Karena merasa semakin tak tenang, Juwi malah memilih untuk pergi ke taman istana adipati. Karena di sanalah dia bisa benar-benar merasakan ketenangan jika hatinya sedang merasa bimbang.
Seketika, langkah yang penuh dengan semangat itu terhenti saat mata Juwi menangkap sosok yang sejak tadi selalu membuat hatinya bimbang. Siapa lagi sosok itu jika bukan Satya.
Ya. Satya yang saat ini sedang bersama Wulandari di taman istana adipati membuat langkah Juwi langsung tertahankan. Saat itu pulalah hati Juwita merasa sakit. Rasa sakit yang sama saat matanya melihat pacarnya di dunia nyata sedang bersama dengan sahabat baiknya.
Juwita lalu menyentuh dadanya dengan cepat. Rasa sedih, sakit, dan amarah seketika masuk ke dalam hati Juwi saat ini. Ingin rasanya air mata ia jatuhkan. Namun, entah karena apa, air mata itu seakan tidak ingin sedikitpun menampakkan wujudnya.
"Gusti putri Juwita Sari. Kenapa diam membatu di sini?"
Satu suara yang langsung menyadarkan Juwita akan keadaannya saat ini. Ia pun menoleh dengan cepat. Di sampingnya kini sudah ada Bagaskara yang entah sejak kapan ada di sana.
"Pangeran ke tiga. Untuk apa anda datang ke sini? Apakah hukuman waktu itu tidak cukup, Yang mulia?"
Seketika. Wajah bahagia dari Bagas langsung menghilang. Kini, perasaan bahagia itu sudah berganti dengan rasa kesal. Bahkan, ingin sekali rasanya Bagas memukul Juwita dengan keras. Tapi sayang, tidak bisa ia lakukan.
"Gusti putri bicara apa? Hamba sama sekali tidak memahaminya. Hm ... sebaliknya, hamba datang ke sini untuk menemani Gusti putri. Karena sepertinya, raka Satya saat ini sudah tidak lagi peduli dengan Gusti. Karena sekarang, Raka Satya sudah punya perempuan lain dihadapannya."
Bukannya terkejut, Juwita malah memperlihatkan wajah lucu dengan mengeluarkan tawa kecil. Ekspresi yang langsung membuat perasaan Bagas jadi bingung.
"Pangeran ke tiga ini bicara apa sih sebenarnya? Seenaknya saja mengeluarkan kata-kata. Apa kata-kata yang Gusti keluarkan tidak pernah Gusti pikirkan terlebih dahulu? Kalau-kalau, kata-kata itu nantinya akan membawa Gusti pangeran kembali pada hukuman bagaimana?"
Kesal sekali hati Bagaskara mendengar apa yang Juwita katakan. Sangking kesalnya, Bagas terpaksa harus menggenggam erat tangannya sendiri agar emosinya bisa ia atur ulang.
"Gusti putri jangan cemaskan keadaan hamba. Karena sebaliknya, Gusti lah yang harus Gusti cemaskan. Karena saat ini, Raka Satya sedang sibuk bersama dengan kekasih masa kecilnya. Perempuan yang sebelumnya sudah mengisi hati raka Satya sejak lama. Jadi, keberadaan Gusti Putri mungkin tidak lagi ada artinya bagi Raka Satya saat ini."
Juwita terdiam karena rasa sakit yang menjalar di dalam hatinya. Sesungguhnya, Juwita sudah sangat keras berusaha agar rasa sakit itu tidak terlihat oleh siapapun. Terutama, Bagaskara yang juga sangat ia benci karena Bagas mirip pacarnya di dunia nyata.
Tapi malangnya, seberapa keras pun usaha itu Juwita lakukan. Rasa sakit yang ia rasakan sama sekali tidak bisa ia kawal. Alhasil, Juwita pun kehilangan kendali atas dirinya karena rasa sakit itu.
"Cukup, pangeran ketiga! Jangan bicara denganku lagi. Karena aku tahu, apa yang anda bicarakan itu semuanya palsu."
"Palsu? Yang mulia bilang apa yang saya katakan itu palsu?"
"Sekarang, cobalah berpikir yang jernih, Gusti putri. Sejak Wulandari datang, apakah Raka Satya ada datang mengunjungi Gusti?"
"Ah! Maaf. Hamba lupa kalau Gusti sendiri tidak tahu kapan perempuan itu datang ke istana adipati, bukan?"
Lagi-lagi Juwita terdiam. Hal itu memberikan kesempatan pada Bagaskara untuk terus menciptakan keraguan dalam hati Juwita terhadap Satya.
"Perempuan itu adalah keponakan selir, Gusti putri. Kekasih masa kecil Raka Satya. Sayangnya, karena beberapa alasan, mereka terpaksa harus berpisah. Tapi sekarang, alasan yang membuat mereka berpisah sudah musnah. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Maka hubungan lama itu akan kembali muncul."
Saat semua kata yang Bagaskara ucapkan terdengar, Juwita masih ingin meyakinkan hatinya akan kebohongan dari semua kata-kata tersebut. Tapi, apa yang ia lihat saat ini malah memaksa hatinya untuk yakin dan percaya dengan semua perkataan Bagaskara.
Wulan dari yang ceria, berjalan berdampingan dengan Satya. Entah karena apa, si Wulan itu malah hampir terjatuh. Tapi beruntungnya, Satya dengan sigap menahan tubuh perempuan tersebut dengan tangan kelar miliknya.
Hal itu membuat goncangan dalam hati Juwita semakin kuat. Ada luka yang terbuka kembali. Luka lama yang sudah tertutup sempurna, tapi sekarang malah berdarah kembali.
Juwita tidak tahan lagi dengan apa yang matanya lihat. Ia pun memilih memutar tubuh, lalu meninggalkan tempat di mana ia berdiri sebelumnya.
Sementara Bagaskara yang menyaksikan semua itu merasa sangat bahagia. Ia sekarang sedang melambung tinggi. Berpikir, kalau saat ini, mereka telah menang.
Pada kenyataannya, Wulandari juga sudah melihat keberadaan Juwita dan Bagaskara yang sedang memperhatikan dirinya dan Satya. Karena itu, dia berpura-pura jatuh. Satya yang polos tentu saja tidak menyadarinya. Dia malah membuat rencana Wulan berjalan dengan lancar.
'Pria ini milikku. Hanya aku yang bisa memilikinya.' Wulan berkata dalam hati sambil melirik kepergian Juwita dengan perasaan puas.
"Ah! Terima kasih banyak, Gusti adipati. Jika saja tidak ada Gusti, mungkin hamba -- "
"Berjalanlah dengan hati-hati, Wulan. Jangan sampai anda terjatuh lagi. Karena jika terjatuh lagi, saya tidak akan menolong anda."
"Ah! Maaf," ucap Wulan dengan wajah sedih.
Sebenarnya, apa yang Juwita lihat sama sekali tidak sama dengan apa yang sedang terjadi. Satya selalu bersikap kaku pada Wulandari. Hanya saja, Wulandari sangat pintar memanfaatkan keadaan. Karena itulah kesalahpahaman itu bisa tercipta.
....
Juwita duduk terdiam di bawah pohon taman istana utama. Ia melamun sekarang. Si bibi emban yang melihat keberadaan junjungannya itupun langsung datang mendekat.
"Gusti."
"Bibi emban."
"Ampun, Gusti. Hamba sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi di istana adipati. Ternyata di istana adipati ke -- "
"Kedatangan tamu agung, Emban?" Juwi langsung memotong cepat perkataan pelayan pribadinya itu.
"Ah! Bukan, Yang mulia. Hanya kedatangan tamu istana saja. Dia -- "
"Aku sudah tahu, Bibi. Dia tamu dari istana raja. Tamu kehormatan kanda Satya yang sangat penting. Yang membuat kanda sangat sibuk sekarang. Bahkan, sangking sibuknya dia sampai tidak bisa mengirim pesan padaku hingga membuat aku menunggu berjam-jam saat waktu makan siang."
Selesai berucap, Juwita bangun dari duduknya. Tanpa menunggu si pelayan menjawab perkataan panjang lebar yang baru saja ia ucapkan, Juwita pun langsung berpindah posisi.
"Tinggalkan aku sendiri, Bibi. Aku ingin sendirian sekarang. Katakan pada siapapun, jangan ganggu, sampai aku sendiri yang masuk ke dalam."
"Ba-- baik, Gusti putri. Hamba mohon undur diri."
"Hm."
Usai kepergian bibi emban, Juwita terus memikirkan apa yang baru saja terjadi. Rasa sakit itu sangat nyata. Padahal, sebelumnya Juwi berpikir kalau dunia ini hanya tempat bermain-main saja. Tapi nyatanya, semua tak semudah yang ia bayangkan. Semua terasa sangat-sangat nyata bagi Juwita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Jamilah JT
lanjutkan
2024-08-25
0
Jarmini Wijayanti
jangan salah paham juwi lebih baik tanya
2024-05-31
2
Bu ning Bengkel
aduh juwita sabar ini hanya hidup di dunia mimpi bukan didunia nyata juwita harus sabar jangan pengaruh ucapan pangeran ke tiga bagaskara itu bayangkan saja jika juwita sedang bermain main jangan dimasukan dalam hati oke.....lanjut...
2024-05-14
0