Ciuman Pagi

"Raina. Bagaimana keadaanmu?"

Suara Raksa mengalun lembut, seiring tangan yang mengusap rambut Raina dengan penuh kasih.

Melihat sang kakak hadir di hadapannya, Raina tak bisa menahan tangis. Lelaki itu amat sangat menyayanginya, berjuang keras demi dirinya, tetapi ... justru dia abaikan begitu saja, hanya demi orang lain yang jauh dari kata baik.

"Aku kehilangan dia, Kak. Tapi, aku kuat kok. Mungkin ... ini yang terbaik untuk dia." Raina mengusap perutnya, berpura-pura kehilangan anak demi bisa menumpahkan tangis tanpa menimbulkan curiga.

"Aku yang salah karena mengabaikan nasihat Kakak. Sakit dan luka ini, mungkin adalah cara untuk menebus kesalahan itu. Aku nggak mau melihat Kakak hancur karena kebodohanku, ya ... meski semua juga berawal dari Kakak. Tapi, apa yang bisa kulakukan sekarang selain bertahan? Kalaupun mengabaikan Kakak, aku juga nggak akan bisa kabur tanpa persetujuan Om Nero," batin Raina di tengah tangis yang tak kunjung berhenti.

Sebelum mengucap sepatah kata, Raksa lebih dulu menggenggam erat tangan Raina, memberikan dukungan dan kekuatan untuknya.

"Kenapa kamu bisa sampai keguguran? Apa Nero memperlakukan kamu dengan buruk?" tanya Raksa sesaat kemudian, sembari menatap lekat mata Raina.

"Ini bukan salah Om Nero, Kak."

"Kamu yakin?" Raksa masih tak percaya. "Katakan saja dengan jujur. Kalau memang dia bersikap buruk, jangan ditutup-tutupi. Ada Kakak di sini, nggak perlu takut," sambungnya.

Raina menggeleng. "Nggak ada yang aku tutup-tutupi, Kak. Om Nero memperlakukan aku dengan baik, Kakak nggak perlu khawatirin itu. Aku tadi jatuh di kamar mandi. Habis pakai air, lantainya basah, dan aku kepleset."

"Kamu ke kamar mandi sendirian?"

Raina mengangguk. "Om Nero baru pulang tadi, sekitar jam delapan baru tiba. Dia kayak lelah banget. Ya maklum, abis perjalanan panjang. Apalagi di sana juga sibuk banget. Aku nggak tega bangunin dia, Kak. Pikirku juga cuma ke kamar mandi, mana tahu kalau akhirnya akan begini."

Tak ada jawaban, sekadar embusan napas kasar yang keluar dari bibir Raksa.

"Om Nero sangat sibuk, Kak. Dia menyelesaikan banyak kerjaan agar nanti bisa hadir di pernikahan Kak Raksa di Jakarta. Aku kasihan jika terlalu banyak merepotkan dia. Kakak jangan terus berprasangka buruk. Om Nero itu baik banget, dia sayang sama aku," lanjut Raina, merangkai kebohongan lagi demi membuat kakaknya tenang, juga demi meredam emosi Nero.

"Bener, dia sebaik itu?" Raksa menelisik wajah Raina. Sayangnya tak menemukan secercah dusta di sana. Raina terlalu pintar dalam menyembunyikan kenyataan.

"Kalau dia nggak baik, mana mungkin sekarang berjaga di luar sana, padahal dia sendiri sedang capek."

Raksa terdiam. Meski sedikit sulit, tetapi berusaha percaya dengan semua yang dikatakan Raina.

"Gimana kata dokter tadi?" Setelah beberapa saat diam, Raksa kembali melayangkan pertanyaan.

"Udah dibersihkan. Tinggal menunggu pemulihan saja. Untuk sementara waktu ya masih dirawat di sini, kalau udah sehat baru boleh pulang," jawab Raina.

