Kalung Untuk Raina

Sesuai dengan apa yang dikatakan Nero kemarin lusa, hari ini dia telah kembali ke negara asalnya—Indonesia. Sekitar jam tiga sore dia mendarat di bandara Surabaya, lantas langsung melaju menuju Kantor N&M.

"Nona sudah menunggu Anda, Tuan. Sejak siang tadi beliau sibuk di dapur, katanya akan memasak sesuatu untuk Anda," ucap Norman yang kala itu memegang kemudi.

"Apa dia tahu kamu datang menjemputku?" Nero justru menanyakan hal lain, seolah tak penasaran dengan 'sesuatu' yang sengaja dibuat untuknya.

"Tahu, Tuan, tadi Nona sempat bertanya. Dan ... sepertinya sangat senang saat saya menjawab akan menjemput Anda."

Nero tak menjawab lagi. Ucapan Norman sekadar ditanggapi dengan senyum miring sekilas, bahkan Norman pun sampai tak menyadarinya.

Kemudian, sampai tiba di kantor tak ada lagi perbincangan di antara keduanya. Norman memilih diam dan tak banyak bicara lagi, terlebih seputar Raina. Dia tak mau suasana hati tuannya justru berubah gara-gara itu, dan akan berimbas pada bonus akhir bulan. Ah, jangan sampai.

"Selamat datang, Tuan Nero." Bryan menyapa sambil membungkuk hormat. Dia sendiri yang turun dan menyambut Nero di pintu depan.

"Ikut ke ruanganku!" jawab dengan Nero dengan perintah tegas. Dia memang tak punya banyak waktu. Sebisa mungkin diusahakan tiba di rumah sebelum jam makan malam.

Bryan pun tak banyak membantah. Dia sudah hafal dengan sifat tuannya, nyaris tak pernah ada waktu luang dalam hidupnya. Setiap detik, setiap menit, selalu dikejar urusan penting yang berhubungan dengan bisnis.

Seperti saat ini contohnya. Hampir tak ada waktu untuk menghela napas, begitu masuk ke ruangan Nero langsung bertanya to the point, bahkan sebelum dirinya duduk dengan benar.

"Bagaimana pengatanmu? Ada pergerakan dari Kai Group?"

Bryan sedikit gelagapan meski berkas sudah disiapkan sejak tadi. Kini hanya membuka saja rasanya sulit, seakan-akan lembaran-lembaran kertas itu lengket satu sama lain.

"Sejauh ini masih aman, Tuan. Pihak Kai Group hanya melakukan apa yang seharusnya lakukan. Selain itu, saham kita juga masih dalam kendali. Tidak ada transaksi jual beli yanh mencurigakan."

Mendengar penjelasan Bryan, Nero mengangguk-angguk. Namun, dia tak lantas tenang dan membuang jauh kecurigaannya. Meski sebenarnya tidak ada tanda-tanda yang memicu kekhawatiran, tetapi demi meminimalisir kegagalan, Nero akan tetap berhati-hati. Termasuk kepada Kai Group yang notabene adalah mitra kerja samanya.

"Ini laporan penjualan kita bulan ini, Tuan. Naik drastis." Bryan kembali menyodorkan berkas yang lain.

Nero membaca laporan tersebut dengan saksama, lantas kembali menatap Bryan dengan ekspresi tegasnya.

"Kerja sama dengan Kai Group memang berdampak baik untuk N&M. Itu sangat menguntungkan, aku mengakuinya. Tapi, siapa yang bisa menjamin bahwa tak ada niat terselubung di balik kerja sama ini? Itu sebabnya, jangan sampai lengah! Lakukan sesuai arahanku! Kamu tidak boleh melakukan kesalahan, Bryan."

"Saya mengerti, Tuan. Saya akan bertanggung jawab penuh atas pergerakan mereka," jawab Bryan, juga dengan nada tegas.

"Bagus, lakukan tugasmu dengan baik!" sahut Nero. "Sekarang keluarlah, aku akan memeriksa semua ini."

"Baik, Tuan." Usai menjawab demikian, Bryan membalikkan badan dan meninggalkan ruangan Nero.

Sementara itu, Nero terus fokus dengan berkas-berkas yang menumpuk di depannya. Ada laporan penjualan, laporan produksi, laporan keuangan, dan lain-lain.

Di tengah keseriusannya dalam memeriksa laporan-laporan tersebut, tiba-tiba ada telepon masuk—dari Ava.

Walau dengan setengah hati, tetapi Nero menjawabnya.

"Ternyata kau pulang ke Indo? Katanya aku akan diajak ke sana, tapi justru pulang tanpa memberitahuku. Kau tega, Nero." Dari seberang sana, Ava terdengar merajuk. Namun, Nero justru tersenyum.

"Sorry. Ada urusan penting yang memaksaku untuk pulang secepatnya. Kau tenang saja, dalam waktu dekat aku akan kembali ke London. Tunggulah aku di sana."

Ucapan yang sangat manis. Saking manisnya, Ava sampai berhenti merajuk, malah kini bicara dengan nada manja.

Sayangnya, hal itu justru membuat obrolan berlangsung lama. Sampai hampir senja Ava masih belum juga mengakhiri sambungan telepon. Mau tidak mau, Nero-lah yang akhirnya pamit dan menyudahi perbincangan itu, dengan alasan pekerjaan tentunya.

Usai menyimpan kembali ponselnya, juga memasukkan semua berkas ke dalam tas, Nero bergegas keluar ruangan. Kemudian menuju mobil dan meminta Norman untuk melajukan mobilnya dengan cepat.

_______

"Udah setengah tujuh, kenapa Pak Norman dan Om Nero belum pulang? Apakah sejauh itu jarak bandara dengan rumah? Atau ... jangan-jangan ada kendala dengan pesawat yang ditumpangi Om Nero. Duh, jangan sampai itu terjadi. Aku nggak mau Om Nero kenapa-napa."

Raina berdiri resah di dekat terali balkon. Pandangannya tertuju ke bawah, tepatnya pada pintu gerbang mewah yang sampai saat ini masih tertutup rapat.

Beberapa menit menunggu, masih tak ada tanda-tanda kedatangan Nero. Sampai kemudian, Raina menyerah dan kembali masuk ke kamar. Meninggalkan balkon dan pintu gerbang yang entah kapan akan terbuka.

"Om Nero nggak mungkin pulang ke apartemen, kan?" Raina mulai cemas. Untuk kesekian kali dia mencengkeram dress yang ia kenakan.

Apakah masakannya akan berakhir sia-sia?

Satu pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran, seolah menghantui Raina akan kemungkinan terburuk dari usahanya hari ini.

"Tapi—"

Gumaman Raina menggantung begitu saja karena dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka dari luar. Sontak Raina menoleh dan mendapati sosok Nero sedang berjalan memasuki kamar sembari menenteng jas dan tas kerja.

"Om, udah pulang?" Raina beranjak dan memberanikan diri untuk menyapa.

Walau yang dia inginkan adalah menghambur ke pelukan Nero, tetapi yang sanggup dilakukan sekadar menyapa dan sedikit mendekat.

"Siapkan air hangat, aku mau mandi."

"Baik, Om," jawab Raina sembari menyembunyikan senyuman. Demi apa nada suara Nero tak sesinis biasanya. Meski belum bisa dikatakan ramah apalagi manis, tetapi setidaknya sedikit bersahabat.

Tak ingin menghancurkan suasana yang langka itu, Raina bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Nero. Tak lupa pula menyiapkan shampoo dan juga sabun untuknya.

Setelah semua selesai, Raina kembali keluar dan melihat Nero sedang duduk di sofa dengan pakaian yang masih lengkap.

"Udah, Om," ucap Raina.

"Kemari sebentar!" sahut Nero sambil menoleh sekilas

"Ada yang perlu kubantu lagi, Om?" Raina mendekat dan berdiri di samping Nero.

