"Dia bilang ada urusan kerjaan mendadak jadi membatalkan dinner kali ini." Jawab Zie.
"Lu tahu kan ini bukan pertama kalinya dia batalin dinner disaat begini. Saran gua mending lu selidiki deh, daripada lu sakit hati nanti kalau tahu dari dia langsung." Saran teman perempuan lainnya.
"Nggak perlu. Gua juga sudah nggak yakin sama hubungan gua bakal baik-baik saja, lagi pula ini salah gua karena udah terlalu cinta dan percaya sama dia. Gua siap dengan apapun resiko nya nanti, gua juga udah di wanti-wanti sama kak Rendra kalo dia bukan cowok baik-baik pas gua memutuskan buat kuliah disini. Ya, ini balasannya dan gua sudah capek mencintai dia baru gua bisa lepas. Gea Helen kalian mau balik asrama apa mau ikut gua ke Bar? Gua lapar malas masak." Ajak Zie.
"Kita ikut lu deh, tadi kan rencana nya gua sama Gea mau cari makan karena lu mau pergi sama Antonio." Sahut perempuan bernama Helen.
"Yaudah, yuk kita berangkat kali ini biar gua yang nyetir dan traktir lu berdua. Bulan ini giliran gua kan traktir? Kalian bebas mau pesan apa aja." Jawab Gea.
"Gea terbaik!" Sahut Zie dan Helen bersamaan.
Mereka bertiga tidak menyadari jika sejak awal Alen mendengarkan pembicaraan mereka, setelah memastikan mereka pergi Alen memasuki Asrama menuju kamarnya di lantai 5 menggunakan lift.
Flashback On
Alen sudah memesan sebuah restoran agar di dekorasi untuk acara pertunangan hari esoknya seromantis mungkin. Alen ikut turun untuk memeriksa apakah semua sudah sesuai dengan apa yang di minta dan mengkoreksi apa saja yang kurang. Dari segi dekorasi sampai soal makanan semua harus terlihat sempurna, bahkan Alen sudah menyiapkan sebuah video perjalanan menjalin hubungan mereka sampai hari itu. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya malam pun tiba namun terjadi sesuatu yang mengejutkan.
Leta datang ke restoran itu tidak sendiri ternyata bersama pria lain, ini bukan pertama kalinya Leta pergi bersama pria itu. Saat seorang pelayan ingin memberitahu bahwa tempat itu sudah di pesan, Alen menahannya. Alen memerintahkan untuk memberikan makanan acara besok di jadikan hari malam ini satu persatu dan ia yang akan membayarnya penuh. Alen sudah sangat sabar ketika melihat ini untuk pertama atau kedua kali, ternyata ini berkelanjutan.
Leta terkagum dengan dekorasi di hadapannya, lalu menatap pria itu.
"Kamu siapin semua ini? Bunga, boneka dan dekorasi ini?" Kagum Leta melihat sekeliling.
Pria itu bingung harus jawab apa, hanya mengangguk tersenyum kikuk.
"Terima kasih sayang, ah aku ingat. Ini hari jadi kita ke 6 bulan, so sweet. Thank you honey." Kata Leta lalu mengkecup bibir pria itu sekilas tanpa ragu.
Alen yang melihat itu dari dalam restoran hanya bisa menahan amarah. Tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh kedua sahabatnya.
"Perlu gua yang maju?" Tawar seorang pria.
"Nggak perlu Nat, biarin aja. Nanti gua sendiri yang maju lagian ada yang mau gua tunjukin ke Leta." Sahut Alen kepada sahabat nya bernama Nathan.
"Jangan bilang lu ngundang seseorang?" Tebak pria lain.
"Gua nggak perlu ngundang insting perempuan akan selalu benar ka." Jawab Alen kepada sahabatnya yang bernama Arka.
Arka dan Nathan saling menatap satu sama lain. Berpikir sebenarnya apa maksud dari omongan sahabatnya itu. Pelayan satu persatu membawa makanan untuk di sajikan di meja Leta dan pria itu, pria itu terkejut karena mereka belum memesannya tapi makan mahhal berdatangan.
"Oh god! Kamu tahu banget kesukaan aku, kamu bener-benar super pengertian sekali Love you sayang." Ucap Leta.
"Benarkah? Baguslah kalau sesuai dengan selera kamu. Makanlah." Sahut pria itu sambil meminum air putih karena berkeringat dingin memikirkan bagaimana cara ia membayar tagihannya nanti.
