Kau Milikku!

Setengah hari menghabiskan waktu di rumah, rasanya sangat lama bagi Raina. Meski yang dia lakukan hanya tiduran, tetapi karena ada Nero di dekatnya, Raina seperti tertekan. Walau tidak ada kata-kata sinis lagi, tetapi tatapannya masih mengintimidasi.

Raina jadi serba salah, tak bisa istirahat dengan tenang. Bahkan, tadi ketika dirinya mandi pun, hanya dilakukan ala kadarnya. Membawa ganti baju ke kamar mandi, lantas setelah keluar, kembali tiduran di ranjang. Tidak menyisir rambut, apalagi memanjakan wajah dengan rangkaian skin care.

"Andai saja hubungan kami baik, tinggal satu kamar begini juga nggak akan canggung. Kami bisa ngobrol, bercanda, mungkin itu lebih seru," batin Raina sambil menatap Nero sekilas, yang kala itu duduk di sofa dan asyik memainkan ponsel.

Tampak dari samping, Nero tetap terlihat tampan. Rahangnya kokoh, hidungnya mancung, rambutnya lurus dan rapi, meski sekarang bagian samping sedikit memanjang dan menyentuh telinga.

Raina menarik napas panjang dengan pelan. Fisik Nero adalah gambaran lelaki yang mendekati sempurna. Bahkan, ia dulu tak mengingkari itu. Walau usia terpaut jauh, tetapi bagi Raina, Nero adalah lelaki paling menawan yang pernah ia temui. Idola kampus saja masih tidak sebanding dengannya, kalah jauh.

Raina sempat bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Anne lebih memilih Raksa. Karena menurut Raina, kakaknya itu juga masih kalah dengan Nero.

Perihal perangai yang angkuh, egois, dan kejam, bukankah itu karena dendam dan benci? Jika kepada Anne, seharusnya tidak begitu, kan? Tidak ada dendam dan kebencian yang mendasari, murni perasaan cinta yang datang dari hati.

"Tuan!"

Panggilan pelayan dari luar yang disertai dengan ketukan pintu, menyadarkan kembali pikiran Raina yang sempat berkelana. Namun, baru saja ia bangkit dan hendak membukakan pintu, ternyata Nero yang beranjak lebih dulu.

Raina terdiam. Sembari menyandarkan punggung, ia mencuri pandang pada wajah Nero yang masih dingin dan datar. Lantas, kembali menatap ketika pintu terbuka lebar. Ternyata pelayan datang membawakan makanan dan minuman, yang tak tahu untuk siapa. Namun, dilihat dari porsinya ... sepertinya itu untuk dua orang.

"Bawa masuk!" Suara Nero kembali memecah keheningan, setelah beberapa saat lamanya hanya ada hening dalam kamar itu.

Dengan patuh, pelayan melangkah masuk. Membawa makanan dan minuman yang dia bawa, kemudian ditata di atas meja kecil yang berada tepat di dekat jendela.

"Sudah, Tuan. Saya permisi."

Sepeninggalan pelayan, kamar kembali sunyi. Hanya langkah kaki Nero yang terdengar samar. Lelaki itu menuju meja kecil di mana makanannya berada, lantas duduk di salah satu kursi sambil menatap ke luar. Gemerlap lampu kota terlihat jelas, beriringan dengan bintang yang turut mengintip dari balik kaca jendela.

Sementara Raina, hanya diam membisu di tempatnya. Mata belaka yang tetap aktif memandangi Nero.

Namun, tak lama kemudian ia kembali salah tingkah. Bagaimana tidak, Nero langsung menoleh dan menatapnya tanpa aba-aba. Sudah kepalang tanggung untuk menunduk, Nero sudah menangkap basah dirinya.

"Jangan berharap aku akan mengantarkan makanan ini ke sana," ujar Nero. Tidak dengan nada tinggi, tetapi cukup tegas.

"Sebentar, Om." Dengan agak ragu, Raina menyibak selimut yang menutup sebagian tubuhnya. Lantas turun dan melangkah pelan ke tempat Nero.

Raina juga sempat menggulung rambutnya sebelum duduk di kursi, di hadapan sang suami.

"Makan!" perintah Nero.

"Iya, Om."

Tanpa menatap Nero, Raina meraih sepiring nasi dan semangkuk sup ayam. Lalu menyantapnya dengan pelan. Rasanya sangat sulit ditelan, padahal tekstur nasinya sedikit lembek. Entah mengapa. Mungkin karena keberadaan Nero di sana.

