Mafia 17

Melihat keadaan Arumi begitu karena ulahnya, Max menjadi tak tega. Di sebabkan rasa bersalahnya, sebuah kata tak biasa pun meluncur dari bibir ketua mafia yang arogan dan kejam itu.

"Maaf."

Mendengar ucapan singka dari, suaminya. Arumi yang menunjuk langsung mendongakkan wajahnya. Terlihat, pipinya basah akibat sakit yang dia rasakan dalam hatinya.

"Aku hanya butuh kamu ... di sini," ungkap Max dengan nada yang lebih rendah, serta sorot mata teduh. Arumi pun membalas tatapan itu, sehingga hatinya kembali bergetar. Ia merasakan perasaan yang lebih kuat dan dalam dari sebelumnya.

"Tapi tadi, Mas terlihat kesakitan. Sehingga Arum takut kalau itu berbahaya," jelas Arumi, menegaskan maksudnya yang tidak bermaksud membantah.

"Tetaplah di sini. Kamu jangan terlalu khawatir. Hal ini biasa terjadi," jelas Max, meyakinkan Arumi.

"Baik lah, Arum tidak akan kemana-mana. Tapi, tangannya jangan banyak bergerak dulu ya, nanti infusannya macet." Arumi melepas cekalan suaminya secara perlahan dan meletakkan tangan itu di atas kasur.

"Bagaimana dengan yang ini? Apa masih terasa sakit?" tanya Arumi lagi, seraya menyentuh pelan lengan Max yang berbalut perban.

"Sudah tidak, hanya kaku saja. Bahkan untuk sekedar menggerakkan jari pun berat." jelas Max, sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari wajah istrinya itu. Saat ini, Arumi mengenakan selembar kain berwarna hijau yang ia dapat dari anak buah Max.

"Kain apa yang kamu gunakan untuk menutupi kepalamu?" tanya Max heran. "Ah, ini entahlah," jawab Arumi, seraya mengalihkan pandangannya. Dia takut dengan cara, Max menatapnya.

"Maaf. Aku telah membawamu ke dalam masalah," lirih Max. Sejak bertemu Arumi, dirinya mudah sekali mengatakan kalimat yang belum pernah ia katakan pada orang lain. Bahkan, Max pantang mengucapkannya.

"Bolehkah, Arum bertanya. Siapa, Mas sebenarnya? Kenapa, Mas sampai memiliki musuh yang seperti itu?" cecar Arumi. Kebetulan, Max membahasnya maka dirinya langsung mengungkapkan apa yang sangat menggangu pikirannya sejak tadi.

"Jika aku beri tau kamu yang sebenarnya, apakah kamu akan membatalkan pernikahan kita?" tanya Max, sehingga kening Arumi berkerut bingung.

"Kenapa, Mas bertanya demikian? Kita sudah berikrar di hadapan Allah dan malaikatnya serta, pakde dan orang-orang kampung. Bahwa kita akan selalu bersama dalam keadaan senang maupun susah. Sejak malam itu, Arumi sudah berjanji dalam hati untuk menerima takdir ini. Dengan kata lain, Arumi sudah siap menerima siapapun, Mas sebenarnya," tutur Arumi panjang lebar.

Max, menghela napasnya seperti kecewa dengan jawaban Arumi. Tapi dirinya kembali yakin, bahwa perempuan seperti Arumi tidak akan kuat lama-lama ada di sisinya. Kehidupannya keras dan penuh pertarungan berdarah.

*

*

Pagi ini, Arumi terlihat tengah memotong buah kiwi dan meletakkan pada piring kecil. Lalu ia kembali duduk di atas brangkar suaminya, mulai menyuapi pria tampan itu tanpa memandangnya.

Arumi saat ini berusaha menetralkan debar jantungnya yang berdetak tak normal sejak tadi. Rasanya malu sekali setiap dia mengingat apa yang sudah dilakukannya semalam.

Tetapi, Arumi melakukannya karena tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Cepat atau lambat dirinya pasti akan melakukannya. Dari pada, Arumi menyerahkan tugas tersebut pada anak buah, Max dan hal itu mendatangkan dosa padanya, lebih baik Arumi bersusah payah menahan rasa malunya.

Arumi berkali-kali mendorong suapan berisi potongan buah pir. Tapi, kenapa pas di tarik garpunya seperti tertahan. Arumi pun memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya.

"Eh!" Arumi terperanjat kaget, lantaran Max menggigit ujung garpu tersebut.

"Garpunya mengenai lidahku!"

"Maaf," lirih, Arumi, meringis penuh penyesalan. "Ah, kenapa sampai melukainya," batin Arumi.

"Ck. Kau ini kenapa?" decak Max gemas sekali. Bagaimana tidak salah tusuk, kalau istrinya terus menunduk seperti itu.

"A-Arum, permisi mau ke toilet dulu," Arumi segera turun dari kasur kemudian meletakkan piring buah ke atas meja.

"Hei, hati-hati!" teriak Max tertahan karena melihat Arumi berlari ketika hendak ke toilet.

"Wanita itu ...." Max gemas sekali akan tingkah laku Arumi sejak semalam. Sayang saja kedua tangannya belum bisa bebas bergerak. "Infus ini menyusahkan saja," omelnya, seorang diri.

BRAK!

Arumi tak kelepasan sehingga menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras. Arumi pun memilih bersandar di belakangnya dengan tangan yang memegangi dadanya. Jantungnya berdegup tak beraturan lagi saat ini.

"Kamu ini kenapa sih, Rum?" monolognya,seraya berkali-kali memukuli kepalanya pelan. Ia malu sekali, sangat malu.

"Kenapa sih Arum bisa seagresif itu semalam. Kalau tau begini, lebih baik perawat saja yang mengantarnya ke toilet. Eh, tapi nanti Arumi dosa dong. Aduh, gimana sih?" gumamnya bingung.

Tak lama dirinya keluar dari toilet dan mendapati deringan suara ponsel yang berasal dari atas nakas di samping brangkar.

"Rum, ambilkan ponselku itu dan bawa kesini!" titah Max, yang mau tidak mau selalu menyuruh Arumi sebagai pengganti kedua tangannya dan kakinya. Max, belum bisa bebas bergerak karena luka dalam yang ia terima.

Arumi mendekati suaminya dengan menunduk, sebelumnya dia hanya mengangguk kecil tanpa bersuara. Aura ruangan itu jadi berubah sejak semalam.

Ingin rasanya Arumi bertanya apa yang terjadi karena, raut wajah suaminya berubah semenjak menerima telepon.

"Brengsek! Sial!" umpat, Max dengan rahang saling beradu.

"Astagfirullah, Mas. Kita tidak boleh menggunakan lidah untuk mengumpat. Sebaiknya, Mas mengucapkan istighfar apabila marah atau kecewa," kata Arumi, dengan suaranya yang lembut.

Akan tetapi, Max justru memberi tatapan tajam pada Arumi. Sehingga istrinya itu menghela napasnya. Jika biasanya, Max akan menembak siapapun yang berani memberikan kritikan padanya. Tapi, kali ini ketika kata-kata itu keluar dari bibir Arumi, dia tak bisa berbuat apa-apa. Max, hanya bisa memejamkan kedua matanya demi meredam emosi.

"Perhatikan kondisi, Mas saat ini. Jangan membebani pikiran terlalu berat dulu. Biarlah para anak buah, Mas yang banyak itu mengurusnya," saran Arumi dengan raut penuh kekhawatiran. Dia menyentuh bahu suaminya seraya mengusapnya perlahan. Dia tau bahwa masalah yang dihadapi suaminya pasti berat. Meski pun Arumi belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dari penjelasan Max semalam, sedikitnya Arumi tau kalau suaminya ini seorang kriminal kelas kakap.

"Apakah dia akan setenang ini jika tau, bahwa dirinyalah sasaran utama dari penyerangan kemarin," batin Max.

Pria itu membuka matanya tatkala merasakan sentuhan hangat di pundaknya.

"Mulai saat ini, kau dalam pengawalan ketat. Jangan sembarangan pergi tanpa penjaga. Ah, tidak. Mulai malam ini kita akan kembali ke mansion dan kamu tidak boleh keluar dari sana apapun yang terjadi!" tegas Max, tak bisa di bantah.

Arumi kaget, sehingga tanpa sadar dia membuka mulutnya tak percaya. Benar juga sih, dia juga takut dan trauma bila berjalan seorang diri sekarang. Bayangan kejadian seram kemarin itu, terus menari di kepalanya. Semoga malam nanti tak ada mimpi buruk lagi.

"Kenapa mereka menginginkan kematianku?" gumam Arumi pelan, akan tetapi masih bisa terdengar jelas oleh Max.

"Karena kamu, kini telah menjadi bagian dari black hawk."

Terpopuler

Comments

yuning

yuning

karena kamu istriku,itu jawaban yang benar 😁

2024-11-29

0

Note 2

Note 2

pir opo kiwi

2025-01-09

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

luar biasa lanjut

2024-10-15

1

lihat semua
Episodes
1 MAFIA 1.
2 Mafia 2
3 Mafia 3
4 Mafia 4
5 Mafia 5
6 Mafia 6.
7 Mafia 7
8 Mafia 8
9 Mafia 9
10 Mafia 10
11 Mafia 11
12 Mafia 12
13 Mafia 13
14 Mafia 14
15 Mafia 15
16 Mafia 16
17 Mafia 17
18 Mafia 18
19 Mafia 19
20 Mafia 20
21 Mafia 21
22 Mafia 22
23 Mafia 23
24 Mafia 24
25 Mafia 25
26 Mafia 26
27 Mafia 27
28 Mafia 28
29 Mafia 29
30 Mafia 30
31 Mafia 31
32 Mafia 32
33 Mafia 33
34 Mafia 34
35 Mafia 35
36 Mafia 36
37 Mafia 37
38 Mafia 38
39 Mafia 39
40 Mafia 40
41 Mafia 41
42 Mafia 42
43 Mafia 43
44 Mafia 44
45 Mafia 45
46 Mafia 46
47 Mafia 47
48 Mafia 48
49 Mafia 49
50 Mafia 50
51 Mafia 51
52 Mafia 52
53 Mafia 53
54 Mafia 54
55 Mafia 55
56 Mafia 56
57 Mafia 57
58 Mafia 58
59 Mafia 59
60 Mafia 60
61 Mafia 61
62 Mafia 62
63 Mafia 63
64 Mafia 64
65 mafia 65
66 Mafia 66
67 Mafia 67
68 Mafia 68
69 Mafia 69
70 Mafia 70
71 Mafia 71
72 Mafia 72
73 Mafia 73
74 Mafia 74
75 Mafia 75
76 Mafia 76
77 Mafia 77
78 Mafia 78
79 Mafia 79
80 Mafia 80
81 Mafia 81
82 Mafia 82
83 Mafia 83
84 Mafia 84
85 Mafia 85
86 Mafia 86
87 Mafia 87
88 Mafia 88
89 Mafia 89
90 Mafia 90
91 Mafia 91
92 Mafia 92
93 Mafia 93
94 Mafia 94
95 Mafia 95
96 Mafia 96
97 Mafia 97
98 Mafia 98
99 Mafia 99
100 Menuju Akhir Cerita
101 Ketabahan Arumi
102 TAMAT
103 Bab BONUS!!
104 PENGUMUMAN NOVEL BARU
Episodes

Updated 104 Episodes

1
MAFIA 1.
2
Mafia 2
3
Mafia 3
4
Mafia 4
5
Mafia 5
6
Mafia 6.
7
Mafia 7
8
Mafia 8
9
Mafia 9
10
Mafia 10
11
Mafia 11
12
Mafia 12
13
Mafia 13
14
Mafia 14
15
Mafia 15
16
Mafia 16
17
Mafia 17
18
Mafia 18
19
Mafia 19
20
Mafia 20
21
Mafia 21
22
Mafia 22
23
Mafia 23
24
Mafia 24
25
Mafia 25
26
Mafia 26
27
Mafia 27
28
Mafia 28
29
Mafia 29
30
Mafia 30
31
Mafia 31
32
Mafia 32
33
Mafia 33
34
Mafia 34
35
Mafia 35
36
Mafia 36
37
Mafia 37
38
Mafia 38
39
Mafia 39
40
Mafia 40
41
Mafia 41
42
Mafia 42
43
Mafia 43
44
Mafia 44
45
Mafia 45
46
Mafia 46
47
Mafia 47
48
Mafia 48
49
Mafia 49
50
Mafia 50
51
Mafia 51
52
Mafia 52
53
Mafia 53
54
Mafia 54
55
Mafia 55
56
Mafia 56
57
Mafia 57
58
Mafia 58
59
Mafia 59
60
Mafia 60
61
Mafia 61
62
Mafia 62
63
Mafia 63
64
Mafia 64
65
mafia 65
66
Mafia 66
67
Mafia 67
68
Mafia 68
69
Mafia 69
70
Mafia 70
71
Mafia 71
72
Mafia 72
73
Mafia 73
74
Mafia 74
75
Mafia 75
76
Mafia 76
77
Mafia 77
78
Mafia 78
79
Mafia 79
80
Mafia 80
81
Mafia 81
82
Mafia 82
83
Mafia 83
84
Mafia 84
85
Mafia 85
86
Mafia 86
87
Mafia 87
88
Mafia 88
89
Mafia 89
90
Mafia 90
91
Mafia 91
92
Mafia 92
93
Mafia 93
94
Mafia 94
95
Mafia 95
96
Mafia 96
97
Mafia 97
98
Mafia 98
99
Mafia 99
100
Menuju Akhir Cerita
101
Ketabahan Arumi
102
TAMAT
103
Bab BONUS!!
104
PENGUMUMAN NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!