Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
"Kak, aku ceritain ya. Waktu pertama kali datang berkunjung ke rumah itu, kita bertiga lihat dengan kepala mata sendiri kalo undangan beasiswa Zie di bakar gitu aja. Padahal itu jelas ada kop resmi dari Universitas itu, kakak tahu gak darimana? Sumpah itu kampus yang di impikan semua orang kak." Lanjut Gea.
"London?" Tebak Alen.
"Tepat sekali! Wah, aku aja pengin kesana setengah mati kak di tolak terus ini Zie udah dapat undangan masih ada aja yang iri hati begitu. Itu masalah dari ibunya, belum adik tiri nya yang namany Cyta. Ya Ampun, dia itu bener-bener ngerampok kak harusnya kan kita yang gajian kalo mau kasih orang semampunya dan semau nya kita. Ini mah kebalik, Zie yang cuman pegang sejuta sisa nya di ambil si Cyta. Bahkan itu anak, malak ke bos cafe tempat Zie kerja minta di tambahin bonus dan kasih ke dia di awal." Jelas Helen.
"Itu sih namanya melebihi rentenir, gak ada hak apa-apa tapi tetap aja di tagih. Sekarang gimana? Udah gak kan?" Tanya Arka.
"Terakhir tadi pas makan siang dia ngirim, 30jt buat hutang di bar gitu terus dia kirim juga 15jt buat papa nya." Jawab Alen santai namun kelihatan amat emosi.
"Wah! Gila sih, ini bakal terus berlanjut kalo gak di tindak lanjuti." Kesal Nathan.
Gea Helen mengangguk.
"Itu yang terakhir kali nya, kayak nya dia berencana buat ganti nomor atau mungkin ponsel sekalian. Lihat saja nanti." Sahut Alen.
Mereka lanjut mengobrol tiba-tiba ponsel Helen berbunyi, panggilan dari Zie.
[Halo, iya Zie] - Helen.
[Kalian belum pulang? Gua otw pulang nih udah beres makan. Kalian gak minum2 kan?] - Zie.
[Dikit doang kok. hehe...] - Helen
[Yaudah kalian kirim lokasi nya, biar gua jemput di antar kak Aksa.] - Zie
[Eh gak usah. Kita panggil supir pengganti aja.] - Gea
[Lokasi gua nggak jauh dari club bar tempat kalian, gua masih sekitar kampus juga.] - Zie
[Yaudah deh. Gua kirim lokasi nya, kak pastikan aman ya.] - Helen
[Siap] - Aksa
*TING*
"Nah ini alamat nya kak, antar aku kesana. Setelah itu kakak pulang aja nggak perlu ikut masuk ya, nanti aku tanya sendiri sama pelayan nya." Ucap Zie
"Kamu yakin?" Tanya Aksa
"Yakin kak, kakak istirahat aja persiapkan tubuh untuk perjalan jauh di pesawat. Kan gak lucu sampe indonesia sakit." Kata Zie
"Okay. Kalau ada apa-apa kabarin aja ya, janji lho." Ujar Aksa.
"Iya kak, makasih ya untuk makan malam nya. Oh ya, aku titip kado buat Karla ada di jok belakang. Sekarang, kita berangkat." Tutur Zie sambil memasang sabuk pengaman.
Aksa mengemudi ke lokasi club bar yang jarak nya hanya 15 menit dari restoran tempat makan.
"Aku turun disini aja." Pamit Zie sambil membuka sabuk pengaman dan ingin buka pintu namun di tahan oleh Aksa.
"Dek, kamu beneran gak mau di antar sampai meja ketemu Gea Helen?" Tawar Aksa.
"Nggak perlu kak, kak ingat ya kakak boleh khawatir sama aku tapi ingat aku sudah dewasa sekarang. Ini jalan yang aku pilih, Kakak dan yang lain cukup pantau aku dari jauh aja." Pinta Zie dengan lembut.
"Baiklah. Kakak percaya kamu bisa jaga diri dengan baik." Sahut Aksa menyerah membujuk adik nya.
"Aku turun ya? Jangan lupa itu kado buat Karla di bawa, jangan ketinggalan." Ingat Zie.
"Iya sayang..." Jawab Aksa lembut.
"Bye!" Pamit Zie keluar dari mobil dan memasuki club bar itu.
Aksa pun akhirnya menyetir pulang ke hotel. Sesampai nya di dalam, suara derap alunan musik dugem membuat Zie ingin cepat2 menemukan teman-teman nya dan membawa mereka pulang ke asrama. Saat akan masuk ke wilayah VIP, tiba-tiba ada yang mencegatnya. Antonio.
"Kamu ngapain di tempat begini? Sama kak Aksa? Apa sama om-om bayaran?" Rendah Antonio.
"Bukan urusan lu, minggir." Tegas Zie namun tangannya di cekram.