Raksa menatap ragu. Lusa dia harus terbang ke Jakarta untuk melangsungkan pernikahan di sana—di kediaman orang tua Anne. Meski itu hari yang dia tunggu-tunggu, tetapi melihat keadaan Raina sekarang, dia seolah tak tega meninggalkannya.

"Kak Raksa mikir apa?" Raina tersenyum. "Aku baik-baik aja kok. Kak Raksa pergi aja, kan udah ditetapkan hari nikahnya. Masa mau diundur?"

"Tapi ...."

"Ada Om Nero yang jagain aku."

Raksa menarik napas panjang. "Nanti biar Mama di sini juga, jagain kamu. Ini tadi masih tidur, aku sengaja nggak bangunin, takut kaget."

Raina mengangguk paham. Ibu mereka—Yeni, kesehatannya memang kurang stabil. Sakit jantungnya terkadang kambuh. Makanya Raksa tidak berani membangunkannya dini hari, khawatir nanti sakitnya malah kambuh.

"Ya sudah, kamu istirahat kalau gitu. Aku akan menunggu di luar," ujar Raksa setelah beberapa menit berlalu.

"Iya, Kak. Baik-baik ya dengan Om Nero, jangan berprasangka buruk terus."

Raksa tidak menjawab, berlalu begitu saja tanpa reaksi apa pun. Raina pula tak mengulang kalimatnya. Dia justru memejam sambil menggigit bibir ketika pintu ruangan sudah tertutup dan Raksa tak ada lagi di sana.

Senyum Raina hilang, berganti air mata yang kembali berderai. Sakit di perutnya sudah reda, pun dengan pusing dan nyeri di pinggang. Namun, sakit dan nyeri di dalam hati malah makin kuat mengimpitnya.

"Pantas saja aku nggak pernah merasa mual, nggak pernah ngidam, ternyata ... memang nggak pernah ada janin dalam perutku. Pantas juga nggak merasa sakit malam itu, karena memang nggak ada sesuatu yang terjadi." Raina membatin dengan perasaan miris. Rasanya percuma dia menempa pendidikan sampai kuliah semester lima, karena ternyata ... otaknya masih sebodoh itu.

_______

Keesokan paginya, Yeni datang sebelum matahari terbit sempurna. Wajahnya sama panik dengan wajah Raksa semalam. Bedanya, dia bersikap ramah dan lembut ketika berhadapan dengan Nero. Memang dalam pandangannya, Nero adalah lelaki bijak dan penyayang. Sangat pantas menjadi suami Raina.

"Maafkan saya, Ma, tidak bisa menjaga Raina dengan baik. Andai tadi malam saya tidak tertidur pulas dan menemaninya ke kamar mandi, semua ini tidak akan terjadi," ujar Nero dengan kepala yang tertunduk, seolah sangat menyesali apa yang menimpa Raina.

"Bukan salahmu, Nak. Yang namanya musibah bisa datang kapan saja. Mama yakin, sebenarnya kamu sudah menjaga Raina dengan baik," jawab Yeni sembari menepuk pelan bahu Nero.

Tanpa sepengetahuan Yeni, lelaki itu mengepal sesaat. Dia teringat dengan masa lalunya. Sejak kecil sampai beranjak dewasa, dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Mana pernah wanita yang dia panggil mama bersikap selembut mertuanya. Setiap kali berucap selalu dengan bentakan, disertai pelototan tajam dan terkadang juga tamparan. Sangat menyesakkan.

"Mama boleh masuk?"

Pertanyaan Yeni membuyarkan lamunan Nero. Lantas, dengan cepat dia menatap mertuanya dan menyunggingkan senyum lebar.

"Tentu saja, Ma, ayo kuantar," ujar Nero sambil membimbing Yeni memasuki ruangan di mana Raina dirawat. Keduanya meninggalkan Raksa yang masih duduk diam di kursi tunggu.