"Pakai ini!" Sembari bangkit dari duduknya, Nero meletakkan kotak kalung di meja, di depan Raina. Kalung yang ia bawa dari London kemarin.

"Ini ... ini untukku, Om?" Raina setengah tak percaya. Walau yang dia lihat hanya kotak luarnya, tetapi ia yakin isi di dalamnya adalah perhiasan yang tak mungkin murah.

"Jangan salah paham. Besok Tuan Sanjaya mengundang kita untuk makan malam, ada Raksa dan Anne juga. Aku tak mau mereka menganggapku tidak memperlakukan kamu dengan baik." Nero bicara sembari melangkah pergi.

Terlepas dari jawaban yang keluar dari bibir Nero, tetapi Raina sangat senang kala itu. Bahkan, dia menganggap hadiah barusan merupakan hadiah ulang tahun dari sang suami.

Masih dengan senyum yang mengembang, Raina meraih kotak kalung itu dengan hati-hati. Lantas, membukanya dengan pelan.

"Wah, bagus banget," pekik Raina dalam hatinya.

Dalam beberapa detik dia tak bisa mengalihkan pandangan dari kalung yang kini berkilauan di hadapannya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga lily, dengan hiasan permata yang berjumlah delapan. Membayangkan saja Raina sudah terpesona, pasti sangat cantik lehernya dihiasi kalung semanis itu.

"De l'amour." Raina mengeja nama brand yang tadi belum sempat dia baca.

Sampai di sini, Raina tertegun seorang diri. Kalau tidak salah, l'amour adalah bahasa Prancis yang kurang lebih artinya adalah cinta.

"Ahh, mikir apa sih. Ini kan cuma nama brand-nya, bukan dari Om Nero-nya," batin Raina, membuang jauh-jauh pikiran yang mulai tidak masuk akal.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

de l'amour sudah hadir.

2024-06-08

2

Asma Susanty

Asma Susanty

semoga nero beneran cinta ke raina....

2024-03-30

1

merry jen

merry jen

bgss Raina jgnn baper tkty neroo buat kmu jatuh cinta trs dicmpknn kedasr jurang yg plg dlm,,buktii nipui hmill pdhll kmu msh Ting Ting haid mu dibkin gk dtgg sex DTG ngmgy keggrnn ddpn klurgaa muu ,, permainan Ne-ro licikk bgtt knn jdi bljrr lhh dr pglmmnn mu ran cinta boleh tp jgn jdi bodohh yy

2024-03-27

3

lihat semua
Episodes
1 Perubahan Sikap
2 Alat Untuk Membalas Dendam
3 Ava Ollivia
4 Alasan di Balik Dendam
5 Darah
6 Kenyataan di Luar Nalar
7 Sangkar Dendam
8 Drama Keguguran
9 Ciuman Pagi
10 Senyum Penuh Arti
11 Kau Milikku!
12 Rahasia Ava
13 Tergoda Lagi
14 Senyum Tipis Nero
15 Nomor Asing
16 Rencana Licik Ava
17 Sempat Curiga
18 Kerja Sama
19 Kenangan Kelam Nero
20 Kalung Untuk Raina
21 Setangkai Mawar Putih
22 Membawa Wanita
23 Menyerah
24 Kejutan Untuk Ava
25 Kehancuran Ava
26 IKTN 26
27 IKTN 27
28 IKTN 28
29 Sedikit Petunjuk
30 Mencintai Diri Sendiri
31 IKTN 31
32 IKTN 32
33 IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34 IKTN 34
35 IKTN 35
36 IKTN 36
37 IKTN 37
38 IKTN 38
39 IKTN 39
40 IKTN 40
41 IKTN 41
42 IKTN 42
43 IKTN 43
44 IKTN 44
45 IKTN 45
46 IKTN 46
47 IKTN 47
48 IKTN 48
49 IKTN 49
50 IKTN 50
51 IKTN 51
52 IKTN 52
53 IKTN 53
54 IKTN 54
55 IKTN 55
56 IKTN 56
57 IKTN 57
58 IKTN 58
59 IKTN 59
60 IKTN 60
61 IKTN 61
62 IKTN 62
63 IKTN 63
64 IKTN 64
65 IKTN 65
66 IKTN 66
67 IKTN 67
68 IKTN 68
69 IKTN 69
70 IKTN 70
71 IKTN 71
72 IKTN 72
73 IKTN 73
74 IKTN 74
75 IKTN 75
76 IKTN 76
77 IKTN 77
78 IKTN 78
79 IKTN 79
80 IKTN 80
81 IKTN 81
82 IKTN 82
83 IKTN 83
84 IKTN 84
85 IKTN 85
86 IKTN 86
87 IKTN 87
88 IKTN 88
89 IKTN 89
90 IKTN 90
91 IKTN 91
92 IKTN 92
93 IKTN 93
94 IKTN 94
95 IKTN 95
96 IKTN 96
97 IKTN 97
98 IKTN 98
99 IKTN 99
100 IKTN 100
101 IKTN 101
102 IKTN 102 (Happy Ending)
103 IKTN 103 (Bonus Chapter)
104 One Day In London
105 DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106 Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107 Promo Novel Baru—Fifty Days
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Perubahan Sikap
2
Alat Untuk Membalas Dendam
3
Ava Ollivia
4
Alasan di Balik Dendam
5
Darah
6
Kenyataan di Luar Nalar
7
Sangkar Dendam
8
Drama Keguguran
9
Ciuman Pagi
10
Senyum Penuh Arti
11
Kau Milikku!
12
Rahasia Ava
13
Tergoda Lagi
14
Senyum Tipis Nero
15
Nomor Asing
16
Rencana Licik Ava
17
Sempat Curiga
18
Kerja Sama
19
Kenangan Kelam Nero
20
Kalung Untuk Raina
21
Setangkai Mawar Putih
22
Membawa Wanita
23
Menyerah
24
Kejutan Untuk Ava
25
Kehancuran Ava
26
IKTN 26
27
IKTN 27
28
IKTN 28
29
Sedikit Petunjuk
30
Mencintai Diri Sendiri
31
IKTN 31
32
IKTN 32
33
IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34
IKTN 34
35
IKTN 35
36
IKTN 36
37
IKTN 37
38
IKTN 38
39
IKTN 39
40
IKTN 40
41
IKTN 41
42
IKTN 42
43
IKTN 43
44
IKTN 44
45
IKTN 45
46
IKTN 46
47
IKTN 47
48
IKTN 48
49
IKTN 49
50
IKTN 50
51
IKTN 51
52
IKTN 52
53
IKTN 53
54
IKTN 54
55
IKTN 55
56
IKTN 56
57
IKTN 57
58
IKTN 58
59
IKTN 59
60
IKTN 60
61
IKTN 61
62
IKTN 62
63
IKTN 63
64
IKTN 64
65
IKTN 65
66
IKTN 66
67
IKTN 67
68
IKTN 68
69
IKTN 69
70
IKTN 70
71
IKTN 71
72
IKTN 72
73
IKTN 73
74
IKTN 74
75
IKTN 75
76
IKTN 76
77
IKTN 77
78
IKTN 78
79
IKTN 79
80
IKTN 80
81
IKTN 81
82
IKTN 82
83
IKTN 83
84
IKTN 84
85
IKTN 85
86
IKTN 86
87
IKTN 87
88
IKTN 88
89
IKTN 89
90
IKTN 90
91
IKTN 91
92
IKTN 92
93
IKTN 93
94
IKTN 94
95
IKTN 95
96
IKTN 96
97
IKTN 97
98
IKTN 98
99
IKTN 99
100
IKTN 100
101
IKTN 101
102
IKTN 102 (Happy Ending)
103
IKTN 103 (Bonus Chapter)
104
One Day In London
105
DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106
Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107
Promo Novel Baru—Fifty Days

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!