Kenangan Kelam Nero

Hampir jam delapan malam waktu setempat, Nero tiba di hotel. Ia langsung duduk di sofa dan meletakkan kotak kalung warna hitam dengan tulisan De l'amour—brand perhiasan terkemuka di Eropa.

Setelah itu, Nero mengambil ponselnya dan mencari kembali riwayat pesan yang dikirimkan oleh Raina. Sudah menumpuk banyak, tetapi isinya tak lebih dari bertanya kabar. Mungkin, ingin mengatakan hal lain pun ia tak ada nyali.

'Di sini sibuk. Lusa baru pulang.'

Entah dengan alasan apa, malam itu Nero membalas pesan Raina. Walau singkat dan tak ada kesan hangat, tetapi selama pulang pergi ke London, ini adalah pertama kalinya Nero melakukan itu.

'Iya, Om. Hati-hati di sana.'

Hanya dalam hitungan detik, Raina sudah membalas pesannya. Nero langsung mengernyitkan kening. Di London hampir jam delapan, artinya di Indonesia hampir jam tiga pagi. Lantas, mengapa Raina tidak tidur? Apa yang dia lakukan dini hari begitu?

Tak sabar hanya dengan bertukar pesan, Nero bergegas menghubungi nomor Raina. Lagi-lagi ini adalah hal pertama yang ia lakukan selama menikahi perempuan itu.

"Halo, Om—"

"Apa yang kamu lakukan?" pungkas Nero dengan cepat.

"Aku ... aku nggak melakukan apa-apa, Om. Aku di kamar, diam nggak ngapa-ngapain."

"Lalu kenapa jam segini belum tidur? Ini sudah dini hari! Kamu mau sakit lagi, hah?" hardik Nero.

"Bukan begitu, Om. Aku tadi udah tidur, cuma ... kebangun gara-gara kebelet. Jadi, barusan ke kamar mandi. Dan pas balik ke ranjang, tiba-tiba ada pesan dari Om Nero, terus aku lihat dulu. Ini ... ini udah mau tidur lagi kok." Suara Raina mendadak gugup. Bisa dibayangkan oleh Nero bahwa perempuan itu sedang menunduk sambil mencengkram ujung bajunya sendiri.

"Ya sudah cepat sana! Aku tidak punya waktu melihatmu sakit lagi."

Usai mengucapkan kalimat yang sinis itu, Nero mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Tak mau tahu meski di seberang sana Raina masih membuka mulut dan menyahut ucapannya.

Desa-han napas panjang keluar dari bibir Nero, sedetik setelah dia meletakkan ponselnya. Lantas ia memejam sembari menyandarkan punggung di sofa. Bukan tidur, melainkan mengingat sekelumit kenangan yang telah lama berlalu.

Sesosok pria berambut putih dengan wajah yang mulai berkeriput, mulai tergambar dalam ingatan Nero. Pria penuh wibawa yang telah mengajarinya banyak hal, tentang hitam dan putihnya hidup. Seseorang yang telah menanamkan ambisi tinggi dalam diri Nero, menciptakan karakter angkuh, dingin, dan kejam. Semua bermula dari pria itu, pria bernama Zaiko Morvion, pria yang setiap saat ia panggil 'papa'.

'Mati saja kau, Nero!'

'Membesarkanmu adalah penyesalan yang tidak akan pernah aku lupakan!'

'Seburuk-buruknya duniaku adalah kau, Nero!'

Terngiang kembali teriakan keras yang diiringi pelototan tajam, dari seorang wanita yang selalu bersikap lembut pada semua orang—kecuali pada dirinya dan Zaiko.

Dwi Magenta, begitulah Nero mengenalnya. Sosok wanita yang ia bayangkan seperti malaikat—senantiasa menyayangi layaknya seorang ibu, nyatanya ... sedari Nero kecil selalu menorehkan luka yang teramat dalam. Nero sering berpikir, Magenta tak layak disebut ibu dan nyatanya ... memang tak layak.

'Membiarkan kamu hidup dan bahkan merawatmu, itu bukan sesuatu yang mudah. Jadi dari pada mengeluhkan ucapannya, lebih baik tunjukkan saja kalau kau memang pantas dirawat dan dibesarkan,' ucap Zaiko kala itu.

Sampai sekarang masih jelas terasa perihnya. Seorang ayah yang sangat disayangi dan diharap bisa memberikan pembelaan, nyatanya malah turut menyudutkan. Dari kalimatnya, seolah Zaiko setuju bahwa membiarkan dirinya hidup adalah sesuatu yang patut disesalkan. Padahal, sebelumnya Zaiko adalah sosok yang penuh pengertian.

