Sempat Curiga

Ava mengerjap pelan, lantas kembali memejam karena matanya terasa sepat. Kemudian, ia menggeliat dan menikmati hangat selimut yang membungkus tubuhnya. Sangat nyaman. Rasanya ia ingin tidur lagi dan kembali terbuai dalam mimpi. Sebuah mimpi yang indah—digendong Nero dan direbahkan dengan pelan.

"Rasanya itu sangat nyata," batin Ava di antara kesadaran yang masih mengambang.

Namun, tunggu. Empuk ranjang dan hangat selimut, memang sekarang dirinya di mana?

Ingatan terakhir ketika dirinya sedang minum bersama Nero di acara pesta rekannya. Lantas, mengapa tiba-tiba sekarang ada di ranjang?

Karena terkejut dengan keadaan kini, Ava berusaha keras membuka matanya. Lalu, menatap sekeliling dan mendapati sebuah ruangan yang sangat familier.

"Ah, kepalaku sakit." Ava memegangi pelipis dan memijatnya pelan-pelan. Kepalanya terasa sakit dan berat, hingga dia kesulitan untuk bangkit dari tidurnya.

Setelah berusaha keras—sampai meringis menahan sakit, akhirnya Ava berhasil duduk. Ia pandangi sekali lagi ruangan tempatnya berada saat ini. Tidak salah lagi, itu memang kamarnya.

"Kenapa tiba-tiba di sini?" batin Ava sembari menunduk, menatap pakaian yang ia kenakan. Masih sama dengan semalam. Gaun merah terbuka itu yang melekat di tubuhnya saat ini. Bedanya, tak lagi beraroma wangi memikat. Justru sekarang aromanya membuat mual. Parfum, keringat, alkohol, bercampur menjadi satu.

Belum sempat Ava mengingat tentang semalam—bagaimana dirinya tiba di sana, tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Pelayannya yang datang.

"Syukurlah Anda sudah bangun, Nona."

"Aku ... kenapa bisa ada di sini? Seingatku semalam masih ada di pesta," ucap Ava.

"Anda mabuk berat, Nona. Teman Anda yang mengantar ke sini. Anda digendong sampai ke kamar ini. Lalu dibuatkan teh hangat dan disuapi dengan telaten. Bahkan, sekarang teman Anda masih ada di depan, Nona. Katanya, dia akan pergi setelah Anda bangun dan dipastikan baik-baik saja."

Ava mengernyitkan kening. "Temanku?"

"Iya, Nona. Teman Anda, Tuan Nero."

Mendengar jawaban pelayan, Ava tertegun sesaat. Meski senang karena Nero mengantarnya dan merawatnya dengan baik, tetapi Ava juga bingung. Semalam, minuman yang bermasalah itu milik Nero. Orang yang mabuk tak berdaya seharusnya juga Nero. Lantas, mengapa justru dirinya? Apakah dia terlalu banyak minum?

"Apakah Anda akan mandi, Nona? Biar saya bantu menyiapkan air hangat," ujar pelayan.

"Iya, tapi ... tunggu sebentar." Ava diam sesaat. "Apakah Nero juga mabuk?" lanjutnya.

"Maaf, Nona, saya kurang paham. Semalam beliau memang sering memegangi kepala, tapi ... saya tidak melihatnya muntah atau bicara sembarangan seperti kebanyakan orang mabuk."

Ava kembali diam. Ini aneh. Sangat aneh.

"Nona," tegur pelayan karena Ava justru melamun dalam beberapa saat.

"Mmm ... tolong ambilkan ponselku," pinta Ava. Dia harus memastikan sesuatu. Apakah ada kesalahan dengan rencananya semalam.

Setelah ponsel ada di tangan, Ava langsung menghubungi orang suruhannya. Menanyakan perihal trik licik yang mereka gunakan untuk menjebak Nero.

"Saya sudah melakukan sesuai yang Anda perintahkan, Nona. Minuman itu benar untuk Tuan Nero, tidak tertukar dengan minuman Anda. Saya berani jamin tidak ada kesalahan dalam hal itu, Nona," terang seseorang di seberang.

"Tapi, kenapa malah aku yang mabuk, sedangkan Nero tidak? Kau jangan coba-coba mempermainkan aku ya!"

"Saya tidak mempermainkan Anda, Nona. Saya sudah melakukan perintah, sungguh. Tapi, semalam Tuan Nero memang meminumnya sedikit. Mungkin ... tidak sampai dua gelas."

Ava mencoba mengingat-ingat lagi, benarkah semalam Nero hanya meminum sedikit? Namun, gagal total. Ava tak ingat apa pun. Bayangan yang terekam terputus saat ia meneguk minumannya sendiri sambil menatap Nero yang mulai mengangkat gelas kedua. Setelah itu, benar-benar hilang. Tak ada sedikit pun adegan yang tergambar dalam otaknya.

"Semalam Anda mabuk lebih dulu, Nona. Makanya Tuan Nero tidak menghabiskan minumannya, karena beliau sibuk menjaga Anda," sambung orang suruhan Ava, menjelaskan apa yang ia lihat semalam.

"Tapi ...."

Ava menggantungkan kalimatnya. Antara percaya dan tidak dengan penjelasan yang barusan ia dengar. Satu botol wine seharusnya belum membuat dirinya mabuk. Namun, agak mustahil orang suruhan itu berbohong padanya. Dia bukan orang asing. Sebelumnya, Ava sudah sering membayar jasanya untuk melakukan ini itu, dan tidak ada kesalahan. Ah, atau jangan-jangan ... ini ada campur tangan Nero? Mungkin saja lelaki itu mengetahui niat buruknya dan kemudian melakukan sesuatu.

"Apa benar begitu? Tapi, dari mana dia tahu tentang niat burukku? Aku sudah menyusunnya dengan rapi. Sedangkan identitasku sebagai anak Papa, dia tak mungkin tahu. Identitas ini sangat rahasia, hanya orang-orang tertentu yang paham," ucap Ava dalam hatinya.

"Ah, ya sudahlah, aku pikirkan nanti saja. Sekarang yang penting membersihkan diri dulu. Aku sangat kacau, bahkan mencium aromaku sendiri rasanya ingin muntah," batin Ava sambil melangkah turun dari ranjang.

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih baik, Ava keluar dari kamar dan menemui Nero yang masih menunggu di ruang tamu. Lelaki itu tampak bugar, seolah tak ada tanda-tanda bekas mabuk di wajahnya.

"Kau sudah bangun, Ava? Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Nero sembari menyimpan ponselnya.

"Sudah lebih baik. Maaf ya, semalam aku merepotkan kamu." Ava menjawab sembari duduk di depan Nero.

Perasaannya masih campur aduk saat ini, antara bingung dan malu. Bingung karena kejadian semalam seolah tak masuk akal—kecuali Nero terlibat, malu karena semalam Nero melihatnya dalam keadaan kacau.

"Tidak merepotkan, Ava. Semalam kan aku memang datang untuk menemani kamu. Jadi, wajar kalau aku bertanggung jawab sampai kau pulang dengan selamat."

Ava tertawa kecil. "Ya, kalau begitu selamat datang di penthouse pribadiku. Mmm, bagaimana menurutmu?"

"Aku hanya tahu kamarmu dan ruang tamu ini. Mungkin aku bisa memberikan tanggapan kalau kau mengajakku jalan-jalan dan melihat keseluruhan penthouse ini. Itu jika kau tidak keberatan," jawab Nero.

"Memangnya kau mau?" tanya Ava sambil tersenyum manis. Bebannya terkait kejadian semalam sedikit berkurang setelah berbincang dengan Nero. Entahlah, ia merasa nyaman saja dan dengan mudah menepis jauh rasa curiga yang sejak tadi bersarang dalam benaknya.

"Tentu saja."

