Usai kepergian para pengawal beserta bawahannya, Satya mengajak Juwi duduk di bawah pohon yang berada tak jauh dari mereka. Tanpa pikir panjang, Juwi menyetujuinya.
"Gusti putri, saya ucapkan terima kasih atas kerja keras anda hari ini. Sungguh, saya sangat tidak menyangka akan hal tersebut."
Ucapan pembuka obrolan itu sangat membingungkan bagi Juwita. Dia pun memberitakan tatapan lekat penuh tanda tanya pada Satya.
"Maksud, Yang mulia?"
"Oh, Gusti putri tidak lagi ingin memanggil hamba dengan sebutan kanda?"
Seketika, wajah Juwita malah merona. Ia mendadak merasa malu akan apa yang sebelumnya terjadi.
"Eh, he he he. M-- maaf, Yang mulia. Apa ... apa panggilanku tadi salah. Anu, kalau salah aku minta maaf."
Tingkah menggemaskan itu langsung menghilangkan kewaspadaan juga rasa kesal yang ada dalam hati Satya sebelumnya. Sontak, tangannya menarik tangan Juwita dengan cepat sehingga tubuh langsing itu langsung terhuyung ke dalam pelukan Satya.
Detak jantung berdetak lebih cepat sekarang. Saat tatapan mata beradu dengan jarang yang sangat dekat, keduanya pun hanya bisa saling membalas tatapan dengan hati yang memiliki banyak rasa.
"A-- anu Yang mulia. Ja-- jangan terlalu menatapku sekarang. Anu, lepaskan aku karena aku ... sedikit kesulitan untuk bernapas."
Sesungguhnya, Juwita benar-benar merasa malu saat ini. Jauh dari rasa saat bertatap muka dengan Bagas di dunia nyata sejak ia berpacaran dengan pria tersebut.
Entah itu karena Satya adalah pria asing yang baru ia temui di dunia mimpi ini. Atau, mungkin karena sekarang, dia sudah benar-benar menemukan cinta di alam lain. Yang pasti, hatinya sungguh memiliki getaran hebat saat berhadapan dengan Satya.
"Apakah anda ingin kabur sekarang, Gusti putri? Tapi rasanya, ingin kabur sekarang sudah terlambat untuk anda. Karena sekarang, hamba tidak akan pernah melepaskan Yang mulia dengan mudah."
"Eh, it-- itu .... "
"Apakah anda menyesali hari ini, Gusti putri? Jika iya, hamba sarankan untuk melupakan rasa penyesalan itu. Karena saat ini, sudah terlambat untuk bertindak."
Juwita malah terdiam. Benaknya mencoba untuk mencerna setiap kata kaku yang Satya ucapkan. Juwita masih berusaha mencari tahu, di mana arah pembicaraan Satya saat ini.
'Ini suami tampan sebenarnya ingin bicara apa sih? Sejak tadi dia terus membelenggu tubuhku dalam pelukannya. Tapi, bicaranya bukan tentang hubungan kami. Jadi apa yang sedang ingin ia bahas sebenarnya?' Juwita berkata dalam hati dengan mata yang menatap lekat wajah Satya.
"Yang mulia Adipati. Anda ... sebenarnya sedang membahas tentang apa sekarang? Hamba rasa ... hamba saat ini kurang memahami di mana arah pembicaraan kita," ucap Juwita dengan wajah polos sambil terus menatap wajah Satya.
Tatapan lekat yang membuat Satya semakin gugup itu tidak bisa terus menahan tubuhnya untuk tetap menahan tubuh Juwita. Satya pun segera melepas tubuh Juwi dari pelukannya. Hembusan napas berat terdengar ketika Satya mengalihkan pandangannya dari Juwita.
"Gusti putri paham akan apa yang saya katakan. Hanya saja, berusaha terlihat seperti tidak memahaminya. Namun, jika itu yang Gusti putri inginkan, maka hamba akan bersedia menjelaskan."
"Hari ini, Bagaskara datang. Saya yakin, anda pasti sangat senang dengan kedatangannya, bukan? Tapi, karena ada rencana yang sedang anda jalankan, maka anda bersikap seolah-olah anda merasa sangat tidak senang dengan kehadirannya."
"Gusti putri. Anda dapat yakin kalau rencana anda akan baik-baik saja. Karena seperti yang sudah saya janjikan, saya akan tetap melepas anda setelah huru-hara antara perbatasan dua wilayah selesai."
Mendengar perkataan Satya, cepat Juwita berucap. "Tidak! Aku tidak ingin dilepaskan oleh Gusti adipati. Aku ingin tetap tinggal di istana ini bersama dengan Yang mulia. Tolong, jangan pikirkan cara untuk mengusir hamba, Yang mulia."
Mata Satya pun menatap sayu ke arah Juwita.
"Apakah rencana yang sedang anda jalankan membutuhkan anda untuk tetap tinggal di sisiku, Gusti putri? Jika iya, maka lakukanlah. Aku tidak akan menganggu anda nantinya. Silahkan, lakukan apa yang anda ingin lakukan. Anda bebas melakukannya."
"Yang mulia, apakah hamba sejahat itu di mata anda? Apakah hamba benar-benar tidak lagi bisa Yang mulia percaya? Aku ingin tinggal bukan karena ada rencana apapun. Melainkan, karena aku memang ingin tinggal di sisimu."
Merekapun kini terdiam dengan cara saling menatap satu sama lain. Juwita sadar, untuk membuat Satya percaya akan dirinya saat ini adalah hal yang memang sangat sulit. Maklum, selama satu setengah tahun usia pernikahan, kesal baik itu tidak ada sedikitpun yang Juwita berikan. Bahkan, Juwita juga sudah pernah melakukan percobaan pembunuhan sebelumnya. Jadi, bagaimana mungkin Satya bisa mempercayainya dengan mudah sekarang?
"Yang mulia. Hamba tahu hamba sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari anda. Tapi, itu tidak akan membuat hamba menyerah untuk tetap berusaha. Hamba akan buktikan, kalau hamba tulus terhadap Yang mulia sekarang." Juwita berucap sambil tersenyum manis.
Seperti biasa. Senyum itu masih mampu membuat Satya terpukau akan keindahannya. Bahkan, mampu membuat Satya hilang kendali hanya karena sebuah senyuman dari Juwita.
"Mm ... Yang Mulia. Apakah anda bersedia memberikan saya waktu?"
"Saya akan buktikan pada Yang mulia, saya layak menerima kesempatan kedua."
"Ee ... a ... i-- iya. Lakukanlah. Lakukan apa yang anda inginkan. Saya ... harus kembali sekarang," ucap Satya menahan gugup hati yang seakan tidak lagi bisa ia kawal dengan baik.
"Baik, Yang mulia." Lagi, senyum manis yang bisa meruntuhkan hawa dingin di sekeliling Satya terlihat. Sekarang, jantung Satya seakan ingin melompat keluar hanya karena serangan senyuman yang bertubi-tubi Satya terima.
"Anu, aku pergi sekarang. Lain kali bicara lagi." Usai berucap, Satya langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat.
Itu ia lakukan agar ia bisa bernapas dengan baik. Tidak berniat untuk melarikan diri sebenarnya. Hanya saja, hasrat yang ada dalam hati akan semakin besar jika ia tetap bertahan. Bisa-bisa, ia akan benar-benar kehilangan atas dirinya sendiri nantinya.
Namun, ketika ia ingin melangkah, Juwita lagi-lagi menghalangi langkahnya. Kali ini, Juwita menarik sisi kain yang menjadi pelengkap busana yang sedang Satya kenakan.
"Yang Mulia, apa hamba bisa memanggil anda Kanda sekarang? Jika bisa ... hamba akan mengubah panggilan itu."
"An-- anda yakin, Gusti putri?"
"Anda yakin ingin memanggil saya dengan panggilan mesra suami istri itu?" Satya berucap sambil memutar lagi tubuhnya yang sudah membelakangi Juwi sebelumnya.
"Tentu saja, Yang mulia. Saya yakin. Karena saya ingin menghilangkan sedikit jarak diantara kita berdua. Saya rasa, tidak akan ada salahnya jika saya mencoba lewat panggilan terlebih dahulu."
Satu tegukan saliva Satya telan. Sekarang, jika dilihat dari segi pandang antara Satya yang berada di depan orang lain dengan Satya yang berada di depan Juwita. Itu akan sangat amat jauh berbeda. Karena Satya yang ada di depan Juwi jelas-jelas seperti pria budak cinta yang sesungguhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Jamilah JT
aduh keran bengat enak sekali jln ceritanya.aku senang sekli.
2024-08-25
1
Nitha Ani
adminya yg halu, aqu yg deg"an/Chuckle/
2024-08-21
0
lily
semngat Juwi ,,,,
2024-08-04
0