Demi menenangkan hatinya agar bisa menikmati makan malam, Raina mencuri pandang ke arah Nero. Sialnya, lelaki itu sedang menatap ke arahnya secara terang-terangan. Untuk kedua kalinya Raina tertangkap basah. Sangat menyebalkan. Alih-alih mendapat ketenangan, malah perasaan kacau yang menghampirinya sekarang.

"Jangan bangkit sebelum makananmu habis!" kata Nero, memberikan peringatan.

Sejak tadi dia mengawasi gerak-gerik Raina, yang tampak terpaksa memasukkan makanan ke mulutnya.

"Iya, Om." Meski tenggorokannya makin ciut dan perutnya kian terasa penuh, tetapi Raina tak berani membantah. Apalagi setelah tahu bahwa Nero sudah selesai makan dan terus menatap ke arahnya sambil merokok, makin tak berkutik saja dia.

Hampir satu jam waktu yang Raina habiskan untuk menyantap makanan itu, cukup melenceng dari waktu normal. Namun, setidaknya ia berhasil. Tak ada makanan atau minuman yang ia sisakan.

"Kamu ingin menggantikan posisi pelayan?" tegur Nero saat melihat Raina bangkit dan membereskan bekas makan mereka.

"Aku ... aku—"

"Minum obatmu dan duduk di sana!" potong Nero sembari menunjuk sofa dengan dagunya.

Raina kembali menurut. Ia tinggalkan meja tersebut, berikut dengan bekas makan yang masih berantakan. Lantas, meminun obat dan duduk di sofa seperti arahan Nero.

Ternyata ... sesaat kemudian lelaki itu menyusulnya. Duduk di samping Raina dengan jarak sekitar sejengkal.

Awalnya Raina biasa saja. Namun setelah Nero menyalakan TV dan melihat pembahasan seputar bisnis, Raina mulai merasa bosan.

Bayangkan saja, antara Raina dengan Nero tidak ada interaksi apa pun. Sementara di TV hanya wawancara dua orang yang menjabarkan poin-poin bisnis. Sama sekali tidak ada yang menarik.

"Andai yang ditonton drama romansa atau komedi, nggak mungkin bikin ngantuk," batin Raina sembari menyandarkan kepala di sofa.

Entah benar karena suasananya atau justru efek obat, yang jelas mata Raina makin tak bisa membuka sempurna. Sudah tak terhitung berapa kali dia menguap, rasa kantuk itu benar-benar mendera tanpa bisa dikompromi.

Sampai kemudian, kesadaran Raina benar-benar hilang karena daya tarik mimpi lebih kuat dari kenyataan. Lantas, kepalanya terkulai lemah ke samping, dan parahnya justru ke arah Nero.

"Kamu." Nero menggeram sendiri, saat menatap Raina tertidur nyaman dan bersandar di lengannya.

Wajah cantik polos itu tampak damai, lepas dari segala gurat kesedihan dan ketakutan.

"Jangan pernah bermimpi untuk lepas dariku. Kau milikku, Raina," ucap Nero seraya menatap wajah yang kini terbuai dalam lelap. Cukup cantik. Namun sayang, belum cukup mampu untuk melunakkan keangkuhan Nero.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

isi pikiranmu dengan hal positif Raina. tidak tersiksa fisik walau hati hampir sekarat.

2024-06-06

5

Iges Satria

Iges Satria

milikmu Krn sebentar gi kamu tergila² padanya ❤️❤️

2024-03-16

2

ria

ria

duuh..yg baca ikutan tegang ngerasain jadi raina..
kalo aq sdh gk sabaran langsung tak bales semua kelakuan nero daripd ditahan🙊🙊

2024-03-16

2

lihat semua
Episodes
1 Perubahan Sikap
2 Alat Untuk Membalas Dendam
3 Ava Ollivia
4 Alasan di Balik Dendam
5 Darah
6 Kenyataan di Luar Nalar
7 Sangkar Dendam
8 Drama Keguguran
9 Ciuman Pagi
10 Senyum Penuh Arti
11 Kau Milikku!
12 Rahasia Ava
13 Tergoda Lagi
14 Senyum Tipis Nero
15 Nomor Asing
16 Rencana Licik Ava
17 Sempat Curiga
18 Kerja Sama
19 Kenangan Kelam Nero
20 Kalung Untuk Raina
21 Setangkai Mawar Putih
22 Membawa Wanita
23 Menyerah
24 Kejutan Untuk Ava
25 Kehancuran Ava
26 IKTN 26
27 IKTN 27
28 IKTN 28
29 Sedikit Petunjuk
30 Mencintai Diri Sendiri
31 IKTN 31
32 IKTN 32
33 IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34 IKTN 34
35 IKTN 35
36 IKTN 36
37 IKTN 37
38 IKTN 38
39 IKTN 39
40 IKTN 40
41 IKTN 41
42 IKTN 42
43 IKTN 43
44 IKTN 44
45 IKTN 45
46 IKTN 46
47 IKTN 47
48 IKTN 48
49 IKTN 49
50 IKTN 50
51 IKTN 51
52 IKTN 52
53 IKTN 53
54 IKTN 54
55 IKTN 55
56 IKTN 56
57 IKTN 57
58 IKTN 58
59 IKTN 59
60 IKTN 60
61 IKTN 61
62 IKTN 62
63 IKTN 63
64 IKTN 64
65 IKTN 65
66 IKTN 66
67 IKTN 67
68 IKTN 68
69 IKTN 69
70 IKTN 70
71 IKTN 71
72 IKTN 72
73 IKTN 73
74 IKTN 74
75 IKTN 75
76 IKTN 76
77 IKTN 77
78 IKTN 78
79 IKTN 79
80 IKTN 80
81 IKTN 81
82 IKTN 82
83 IKTN 83
84 IKTN 84
85 IKTN 85
86 IKTN 86
87 IKTN 87
88 IKTN 88
89 IKTN 89
90 IKTN 90
91 IKTN 91
92 IKTN 92
93 IKTN 93
94 IKTN 94
95 IKTN 95
96 IKTN 96
97 IKTN 97
98 IKTN 98
99 IKTN 99
100 IKTN 100
101 IKTN 101
102 IKTN 102 (Happy Ending)
103 IKTN 103 (Bonus Chapter)
104 One Day In London
105 DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106 Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107 Promo Novel Baru—Fifty Days
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Perubahan Sikap
2
Alat Untuk Membalas Dendam
3
Ava Ollivia
4
Alasan di Balik Dendam
5
Darah
6
Kenyataan di Luar Nalar
7
Sangkar Dendam
8
Drama Keguguran
9
Ciuman Pagi
10
Senyum Penuh Arti
11
Kau Milikku!
12
Rahasia Ava
13
Tergoda Lagi
14
Senyum Tipis Nero
15
Nomor Asing
16
Rencana Licik Ava
17
Sempat Curiga
18
Kerja Sama
19
Kenangan Kelam Nero
20
Kalung Untuk Raina
21
Setangkai Mawar Putih
22
Membawa Wanita
23
Menyerah
24
Kejutan Untuk Ava
25
Kehancuran Ava
26
IKTN 26
27
IKTN 27
28
IKTN 28
29
Sedikit Petunjuk
30
Mencintai Diri Sendiri
31
IKTN 31
32
IKTN 32
33
IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34
IKTN 34
35
IKTN 35
36
IKTN 36
37
IKTN 37
38
IKTN 38
39
IKTN 39
40
IKTN 40
41
IKTN 41
42
IKTN 42
43
IKTN 43
44
IKTN 44
45
IKTN 45
46
IKTN 46
47
IKTN 47
48
IKTN 48
49
IKTN 49
50
IKTN 50
51
IKTN 51
52
IKTN 52
53
IKTN 53
54
IKTN 54
55
IKTN 55
56
IKTN 56
57
IKTN 57
58
IKTN 58
59
IKTN 59
60
IKTN 60
61
IKTN 61
62
IKTN 62
63
IKTN 63
64
IKTN 64
65
IKTN 65
66
IKTN 66
67
IKTN 67
68
IKTN 68
69
IKTN 69
70
IKTN 70
71
IKTN 71
72
IKTN 72
73
IKTN 73
74
IKTN 74
75
IKTN 75
76
IKTN 76
77
IKTN 77
78
IKTN 78
79
IKTN 79
80
IKTN 80
81
IKTN 81
82
IKTN 82
83
IKTN 83
84
IKTN 84
85
IKTN 85
86
IKTN 86
87
IKTN 87
88
IKTN 88
89
IKTN 89
90
IKTN 90
91
IKTN 91
92
IKTN 92
93
IKTN 93
94
IKTN 94
95
IKTN 95
96
IKTN 96
97
IKTN 97
98
IKTN 98
99
IKTN 99
100
IKTN 100
101
IKTN 101
102
IKTN 102 (Happy Ending)
103
IKTN 103 (Bonus Chapter)
104
One Day In London
105
DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106
Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107
Promo Novel Baru—Fifty Days

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!