sungguh-sungguh. Tolong kasih aku kesempatan aku mohon." Tangis Leta.
"Simpan saja air mata kamu. Oh satu hal lagi, tadi yang datang cewek lu kan? Ah, maksud gua mantan cewek lu... lu harus tahu satu hal ini. Dia nggak akan pernah merasa menyesal udah buang lu bagaikan sampah dan gua setuju banget sama kata-kata dia, Pemikiran gua jadi semakin terbuka setelah mendengar penyataan cewek lu. Gua akan melakukan hal yang sama, lu boleh ambil sampah ini lagian gua nggak suka sama yang bekas." Tukas Alen.
"Heh! Lu..."
"Selama ini gua nggak pernah menyentuh Leta karena gua sangat menghargai wanita/perempuan. Gua meratukan dia sampai nanti gua nikahin dia, gua menghormati dia dan nggak berniat sedikitpun buat ngerusak dia walaupun dia beberapa kali terus-menerus menggoda gua buat mau melakukan hal bodoh. Karena apa? Karena yang gua cintai dari seorang perempuan adalah hatinya bukan fisik nya!" Teriak Alen.
Antonio dan Leta terdiam mematung di tempat. Aura dingin membunuh mensoroti kedua nya.
"Kamu..."
"Informasi aja buat lu, sebenarnya seminggu lagi bunda bakal datang dan temuin secara resmi keluarga lu. Tapi, sekali lagi gua berterimakasih kepada tuhan sudah membuka mata gua lebar-lebar dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Tadinya mau besok, terus tiba-tiba gua kepikiran minggu depan aja dan lihat tuhan menunjukkan jalan terbaik ke gua buat batalkan semua nya. Jangan panggil gua lagi, disini gua sebagai pelanggan. Kalau sudah selesai silahkan pergi secepatnya nggak perlu masuk ke dalam." Ucap Alen intens lalu pergi.
Leta masih berusaha mengikuti Alen namun di tahan oleh 4 pelayan restoran itu, karena ruangan dalam sudah di booking penuh hanya untuk Alen. Alen duduk bergabung bersama kedua sahabatnya kemudian membuka Wine mahal dan langka itu, namun di tahan oleh Nathan.
"Lu yakin mau minum?" Tanya Nathan.
"Kalau gua Kobam antar gua ke asrama aja, lagian juga yang nyetir mobil bukan gua." Sahut Alen lalu meneguk Wine tanpa ragu.
Arka dan Nathan hanya terdiam melihat Alen yang sebenarnya sedang putus asa.
"Len, jangan kebanyakan. Kepala lu bisa sakit besok, ortu bakal datang lho besok jangan lupa." Ujar Arka.
"Gua tahu kok." Jawab Alen namun ini sudah tegukan yang ketiga.
"Len, tiga cewek tadi siapa? Kok lu bisa tahu bakal ada yang datang?" Tanya Nathan.
"Yang labrak tadi cewek nya si cowok itu Nama ceweknya di panggil Zie, cowok brengsek itu di panggil Antonio. Mereka pacaran udah hampir masuk tahun ke-4 bahkan tuh cowok udah bersumpah di depan dua kakak kandung cewek itu. Mungkin awal nya emang udah di wanti-wanti sama kakak-kakak nya buat jauhin tuh Antonio daripada nyusul kesini cuman ya ini jadi pilihan dan resiko si Zie. Ya, jadilah begini." Jelas Alen.
"Kok lu bisa tahu sedetail itu sih? Kayak nya gua belum kasih informasi sejelas itu sama lu, Gua cuman bilang kalo tuh Antonio udah punya cewek dan di kampus kita. Selebihnya, lu tahu darimana?" Bingung Arka.
"Kan lu yang cari info kalo tuh Zie di kampus kita karena beasiswa, Kalo begitu kan udah jelas dia bakal tinggal dimana. Nggak perlu di cari-cari lagi dan kebetulan pas sebulan lalu pas gua balik ke Asrama abis pergokin Leta yang ke sekian kali nya gua dengar sekilas ada yang teleponan ternyata itu Zie sama Antonio yang sebenarnya Antonio ngejanjiin buat dinner cuman batal karena dia jalan sama Leta." Cerita Alen.
"Wah! Semua nya bener-bener berhubungan dengan sangat baik. Tapi itu Leta di luar masih berontak mau di biarin aja?" Kata Nathan.
"Biarin aja. Nanti juga capek sendiri, kalaupun nanti kakak nya datang minta tanggung jawab atau apapun itu gua udah punya bukti kalo adiknya itu selingkuh sama pria yang udah punya pacar juga. Ya, gua yakin sih kalo kakak nya bakal banyak alasan ini dan itu demi adik semata wayang nya. Tapi bukti gua kan benar-benar kuat., lagian tempat selingkuh kok di tempat yang gua kerja sama." Sahut Alen.
"Kan mereka juga nggak tahu lu siapa, wajarlah mereka kaget lihat lu disini atau tahu kalo dia nginep sama tuh Antonio di hotel bahkan janji makan di cafe." Tutur Arka.
"Maka nya gua bilang, coba kalau dia bisa tahan sebentar lagi aja jangan ada pengkhianatan kayak gini. Apa nggak jadi istri yang paling di ratukan dia nantinya." Jawab Alen.
"Terus lu belum tertarik sama cewek yang nama nya Zie itu? Gila sih, tadi dia berani banget ngomong begitu. Baru kali ini gua lihat ada cewek di tindas berani buat lawan kayak gitu." Usut Nathan.
"Gua nggak kaget kalo Zie begitu, karena yang gua tahu Group Carrington baru menikah jadi Zie adalah anak tiri nya. Tapi gua bersyukur aja dia pindah ke keluarga Carrington, karena di keluarga bokap nya dia nggak pernah di anggap anak." Ucap Alen.
"Pindah keluarga Carrington? Ah! Dia putri satu-satunya dari group Prasaja itu yang sempet ramai kan? Namanya bukannya Cyta ya, ganti nama?" Bingung Arka.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments