Selamat Mmebaca :)
.
.
.
.
.
{Beb... Tolongin aku.} - Leta
{Siapa ini?} - Antonio
{Ini aku sayang, Leta. Beb maaf kan aku, aku tidak bermaksud untuk menjebloskan kamu ke penjara. Kamu baik-baik saja kan?} - Leta.
{Apa yang baik-baik saja? Kamu kira enak di dalam sel penjara? Ada apa kamu mengirimi ku pesan?} - Antonio
{Karena itu, aku meminta maaf sebentar lagi kamu akan bebas. Aku sudah memberikan biaya sanksi kepada paman ku, kamu tidak perlu khawatir. Bantu aku untuk keluar dari markas.} - Leta
{Kemudian setelah aku membantumu, apa yang aku dapatkan sebagai keuntungannya? Tidak ada.} - Antonio
{Aku akan memberikanmu 5.000 dollar setara dengan 700 juta indonesia, apakah ini cukup?.} - Leta.
{Baiklah. Aku akan mengabari kamu ketika keluar dari penjara besok, Jangan mengkhianatiku kamu harus membayarnya.} - Antonio
{Tidak akan beb, percayalah.} - Leta
{Oke. Bye!} - Antonio
Asrama Kampus,
Jam sudah menunjukkan pukul 6 Sore, Gea membangunkan kedua sahabatnya.
"Gaes bangun, Zie bangun katanya lu mau dinner sama kak Aksa." Ucap Gea.
"Em... iya." Sahut Zie sambil perlahan duduk dari posisi tidurnya untuk mengumpulkan nyawa yang masih di alam bawa sadar a.k.a mimpi.
"Helen, bangun kita mau makan malam apa ini. Ke cafe yang baru yuk, di ujung jalan depan kampus mau gak? Atau kita ke bar yang baru di buka beberapa bulan lalu. Katanya itu bar rame terus 24 jam non-stop coba yuk." Ajak Gea.
"Itu bar usaha kak Nathan dan anak-anak angkatan kak Nathan dulu sering kesana sampai sekarang." Jawab Helen sambil mata sambil terpejam.
"Cie.... udah cari tahu detail tentang kak Nathan." Ujar Zie.
"Bukan. Anak-anak kelasan gua akhir-akhir ini sering kesana dan obrolan merekka tentang club bar itu terus. Jadi gua mau gak mau kan tahu." Jelas Helen yang sudah sadar dari tidurnya.
"Jadi gimana? Lu mau coba gak kesana? Siapa tahu kita dapat kenalan baru." Ajak Gea.
Zie segera pergi ke kamar mandi sambil menggeleng-gelengkan kepala nya melihat kelakuan kedua sahabat itu.
"Gua tahu Club bar yang gak terlalu rame di dekat sini, nanti kesana aja." Ajak Helen.
"Okay! Gua juga lagi nggak pengin datang ke tempat yang rame sih." Sahut Gea tak kalah semangat.
Setelah 45 menit berlalu, Zie sudah siap untuk berangkat dinner dengan sang kakak (Aksa). Zie hanya menggunakan kaos lengan panjang lalu di double dengan jaket, kemudian celana pendek selutut. Rambut di jepit asal namun terlihat rapi.
"Lu yakin pakai baju begitu, malam ini bakal dingin lho." Kata Helen.
"Gua bawa celana panjang kok, sekalian mau kasih kado awal titip buat Karla." Sahut Zie.
"Dress yang lu beli kemarin buat Karla? Lucu banget, Karla pasti senang banget." Puji Gea.
"Ya sekalian sebagai permintaan maaf gua karena gak jadi balik akhir tahun ini." Kesal Zie.
"Gua yakin Karla paham kok. Lagian juga yang keterlaluan kampus kenapa yang tadinya perbulan boleh pulang 3 hari tapi tiba-tiba di tiadakan." Sambung Helen.
*Ting!!!*
"Yaudah, gua duluan yak. Kak Aksa udah di bawah, Bye! Eh, jangan malam-malam pulang nya." Pinta Zie.
"Lu juga beb." Ucap Gea.
Zie pun memasuki lift dan turun ke lantai dasar. Saat melihat keluar kaca pintu, ternyata itu bukan kak Aksa tapi Antonio. Zie memeriksa ponselnya, ternyata Aksa terjebak macet lampu merah tak jauh dari gerbang kampus.