Sejak saat itu, Nero tak lagi mengemis perhatian dan kasih sayang dari ibu ataupun ayahnya. Dia yang masih remaja ditempa untuk hidup mandiri, berjuang keras demi masa depannya sendiri. Sejak itu pula, sifat ambisius mulai tumbuh tanpa ia sadari.

'Aku harus lebih tinggi dari Papa.'

Sebuah semboyan yang akhirnya benar-benar menjadi nyata. N&M berdiri sebagai perusahaan besar, bahkan jauh lebih besar dari perusahaan milik Zaiko dahulu. Sayangnya ... Zaiko dan Magenta berpulang lebih awal, sebelum Nero berada pada puncak karier.

'Maaf.'

Satu kata yang Zaiko tinggalkan sebelum mengembuskan napas terakhir. Sebuah kata sederhana, tetapi menyimpan banyak makna bagi Nero. Bagaimana tidak, dari kata itu dia tak punya lagi alasan untuk menyayangi Zaiko, juga tak ada alasan untuk membenci Magenta. Semua berubah dengan sendirinya.

"Paling malas jika mengingat mereka," batin Nero dengan perasaan kecut.

Baginya, masa lalu adalah sisi buruk yang tak boleh seorang pun tahu, bahkan kalau bisa dirinya pun tak mau lagi punya ingatan tetang itu.

Namun terbukti, Anne yang notabene-nya adalah wanita yang dia cintai dan sempat menjadi kekasih, dulu juga tak tahu apa-apa soal masa lalunya. Nero sekadar bercerita bahwa orang tuanya sudah lama meninggal, itu saja.

"Ahh!" Nero kembali mende-sah kasar. Mengingat Anne juga sama saja membuat hatinya tak tenang.

Berbeda dengan Nero yang larut dalam ingatan kelamnya, di tempat yang jauh berseberangan Raina justru tersenyum girang.

Seperti padang tandus yang baru diguyur hujan, sejuk dan nyaman, itulah yang dirasakan Raina. Untuk pertama kalinya Nero membalas pesan sekaligus meneleponnya. Sungguh, itu merupakan pencapaian yang luar biasa dalam hubungan mereka.

"Kata-kata Om Nero emang sinis, tapi ... boleh nggak aku memaknai itu sebagai kekhawatiran? Apa pun alasannya, yang jelas Om Nero nggak mau aku sakit, kan?" gumam Raina pada layar ponselnya yang masih menyala dan menampilkan riwayat pesan dari Nero.

"Aku harap ... lusa Om Nero bener-bener pulang. Kalaupun nggak ada interaksi yang manis, setidaknya Om Nero ada di rumah saat aku ulang tahun. Ya ... meski belum tentu dia akan ingat," sambung Raina masih dengan senyuman lebarnya.

Di tengah rasa senangnya itu, Raina teringat kembali dengan tawaran wanita yang menghubunginya tempo dari. Mungkin terdengar menarik, tetapi ... Raina justru tidak merasa tertarik. Sebut saja dia bodoh atau buta karena cinta, makanya rela bertahan di samping Nero yang jelas-jelas selalu bersikap sinis dan terang-terangan menjadikan dirinya sebagai alat untuk balas dendam.

Ya, mungkin tafsiran Raina malam ini terlalu berlebihan. Namun, telepon barusan nyatanya memang berhasil membuat Raina terjatuh dalam genangan yang sama, genangan cinta yang belum sepenuhnya bisa ia tinggalkan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Enovia Harnita

