Juwi ingin menjauh dari Satya ketika Satya belum selesai melakukan komunikasi batin dengan Brama. Sigap Satya menahan tangan istri tercintanya ini agar tidak pergi.
Tidak hanya itu saja, Satya malah menarik tangan Juwita dengan cepat sehingga perempuan itu terhuyung. Lalu jatuh ke atas pangkuan Satya karena keseimbangan Juwita yang sama sekali tidak terjaga. Maklum, sebelumnya Juwi tidak terpikirkan sedikitpun kalau Satya akan langsung reflek dengan gerakannya tadi. Karena kebetulan, Satya sedang sibuk dengan komunikasi lewat batin yang sedang ia lakukan.
Tatapan mata beradu selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Juwi yang sedang cemburu saat ini sadar akan rasa itu masih bersarang dalam hatinya. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dari Satya.
"Kanda Satya apa-apaan sih? Lepaskan aku!"
Juwi berucap sambil berontak.
Namun, bukannya lepas dari pelukan Satya. Juwi malah semakin erat menerima pelukan hangat dari suaminya.
"Mau pergi ke mana?"
"Bukan urusan, Kanda."
"Siapa bilang bukan urusan aku? Karena aku ada di sampingmu, maka ke manapun kamu pergi adalah urusanku, Dinda."
"Oh, begitu? Jadi, jika aku ada di sampingmu, maka aku urusan kamu, Kanda. Lalu, ketika aku tidak di sampingmu, maka aku bukan urusan kamu. Terus, jika perempuan lain ada di sampingmu, dia adalah urusanmu. Lalu .... "
Juwi menggantungkan kalimatnya. Saat ini ia sadar akan apa yang sudah bibirnya ucapkan. Sedikit keterlaluan memang. Apalagi untuk ukuran jaman ini. Bisa saja ia dikatakan tidak sopan pada suami.
Diamnya Juwi malah membuat Satya memberikan tatapan lekat. Lalu, sesaat kemudian, senyum kecil terkembang di bibir indah milik Satya.
"Mengapa menggantungkan perkataan, Adinda? Lanjutkan saja kata-kata yang ingin kamu ucapkan. Keluarkan semuanya. Tidak ada yang melarang mu melepaskan apa yang ada dalam hatimu itu."
"A ... ah! Lepaskan aku, Kanda. Lepaskan."
"Tidak akan aku lepaskan selagi amarah dalam hatimu tidak mereda. Jadi, jika ingin segera lepas, maka redakan dulu amarahmu itu. Bagaimana?"
Juwita malah dibuat kesal oleh Satya. Masa saat ia marah, suami manisnya ini malah memberikan tawaran untuk melepaskan amarah. Bukannya membujuk agar hatinya yang marah bisa mereda.
"A -- apa-apaan sih, Kanda Satya? Aku tidak marah. Siapa bilang aku marah?"
"Aku yang bilang, Dinda. Karena di mataku, sekecil apapun perubahan sikapmu, aku sangat memahaminya. Jadi, dirimu tidak bisa berbohong padaku, Dinda. Karena aku sangat tau seperti apa sifat mu itu."
Juwita malah membeku akibat perkataan Satya barusan. Bibirnya benar-benar terasa kaku untuk ia gerakkan. Namun, pikirannya sibuk sekarang.
'Pria jahat ini. Kenapa susah sekali untuk aku hadapi? Aduh .... Apa yang salah dengan kamu, Juwi? Kenapa kamu jadi aneh begini sih?' Juwi berucap dalam hati.
"Kenapa diam, Adinda ku? Apa amarahmu masih besar sekarang?"
"Aku ... aku tidak marah. Ih, kenapa sih?"
Satya malah mengencangkan lagi pelukan yang sebelumnya sudah melonggar. Hal tersebut seketika membuat Juwi kaget lagi.
"Ah! Apa-apaan sih? Lepaskan aku! Kanda! Jangan main-main."
Senyum lebar Satya berikan. Sangking lebarnya senyuman itu, giginya yang tersusun rapi terlihat dengan indah.
"Sudah aku bilang, jika kamu tidak mau mengakuinya, maka aku akan buat kamu menyerah."
"Kanda. Ih ... lepaskan."
Keduanya malah bermesraan sekarang. Satya bebas melakukan hal tersebut karena hanya ada mereka berdua saja di kamar saat ini. Para pelayan sudah pergi sejak tadi. Tentunya, Juwi tidak menyadari akan hal tersebut karena Satya hanya memberikan tanda isyarat saja saat dia meminta para pelayan pergi.
