Reflek tangan Maya menutup wajah Erga, dan memalingkan wajahnya. Ternyata Erga tahu kalau dirinya memandang kagum wajah tampan Erga.
“Aduh, May, sakit tahu!” Erga menyingkirkan tangan Maya di wajahnya.
“Dad ... lepaskan aku, aku pengin pipis, kebelet nih! Nanti pipis di kasur gimana?” ucap Maya.
“Kalau pipis yang enak seperti kemarin malam sih Daddy malah senang, May,” goda Erga.
Padahal Erga berjanji pada Maya, tidak mau membahas lagi soal kemarin malam yang terjadi di dalam mobil setelah pulang kerja.
“Dad! Jangan ingatkan itu, aku malu!” Maya reflek memeluk Erga dengan manja, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Erga.
“Kenapa malu? Makanya kalau mau tidur berdoa, jangan bayangin sesuatu yang enggak-enggak, jadi gak ngeres pikiranmu!” tutur Erga.
“Ih iya, iya! Sudah lepasin aku mau pipis!”
“Idih kamu yang meluk, Daddy yang suruh lepasin, aneh kamu May!”
“Eh iya,” ucap Maya dengan tersenyum malu.
Maya bergegas ke kamar mandi, sedangkan Erga masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Maya. Erga senyum-senyum sendiri mengingat wajah Maya yang menggemaskan seperti tadi, saat malu dengan dirinya.
Erga tidak mau lama-lama di kamar Maya, ia juga tidak mau pikirannya tambah kacau karena melihat Maya seperti tadi. Apalagi baru saja dia mencium bibir Maya hingga hasratnya di pagi hari sedikit naik. Erga keluar dari kamar Maya, ia teriak dari depan kamar mandi, pamit pada Maya mau keluar dari kamarnya.
Sedangkan Maya, ia mengiyakan Daddynya keluar dari kamarnya. Maya memandangi wajahnya lagi di cermin, mengusap bibirnya yang baru saja dikecup oleh Ayah Tirinya. Degub jantungnya mulai tidak beraturan, ia merasakan getaran yang tidak seharusnya ia rasakan.
“Enggak! Ini salah besar! Dia milik Mommy, tidak mungkin aku memilikinya!” desah Maya kacau.
Maya membersihkan dirinya, ia sengaja mengguyur tubuhnya dengan air daari shower. Ia memejamkan matanya, menengadahkan wajahnya ke atas, membiarkan wajahnya terguyur air. Seketika bayangan Erga muncul, bayangan saat Erga mengecup lembut bibirnya.
**
Selesai membersihkan diri, buru-buru Maya keluar dari kamarnya, karena ia sudah ditunggu Erga untuk sarapan. Maya melihat sekeliling Vila yang nampak sepi. Biasanya banya pekerja yang mondar-mandir keluar masuk ke dalam Vila, karena yang dikerjakan bagian belakang Vila. Juga ada beberapa asisten yang mengurus Vila Erga. Namun, pagi ini Maya belum melihat para pekerja dan penjaga Vila.
“Dad, kok sepi sekali? Apa tidak ada pekerja yang kerja hari ini?” tanya Maya.
“Mereka semalam lembur sampai jam dua pagi, ya lebih sedikit sebelum mati lampu, jadi mereka hari ini libur, besok mulai kerja lagi,” jawab Erga.
“Terus Bibi penjaga Vila ke mana?” tanya Maya.
“Pulang mengurus rumah sebentar. Biasa seperti itu, kalau sudah bersih-bersih menyiapkan sarapan bibi pulang, dan ke sini lagi paling nanti jam sepuluh atau jam sebelas,” jelas Erga.
“Ayo makan dulu, May. Daddy lapar sekali,” ajak Erga.
Maya mengangguk, ia langsung mengambilkan nasi untuk Erga lebih dulu, lalu membubuhkan lauk yang Erga mau.
“Terima kasih, May,” ucap Erga.
“Sama-sama, Dad,” jawabnya.
Erga merasa memiliki seorang istri, dari kemarin dia makan selalu Maya yang melayaninya, mengambilkan nasi dan lauk untunya. Iya, berpikirnya memiliki istri, bukan memiliki anak gadis.
Selesai sarapan, Erga dan Maya duduk di depan kolam renang, sambil mengobrol soal pekerjaan. Maya memang sangat berkompeten sekali, tidak salah Erga mengangkatnya menjadi sekretaris pribadinya.
“Kamu mau renang? Mumpung sudah agak siangan, jadi gak terlalu dingin,” ajak Erga.
“Ehm ... boleh, sebentar aku ganti baju dulu,” ucap Maya.
Memang dari semalam ia sudah ingin berenang, namun banyak pekerja yang masih lembur, juga udaranya yang dingin, meskipun air kolamnya dari mata air panas, tetap saja pasti akan dingin.
Maya memakai kaos, dan celana pendek. Tidak berani ia memakai bikini yang akan mengekspose tubuh indahnya itu. Memakai kaos dan celana pendek sedikit ketat saja, Erga pasti akan terus-terusan menelasn salivanya, karena tubuh Seksi Maya sangat menggoda.
“Dad ... katanya mau renang? Masa masih pakai baju tidur?” ucap Maya yang sudah siap untuk berenang.
“Kamu cepat sekali ganti bajunya?” ucap Erga. “Sebentar kok pakaian renangmu gini? Ini bukan pakaian renang dong?”
“Gak bawa bikini, Dad. Lagian pakai begitu nanti Daddy macem-macem!” jawab Maya.
Maya meletakkan handuknya di kursi panjang, lalu ia melakukan peregangan otot sebelum berenang. Maya juga membasahi tubuhnya lebih dulu setelah melakukan peregangan otot. Erga melepaskan bajunya, terlihat tubuhnya yang begitu menggoda. Dada bidangnya, perutnya yang seperti roti sobek, seksi dan menggairahkan. Erga melepaskan celana panjangnya, hanya memakai boxer saja untuk berenang.
Glek!
Maya menelan salivanya berkali-kali melihat tubuh seksi dan macho ayah tirinya. Padahal umurnya sudah memasuki kepala empat.
“Sugar Daddy,” gumam Maya dengan berkali-kali menelan salivanya.
“Astaga, May! Ingat dia suami Mommy kamu!” rutuknya pada diri sendiri.
Erga tahu Maya memerhatikannya dari kejauhan. Ia sengaja menggoda anak tirinya yang malu-malu kucing, dan jinak-jinak merpati. Erga tersenyum tipis, ia malah melakukan hal yang membuat Maya terus menelan salivanya. Mungkin jika ada Nungki di Vila, Nungki sudah ingin dikuasai tubuhnya oleh Erga. Apalagi tipe cowok Nungki adalah pria dewasa yang bertubuh seksi seperti Erga. Tapi berkali-kali mendapatkan cowok yang seperti Erga, malah belok, karena sukanya sesama jenis.
Erga mendekati Maya yang masih melongo memandanginya. Erga makin gemas melihat Maya yang bengong begitu.
“Katanya mau renang, malah lihatin Daddy terus?” ucap Erga sambil mendekati Maya, dan membuat Maya kebingungan.
“Ehm ... siapa yang lihatin Daddy sih? Aku mikir saja kalau ada Nungki pasti seru,” ucap Maya asal.
“Oh begitu, ya sudah ayo kita turun ke kolam,” ajak Erga.
Mereka mulai berenang bersama. Sesekali mereka saling memercikkan air. Mereka adu skil dalam berenang.
“Ahw ... Dad!” pekik Maya.
“Kenapa, May?”
“Kakiku, Dad!”
“Apa kamu kram?” Erga panik lalu memberikan pertolongan pada Maya. Ia menggiring tubuh Maya, dan mengangkat tubuh Maya ke atas kolam. Erga mulai memberikan pertolongan pada kaki Maya.
“Ayo Daddy gendong kamu ke sana. Rebahan dulu di sana, Daddy akan urut kakimu.” Dengan segera Erga menggendong tubuh Riska.
Benar-benar diluar dugaan Maya, padahal dia tidak pernah merasakan kram saat berenang, apalagi sebelum itu ia sudah melakukan peregangan otot dengan baik dan benar.
“Sudah mendingan?” tanya Erga.
“Hmmm ... sudah, terima kasih, Dad,” ucap Maya.
Erga masih duduk di sebalah Maya, memandangi Maya yang masih merasakan sakit di kakinya setelah kram tadi. Melihat tubuh Maya basah, Erga mengambil handuk, dan menutup tubuh basah Maya dengan handuk.
“Terima kasih,” ucap Maya.
“Ke kamar yuk, kamu nanti kedinginan. Sudah gak usah lanjut renangnya,” ucap Daddy.
“Ih orang ini sudah gak apa-apa, kok! Ayo turun lagi,” ajak Maya.
Erga menuruti yang Maya mau. Mereka kembali berenang bersama, sesekali mereka bercanda lagi. Maya menyandarkan tubuhnya di sisi kolam, tidak Maya duga, Erga memeluk Maya dari belakang.
“Kamu seksi sekali. Bra.mu kelihatan, May. Kau sengaja menggoda Daddy?” bisik Erga yang membuat Maya merinding.
“Dad ... aku adanya baju ini, lagian sudahlah memang salah?” protes Maya.
“Salah besar, karena Daddy tergoda, May!” jawabnya.
Maya membalikkan tubuhnya, ia pun sebetulnya tergoda dengan tubuh Erga yang sangat seksi. “Kau juga menggodaku, Dad,” bisik Maya.
Erga yang sudah tidak tahan dengan gelora hasratnya, dia langsung menyambar bibir manis Maya. Melumatnya habis, Maya pun merespon pergerakan bibir Erga. Mereka saling beradu lidah, dan bertukar saliva dengan penuh gairah. Tangan Erga mulai nakal, merambat ke dada Maya. Jarinya mencari-cari benda mungil yang membuat Maya semakin bergairah.
Erga berhasil melepaskan pengait bra Maya, tidak peduli dengan yang dilakukan Erga, Maya malah menikmati sentuhan nakal Ayah Tirinya. Diciumnya leher jenjang Maya yang dari tadi sudah sangat menggairahkan dan ingin sekali Erga menyesap kencang leher Maya.
“Ahh ... Dad ....”
Maya melenguh kala bibir Erga menyesap leher jenjangnya, membuat seluruh tubuh Maya seperti teraliri arus listrik. Apalagi Erga dengan buas seperti vampir yang sedang menyerang leher Maya, hingga meninggalkan bekas merah di leher Maya.
Tak tahan dengan perbuata Erga, Maya semakin mengeluarkan desa.han yang membuat Erga semakin melambung hasratnya. Didorongnya tubuh Maya hingga bersandar di tepi kolam.
“Boleh aku sentuh ini? Aku haus, May,” bisik Erga. Maya mengangguk, pasrah dengan apa yang Erga mau.
Dengan cepat tangan Erga mengangat kaos Maya, dan menyisakan br.a berwarna merah jambu. Pengaitnya sudah terbuka, sehingga dengan mudah Erga melepaskan penutup dada Maya, dan menampakkan kedua melon super yang ukurannya di atas rata-rata menyembul sempurna.
Tanpa menunggu lama, seperti bayi yang sedang kehausan, Erga langsung menyesap melon super milik Maya. Ia menghisap areola dan menyesapnya perlahan hingga sekujur tubuh Maya bergetar karena merasakan geli. Kedua kalinya Erga melakukan hal seperti ini pada Maya, tapi kali ini Maya melakukannya dengan sadar, tidak seperti kemarin malam, ia melakukannya seperti mimpi.
“Dad ... ini sangat nikmat!” racau Maya yang sudah tidak karuan.
Lidah Erga terus berpuatr-putar menyesap areola milik Maya secara bergantian. Sesekali Erga menggigit kemudian menariknya pelan, membuat Maya semakin meradang.
“Aku tidak tahan, Dad ... please aku ....”
“Kita lanjutkan di kamar,” bisik Erga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-03-28
0
Dewi Suntana
salah salah .salah pa erga .. nyebut . jgan main samber ajh
2024-03-09
0
afaj
gaya mu pak. ternyata kamu bukan brondongnya mamaknya
2024-03-09
0