Episode #11

"Ampun, Gusti. Hamba mendengar tadi pagi Gusti putri keluar dari kamar Yang mulia. Apakah ada yang terjadi dengan Gusti adipati saat ini?"

Baru juga Satya ingin menikmati sisa kebahagiaan yang masih tersisa dalam memori otaknya. Brama yang baru saja kembali dari tugas malah langsung mengacaukan ingatan indah yang Satya miliki. Alhasil, Satya pun langsung memperlihatkan wajah kesalnya pada Brama.

"Aku baik-baik saja."

"Ya Tuhan. Apakah kalian semua tidak bisa berhenti memikirkan hal buruk tentang aku? Tolong. Biarkanlah aku menikmati sisa kebahagiaan pagi ku dengan tenang."

"Si-- sisa kebahagiaan pagi? Yang Mulai. Jangan bilang kalau anda ... anda dan Gusti putri .... "

Satya langsung menyemburkan air yang baru saja ia teguk beberapa detik barusan. Byur!

"Uhuk-uhuk."

"Yang mulai."

"Uhuk. Apa yang baru saja ingin kamu katakan."

"Anu. Tidak ada, Yang mulia. Lupakan saja."

"Dasar bawahan tidak punya etika. Kembali sana! Jangan ganggu aku."

Wajah bahagia itu. Nada bicara itu. Brama tahu betul kalau saat ini Satya sedang berada dalam suasana hati yang sangat bahagia. Ia pun tidak langsung meninggalkan junjungan sekaligus teman baiknya itu sekarang. Sebaliknya, dia malah berniat untuk tinggal lebih lama hanya untuk menggoda Satya.

"Wajahmu ... Yang mulai. Wajah anda memerah. Tuhan, jangan bilang kalau .... "

"Brama! Kamu tinggal pilih, pergi sekarang atau pergi ke keluargamu langsung hari ini."

"Oo ... jangan begitu, Yang mulia. Hamba masih ingin mengabdikan diri dengan Yang mulia adipati agung sekarang."

"Kalau begitu, pergilah dari hadapanku sekarang juga."

"Baik, Yang mulai."

Brama beranjak. Namun, langkahnya yang kecil itu baru pergi beberapa langkah, tapi sudah ia hentikan kembali. Ia putar tubuh dengan cepat.

"Anu, jadi benar tadi malah Yang mulai sudah mulai merangkai cerita bersama .... "

Puk! Bahu Brama Satya pukul dari kejauhan menggunakan kekuatan tenaga dalam.

"Aduh. Yang Mulai benar-benar tega." Brama meringis kesakitan sambil mengelus bahunya yang terasa panas.

Sementara itu, Satya malah langsung memberikan Brama tatapan tajam yang menusuk. "Pergi sekarang atau .... "

"Baik, Yang mulai. Hamba undur diri sekarang juga. Sampai jumpa lagi, Tuanku."

Meskipun Satya sudah begitu tegas, tapia Brama tetap saja tidak menanggapinya. Ia tetap menggoda Satya karena momen bahagia Satya itu bisa dikatakan langka. Brama juga tahu, kalau momen bahagia itu muncul, Satya tidak akan memberikan tugas sesuai dengan yang ia katakan. Satya akan melupakan setiap kesalahan yang Brama lakukan. Dan, saat ini pulalah Brama bisa merasakan ikatan pertemanan yang mereka miliki.

....

Makan siang pertama kali mereka akhirnya berjalan lancar. Juwita yang saat ini, tentu saja tidak akan membuat kesalahan pada Satya sedikitpun. Malahan, dia berusaha keras untuk menciptakan hubungan baik dengan Satya sekarang.

"Yang mulai. Apakah kita bisa sering makan siang bersama nantinya?"

Satu pertanyaan membuat Satya langsung memberikan Juwita tatapan lekat. Momen langka makan siang bersama saat ini saja masih menyisakan rasa bahagia meskipun sudah hampir berakhir. Tapi sepertinya, Juwi menumpukkan lagi rasa bahagia itu dengan satu pertanyaan seperti barusan.

"M-- maaf, Yang mulia. Apakah pertanyaan saya barusan itu salah?"

Satya yang sedang menatap lekat Juwita pun langsung mengalihkan pandangannya.

"Tidak. Tidak salah."

"Lalu? Kenapa Gusti malah memberikan saya tatapan aneh begitu?"

"Ya itu karena memang kamu aneh."

"Hah?"

"Lupakan. Jika memang ingin makan siang lain kali, katakan saja. Jika tidak ada hal mendesak dengan pekerjaanku. Maka kapan saja aku pasti bisa makan bersama dengan anda, Gusti putri."

Juwi malah terpaku karena mata hitam bercahaya itu terlihat begitu halus menatap dengan penuh kelembutan padanya. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang. Begitu tulus seperti tanpa beban saja.

'Tuhan. Tatapan indah seperti ini baru pertama kali aku temui dari seorang pria selain papa. Dulu, hanya papa yang punya tatapan indah padaku seperti tatapan Satya ini. Bahkan, aku tidak pernah melihat tatapan itu dari Bagas. Tunggu! Bagas?'

Seketika, Juwi teringat kembali akan apa yang sebelumnya terjadi. Tatapan indah milik Satya menyadarkan dirinya akan sakitnya sebuah pengkhianatan oleh orang-orang yang paling ia sayangi. Air mata pun jatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah.

"Juwita!"

Tentu saja Satya langsung panik setelah melihat air mata yang jatuh dari pelupuk mata wanita yang paling ia cintai. Air mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Karena Juwita sangat membenci keberadaan dirinya. Karena itu, Juwi tidak pernah ingin menangis jika berhadapan dengan Satya.

"Kenapa kamu menangis, Juwi? Apa yang salah? Apa .... "

Belum sempat Satya menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, Juwi malah langsung menghambur ke dalam pelukannya. Tanpa ada kata yang terucap sebagai pendahulu. Juwi malah langsung mendekat erat tubuh Satya.

Hal itu tentu saja langsung membuat Satya kaget luar biasa. Jantungnya pun tidak bisa ia kontrol dengan baik lagi sekarang. Berdetak kencang seakan mau lepas dari tempatnya saja.

"Maaf, Yang mulia. Aku benar-benar minta maaf."

Hening seketika. Karena terlalu terkejut dengan hal langka yang baru saja terjadi. Satya pun merasa kaku. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Karena saat ini, ada banyak rasa yang sedang menggerogoti perasaannya.

'Juwita yang asli sudah menyakiti kamu, Gusti. Karena sekarang aku yang menguasai tubuh ini, maka aku akan menebus semua kesalahan Juwita yang asli. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu disakiti selanjutnya. Karena aku tahu, rasanya disakiti itu seperti apa,' kata Juwita dalan hati.

Satya pun akhirnya ikut terhanyut dalam suasana. Tangannya yang awalnya engan menyentuh tubuh Juwi karena terkejut. Kini sudah pun melingkar semburkan di tubuh Juwita.

Mereka menikmati suasana hangat pelukan beberapa saat. Hingga akhirnya mereka sama-sama melepaskan pelukan itu.

"Sejauh ini, aku masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi, Gusti putri. Anda awalnya sangat membenci saya. Tapi sekarang, anda sangat jauh berbeda." Satya memulai obrolan setelah mereka duduk kembali.

Juwita lalu mengukir senyum. Sebenarnya ada rasa tidak nyaman yang bersarang dalam. hatinya. Tapi, ia tidak bisa jujur mengungkapkan apa yang sedang terjadi atas dirinya saat ini. Jadi, meskipun ia merasa sedikit bersalah. Tapi dia tetap tidak berniat untuk jujur sekarang.

"Hamba memang jauh berbeda sekarang, Yang mulia. Itu karena setelah hamba jatuh ke air, ingatan kesalahan sebelumnya terus menyiksa hamba. Hamba bisa memikirkan mana yang baik, dan mana yang buruk setelah hamba sadar dari pingsan hamba itu."

"Yang mulia. Pakah anda tidak menyukai perubahan hamba sekarang? Hamba hanya ingin berbaikan dengan Yang mulai. Karena selama ini, kesalahan yang sudah hamba lakukan terhadap Yang mulai sangat besar."

'Ya Tuhan. Semoga dia percaya dengan apa yang sudah aku katakan. Aku tidak ingin dia curiga padaku sekarang. Meskipun aku sadar, kalau aku pantas untuk dicurigai,' kata Juwita dalam hati dengan tatapan penuh harap pada Satya.

Terpopuler

Comments

Bu ning Bengkel

Bu ning Bengkel

.......lanjut....lalu bagaimana dengan putri juwita yg asli yg punya badan asli itu......

2024-05-14

1

murniati cls

murniati cls

jgn jgn Bagas itu,uga Bagaskara yg dcntai Juwita,dia mgkn dibodohi sm Bagaskara,sm kek Juwi,tp Juwi sadar LBH awal

2024-04-16

1

nacho

nacho

😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘

2024-03-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!