Ryan, Ava, dan juga Mario, kini berada di dalam ruang kerja Ryan. Ava duduk di sofa dan melihat Ryan yang tengah bekerja. Tatapan mata Ava terlihat begitu memuja Ryan, hingga membuat Ryan sendiri merasa jengah.
“Apa tujuanmu datang ke sini sebenarnya, Va?” tanya Ryan.
“Ah iya, aku ingin mengatakan padamu kalau Daddy mengizinkanku bekerja bersamamu di sini, menjadi sekretarismu,” jawab Ava.
Mendengar ucapan Ava, seketika Ryan menyunggingkan senyum tipisnya, bahkan tak terlihat oleh siapa pun.
“Kalau begitu segeralah bekerja. Aku tak mau membayar gaji untuk seseorang yang malas,” ucap Ryan yang begitu menohok, “Mar, bawa dia keluar dan beritahu dia apa saja tugas seorang sekretaris.”
“Silakan, Nona,” ucap Mario yang kemudian membuka pintu ruang kerja Ryan agar Ava mengikuti langkahnya keluar.
“Baiklah,” ucap Ava bersemangat.
Ava merasa senang dengan pekerjaannya. Ia yakin hari demi hari, ia akan semakin dekat dengan Ryan. Ryan akan mencintainya dan semakin mencintainya, karena cinta itu akan hadir karena terbiasa.
“Ini meja kerja anda, Nona,” ucap Mario.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Ava yang langsung duduk dan memperhatikan apa saja yang ada di meja kerjanya.
“Apa ia tak mengenaliku?” - batin Mario.
Ava membuka tas miliknya kemudian mengeluarkan sebuah pigura berdiri yang ia letakkan di atas meja. Mario langsung melihat apa yang dilakukan oleh Ava, dan ia melihat foto Ryan dalam pigura tersebut.
Sejak dulu masih saja bucin akut. Apa yang akan Nala katakan jika ia mengetahui hal ini. - batin Mario.
Mario sempat mendengar dulu saat Ava bercerita pada Nala mengenai seorang pria. Nala sempat marah saat itu, tapi Mario tak pernah mengira jika pria itu ternyata adalah Ryan Dome.
Nala, seketika Mario kembali mengingat sahabatnya itu. Sahabat yang pernah ia cintai. Sayang sekali cinta Nala hanya untuk bodyguard pribadinya, One.
“Apa yang harus kukerjakan sekarang?” tanya Ava sambil menatap Mario.
“Sebentar aku ambil dulu,” jawab Mario.
Mario masuk ke dalam sebuah ruangan yang merupakan ruang kerjanya, tak besar karena menurut Ryan jabatan Mario tak terlalu penting dan hanya sekedar asisten saja. Mario keluar sambil membawa sebuah map yang cukup tebal. Selain itu, Mario juga membawa sebuah tablet di tangannya yang lain.
“Ini adalah data perusahaan, mulai dari nama nama para direktur serta manager. Ada juga data para rekan bisnis Perusahaan Dome, mulai dari investor sampai perusahaan yang melakukan kerja sama proyek,” ucap Mario kemudian memberikan tablet tersebut pada Ava, “dan di sini ada hadwal kerja Tuan Ryan. Kamu bisa membaca semua janji pertemuan, dengan siapa, dan apa tujuan pertemuan itu.”
“Terima kasih, Tuan,” ucap Ava.
“Jangan memanggilku dengan sebutan Tuan. Tuan Ryan akan marah jika kamu melakukan itu. Panggil namaku saja, aku Mario,” ucap Mario mengangkat tangannya untuk berkenalan.
“Ava. Senang berkenalan denganmu, Kak,” Ava tak berani memanggil langsung nama Mario karena melihat usia Mario yang sepertinya lebih tua darinya.
“Pelajarilah dulu, aku akan kembali bekerja,” ucap Mario dan Ava hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Mario.
Waktu berjalan dan Ava masih duduk di kursi kerjanya. Ia membaca isi map yang tadi diberikan oleh Mario. Ava ingin bekerja dengan sungguh sungguh agar Ryan semakin yakin bahwa dirinya adalah wanita terbaik. Ia ingin menjadi seorang yang sempurna untuk Ryan.
Brakkk
Ava tersentak kaget ketika meja kerjanya diba tiba saja digebrak, hingga beberapa dokumen sedikit bergerak, begitu pula alat tulis yang ia letakkan.
“Tidak becusss!!!” teriak Ryan dengan tatapan nyalang.
Ava sendiri kaget karena merasa tak ada yang ia lakukan selain mempelajari apa yang diberikan oleh Mario tadi. Mengapa Ryan tiba tiba jadi marah, batinnya.
“Apa kamu tahu ini jam berapa? Seharusnya kamu memanggilku ke dalam ruangan untuk melakukan meeting!”
Ava melihat jam di pergelangan tangannya, lalu ia juga mengambil tablet yang tadi diberikan oleh Mario. Ia memang sama sekali belum membuka tablet tersebut karena ingin fokus pada map yang berisi data perusahaan.
“Mario!!” panggil Ryan dengan suara kencang.
Mario bergegas datang dengan langkah lebar, “Iya, Tuan.”
“Dasar lambat!!” ucap Ryan saat melihat Mario tiba, “kalian berdua itu sama! Kerja tidak becus! Apa jadwalku sekarang hah?! Apa kalian mau membuatku kehilangan kerja sama lagi?”
Mendengar ucapan Ryan, Mario langsung mengambil tablet yang ada di atas meja Ava. Ia membuka tablet tersebut dan mulai menggeser sesuatu di sana.
“Jam dua belas ada pertemuan bersama Tuan Phillips sekaligus makan siang bersama,” beritahu Mario pada Ryan.
“Jam dua belas? Lalu sekarang jam berapa? Apa aku bisa menggunakan pintu ajaib doraemon untuk sampai ke sana?” ujar Ryan marah.
“Maaf, Ry. Aku belum membuka tablet itu sama sekali. Aku sedang mempelajari ini terlebih dahulu,” ucap Ava yang merasa bersalah.
Tanpa mempedulikan Ava, Ryan memerintahkan Mario untuk bergegas pergi bersamanya. Mario sendiri lupa akan hal itu karena ia memang tak memegang tablet jadwal kerja Ryan, selain itu ia baru saja menerima telepon dari Ayahnya bahwa ibunya kembali drop akibat penyakitnya.
*****
Untung saja Ryan bisa sampai tepat waktu di restoran di mana ia akan melakukan pertemuan dengan Tuan Phillips. Tuan Phillips bahkan mengajak keluarganya untuk turut dalam acara makan siang bersama itu. Mereka makan siang terlebih dahulu dan Ryan meminta Mario untuk tetap di luar ruangan sampai nanti ia memanggilnya.
Saat pembicaraan kerja sama dimulai, Ryan baru mengizinkan Mario untuk masuk ke dalam ruang VIP itu karena Ryan tak mau makan satu meja dengan Mario yang merupakan asistennya.
“Bulan depan kita akan pergi bersama ke lokasi proyek. Putriku juga akan ikut karena untuk selanjutnya dia-lah yang akan menangani proyek ini,” ucap Tuan Phillips.
Tamara, yang merupakan putri Tuan Phillips pun tersenyum pada Ryan sambil sedikit menganggukkan kepalanya. Sesaat Ryan terpesona dengan kecantikan Tamara Phillips. Ia bahkan lupa jika setelah ini ia berencana menemui Imelda, kekasihnya, untuk memberikan kejutan.
“Baik, Tuan. Nona Tamara bisa langsung menghubungiku untuk mengatur jadwal pertemuan selanjutnya,” Ryan memberikan kartu namanya pada Tamara.
Setelah pertemuan itu, Mario kembali berada di balik kemudi untuk mengantarkan Ryan ke Perusahaan Dome. Di tengah perjalanan, Ryan tersadar.
“Mengapa kita lewat sini?” tanya Ryan.
“Bukankah kita akan kembali ke perusahaan, Tuan?”
Ryan berdecak, “Turun!!”
Mario meminggirkan mobil tersebut kemudian turun. Ryan langsung mengambil alih kemudi dan memberikan semua map pada Mario.
“Kembalilah ke perusahaan dan bekerja, aku ada urusan lain. Ingat! Jangan menggangguku!” perintah Ryan lalu meninggalkan Mario begitu saja.
🧡🧡🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Oh iya ingat pernah di spil saat Ava bilang ke Nala suka sama cowok tp cowok itu suka ngatur2 Ava dan Ava hrs menyukai apa yg cowok itu suka..Saat itu Nala negur dan bilang klo cowok spt itu bukan cowok yg baik..Ternyata cowok yg di maksud adalah Ryan
2024-08-24
0
Ita rahmawati
belaga bner astaga
2024-05-31
2
Sani Srimulyani
arogan banget sih tuh orang, gedeg banget sumpah.
2024-04-21
0