"Mama datang." Nero menghampiri Raina, berkata dengan lembut seolah Raina adalah wanita yang memang dia cintai.

"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Yeni mendekap tangan Raina, lantas mengusap kening dan puncak kepalanya.

Dalam beberapa saat, ibu dan anak itu terlibat obrolan yang sendu. Sementara Nero, duduk di samping Raina seraya menggenggam erat jemarinya.

Bodohnya, hati Raina berdebar-debar. Padahal, dia tahu jelas bahwa sikap itu pura-pura belaka.

"Nak Nero, kamu sudah menjaga Raina dari semalam. Padahal katanya, kamu baru pulang dari London. Pasti capek, kan? Kalau sekarang mau istirahat, nggak apa-apa, Nak, istirahat saja. Biar Mama yang menjaga Raina," ucap Yeni sambil menatap Nero.

"Selagi Mama ada di sini, saya cuma mau pulang mandi, Ma. Semalam tidak sempat mandi, rasanya kurang nyaman," jawab Nero.

"Ya sudah, kalau begitu mandi dulu, Nak, sekalian makan."

"Baik, Ma." Nero tersenyum. Kemudian beralih menatap Raina. "Mau sesuatu, tidak? Nanti sekalian kubelikan?" tawarnya.

Raina menggeleng. "Nggak usah, Om."

"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya, nanti secepatnya ke sini lagi." Nero bangkit dan membungkuk, kemudian mendaratkan ciuman yang cukup lama di kening Raina.

"Ma, titip Raina ya," ucapnya sambil melangkah pergi.

Yeni menyahut tanpa merasa curiga. Sementara Raina mematung dalam beberapa saat lamanya. Ciuman itu ... hangat dan lembut. Bahkan, sampai Nero pergi pun hangatnya masih terasa.

"Sadar, Raina, ini hanya pura-pura," batin Raina dengan perasaan yang kian sesak. Seakan-akan ada benda berat yang menghantam dada dan mengimpit rongga napas.

Sangat sakit!

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Raina pleeaaseee deh jangan jadi cewek Lemah..Cinta sih Cinta tapi gunakan OTAK kamu..

2025-02-13

1

Akbar Razaq

Akbar Razaq

gak ada lasihan sama sekali.sama Raina.

2024-08-25

1

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

ternyata nero dididik dengan sangat keras oleh mamanya

2024-06-06

3

lihat semua
Episodes
1 Perubahan Sikap
2 Alat Untuk Membalas Dendam
3 Ava Ollivia
4 Alasan di Balik Dendam
5 Darah
6 Kenyataan di Luar Nalar
7 Sangkar Dendam
8 Drama Keguguran
9 Ciuman Pagi
10 Senyum Penuh Arti
11 Kau Milikku!
12 Rahasia Ava
13 Tergoda Lagi
14 Senyum Tipis Nero
15 Nomor Asing
16 Rencana Licik Ava
17 Sempat Curiga
18 Kerja Sama
19 Kenangan Kelam Nero
20 Kalung Untuk Raina
21 Setangkai Mawar Putih
22 Membawa Wanita
23 Menyerah
24 Kejutan Untuk Ava
25 Kehancuran Ava
26 IKTN 26
27 IKTN 27
28 IKTN 28
29 Sedikit Petunjuk
30 Mencintai Diri Sendiri
31 IKTN 31
32 IKTN 32
33 IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34 IKTN 34
35 IKTN 35
36 IKTN 36
37 IKTN 37
38 IKTN 38
39 IKTN 39
40 IKTN 40
41 IKTN 41
42 IKTN 42
43 IKTN 43
44 IKTN 44
45 IKTN 45
46 IKTN 46
47 IKTN 47
48 IKTN 48
49 IKTN 49
50 IKTN 50
51 IKTN 51
52 IKTN 52
53 IKTN 53
54 IKTN 54
55 IKTN 55
56 IKTN 56
57 IKTN 57
58 IKTN 58
59 IKTN 59
60 IKTN 60
61 IKTN 61
62 IKTN 62
63 IKTN 63
64 IKTN 64
65 IKTN 65
66 IKTN 66
67 IKTN 67
68 IKTN 68
69 IKTN 69
70 IKTN 70
71 IKTN 71
72 IKTN 72
73 IKTN 73
74 IKTN 74
75 IKTN 75
76 IKTN 76
77 IKTN 77
78 IKTN 78
79 IKTN 79
80 IKTN 80
81 IKTN 81
82 IKTN 82
83 IKTN 83
84 IKTN 84
85 IKTN 85
86 IKTN 86
87 IKTN 87
88 IKTN 88
89 IKTN 89
90 IKTN 90
91 IKTN 91
92 IKTN 92
93 IKTN 93
94 IKTN 94
95 IKTN 95
96 IKTN 96
97 IKTN 97
98 IKTN 98
99 IKTN 99
100 IKTN 100
101 IKTN 101
102 IKTN 102 (Happy Ending)
103 IKTN 103 (Bonus Chapter)
104 One Day In London
105 DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106 Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107 Promo Novel Baru—Fifty Days
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Perubahan Sikap
2
Alat Untuk Membalas Dendam
3
Ava Ollivia
4
Alasan di Balik Dendam
5
Darah
6
Kenyataan di Luar Nalar
7
Sangkar Dendam
8
Drama Keguguran
9
Ciuman Pagi
10
Senyum Penuh Arti
11
Kau Milikku!
12
Rahasia Ava
13
Tergoda Lagi
14
Senyum Tipis Nero
15
Nomor Asing
16
Rencana Licik Ava
17
Sempat Curiga
18
Kerja Sama
19
Kenangan Kelam Nero
20
Kalung Untuk Raina
21
Setangkai Mawar Putih
22
Membawa Wanita
23
Menyerah
24
Kejutan Untuk Ava
25
Kehancuran Ava
26
IKTN 26
27
IKTN 27
28
IKTN 28
29
Sedikit Petunjuk
30
Mencintai Diri Sendiri
31
IKTN 31
32
IKTN 32
33
IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34
IKTN 34
35
IKTN 35
36
IKTN 36
37
IKTN 37
38
IKTN 38
39
IKTN 39
40
IKTN 40
41
IKTN 41
42
IKTN 42
43
IKTN 43
44
IKTN 44
45
IKTN 45
46
IKTN 46
47
IKTN 47
48
IKTN 48
49
IKTN 49
50
IKTN 50
51
IKTN 51
52
IKTN 52
53
IKTN 53
54
IKTN 54
55
IKTN 55
56
IKTN 56
57
IKTN 57
58
IKTN 58
59
IKTN 59
60
IKTN 60
61
IKTN 61
62
IKTN 62
63
IKTN 63
64
IKTN 64
65
IKTN 65
66
IKTN 66
67
IKTN 67
68
IKTN 68
69
IKTN 69
70
IKTN 70
71
IKTN 71
72
IKTN 72
73
IKTN 73
74
IKTN 74
75
IKTN 75
76
IKTN 76
77
IKTN 77
78
IKTN 78
79
IKTN 79
80
IKTN 80
81
IKTN 81
82
IKTN 82
83
IKTN 83
84
IKTN 84
85
IKTN 85
86
IKTN 86
87
IKTN 87
88
IKTN 88
89
IKTN 89
90
IKTN 90
91
IKTN 91
92
IKTN 92
93
IKTN 93
94
IKTN 94
95
IKTN 95
96
IKTN 96
97
IKTN 97
98
IKTN 98
99
IKTN 99
100
IKTN 100
101
IKTN 101
102
IKTN 102 (Happy Ending)
103
IKTN 103 (Bonus Chapter)
104
One Day In London
105
DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106
Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107
Promo Novel Baru—Fifty Days

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!