"Jujur padaku atau aku akan melewati pagar batas yang ada dalam diriku, Dinda."
"Jujur soal apa? Bukannya tadi kanda sudah bilang sebelumnya. Kalau kanda sangat memahami aku. Lalu, kenapa kanda malah meminta aku untuk jujur sekarang?"
"Ya Tuhan. Bibir ini sangat pintar menjawab yah. Kamu ingin aku hukum, Putri Juwita Sari?"
"Apa?"
Satya malah langsung menjatuhkan ciuman ke bibir Juwi. Sontak, Juwi langsung membeku karena terkejut.
Sebenarnya, bukan hanya rasa terkejut saja yang Juwita rasakan. Entah karena apa, dia merasa begitu bahagia saat ini. Satu sentuhan lembut itu membuat darah Juwi berdesir hebat. Pikirannya pun melayang.
Juwi masih terdiam dengan pipi yang sedikit memerah setelah Satya melepaskan ciuman hangat yang terpaut selama beberapa detik barusan. Sementara Satya, tak ingin memberikan waktu luang pada Juwita. Ia malah kembali melancarkan aksinya. Dia malah berbisik di kuping Juwita dengan lembut.
"Maaf, karena kanda sudah membuat dinda cemburu. Tapi, ketahuilah, hanya dinda yang ada dalam hati kanda. Kini, nanti, bahkan seterusnya. Hanya dinda saja wanita satu-satunya yang akan kanda cintai."
"Bohong. Kanda bohong padaku."
"Jika dinda masih tak percaya, katakan pada kanda apa yang harus kanda lakukan supaya dinda bisa percaya dengan apa yang sudah kanda katakan."
Juwi terdiam. Sungguh, dia memang masih tak percaya. Tapi hatinya juga tidak tahu apa yang bisa membuatnya percaya lagi akan kata-kata yang diucapkan dari mulut seorang pria. Karena sejauh ini, apa yang pria katakan selalu saja kebohongan.
"Dinda Juwita. Kanda tahu dinda salah paham."
"Salah paham? Tahu dari mana?"
"Sebelum bertemu Dinda di taman tadi, kanda sudah bertemu dengan bibi emban pribadi dinda. Bibi emban mengatakan kalau dinda sangat kesal sampai tidak mengizinkan siapapun datang menghampiri dinda. Saat itu kanda berpikir dengan keras. Apakah penyebab sehingga dinda ku bisa kesal. Namun, belum sempat kanda menemukan jawaban, bibi emban berkata kembali. Dinda datang dari taman istana adipati, lalu semakin memperlihatkan wajah kesal setelah wajah kesal yang pertama karena kanda tidak datang menemui dinda untuk makan siang bersama. Saat itulah kanda langsung bisa menebak, kalau dinda salah paham."
Ucapan panjang lebar dari Satya membuat Juwi menatap lekat wajah Satya. Namum, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir Juwi sekarang. Sebaliknya, Satya malah terus berusaha menjelaskan kesalahan yang sedang terjadi.
Usaha demi usaha akhirnya membuahkan hasil. Meski tidak terlihat secara langsung kalau Juwita sudah memaafkan Satya. Tapi setidaknya, rasa marah yang diakibatkan perasaan cemburu dalam hati Juwi sebelumnya sudah sedikit mereda.
"Kanda bisa melakukan sumpah apapun, Dinda. Kalau dalam hati kanda hanya ada dinda seorang saja. Meskipun cinta kanda tidak pernah terbalaskan. Tapi hati tidak akan pernah bisa kanda ubah. Kanda mencintai dinda melebihi hidup kanda sendiri."
Ucapan itu mengingatkan Juwi akan apa yang sebelumnya sudah terjadi. 'Jadi, ini alasan kenapa dia selalu menerima semua perlakuan jahat dari si pemilik asli dari tubuh ini? Alasannya karena dia sangat mencintai si pemilik tubuh. Bahkan, dia sama sekali tidak sayang pada nyawanya ternyata.'
Hening sesaat setelah ucapan Satya sebelumnya. Karena sekarang, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
......bingung aku mau apa .......lanjut........
2024-05-14
0
Putra Satria
kka author jngn lma2 y thoor up x segera d tunggu lho JD GPL.ini LG penasaran berat..../Whimper//Sweat//Whimper/
2024-03-13
1
sella surya amanda
next
2024-03-13
1