Ketika melihat tangan nya berada di atas perut Awan dan juga kepalanya tepat berada di dada bidang Awan,Mentari tidak bersuara,dia mengangkat kepalanya pelan dan juga menarik tangan nya sangat pelan agar Awan tidak terbangun.
Mentari tidak bisa membayangkan betapa malunya dia kalau Awan tau di memeluk nya.Padahal sudah jelas tadi malam dia yang meletak kan guling pembatas,dan kemana guling sialan itu,kenapa hilang dan kenapa pula harus tidur memeluk nya.
"Untung dia tidak terbangun,coba kalau dia tau aku memeluk nya,mau di bawa kemana muka ku?"gumam Mentari sembari bangkit pergi ke kamar mandi.
Setelah Mentari masuk kemar mandi Awan membuka matanya,Awan tersenyum dengan tingkah istri cantik nya.pagi-pagi Awan sudah di suguhkan dengan hiburan oleh istrinya.
Tidak lama kemudian mentari keluar dari kamar mandi,dia mendekati Awan,lalu dia memeriksa kantong kemih Awan yang sudah penuh dan menggantikan nya dengan yang baru.
"Sayang,"panggil Awan.
"Hem,"Mentari menoleh menatap Awan.Wajah Mentari masih bersemu merah karena panggilan mesra Awan kepadanya,dan Awan bisa melihat itu.
"Apa kamu tidak jijik dengan kotoran itu,"tanya Awan yang melihat tidak ada rasa jijik pada wajah Mentari.
"Kenapa Hubby bertanya seperti itu?ini sudah kewajiban ku seorang istri harus merawat dan mengurus suaminya."Mentari sudah menerima pernikahan nya dengan tulus,walaupun pernikahan itu terjadi karena paksaan dan juga dadakan.Namun pada saat ini Mentari sudah menerima takdir yang yang Tuhan berikan untuk nya.Lagi pula Mentari sudah mencintai Awan sebagai suaminya.
"Terimakasih ya sayang,kamu sudah mau menjadi istriku dan mau mengurusku,kamu tidak mengeluh sama sekali.Aku janji setelah aku sembuh aku akan memberikan apapun yang kamu mau,I LOVE YOU my wife."Awan sangat bersyukur yang menjadi istri nya Mentari bukan Adelia.
Awan tidak bisa membayangkan nasibnya se andai nya Adelia yang menjadi istrinya.
Mentari wajah nya akan selalu memerah kalau Awan memanggilnya dengan sebutan Sayang.
"Terimakasih juga karena Hubby sudah mau menerima ku sebagai istrimu,kalau Hubby menolak waktu itu pasti sekarang aku sudah berada di balik jeruji besi dan Fajar akan terlantar."Mentari sangat berterimakasih kepada Mama Laras karena tidak menuntut nya malah menyuruh nya menikah dengan Awan yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
"Sekarang aku akan membersihkan tubuh Hubby,dan setelah itu aku akan melakukan pijat refleksi lagi pada Hubby agar Hubby bisa cepat sembuh."ucap Mentari dan di iyakan oleh Awan.
Setelah itu Mentari langsung mengisi air hangat kedalam baskom,dan juga handuk kecil.Mentari mulai membersihkan seluruh tubuh Awan tanpa terkecuali.
Awan tidak mengalih matanya dari gerakan tangan Mentari yang begitu lincah dan telaten mengurusnya.
Selesai membersihkan tubuh suaminya,kini Mentari melakukan pijat ke kaki dan tangan suaminya.Mentari begitu pandai memijat.Awan sudah bisa merasakan pijatan tangan Mentari di lengan nya,walau pun masih seperti semu.
"Bik,panggilkan Mentari suruh turun untuk sarapan."Pak Bagio menyuruh Bik Minah memanggil menantunya.
"Iya Tuan,"jawab Bik Minah,lalu bergegas pergi naik kelantai dua untuk memanggil Mentari.
Setelah melakukan pijat,Mentari bertanya kepada suaminya."Bagai mana apa Hubby merasakan sesuatu?"Mentari bertanya agar dia bisa men terka-Terka kemajuan Awan.
Awan mengangguk ,karena dia memang bisa merasakan seperti yang Mentari tanya kan tadi.
"Sekarang Hubby harus menggenggam ini."Mentari memperlihat dua bola karet pada suaminya.Mentari meletakkan kedua bola itu ke telapak tangan Awan lalu menyuruhnya meremas sedikit demi sedikit,guna untuk melatih otot yang telah kaku.
Tok...to...to...Bik Minah mengetuk pintu kamar Awan dan Mentari.
"Siapa...?"tanya Mentari dari dalam kamar.Mentari tidak membuka pintu karena dia masih menuntun telapak tangan Awan meremas bola karet yang di berikan nya tadi.
"Saya Non,Bik Minah."sahut Bik Minah di luar kamar.
"Non Mentari disuruh turun oleh Tuan besar untuk sarapan."
"Iya Bik,aku akan segera turun."jawab Mentari yang masih di setia menuntun tangan Awan meremas bola karet itu.
"Hubby lanjut aja remas nya,aku tinggal sarapan sebentar,nanti aku bawakan sarapan Hubby ya?"Mentari segera keluar dari kamarnya dan turun kelantai dasar di mana semua orang sudah berkumpul di meja makan.
Sementara di rumah Pak Gunawan seorang gadis sedang merengek pada Mamanya.Gadis itu adalah Arini.Dia merengek pada Mama nya agar mau membicarakan soal Rico lelaki yang di cintai nya.
Arini mau Papanya memaksa Rico bila perlu mengancam agar Rico mau menikah dengannya,karena Rico punya hutang Pada Pak Gunawan.Rico waktu itu butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit Ibunya,sebab itu Arini menyuruh Papa nya untuk memaksa Rico agar mau menikah dengannya.
"Iya nanti Mama coba bicarakan sama Papa mu,untuk putri ku yang cantik ini apa sih yang enggak Mama lakukan?"jawab Mama Alin menuruti kemauan Anak gadis nya.
Mama Alin selalu menuruti permintaan Putrinya,Arini sangat di manjakan sehingga Arini tidak segan-segan melakukan kejahatan pada orang lain.Salah satunya adalah Mentari, karena Mentari dianggap musuh dan saingan oleh Arini karena Rico menyukai Mentari.
"Beneran ya Ma?pokok nya Kak Rico harus jadi suami ku."Arini sangat Ter obsesi kepada Rico.Dia tidak mau Rico menjadi milik Mentari,karena sampai saat ini Arini tidak tau kalau Mentari sudah menikah.Arini masih mengira kalau Mentari sudah masuk ke dalam penjara.
"Iya."Sudah ah,Mama mau pergi,kamu mandi sana!masa Anak gadis jam segini masih bau tempat tidur."sindir Mama Alin pada putri tercintanya.
Setelah Mama Alin pergi,Arini tertawa kegirangan,dia sangat senang karena Mama nya mau menolongnya untuk berbicara pada Papa nya.
Di rumah besar Pak Bagio Mentari menangis sembari memeluk adik nya,dia akan berpisah dengan adiknya sementara waktu.
"sudah,tidak usah menangis,kalau kalian ingin bertemu 'kan kamu bisa pergi menjenguk nya kapan saja."ujar Mama Laras menghibur menantu nya agar tidak terus menangis.
"Iya Kak.'kan Fajar enggak pergi keluar Negeri,Fajar sekolah di Asrama kok."ujar Fajar membuat semua orang tertawa termasuk Mentari walau air mata nya masih membekas di pelupuk mata.
Nadia yang berada di situ mengacungkan jempol kepada Fajar,karena dia sudah berhasil mengajari Fajar menjadi lelaki tegar dan tangguh.
"Good boy,"ucap Nadia lirih,agar tidak kedengaran yang lain.
Setelah drama pelu-pelukan,Mama Laras dan Pak Bagio mengajak Fajar masuk ke mobil agar tidak terlambat nantinya sampai di Asrama.Mentari melambaikan tangan nya,raut wajah nya sendu melepas kepergian Fajar.
Mentari wajar sedih karena mereka berdua tidak pernah berpisah,Mentari tidak pernah membiarkan adik nya pergi jauh darinya.Tapi kali ini Mentari harus rela demi masa depan adik kesayangan nya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Reogkhentir
Bersiaplah Rico....... kuatkan mental untuk menghadapi jebakan batman dari Arini si wanita licik...... yakin si Rico dapat bertekuk lutut kepada Arini walau sudah diancam....... makin seru saja, lanjutkan thor......
2024-03-04
1