"Apakah kamu akan dinner dengan pacarmu? Dia sudah menunggu setengah jam di luar." Ujar pengawas asrama.
"Ah? Oh dia bukan pacar ku lagi bu. Sudah mantan pacar." Jawab Zie.
"Oh Maaf." Sahut ppengawas Asrama.
"Yasudah bu saya pergi dulu, kakak saya jemput. Saya makan malam dengan kakak saya." Pamit Zie.
"Hati-hati." Pinta Ibu Pengawas Asrama.
Zie tersenyum manis kemudian pergi. Zie menuruni tangga gedung Asrama satu persatu kemudian, Antonio berbalik karena mendengar derap langkah dan tersenyum melihat orang yang di tunggu datang.
"Hayuk kita jalan sekarang." Ajak Antonio ingin menggandeng tangan Zie namun Zie menghindarinya.
"Aku bukan nunggu kamu." Tukas Zie.
"Kamu mau jalan sama siapa malam-malam begini? Kalau bukan jalan sama aku mendingan kamu masuk lagi aja ke kamar." Pinta Antonio.
"Kamu nggak ada hak buat tahu dan larang2 kayak gitu. Lagian jangan lupa, kita udah putus. Kamu datangin saja selingkuhan terkenal kamu, nggak usah sok peduli." Tegas Zie.
Saat Zie ingin pergi ke market sambil menunggu Aksa, Namun di tahan cekram oleh Antonio. Zie memberontak karena kesakitan.
"Lepas! Antonio Lepas!" Protes Zie.
Dari kejauhan Aksa melihat jika adiknya sedang di ganggu oleh Antonio, Aksa menyala matikan lampu jarak jauh dan dekat untuk menghentikan sikap Antonio. Setelah perhatian Antonio berhasil teralihkan, Zie menepis tangannya dan terlepas kemudian mundur beberapa langkah menjauh dari Antonio. Tak lama kemudian, mobil itu berhenti dan keluarlah Aksa membuat Antonio tiba-tiba lari.
"Kamu nggak apa dek?" Tanya Aksa.
"Nggak kak. Aku gak apa-apa, aku harus segera urus perizinan masuk dia supaya gak bisa semena-mena masuk daerah asrama lagi besok." Ucap Zie.
"Jadi kamu belum mengakhiri itu?" Tanya Aksa lagi.
"Kan tadi aku langsung ke acara pameran kak, urus begituan gak bisa semenit doang. Butuh waktu lama, mumpung besok aku gak ada jam kuliah jadi aku urus besok." Jawab Zie.
"Yaudah sekarang masuk ke mobil, Kakak udah reservasi tempat buat kita dinner." Ajak Aksa.
Zie mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Mereka pun jalan menuju restoran yang di maksud oleh Aksa, sesampainya disana mereka duduk.
"Dek, kamu yakin kakak pulang besok aja? Kamu beneran bisa jaga diri?" Khawatir Aksa.
"Kakak tenang aja. Aku bisa jaga diri, tadi aku nggak nyangka aja Antonio bakal secepat itu bebas dari penjara." Kata Zie.
"Ya pasti ulah orang dalam dek. Kita bisa apa, nggak ada kekuasaan disini." Tutur Aksa.
Mereka pun mengobrol macam-macam tak lama itu makanan datang satu persatu. Semntara di kantor Xavier Group,
"Tuan." Panggil Nero.
"Ada apa? Arka dan Nathan sudah kembali?" Tebak Alen.
"Bukan. Mereka masih di asrama tuan, ini tentang nona Zie." Ujar Nero membuat Alen langsung terduduk.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Alen.
"Antonio di bebaskan oleh Martin Group malam ini dan langsung mendatangi Asrama kampus. Untung tadi Tuan muda Aksa datang tepat waktu, jadi sekarang Zie sudah bersama nya." Jelas Nero.
"Bagaimana bisa? Siapa yang mempekerjakan mata-mata di daerah kekuasaan kita dan siapa orang nya?" Tanya Alen kesal.
"Paman dari Nona Leta." Jawab Nero.
"Pindahkan atau pecat dia ganti dengan orang kita. Perbaiki situasi ini jangan sampai kecolongan lagi seperti saat ini dan untuk Zie, pastikan kalian tetap mengawasinya dengan jarak yang tidak di curigai." Perintah Alen.
"Baik tuan." Sahut Nero kemudian pergi.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments