Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
Mereka berlarian, sampai tiba di lorong pemisah Asrama perempuan dan laki2. Alen memakaikan topinya ke Zie kemudian seakan-akan mereka sedang terlihat berciuman, setelah mendengar kekecewaan dan kepergian para wartawan mereka langsung berjaga jarak.
Mereka gugup satu sama lain dan merasa panas, padahal sedang turun salju lalu suhu 13 derajat. Tak lama itu sebuah mobil datang dan Nero langsung membuka pintu untuk mereka,
"Sekarang kita menjauh dulu dari asrama." Ajak Alen naik ke mobilnya.
Zie hanya menuruti saja, Duduk manis di samping Alen. Nero mengemudia menjauh dari kampus itu. Sementara,
"Ehh... kalian berhentilah." Ucap Arka.
"Nona Zie, apakah benar anda tidur bersama dengan tuan Alen?" Pertanyaan Wartawan.
"Apa yang kalian tanyakan? Bagaimana bisa kalian memandang sebelah mata seperti itu! Benarkah kalian seorang wartawan profesional?" Tanya Nathan membuat para wartawan terdiam.
"Pelakor tetap saja pelakor. Kenapa masih di bela!" Teriak fans fanatik Leta.
"Kalian itu salah orang! Sudah teriak kencang, main hakim sendiri dan salah orang! Manusia apa kalian ini?" Tegas Helen.
"Bukan kah perempuan itu Nona Zie?" Bingung para wartawan.
"Bagaimana bisa zie keluar jika ada kalian, menyingkir jangan menghalangi jalan ku untuk membeli sarapan! Tidak ada kerjaan saja!" Ucap Gea berdiri tegak.
Semua kaget karena itu bukan Zie yang mereka cari. Mereka bahkan mengomeli para sekumpulan fans fanatik Leta yang salah, sementara Gea Helen Nathan dan Arka saling tos an karena rencana mereka berhasil.
"Eh bagaimana dengan Zie, apa dia berhasil ke kampus lewat belakang?" Bisik Gea.
"Kalian tenang saja, dia tidak sendirian." Sahut Arka penuh kode.
"Syukurlah. Kak, terimakasih sudah membantu kita kalau bukan kak Aksa yang kasih tau kalau Zie bakal nekat pasti kita juga gak akan kasih tau kalian." Ujar Helen.
"Nggak apa. Ini semua murni rencana Alen, masalah nya sekarang kita nggak tahu Alen bawa Zie kemana yang pasti bukan ke kampus." Jawab Nathan.
"What!" Kaget Gea Helen.
Sementara di mobil Alen,
"Lho, kita bukannya mau ke kampus? Aku perlu kesana buat batalkan akses Antonio memasuki wilayah Asrama." Ucap Zie sadar bahwa ia telah melewati gerbang kampus.
"Sudah di lakukan." Kata Alen santai.
"Sudah? Tapi, tadi kok aku buka gagal?" Tanya Zie.
"Karena itulah kenapa gagal, sudah dilakukan olehku. Bagaimana mungkin, kakak tidak memiliki kartu tanda mahasiswaku dan..." Zie menyadari sesuatu.
"Tebakanmu benar. Sebagian besar karyawan atau dosen yang bekerja di kampus adalah permintaanku, jadi kamu tidak perlu khawatir." Sahut Alen.
"Lalu kemana kita pergi? Bagaimana dengan kedua temanku?" Tanya Zie.
"Mau kah kamu pindah ke mansion ku?" Tawar Alen.
"Maksud kakak?" Tanya Zie.
Ponsel Zie berdering tertera namaa Gea di layar saat Zie ingin mengangkat, Alen merebut ponsel itu.
"Kembalikan kak." Pinta Zie.
"Jawab dulu, bersediakah kamu pindah ke mansionku?" Tanya Alen.
"Jawabanku adalah tidak, jadi kembalikan ponselku." Jawab Zie tegas.
"Nero tepikan mobilnya dan turun dari mobil sementara." Perintah Alen.