Dipertengahan mereka sedang makan tiba-tiba seorang perempuan tak jauh di susul oleh dua perempuan lainnya berjalan dengan langkah besar menuju meja Leta dan pria itu.
"Emang ini tempat kerja ya?" Ucap perempuan itu dengan lantang membuat Leta menengok ke sumber suara dan Pria itu berdiri kaget.
"Zie kamu..."
"Sejak kapan sepupu-an bisa saling bilang cinta satu sama lain bahkan di kasih dekorasi restoran semewah ini?" Tanya Zie.
Di kejauhan Alen, Arka, Nathan memperhatikan pertengkaran itu dari jauh.
"Lu siapa?" Tanya Leta tak bersalah.
"Seharusnya anda bisa menebak kalau saya marah seperti ini berarti saya siapa. Kenapa masih bertanya hal kayak orang bodoh?" Kesal Zie.
Dua perempuan yang datang bersama Zie sampai, lalu menarik zie sedikit mundur dari meja itu.
"Kak Leta? Bukannya kakak berpacaran dengan kak Alen? Kakak berselingkuh dari kak Alen dengan kekasih orang lain?" Bingung salah satu perempuan itu membuat Leta tergugup.
"Kalian salah. Dia... dia rekan kerja aku." Jawab Leta terbata-bata.
"Kalian ternyata cocok juga ya, yang satu bilang nya sepupu dan satu lagi bilangnya rekan kerja. Sebenernya kalian ada hubungan apa?" Emosi Zie.
"Zie, tenang dulu..."
Zie langsung menyiram air putih ke wajah pria itu membuat orang yang melihat itu semua terkejut termasuk Alen yang berada di dalam restoran. Karena memiliki keberanian yang tinggi, mungkin Zie sudah menahannya sejak lama.
"Mulai detik ini, Jangan pernah temuin gua lagi. Kita putus, kalau kita papasan di kampus anggap aja nggak saling kenal." Ujar Zie kemudian berbalik badan namun di tahan oleh pria itu.
"Zie, kamu yakin bisa hidup tanpa aku? Kamu aja ngejar aku sampai kesini, nggak mungkin." Kata Pria itu.
"Antonio, dengarkan baik-baik. Kita buktikan aja, siapa yang nggak bisa hidup tanpa siapa. Ah, tentang kejadian aku ngejar kamu kesini? Itu dulu. Setelah hari aku tiba disini dan kamu bahkan tidak menjemputku di bandara, rasa cinta ini semakin terkikis. Sekarang aku bisa dengan tenang melanjutkan kuliahku, bukan terganggu di pertengahan karena aku sudah menyingkirkan hama di awal." Tegas Zie.
"Kamu...!"
Pria itu siap melayangkan tangan untuk menampar Zie, membuat Alen ingin bergerak namun ternyata tangan pria itu berhasil di tahan oleh Zie bahkan Zie juga sudah siap untuk menamparnya namun ia menahan diri dan menghentakkan tangan pria itu. Pria itu masih memejamkan mata karena takut akan di tampar oleh Zie.
"Saya nggak akan mengotori tangan saya untuk menampar sampah. Kakak siapa tadi namanya? Ah, kak Leta. Kakak mau dia kan? Ambil aja kak sampah ini, aku udahh nggak butuh. Silahkan lanjutkan dinner kalian, semoga langit nya bersahabat tapi sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." Ucap Zie lalu pergi dengan percaya diri.
Leta sangat amat kesal dengan perkataan Zie, Antonio berusaha untuk membujuk Leta agar tidak memikirkan perkataan Zie. Sementara Alen, Arka, Nathan masih cukup terkesima dengan keberanian Zie.
"Sayang, kamu tenang ya. Nggak usah pedulikan ucapan dia. Biarin aja, kita makan dinner ini ya." Bujuk Antonio.
"Kamu bilang udah putus sama dia, kok masih berhubungan juga sih? Mana temen-temen nya tadi kenal sama aku. Gimana kalo mereka ngadu ke Alen?" Takut Leta.
"Aku bakal urus dan pertegas dia besok supaya dia ataupun temen-temen nya nggak berani sebarin kejadian ini, tapi kenapa kamu nggak mau putus sama cowok kamu?" Tanya Antonio.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments