Drama Keguguran

Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari ketika Nero tiba di rumah sakit, membawa Raina yang masih dalam keadaan pingsan. Entah angin apa yang mendorongnya melakukan hal itu. Padahal, bisa saja dia menyuruh Norman dan ART lain, tanpa perlu turun tangan sendiri. Bukankah tidur di rumah lebih nyaman dibanding duduk kedinginan di depan pintu IGD?

Nero sendiri tidak paham. Mengapa tadi langsung bergerak cepat ketika melihat Raina pingsan. Ahh, tidak. Bahkan dia tidak paham mengapa begitu betah menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV di kamarnya. Apa video Raina yang menangis itu cukup menarik baginya?

"Tentu saja aku betah melihatnya karena dia sedang bersedih. Itu kan yang kuharapkan, melihat dia sedih dan hancur sepanjang waktu," batin Nero, memberikan alasan masuk akal untuk dirinya sendiri.

Namun, itu belum bisa membuatnya tenang. Bayangan wajah pucat Raina ketika pingsan tadi, juga wajah sembap yang masih basah karena air mata, dengan tidak tahu malu terus berputar-putar dalam ingatan Nero. Sialnya lagi, kepingan gambaran tentang dirinya yang memberikan obat penunda menstruasi juga turut memenuhi otaknya. Seolah sengaja menyudutkan bahwa semua itu karena dirinya.

"Kalaupun ada apa-apa dengan dirinya, apa urusanku? Biarkan saja. Semakin terluka semakin bagus, agar Raksa mengerti dengan siapa dia berhadapan." Nero membatin sambil mendengkus kesal. Lantas, ia bangkit dan berjalan menuju halaman, guna menyulut rokok supaya perasaannya bisa lebih tenang.

"Tuan Nero!" panggil dokter yang menangani Raina.

Dengan sedikit terpaksa Nero membuang rokoknya yang masih tersisa setengah. Lantas, menyahut panggilan dokter tersebut sambil tersenyum ramah.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Nero mengangguk. "Baik, Dokter."

Kemudian, Nero mengikuti langkah dokter menyusuri koridor rumah sakit. Lalu, keduanya memasuki ruangan milik dokter itu.

"Istri saya kenapa, Dokter?" tanya Nero berbasa-basi.

"Nyonya Raina mengalami nyeri haid dan pendarahan yang berlebihan. Sepertinya bulan-bulan sebelumnya siklus haid pasien tidak lancar. Apakah benar begitu?" Dokter balik bertanya.

Meski bisa menjawab 'tidak', tetapi Nero memilih mengangguk dan mengatakan jujur bahwa sebelumnya Raina mengomsumsi obat penunda menstruasi.

Mendengar penjelasan Nero, dokter menarik napas panjang. Lantas menatap Nero dengan serius.

"Saya paham, sebagai pengantin baru mungkin hal 'itu' adalah prioritas utama. Tapi maaf, Tuan, sebaiknya yang seperti ini juga dihindari. Ini berbahaya untuk istri Anda. Haid yang tidak keluar bisa menjadi akar masalah kesehatan yang serius. Di dalam tubuh darah bisa menggumpal, dan ini bisa mengakibatkan penyakit-penyakit berbahaya, seperti kanker dan tumor."

Walau diam, tetapi Nero merutuk dalam hati. Sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dokter mengira bahwa obat itu digunakan untuk mendukung waktu bercinta—tanpa terganggu menstruasi. Padahal, sekali saja dia belum pernah meniduri Raina. Ya ... meski pernah melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang. Namun, itu pun hanya satu kali, singkat pula.

"Sangat beruntung hari ini Nyonya bisa haid. Meski sakit dan sampai pingsan, tapi setidaknya darah kotor itu bisa keluar dari tubuh beliau," sambung dokter.

Nero hanya mengangguk-angguk.

"Pesan saya, tolong jangan diulangi ya, Tuan. Ini demi Nyonya. Dan ... dalam waktu dekat ini, jangan biarkan Nyonya kelelahan. Baik secara fisik maupun pikiran. Nyonya harus tenang dan banyak istirahat agar kesehatannya lekas pulih."

"Baik, Dokter," jawab Nero. Namun, entah akan dipatuhi atau tidak saran itu. Membiarkan Raina tenang, untuk saat ini sepertinya sangat sulit bagi Nero.

_______

Sekitar dua jam setelah Raina dirawat di rumah sakit, Raksa datang dengan wajah paniknya. Bagaimana tidak, belum lama tadi dia dihubungi Norman, dikatakan bahwa Raina masuk rumah sakit karena keguguran.

Siapa lagi yang membuat perintah kalau bukan Nero.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa adikku sampai keguguran?" cecar Raksa ketika tiba di depan IGD dan berhadapan dengan Nero.

"Kamu tidak tahu ini rumah sakit? Tidak bisa tenang sedikit?" sindir Nero.

"Jawab aku! Apa yang kau lakukan?" Suara Raksa makin meninggi.

Namun, Nero tetap tenang.

"Kamu pikir aku bodoh, jadi mencelakai anakku sendiri?" ucapnya.

"Lalu kenapa dia bisa keguguran?" Pernyataan Raksa masih berapi-api, dampak dari rasa panik yang menyergapnya sejak tadi.

"Jatuh di kamar mandi."

"Kenapa dia sampai jatuh? Memangnya kamu di mana? Apa tidak bisa mengantar dia sebentar?" sahut Raksa dengan cepat.

"Aku tidur dan dia ke kamar mandi sendiri tanpa membangunkan aku. Apa itu masih aku yang salah?" Jawaban Nero tetap tenang meski mengandung sindiran. Tak sedikit pun terlihat gugup. Jadi, sulit pula untuk dicurigai.

Kendati begitu, Raksa belum sepenuhnya percaya. Dia masih merasa bahwa kejadian itu karena kesengajaan Nero.

"Kamu bisa menanyai adikmu jika tidak percaya padaku," ucap Nero sesaat kemudian.

Raksa tak menyahut lagi. Dia justru melangkah pergi dan melihat Raina yang sudah siuman.

Nero pun tidak menahan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena sebelumnya dia sudah menjenguk Raina dan bicara banyak dengannya. Sekarang, istrinya itu pasti sudah paham apa yang harus dikatakan pada Raksa.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

yuiwnye

yuiwnye

tuh bener Nero blm nyentuh raina

2024-12-16

1

Runik Runma

Runik Runma

dasar neo

2024-06-09

1

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

nero masih betah jadi jahat ya

2024-06-06

3

lihat semua
Episodes
1 Perubahan Sikap
2 Alat Untuk Membalas Dendam
3 Ava Ollivia
4 Alasan di Balik Dendam
5 Darah
6 Kenyataan di Luar Nalar
7 Sangkar Dendam
8 Drama Keguguran
9 Ciuman Pagi
10 Senyum Penuh Arti
11 Kau Milikku!
12 Rahasia Ava
13 Tergoda Lagi
14 Senyum Tipis Nero
15 Nomor Asing
16 Rencana Licik Ava
17 Sempat Curiga
18 Kerja Sama
19 Kenangan Kelam Nero
20 Kalung Untuk Raina
21 Setangkai Mawar Putih
22 Membawa Wanita
23 Menyerah
24 Kejutan Untuk Ava
25 Kehancuran Ava
26 IKTN 26
27 IKTN 27
28 IKTN 28
29 Sedikit Petunjuk
30 Mencintai Diri Sendiri
31 IKTN 31
32 IKTN 32
33 IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34 IKTN 34
35 IKTN 35
36 IKTN 36
37 IKTN 37
38 IKTN 38
39 IKTN 39
40 IKTN 40
41 IKTN 41
42 IKTN 42
43 IKTN 43
44 IKTN 44
45 IKTN 45
46 IKTN 46
47 IKTN 47
48 IKTN 48
49 IKTN 49
50 IKTN 50
51 IKTN 51
52 IKTN 52
53 IKTN 53
54 IKTN 54
55 IKTN 55
56 IKTN 56
57 IKTN 57
58 IKTN 58
59 IKTN 59
60 IKTN 60
61 IKTN 61
62 IKTN 62
63 IKTN 63
64 IKTN 64
65 IKTN 65
66 IKTN 66
67 IKTN 67
68 IKTN 68
69 IKTN 69
70 IKTN 70
71 IKTN 71
72 IKTN 72
73 IKTN 73
74 IKTN 74
75 IKTN 75
76 IKTN 76
77 IKTN 77
78 IKTN 78
79 IKTN 79
80 IKTN 80
81 IKTN 81
82 IKTN 82
83 IKTN 83
84 IKTN 84
85 IKTN 85
86 IKTN 86
87 IKTN 87
88 IKTN 88
89 IKTN 89
90 IKTN 90
91 IKTN 91
92 IKTN 92
93 IKTN 93
94 IKTN 94
95 IKTN 95
96 IKTN 96
97 IKTN 97
98 IKTN 98
99 IKTN 99
100 IKTN 100
101 IKTN 101
102 IKTN 102 (Happy Ending)
103 IKTN 103 (Bonus Chapter)
104 One Day In London
105 DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106 Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107 Promo Novel Baru—Fifty Days
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Perubahan Sikap
2
Alat Untuk Membalas Dendam
3
Ava Ollivia
4
Alasan di Balik Dendam
5
Darah
6
Kenyataan di Luar Nalar
7
Sangkar Dendam
8
Drama Keguguran
9
Ciuman Pagi
10
Senyum Penuh Arti
11
Kau Milikku!
12
Rahasia Ava
13
Tergoda Lagi
14
Senyum Tipis Nero
15
Nomor Asing
16
Rencana Licik Ava
17
Sempat Curiga
18
Kerja Sama
19
Kenangan Kelam Nero
20
Kalung Untuk Raina
21
Setangkai Mawar Putih
22
Membawa Wanita
23
Menyerah
24
Kejutan Untuk Ava
25
Kehancuran Ava
26
IKTN 26
27
IKTN 27
28
IKTN 28
29
Sedikit Petunjuk
30
Mencintai Diri Sendiri
31
IKTN 31
32
IKTN 32
33
IKTN 33 (Dua Tahun Berlalu)
34
IKTN 34
35
IKTN 35
36
IKTN 36
37
IKTN 37
38
IKTN 38
39
IKTN 39
40
IKTN 40
41
IKTN 41
42
IKTN 42
43
IKTN 43
44
IKTN 44
45
IKTN 45
46
IKTN 46
47
IKTN 47
48
IKTN 48
49
IKTN 49
50
IKTN 50
51
IKTN 51
52
IKTN 52
53
IKTN 53
54
IKTN 54
55
IKTN 55
56
IKTN 56
57
IKTN 57
58
IKTN 58
59
IKTN 59
60
IKTN 60
61
IKTN 61
62
IKTN 62
63
IKTN 63
64
IKTN 64
65
IKTN 65
66
IKTN 66
67
IKTN 67
68
IKTN 68
69
IKTN 69
70
IKTN 70
71
IKTN 71
72
IKTN 72
73
IKTN 73
74
IKTN 74
75
IKTN 75
76
IKTN 76
77
IKTN 77
78
IKTN 78
79
IKTN 79
80
IKTN 80
81
IKTN 81
82
IKTN 82
83
IKTN 83
84
IKTN 84
85
IKTN 85
86
IKTN 86
87
IKTN 87
88
IKTN 88
89
IKTN 89
90
IKTN 90
91
IKTN 91
92
IKTN 92
93
IKTN 93
94
IKTN 94
95
IKTN 95
96
IKTN 96
97
IKTN 97
98
IKTN 98
99
IKTN 99
100
IKTN 100
101
IKTN 101
102
IKTN 102 (Happy Ending)
103
IKTN 103 (Bonus Chapter)
104
One Day In London
105
DI ATAS RANJANG DOKTER DINGIN
106
Promo Novel Baru—Belenggu Masa Lalu
107
Promo Novel Baru—Fifty Days

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!