"Baiklah. Kalau begitu tunggu sebentar. Bibi sedang menyiapkan sarapan untuk kita. Selesai makan, aku akan membawamu jalan-jalan melihat penthouse ini." Ava menjeda kalimatnya sesaat. "Tapi ... kalau aku meminta hal yang sama, kau bisa menurutinya tidak?" sambungnya.

"Hal yang sama? Apa?" Nero mengernyit heran.

"Bawa aku jalan-jalan di rumahmu." Ava sedikit tertawa, seolah pernyataannya itu sekadar candaan.

Namun, tak disangka, Nero justru memberikan jawaban yang amat sangat memuaskan.

"Boleh saja, asal kau tidak keberatan bertemu dengan istriku."

"Kau sendiri? Apa tidak keberatan jika istrimu cemburu?"

"Bukannya aku sudah mengatakan padamu bagaimana jalan pernikahanku dengannya," sahut Nero, terkesan acuh tak acuh.

"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut kamu nanti." Ava tertawa renyah. Kemudian, menyambung ucapannya dalam hati, "Mungkin ... semalam memang aku yang ceroboh. Orang suruhanku tak mungkin salah, sedangkan Nero ... tak mungkin dia melakukan sesuatu. Buktinya, dia bersedia membawaku ke rumahnya. Jika dia mencium niat burukku, mustahil mau menjanjikan itu."

Ava bernapas lega. Setelah tadi sempat curiga, kini bebas lagi pikirannya. Ava kembali yakin bahwa Nero sebenarnya memang tertarik padanya. Hanya saja, dia memegang prinsip kolot—tidak sembarang melakukan hal intim di luar pernikahan. Itu sebabnya selama ini tidak tergoda, atau mungkin tergoda tetapi berusaha ditahan.

Ah, tetapi konyol juga. Tidak mau melakukan hal intim, namun bebas saja membagi hati. Bukankah itu sama saja?

"Ck, prinsip orang terkadang memang aneh-aneh," batin Ava.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

kamu serius nero?

2024-06-08

2

Asma Susanty

Asma Susanty

kasian raina......nero menyebalkan sekali , mending raina di buat pergi aja dl , biar nero tau rasanya kehilangan raina..

2024-03-23

2

Uba Muhammad Al-varo

Uba Muhammad Al-varo

semoga benar Ava akan dibawa Nero kerumahnya dan bertemu dengan Rania dengan begitu membuat Rania sadar dan membuang jauh cintanya ke Nero lalu pergi dari Nero dan membuat Nero menyesal, nggak sabar menunggu menunggu kelanjutan ceritanya kakak 🙏💪💪💪