"Jawab dulu lu kemana? Siapa yang di ruangan VIP yang bakal lu temuin? Petinggi perusahaan mana buat naikin nama perusahaan kakak lu?"
"Lepasin gua Antonio! Lu nggak ada hak buat tahu ada urusan apa gua disini. Lepas!" Kesal Zie.
"Lu nolak buat tidur sama gua, tapi lu nerima dengan senang hati di ajak ke tempat begini. Munafik lu!" Teriak Antonio menyeretnya turun ke bagian meja2 biasa.
"Lepasin!" Teriak Zie.
Sementara itu sebelum Zie sampai, Alen pamit ke toilet kepada teman2 nya. Alen melihat Zie di tarik menuruni tangga secara kasar, rahang Alen mengeras melihat hal itu dan menghampiri Antonio dan Zie. Zie di paksa duduk sekitar cowo2 yang Zie tahu adalah teman sekelasnya.
"Eh bro! Gua kira lu udah putus sama ni cwe? Masih aja lu kejar2 juga." Ucap salah satu temannya.
"Antonio Lepasin! Lepas!" Berontak Zie.
Saat itu juga ada yang menarik Zie hingga berdiri membuat cekraman dengan Antonio lepas.
"Kamu nggak apa?" Tanya pria itu.
"Ngga kak Alen, aku gak apa-apa. Kita pergi sekarang ya, kakak tahu tempat Gea sama Helen kan?" Tanya dan ajak Zie.
"Ya. Mereka di ruangan yang sama kayak yang lain, ayo!" Ajak Alen.
"Eh! Tunggu dulu, lu siapa main rebut cewe gua hah?" Kesal Antonio kembali menahan Zie pergi mencekram tangannya.
"Sakit! Lepas!" Berontak Zie kepada Antonio.
*Bug!!!*
Alen meninju Antonio hingga Antonio kembali terduduk di bangku, Sejujurnya Antonio sudah setengah sadar karena banyak minum.
"Kak, udah ya jangan pakai kekerasan. Banyak yang lihat, kakak kan tadi pagi udah terekpos jangan sampai membuat jelek nama Oma." Bujuk Zie saat Alen ingin memukul Antonio lagi.
"Awas lu masih berani muncul ketiga kalinya." Ancam Alen kemudian menggenggam tangan Zie lembut untuk pergi.
Namun...
"Urusan kita belum selesai Zie! Kenapa buru-buru banget? Udah kebelet ya mau ke kamar? Hah!" Teriak Antonio.
Alen berbalik badan namun kalah cepat dengan gerakan Zie yang sudah melayangkan tamparan panas ke pipi Antonio. Zie mengambil ponsel Antonio dan merekam suaranya,
"Gua harap lu ingat apa yang lu lakuin dan lu ucapkan malam ini ke gua, Jangan cari gua! Semakin gua mengenal lu semakin gua benci dan menyesal pernah ngenal lu!" Rekam Zie kemudian menendang tulang kering kaki Antonio lalu menarik Alen pergi.
Alen merasa detak jantung nya sangat cepat karena baru pertama kali di lindungin oleh perempuan. Sesampai nya di lorong ruang VIP Zie berhenti.
"Kak, yang mana ruangannya?" Tanya Zie.
"Oh? Ahh, Yang paling ujung sana" Jawab Alenn gugup.
Zie yang masih menggebu-gebu karena bertemu dengan Antonio segera berjalan menuju ruangan itu, di ikuti Alen dengan tenang.Zie langsung duduk di samping Gea dan memejamkan matanya.
"Lu kenapa Zie?" Tanya Gea bingung.
"Ketemu Antonio di bawah." Sahut Alen tenang.
Nathan Arka bingung dengan reaksi Alen dan menatap sahabatnya itu, namun Alen hanya mengangkat bahu nya.
"Hah? Seriusan? Tapi Zie nggak apa kan?" Tanya Helen.
"Gua nggak apa, cuman memar dikit aja nanti sampai asrama gua kompres. Sekarang gua mau..."
Belum Zie menyelesaikan kalimatnya, Alen langsung keluar ruangan tanpa sepatah kata pun.
"Kak Alen kenapa ya?" Tanya Gea bingung sambil menatap Arka dan Nathan bergantian namuun di balas dengan angkat bahu.
"Temen lu aneh, perasaan baru kemarin putus dah." Bisik Arka.
"Ya kan temen lu juga njay!" Balas Nathan.
Tak lama itu Alen masuk membawa kompres an Es lalu memberikannya ke Zie. Kemudian dia juga membawa kotak P3K untuk mengganti perban luka telapak tangan Zie.
"Makasih kak." Ucap Zie.
Zie terkejut Alen dengan tenang meraih tangan Zie dan mengobatinya perlahan, ini moment langka yang belum pernah terjadi.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments