Selamat Membaca :)
.
.
.
.
.
(Dasar jahil kamu ya dek... Kamu juga kenapa daritadi gak bersuara?) - Rendra
(Kaki di injak kak) - Aksa
(Hahaha...) - Mama Ayah
(Mama malah ketawa bukan nya belain anaknya...) - Rendra
(Gantian lah sekali-kali Zie yang ngerjain kalian, kalo ada sekaligus kalian berdua kan Zie yang kalian kerjain. Mumpung kalian terpisah, gak bisa berkutik kan.) - Ayah
(Ahh... Ayah the Best. Btw gimana kabar kalian?) - Zie
(Kami baik-baik aja Nak. Kamu gimana disana setelah selesaikan hubungan sama pria itu?) - Mama
(Emm... lebih baik mah. Kan aku juga udah menunjukkan apapun yang dia minta untuk membuktikan bahwa aku mencintainya, tapi dia nya tidak melihat hal itu jadi tidak begitu sakit.) - Zie
(Kalau mau nangis-nangis aja. Jangan kebiasaan sok kuat Nak, kamu tuh manusia lho. Nggak seharusnya kamu dipermainkan hatinya begini, Ayah akan bikin perhitungan nanti sama dia.) - Ayah
(Nggak perlu ayah. Aku benar-benar baik-baik aja, tanya kak Aksa aku happy menjalankan aktifitas aku disini. Kan ayah yang bilang ketika kita mencintai seseorang sepenuh hati, ketika di tinggalkan bukan sebuah masalah atau muncul penyesalan. Yang terpenting aku sudah mellakukan itu dengan benar.) - Zie
(Kakak, nanti nonton Live Streaming acara ulang tahun aku aja ya. Atau kakak mau ikuta Live bareng?) - Karla
(Nanti kakak lihat dulu ya jam nya, Kakak usahakan bisa gabung. Nanti kakak kabarin bisa atau gak nya, ok?) - Zie
(Ok kak, tapi...)
(Kakak udah beli kado buat kamu, kakak titip ke Kak Aksa biar pas pulang dibawa. Kakak harap kamu suka.) - Zie
Karla cuman tersenyum dan mengangguk.
(Yaudah, disana sudah malam Kalian pulang kemudian istirahat.) - Mama
(Mah, disini belum jam 9 malam. Kan biasanya aku pulang kerja juga sampai rumah jam 11 an. Oh ya, mah. Papa gak berulah kan? Karena aku udah putuskan komunikasi sama sekali, papa Ibu dan Cyta untuk sementara gak bisa hubungin nomor aku kalau mereka gak ganti nomor.) - Zie
(Semuanya aman sayang, Kamu tenang aja) - Mama
(Bukan masalah itu mah. Hari ini aku udah kirim 300jt, ini bener-bener untuk terakhir kalinya. 300jt bukan utuh ke mereka, tapi untuk bayar bar temanku yang di hutangi oleh Cyta juga. Sebenarnya dia melarang aku untuk membayarnya karena itu utang Cyta bukan utang milikku, tapi aku juga tidak enak. Jadi aku membayarkan semua itu, ditambah karena papa meminta dan aku tidak tega jadi aku beri 15jt ke rekening papa.) - Zie
(Dek, kamu tahu kan uang 300jt untuk indonesia itu bukan jumlah yang kecil? Bagaimana kamu membiayai kehidupan kamu disana nanti? Mereka sudah menyakiti kamu seperti ini dan kamu masih saja memiliki hati kepada mereka, Dek janji ya, itu yang terakhir. Jangan berhubungan lagi dengannya, kalaupun mereka meminta laporkan ke kakak. Kakak akan buat perhitungan.) - Rendra
(Kenapa kamu gak cerita ke kakak kalo mereka telepon? Kapan mereka memintanya? Saat kamu makan siang tadi dengan Oma Leonard?) - Aksa
(Maaf. Aku janji ini bener-bener terakhir, ya aku di telepon tadi oleh mereka.) - Zie
(Kak, tenang aja. Disini aku akan ambil tindakan agar kejadian yang bahaya tidak terjadi selama Zie jauh dari kita, aku udah siapkan ini sejak lama untuk antisipasi ini. Setelah video call ini, Kamu gunakan ponsel ini saja dan sudah ada nomor baru juga. Kabari teman-teman kamu saja yang dekat, ingat yang dekat dan penting untuk kamu. Selebihnya kamu beritahu nomor kamu di ponsel yang lama, mengerti?) - Aksa
(Ini hp keluaran baru, kapan kakak membelinya?) -Zie
(Jangan mengalihkan pembicaraan, Mengerti?) - Rendra Aksa
(Baiklah. Aku mengerti, aku mematuhi nasihaat kalian. Terimakasih kakak2 ku.) - Zie
(Nak, kamu benar-benar harus bahagia. Mama...)
(Berhentilah menyalahkan diri mah. Ini bukan salah mama, tapi memang sudah takdir yang tertuliskan seperti itu. Aku janji akan selalu bahagia disini dan selamanya mulai dari sekarang, mama Ayah dan kakak2 serta Karla tidak perlu khawatir.) - Zie
'Aku beruntung memiliki kalian yang benar-benar menganggapku sebagai keluarga kalian. Aku janji tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian seumur hidupku, bahkan jika ada kehidupan selanjutnya aku berharap benar-benar bisa menjadi bagian dari kalian dengan hubungan darah bukan karena kalian orang baik yang menemukanku dan mengangkatku menjadi anak kalian' Bathin Zie.
{Ehh... kakak kenapa tiba-tiba menangis?} - Karla
{Eh? kamu kenapa dek? Kok nangis sih?} - Rendra
{Nggak apa kak, tiba-tiba aja kayak melow hati aku hehe... Tapi aku gak apa-apa dan ini bukan tentang pria itu. Pria begitu nggak pantas di tangisi.} - Zie
{Yaudah, kalian lanjutlah makan malam nya. Oh ya, mama butuh saran juga dari kalian. Kira-kira mereka perlu di undang gak?} - Mama
{Nggak perlu.} - Zie Aksa
{Cakep! Adekku kompak. Tunggu transfer dari kakak ya...} - Rendra
Zie dan Aksa saling pandang.
{Iya mah, jangan di undang mereka kan gak ada hubungan apa-apa.} - Aksa
{Nah setuju. Lagian aku juga ngeri kalo malah nanti acaranya jadi berantakan, lebih baik undang yang baik-baik aja.} - Zie
{Wah! Kalian perampok ya... Awas kalian pulang.} - Rendra
Zie Aksa saling tertawa dan tos an.
{Sudah-sudah. Kalian ini kalo nggak ngumpul kangen, kalo lagi pada sibuk kangen. Giliran ketemu di video call maupun langsung saling meledek, pusing deh mama ini.} - Mama
{Hehehe...} - Rendra Aksa Zie Karla
{Yaudah, kalian kembali ke tempat masing2 ya. Aksa, pastikan adik kamu masuk pintu asrama baru kamu pergi. Ayah takut nanti ada orang jahat gimana? Beneran lho ini.} - Ayah
{Iya Ayah, Aksa tau.} - Aksa
{Yaudah, bye nak... kabarin kalau ada apa-apa.} - Mama
Zie Aksa melambaikan tangan, kemudian mengakhiri panggilan.
"Eh, kakak minum bir? Ya Ampun kok aku baru sadar kakak pesan begituan. Terus nanti aku dong yang nyetir." Kesal Zie yang terkejut.
"Ini bukan bir sayangku, sama kayak kamu sparkling soda cuman aku beda rasa aja." Jawab Aksa.
"Oh... kirain mentang2 besok penerbangan malam mau mabuk2an gitu." Sindir Zie.
"Nanti siapa yang mastiin kamu beneran sampai masuk asrama? Bisa abis besok kakak di omelin ayah." Ucap Aksa
"Iya juga sih. Yang palingan akses semua di bekukan wkwkwk..." Ledek Zie.
"Mending begitu doang, kalo sama sekali gak boleh keluar sama kak Rendra juga gimana?" Ujar Aksa.
"Hahaha... sabarin aja." Senang Zie.
"Ini udah jam setengah11 an, temen2 kamu udah balik belum?" Tanya Aksa.
"Oh iya, bentar aku telepon." Sahut Zie.
Flashback suatu club bar
"Lho kalian disini?" Kaget Nathan.
"Lah, ternyata tujuan club bar kita sama toh." Jawab Helen.
"Gabung aja kak disini, apa udah mesen VIP?" Tanya Gea.
'Gua harus tanya-tanya tentang Zie lebih dalam ke mereka, jangan sampai mereka curiga juga.' Bathin Alen.
"Iya. Ada tempat biasa selalu di kosongin gak boleh ada yang ngisi kecuali kita. Kalian mau gabung aja kedalam? Baru pesen makanan aja kan, tinggal minta di antar nanti." Ajak Arka.
Alen hanya menggelengkan kepala, bersiap menjadi nyamuk di antara dua pasangan kemudian pergi keruangannya sambil meminta pelayan untuk mengantar sebuah menu.
"Ya deh kak, gabung aja." Terima Gea.
Mereka memasuki ruangan itu kemudian memesan makanan. Alen memberikan kartu hitam kepada pelayan itu seperti biasa, kemudian pelayan itu pergi. Setelah menunggu beberapa waktu satu persatu makanan nya datang dan mereka makan sambil mengobrol satu sama lain.
"Zie udah pulang?" Tanya Alen tiba-tiba.
"Belum kak, dia bilang masih di restoran makan sama kak Aksa. Mungkin mau di puasin kak, kak Aksa kan gak tega ninggalin adik nya disini dengan keadaan berantakan menyangkut nyawa pula. Belum lagi di tambah dari ibu tiri nya, aku kalo jadi Zie udah ganti hp dan akan pindah kewarganegaraan sih. Biar susah di lacak." Cerita Helen.
"Separah itu kah?" Tanya Nathan.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments