"Dasar pengacau aneh. Sudah mencuri malah ketiduran di sini setelah menghabiskan semua makananku. Benar-benar si pembuat ulah," ucap Satya sambil terus memperhatikan Juwita yang kini sudah terlelap.
Berjalan mendekat. Satya memperhatikan lagi wajah Juwi yang sedang terlelap indah. Wanita itu sangat cantik dengan wajah damai saat ia tertidur. Hal itu semakin membuat hati Satya berdetak tak karuan.
Tangannya pun bergerak cepat tanpa bisa ia cegah. Membelai lembut rambut Juwi yang tergerai sebagian.
"Apa alasanmu berubah, Juwita Sari? Aku ingin tahu dengan jelas sebenarnya. Tapi aku takut, jika aku sudah tahu, maka sikapmu yang sekarang akan hilang. Perubahan mu yang membuat aku bahagia akan lenyap. Aku tidak ingin kehilangan mimpi indah ini, tuan putri."
Satya bergumam pelan sambil menyibak helaian rambut milik Juwi yang terjatuh bebas.
Beberapa waktu ia habiskan untuk memperhatikan wajah Juwi, Satya sadar akan hal yang sedang ia lakukan. Dia pun menguatkan hati untuk menggendong tubuh sang pujaan hati agar bisa ia pindahkan dari kursi ke tempat tidur.
Satya berhasil memindahkan tubuh langsing itu tanpa membangunkannya. Maklum, pria itu melakukannya dengan sangat amat hati-hati supaya Juwita tidak terjaga ketika ia pindahkan.
Malam ini, Satya merelakan tempat tidurnya untuk Juwita. Sementara dirinya memilih untuk tidur di kursi saja sekarang.
...
Kicauan burung yang merdu membangunkan Juwita dari tidur nyenyak. Awalnya, Juwi membuka mata dengan malas. Namun, saat mata sudah berhasil ia buka, sontak, tubuh Juwi langsung tertarik cepat dari atas tempat tidur.
Karena ketika mata sudah terbuka sempurna. Saat itu Juwi baru sadar, kalau dirinya berada di tempat asing yang sudah pasti bukan kamar miliknya.
"Ya Tuhan. Aduh ... kenapa aku malah tidur di kamar .... " Juwi menggantungkan kalimatnya. Matanya membulat ketika melihat Satya yang saat ini sedang tidur duduk di atas kursi yang berada di hadapannya.
"Aduh ... bikin ulah aja aku," kata Juwi lagi sambil beranjak dari duduknya.
Niatnya, dia akan melarikan diri sekarang juga. Bukan ingin lari dari kenyataan. Hanya saja, Juwi tidak ingin mengganggu Satya yang sepertinya sedang tertidur lelap.
"Mau ke mana, Gusti putri? Apakah anda mau melarikan diri sekarang?"
Pertanyaan itu sontak langsung menghentikan langkah kaki Juwi yang sedang berjalan pelan. Dia pun memutar tubuh ke arah asal suara. Seringai tidak enak ia berikan setelah tubuhnya berhasil menghadap si pemilik suara barusan.
"He ... itu ... aku ... mau kembali ke istanaku. Anu, sudah pagi."
"Oh. Anda akan kembali dengan cara melarikan diri setelah semua yang anda lakukan terhadap saya?"
"Eh, s-- siapa bilang aku mau melarikan diri? Ti-- tidak kok. Aku hanya ... hanya .... "
"Hanya apa? Hanya ingin kabur tanpa berucap sepatah katapun, Gusti?"
"Eh, ti-- tidak begitu. Sudah aku katakan tidak. Aku hanya ingin segera kembali. Nanti, aku akan tanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan. Tapi sekarang, aku harus kembali."
Pikir Juwi, yang penting ia bisa menghindar sekarang. Urusan nanti, dia akan pikirkan lagi caranya. Selesai berucap, gegas Juwi berjalan cepat keluar dari kamar si adipati agung.
Sementara Satya yang melihat sikap baru dari Juwi itu malah tersenyum lebar. Hatinya merasa sangat senang. Tingkah laku Juwi memang sangat jauh berbeda dari sebelumnya sekarang. Cara menghindar nya juga terkesan sangat lucu. Tidak menyakitkan seperti sebelumnya.
"Hanya satu yang aku harapkan. Jika ini mimpi, maka aku tidak ingin bangun lagi. Aku ingin tetap kekal hidup di dalam mimpi ini, Juwita."
Sementara itu, Juwita yang sudah berhasil keluar dari kamar, kini bisa melepas napas lega. Tapi, itu hanya beberapa saat saja. Karena baru selesai napas lega itu Juwi lepaskan, sapaan dan tatapan yang para pelayan juga para penjaga istana adipati berikan membuat Juwi merasa seperti seorang pencuri yang sudah ketahuan.
Juwita hanya nyengir kuda ketika ia menerima tatapan aneh dari para orang-orang yang ia temui. Sebaliknya, Juwi bergegas mempercepat langkah agar bisa segera menghilang dari pandangan orang-orang yang sedang menatap aneh padanya.
"Huh ... gila. Lain kali aku harus hati-hati. Tidak boleh sembarangan lagi," kata Juwi saat dirinya sudah tiba di kamar miliknya.
"Gusti putri. Dari mana saja, Gusti? Kami semua cukup panik mencari Gusti tadi pagi. Kami semua cemas, Gusti."
Baru juga bisa bernapas lega, Juwita malah kembali merasa sesak. Tapi, ini istana utama. Istana miliknya. Tidak terlalu ada yang memperhatikan dia dengan tatapan aneh yang menakutkan.
"He .... Bibi emban. Aku tersesat. Tapi, sudah kembali. Jadi, jangan cemas."
"Anda tersesat, Yang mulai? Tersesat ke mana? Anda pergi ke mana sampai bisa tersesat?" Si emban malah dibuat semakin panik setelah mendengar ucapan dari Juwita barusan.
"He ... tidak ke mana-mana. Hanya ... hanya ke istana adipati."
"Apa!"
Cepat Juwita meraih tangan emban tersebut agar tidak menunjukkan rasa cemasnya lagi. Dan yang paling penting, supaya si emban tidak melontarkan banyak pertanyaan padanya.
"Bibi. Aku baik-baik saja sekarang. Jangan tanya lagi yah. Mm ... sebaliknya, aku ingin segera membersihkan tubuhku. Setelah itu, aku ingin bersiap-siap untuk makan siang bersama." Alasan Juwita pada si emban agar dirinya bisa segera bebas.
Beruntungnya, alasan itu didengar dengan baik oleh emban tersebut. Tanpa melontarkan satupun pertanyaan terkait Juwita yang tidak kembali tadi malam, emban itu langsung saja melakukan tugasnya dengan cepat. Prihal Juwi yang kembali dari istana Adipati pun seakan hilang dengan cepat.
Berbeda dengan istana utama. Saat ini, istana adipati sedang sangat sibuk. Setelah kepergian Juwita dari istana tersebut, para penghuni istana itu langsung mendatangi kamar junjungan mereka.
"Mohon ampun, Gusti adipati agung. Hamba menghadap sekarang. Hamba ingin bertanya, apakah gusti adipati baik-baik saja sekarang?"
Salah satu punggawa angkat bicara mewakili yang lainnya.
Satya yang tahu maksud dari pertanyaan itu tidak langsung menjawab. Dia diam sesaat sambil melihat para pengikut setianya yang saat ini sedang berwajah sangat cemas.
"Yang Mulai. Anda baik-baik saja, bukan?" Lagi, pertanyaan itu muncul kembali karena tidak mendapatkan jawaban sebelumnya.
"Aku ... seperti yang kalian lihat. Baik-baik saja. Kenapa kalian datang ke kamarku pagi-pagi begini?"
"Anu, ampun Gusti adipati. Kami ... hanya sedang merasa cemas akan keselamatan Gusti adipati setelah ... ampun kan hamba Yang mulai. Kami cemas setelah melihat Gusti raden Ayu Juwita keluar dari kamar Gusti barusan."
Takut juga itu punggawa untuk bicara. Karena mereka semua tahu seperti apa Satya bersikap pada Juwita. Biar pun wanita itu punya kesalahan setinggi gunung sekalipun. Satya tetap tidak akan pernah menghukumnya.
Berbeda dengan apa yang mereka pikirkan sebelumnya. Satya kini malah tersenyum kecil menanggapi kata-kata bawahannya itu. Hal yang langsung membuat para bawahan langsung di serang penyakit bingung plus takjub akan senyuman junjungan mereka yang sudah lama menghilang.
Lalu, tanya banyak membuang waktu, Satya menjelaskan apa yang terjadi. Tentunya, hanya penjelasan singkat saja yang ia berikan. Para bawahan itupun meninggalkan adipati mereka dengan perasaan senang setelah mengetahui semua kebenaran yang terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Jamilah JT
aku ingin lagi baca
2024-08-25
0
Jamilah JT
lanjutkan loh
2024-08-25
0
Nitha Ani
lanjut min
2024-08-21
0