"Baik tuan." Nero menghentikan mobilnya kemudian turun.
Saat zie ingin turun juga, di tahan oleh Alen.
"Bisakah kita berpacaran?" Ucap Alen.
"Kakak gila ya? Kita baru saja beberapa hari putus dengan pasangan kita masing-masing. Kakak ingin memperkeruh keadaan?" Kesal Zie.
"Oh begini rasanya di tolak." Ujar Alen.
"Kak, aku menghargai sikap baik kakak membantu aku dan melindungi aku dari Antonio ataupun kak Leta. Aku sangat berterima kasih untuk itu, Tapi jika masalah cinta atau hati itu adalah masalah yang beda." Jelas Zie.
"Jadi, hanya aku yang merasakan kegelisahan dan kegugupan beberapa hari ini. Kamu tidak menanyakan alasan kenapa aku menyatakan hal ini padamu? Kamu tidak penasaran?" Tanya Alen.
"Sepertinya kakak yang berhutang budi pada ku karena aku tidak pernah mencari masalah dengan kak Leta namun nyata nya kak Leta terang-terangan menyerangku. Tapi mengapa seperti terbalik?" Bingung Zie.
"Ternyata kamu pintar beradu argumen dan memutar-mutar pertanyaan seperti ini. Baiklah, aku akan jelaskan sendiri. Karena aku sadar bahwa hati ini sudah kosong sejak 2th yang lalu ketika pertama kali aku menemukan Leta berselingkuh dengan pria sebelum Antonio dan aku baru menyadari sekarang bahwa aku jatuh hati padamu saat kamu datang ke restoran atas malam itu untuk pergoki Antonio juga Leta. Apakah alasan ini cukup?" Tutur Alen membuat Zie terdiam.
Zie diam cukup lama dan berpikir.
"Kemudian disamping itu, perusahaanmu telah bekerjasama dengan kami. Maksudku milikku, Nathan juga Arka." Lanjut Alen.
"Kamu..."
"Aku tidak mengatakan apa-apa, kamu saja yang berpikir negatif tentangku." Ucap Alen.
"Kasus kita jelas sangat berbeda tuan muda Alister, aku benar-benar baru putus kemarin sedangkan anda sudah curiga sejak lama dengan pasangan anda." Ujar Zie.
"Kamu tidak pernah merasa curiga padanya? Saat dia mungkin telat datang di hari perayaan ulang tahunmu di depan teman-teman kamu? Atau saat kalian ada jadwal dinner seminggu sekali atau jadwal quality time yang biasanya dia tidak pernah menolak jadi tertolak atau mengatakan bahwa dia lupa?" Tutur Alen.
Sebenernya bukan hanya itu, Zie sudah mencurigai ketika pertama kali datang kesini. Dimana harum aroma pakaian Antonio seperti baru bertemu dengan wanita. Mungkin perasaannya sudah hilang sejak saat itu pada Antonio, itu terjadi teepat 2 setengah tahun yang lalu.
"Baiklah. Lupakan tentang aku mengungkap perasaanku padamu, aku memintamu tinggal di mansion agar aku bisa memastikan bahwa kamu tetap aman. Kamu tidak terluka atau merasa terancam, ini hanya bentuk kekhawatiranku padamu. Bagaimana?" Tanya Alen.
"Beri aku waktu berpikir." Minta Zie.
"Apakah 2 hari cukup?" Tawar Alen.
"Tidak perlu memberikan tenggak waktu, aku akan mengatakannya jika sudah yakin. Sekarang bisakah aku pergi?" Pinta Zie.
Tidak ada jawaban, Alen mengetuk jendela nya tak lama Nero masuk dan kembali melajukan mobilnya.
"Eh... kamu..."
"Temani aku sarapan, kamu juga belum sarapan kan?" Ujar Alen.
Zie berdecak kesal lalu melihat keluar jendela.