2024-03-21

2

lihat semua
Episodes
1 Perubahan Sikap
2 Alat Untuk Membalas Dendam
3 Ava Ollivia
4 Alasan di Balik Dendam
5 Darah
6 Kenyataan di Luar Nalar
7 Sangkar Dendam
8 Drama Keguguran
9 Ciuman Pagi
10 Senyum Penuh Arti
11 Kau Milikku!
12 Rahasia Ava
13 Tergoda Lagi
14 Senyum Tipis Nero
15 Nomor Asing
16 Rencana Licik Ava
17 Sempat Curiga
18 Kerja Sama
19 Kenangan Kelam Nero
20 Kalung Untuk Raina
21 Setangkai Mawar Putih
22 Membawa Wanita
23 Menyerah
24 Kejutan Untuk Ava
25 Kehancuran Ava
26 IKTN 26
27 IKTN 27
28 IKTN 28
29 Sedikit Petunjuk
30 Mencintai Diri Sendiri
31 IKTN 31
32 IKTN 32
33 IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34 IKTN 34
35 IKTN 35
36 IKTN 36
37 IKTN 37
38 IKTN 38
39 IKTN 39
40 IKTN 40
41 IKTN 41
42 IKTN 42
43 IKTN 43
44 IKTN 44
45 IKTN 45
46 IKTN 46
47 IKTN 47
48 IKTN 48
49 IKTN 49
50 IKTN 50
51 IKTN 51
52 IKTN 52
53 IKTN 53
54 IKTN 54
55 IKTN 55
56 IKTN 56
57 IKTN 57
58 IKTN 58
59 IKTN 59
60 IKTN 60
61 IKTN 61
62 IKTN 62
63 IKTN 63
64 IKTN 64
65 IKTN 65
66 IKTN 66
67 IKTN 67
68 IKTN 68
69 IKTN 69
70 IKTN 70
71 IKTN 71
72 IKTN 72
73 IKTN 73
74 IKTN 74
75 IKTN 75
76 IKTN 76
77 IKTN 77
78 IKTN 78
79 IKTN 79
80 IKTN 80
81 IKTN 81
82 IKTN 82
83 IKTN 83
84 IKTN 84
85 IKTN 85
86 IKTN 86
87 IKTN 87
88 IKTN 88
89 IKTN 89
90 IKTN 90
91 IKTN 91
92 IKTN 92
93 IKTN 93
94 IKTN 94
95 IKTN 95
96 IKTN 96
97 IKTN 97
98 IKTN 98
99 IKTN 99
100 IKTN 100
101 IKTN 101
102 IKTN 102 (Happy Ending)
103 IKTN 103 (Bonus Chapter)
104 One Day In London
105 DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106 Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107 Promo Novel Baru—Fifty Days
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Perubahan Sikap
2
Alat Untuk Membalas Dendam
3
Ava Ollivia
4
Alasan di Balik Dendam
5
Darah
6
Kenyataan di Luar Nalar
7
Sangkar Dendam
8
Drama Keguguran
9
Ciuman Pagi
10
Senyum Penuh Arti
11
Kau Milikku!
12
Rahasia Ava
13
Tergoda Lagi
14
Senyum Tipis Nero
15
Nomor Asing
16
Rencana Licik Ava
17
Sempat Curiga
18
Kerja Sama
19
Kenangan Kelam Nero
20
Kalung Untuk Raina
21
Setangkai Mawar Putih
22
Membawa Wanita
23
Menyerah
24
Kejutan Untuk Ava
25
Kehancuran Ava
26
IKTN 26
27
IKTN 27
28
IKTN 28
29
Sedikit Petunjuk
30
Mencintai Diri Sendiri
31
IKTN 31
32
IKTN 32
33
IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34
IKTN 34
35
IKTN 35
36
IKTN 36
37
IKTN 37
38
IKTN 38
39
IKTN 39
40
IKTN 40
41
IKTN 41
42
IKTN 42
43
IKTN 43
44
IKTN 44
45
IKTN 45
46
IKTN 46
47
IKTN 47
48
IKTN 48
49
IKTN 49
50
IKTN 50
51
IKTN 51
52
IKTN 52
53
IKTN 53
54
IKTN 54
55
IKTN 55
56
IKTN 56
57
IKTN 57
58
IKTN 58
59
IKTN 59
60
IKTN 60
61
IKTN 61
62
IKTN 62
63
IKTN 63
64
IKTN 64
65
IKTN 65
66
IKTN 66
67
IKTN 67
68
IKTN 68
69
IKTN 69
70
IKTN 70
71
IKTN 71
72
IKTN 72
73
IKTN 73
74
IKTN 74
75
IKTN 75
76
IKTN 76
77
IKTN 77
78
IKTN 78
79
IKTN 79
80
IKTN 80
81
IKTN 81
82
IKTN 82
83
IKTN 83
84
IKTN 84
85
IKTN 85
86
IKTN 86
87
IKTN 87
88
IKTN 88
89
IKTN 89
90
IKTN 90
91
IKTN 91
92
IKTN 92
93
IKTN 93
94
IKTN 94
95
IKTN 95
96
IKTN 96
97
IKTN 97
98
IKTN 98
99
IKTN 99
100
IKTN 100
101
IKTN 101
102
IKTN 102 (Happy Ending)
103
IKTN 103 (Bonus Chapter)
104
One Day In London
105
DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106
Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107
Promo Novel Baru—Fifty Days

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!