Enovia Harnita

raina yglabil...mgkn krn msh sgt muda

2025-03-17

1

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

haaahhh Raina aku kecewa dg sikap kamu

2024-12-28

1

jen

jen

Raina sadar donk

2024-08-27

1

lihat semua
Episodes
1 Perubahan Sikap
2 Alat Untuk Membalas Dendam
3 Ava Ollivia
4 Alasan di Balik Dendam
5 Darah
6 Kenyataan di Luar Nalar
7 Sangkar Dendam
8 Drama Keguguran
9 Ciuman Pagi
10 Senyum Penuh Arti
11 Kau Milikku!
12 Rahasia Ava
13 Tergoda Lagi
14 Senyum Tipis Nero
15 Nomor Asing
16 Rencana Licik Ava
17 Sempat Curiga
18 Kerja Sama
19 Kenangan Kelam Nero
20 Kalung Untuk Raina
21 Setangkai Mawar Putih
22 Membawa Wanita
23 Menyerah
24 Kejutan Untuk Ava
25 Kehancuran Ava
26 IKTN 26
27 IKTN 27
28 IKTN 28
29 Sedikit Petunjuk
30 Mencintai Diri Sendiri
31 IKTN 31
32 IKTN 32
33 IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34 IKTN 34
35 IKTN 35
36 IKTN 36
37 IKTN 37
38 IKTN 38
39 IKTN 39
40 IKTN 40
41 IKTN 41
42 IKTN 42
43 IKTN 43
44 IKTN 44
45 IKTN 45
46 IKTN 46
47 IKTN 47
48 IKTN 48
49 IKTN 49
50 IKTN 50
51 IKTN 51
52 IKTN 52
53 IKTN 53
54 IKTN 54
55 IKTN 55
56 IKTN 56
57 IKTN 57
58 IKTN 58
59 IKTN 59
60 IKTN 60
61 IKTN 61
62 IKTN 62
63 IKTN 63
64 IKTN 64
65 IKTN 65
66 IKTN 66
67 IKTN 67
68 IKTN 68
69 IKTN 69
70 IKTN 70
71 IKTN 71
72 IKTN 72
73 IKTN 73
74 IKTN 74
75 IKTN 75
76 IKTN 76
77 IKTN 77
78 IKTN 78
79 IKTN 79
80 IKTN 80
81 IKTN 81
82 IKTN 82
83 IKTN 83
84 IKTN 84
85 IKTN 85
86 IKTN 86
87 IKTN 87
88 IKTN 88
89 IKTN 89
90 IKTN 90
91 IKTN 91
92 IKTN 92
93 IKTN 93
94 IKTN 94
95 IKTN 95
96 IKTN 96
97 IKTN 97
98 IKTN 98
99 IKTN 99
100 IKTN 100
101 IKTN 101
102 IKTN 102 (Happy Ending)
103 IKTN 103 (Bonus Chapter)
104 One Day In London
105 DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106 Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107 Promo Novel Baru—Fifty Days
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Perubahan Sikap
2
Alat Untuk Membalas Dendam
3
Ava Ollivia
4
Alasan di Balik Dendam
5
Darah
6
Kenyataan di Luar Nalar
7
Sangkar Dendam
8
Drama Keguguran
9
Ciuman Pagi
10
Senyum Penuh Arti
11
Kau Milikku!
12
Rahasia Ava
13
Tergoda Lagi
14
Senyum Tipis Nero
15
Nomor Asing
16
Rencana Licik Ava
17
Sempat Curiga
18
Kerja Sama
19
Kenangan Kelam Nero
20
Kalung Untuk Raina
21
Setangkai Mawar Putih
22
Membawa Wanita
23
Menyerah
24
Kejutan Untuk Ava
25
Kehancuran Ava
26
IKTN 26
27
IKTN 27
28
IKTN 28
29
Sedikit Petunjuk
30
Mencintai Diri Sendiri
31
IKTN 31
32
IKTN 32
33
IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34
IKTN 34
35
IKTN 35
36
IKTN 36
37
IKTN 37
38
IKTN 38
39
IKTN 39
40
IKTN 40
41
IKTN 41
42
IKTN 42
43
IKTN 43
44
IKTN 44
45
IKTN 45
46
IKTN 46
47
IKTN 47
48
IKTN 48
49
IKTN 49
50
IKTN 50
51
IKTN 51
52
IKTN 52
53
IKTN 53
54
IKTN 54
55
IKTN 55
56
IKTN 56
57
IKTN 57
58
IKTN 58
59
IKTN 59
60
IKTN 60
61
IKTN 61
62
IKTN 62
63
IKTN 63
64
IKTN 64
65
IKTN 65
66
IKTN 66
67
IKTN 67
68
IKTN 68
69
IKTN 69
70
IKTN 70
71
IKTN 71
72
IKTN 72
73
IKTN 73
74
IKTN 74
75
IKTN 75
76
IKTN 76
77
IKTN 77
78
IKTN 78
79
IKTN 79
80
IKTN 80
81
IKTN 81
82
IKTN 82
83
IKTN 83
84
IKTN 84
85
IKTN 85
86
IKTN 86
87
IKTN 87
88
IKTN 88
89
IKTN 89
90
IKTN 90
91
IKTN 91
92
IKTN 92
93
IKTN 93
94
IKTN 94
95
IKTN 95
96
IKTN 96
97
IKTN 97
98
IKTN 98
99
IKTN 99
100
IKTN 100
101
IKTN 101
102
IKTN 102 (Happy Ending)
103
IKTN 103 (Bonus Chapter)
104
One Day In London
105
DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106
Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107
Promo Novel Baru—Fifty Days

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!