"Cih! Kemarin bersikap lemah lembut sekarang seperti ini, dasar pria tidak konsisten." Gumam Zie.
Nero yang mendengar itu menahan ketawa nya. Memang benar sikap tuan nya sangat berubah-ubah sejak kejadian di restoran malam itu, tidak bisa di pungkiri.
"Ada apa nona Zie?" Tanya Alen.
"Tidak ada." Sahut Zie masih melihat keluar jendela.
Sementara itu,
"Nggak di angkat, tumben banget. Apa jangan-jangan mereka tercegat?" Khawatir Helen.
"Percayakan semua pada Alen, kita berdua sudah temenan sama dia dari kecil." Ujar Nathan.
*TING!!!*
[Gua bawa Zie ke Mansion, nanti jam 4 sore ketemu di bandara.] - Alen.
"Lihat. Alen bawa Zie ke mansion nya, jadi kita bisa tenang sekarang." Ujar Arka menunjukkan pesan dari Alen.
"Kalian tahu dimana Mansion kak Alen?" Tanya Gea.
"Kita gak tahu, kalo rumah atau apartemen nya tahu. Tapi kalau mansion, Alen belum pernah cerita apa-apa. Kita baru tahu sekarang kalau dia ada mansion disini, Mungkin tidak jauh juga dari Markas yang dia buat." Jelas Nathan.
"Wah! Kalian benar-benar misterius sekali. Jika bisa di simpulkan mungkin kalian adalah orang yang paling di takuti di dunia, begitukah?" Tebak Helen.
"Untuk Alen mungkin iya, tapi untuk kita berdua hanya beruntung memiliki teman seperti dia dan kita juga berteman tidak memandang siapa yang paling berkuasa. Oh ya, kalian belum sarapan kan? Mau sarapan bareng?" Tawar Arka.
"Boleh deh. Kita sampai lupa belum sarapan, tunggu tapi gimana akses Antonio ke asrama sudah selesai?" Tanya Gea.
"Harusnya sudah dan sekarang lagi di tambah pengamanan ketat lagi, bukan hanya kartu tanda pengenal dan sidik jari tapi bakal ada sensor wajah juga. Mungkin sepekarangan Asrama juga bakal di pasang pagar berduri gitu dan sengatan listrik, wah! Alen benar-benar buat ngelindungin Zie seperti ini. Mungkinkah dia sudah jatuh hati pada Zie?" Bingung Nathan.
"Kalau aku tebak sih mungkin sudah dari pihak kak Alen nya, karena kan kalian yang bantu juga gimana merentas perselingkuhan. Agak mustahil udah tahu pasangannya selingkuh masih ada hati." Ucap Helen.
"Oh iya benar juga. Yaudah kita sambil jalan yuk ke restoran, cari tempat sarapan." Ajak Arka.
Mereka pun naik mobil mencari restoran untuk sarapan. Sementara itu,
'Setelah sekian lama akhirnya aku menemukan gadis bernama Zie, namun benarkah dia Zie yang dimaksudkan oleh kakek? Aku akan menyelidikinya dengan benar mulai sekarang.' Tekad Elvan dalam Hati.
Tak lama itu anak buah nya datang,
"Bagaimana kabarnya?" Tanya Elvan
"Maaf tuan. Kami kehilangan jejak nona Zie, dia tiba-tiba sudah tidak ada di sekitar Asrama." Lapor Bawahannya.
"Akhir-akhir ini apakah pekerjaanmu terlalu sedikit sehingga tida bisa dengan benar mengerjakan hal seperti ini saja! Keluar!" Marah Elvan.
"Maaf tuan. Sa... saya akan cari lagi." Ungkap bawahannya kemudian pergi.
"Semalam tidak bisa membawa ke kamar VIP yang salah malah ketahan di Antonio sekarang tidak benar juga." Kesal Elvan.
Tak lama itu Leta masuk ruang kerja Elvan,
"Kakak, apa yang terjadi? Kenapa pagi-pagi sudah marah seperti ini." Tanya Leta.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments