Tentu saja Satya masih terpaku setelah mendengar apa yang Juwita katakan. Bahkan, sampai Juwi pergi juga Satya masih terdiam selama beberapa saat.
Perhatian kecil itu sungguh menghanyutkan hati Satya. Maklum, dia tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh orang yang ia cintai. Karena itu, ketika perlakuan baik itu ia terima. Dia sendiri langsung tidak bisa mengontrol diri.
Lamunan Satya baru buyar saat Brama muncul ke ruangannya. "Ampun, Gusti Adipati. Hamba datang menghadap."
Wajah kesal Satya perlihatkan seketika.
"Kamu. Kenapa datang?"
Sontak, Brama merasa ada yang aneh. Seolah, kehadirannya tidak lagi Satya butuhkan saat ini.
Wajah bingung pun ia perlihatkan dengan cepat.
"Tuanku. Hamba datang karena hamba pikir, anda membutuhkan saya, Gusti."
"Heh ... tidak. Untuk sekarang aku rasa tidak." Satya berucap sambil mengambil posisi duduk di atas ranjangnya. Wajah bahagia yang terlihat membuat benak Brama penuh dengan banyak pertanyaan.
Hening sesaat. Keduanya sama-sama terhanyut dengan pikiran masing-masing. Brama yang penasaran, tetap tidak bisa menahan diri meski sudah berusaha keras. Hingga pada akhirnya, dia memulai obrolan kembali.
"Gusti, apa pertemuan antara anda dengan Gusti raden ayu baik-baik saja? Apa ... tidak ada ulah lagi yang Gusti Raden Ayu perbuat barusan?"
Tanpa menoleh, Satya berucap. "Tidak."
Tak lupa, sebuah senyum terkembang di bibir Satya. Senyuman yang telah lama menghilang dari wajahnya.
Hal tersebut membuat Brama terpaku beberapa saat. Sulit untuk ia cerna apa yang sudah terjadi selama ia meninggalkan kamar Satya. Tapi yang jelas, senyum itu muncul. Tandanya, hati Satya saat ini memang sedang sangat baik.
Beberapa tahun yang lalu, Satya kehilangan ibundanya. Bersamaan dengan perginya sang bunda, senyum di wajah Satya juga menghilang. Hingga akhirnya, perjalanan negara ia lakukan. Saat itu, pertemuan pertama dengan Juwita terjadi. Senyum Satya kembali muncul untuk yang pertama kalinya ketika ia melihat Juwita yang sedang bercanda dengan para pelayannya.
Pandangan pertama yang mencuri hati Satya. Semua kerabat terdekat sangat bahagia akan hal tersebut. Mereka mendukung dengan senang hati saat Satya berniat untuk meminang Juwita Sari dari kadipaten tetangga.
Namun, siapa sangka kalau Juwita malah bertingkah. Senyum Satya juga hilang dibawa oleh murungnya wajah Juwi sejak dia dipersunting oleh Satya.
Dan sekarang, senyum itu kembali lagi. Brama yang tahu betul siapa Satya, tentu saja merasa bahagia. Namun, dalam hati ia juga merasa sangat takut. Jika senyum itu hilang lagi, akankah senyum itu akan muncul kembali di kemudian hari.
"Gusti. Anda ... bahagia?"
Pertanyaan itu membuat Satya langsung menoleh ke arah tangan kanan sekaligus sahabat yang sejak kecil sudah bersama dengan dirinya. Sebisa mungkin ia sembunyikan rasa bahagia yang saat ini ada dalam hatinya.
"Tidak. Kenapa bertanya soal aku bahagia atau tidak?"
"Barusan, anda tersenyum, Gusti. Senyuman yang sudah lama tidak hamba lihat. Sekarang -- "
"Brama. Kamu kurang kerjaan sekarang? Selesaikan tugas yang aku berikan sekarang juga. Jangan menunggu hari esok."
"Apa? Ya Tuhan, Gusti. Kita masih punya waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. Kenapa sekarang?"
"Karena aku lihat, kamu kekurangan pekerjaan. Jadi, pergilah bekerja sekarang juga. Jangan ganggu aku yang ingin istirahat."
"Hah? Ya ampun .... "
Satya tidak mengindahkan keluhan Brama. Ia malah bangun dari duduknya, lalu menghampiri lemari pakaian yang ada di sebelah ranjang.
"Besok siang, aku akan makan siang bersama Putri Juwita. Jadi, apa yang cocok dengan aku ya?"
Brama yang mendengar ucapan Satya langsung bergegas mendekati Satya. Dengan wajah penasaran sekaligus panik, dia melihat Satya.
"Apa, Gusti? Anda ingin makan bersama dengan Gusti putri?"
"Iya. Besok siang, aku akan makan siang bersama putri Juwita."
"Ampun, Gusti. Tolong pertimbangkan lagi rencana makan bersama yang akan Gusti hadiri. Saya takut, Gusti ada dalam bahaya."
Pernyataan Brama langsung membuat Satya mengalihkan pandangannya. Sejujurnya, Satya paham dengan apa yang sedang Brama pikirkan.
Brama adalah orang yang selalu waspada. Tentunya, setelah Satya. Karena Satya selalu penuh pertimbangan. Hanya saja, tidak dengan urusan Juwita. Meski ia tahu dirinya ada dalam bahaya, Satya tetap tidak akan mundur sedikitpun.
Sama halnya ketika Juwita memberikan racun pada Satya. Satya tahu betul akan rencana yang sudah Juwita buat. Tapi ia tetap tidak menghindarinya. Satya tetap meminum racun yang Juwita sungguh kan di dalam minuman yang ia antar dengan tangannya sendiri.
Tidak hanya itu saja. Cinta buta yang Satya punya malah tidak membiarkan siapapun menyakiti Juwi. Sedikitpun tidak ada hukuman yang Juwita terima meski ia sudah melakukan kesalahan fatal. Sungguh luar biasa cinta yang Satya miliki.
"Kamu tenang saja, Brama. Aku pasti akan baik-baik saja kali ini."
"Tidak, Gusti. Jangan ulangi lagi bunuh diri yang pertama. Sudah cukup satu kali, hamba mohon, jangan tambah lagi."
"Jangan cemas. Seperti yang sudah aku katakan, aku pasti akan baik-baik saja."
"Tapi, Gusti."
Tidak ada yang bisa mencegah niat Satya. Satya adalah orang yang cukup keras kepala. Jika pun ada, hanya Juwita lah satu-satunya orang yang bisa menggoyahkan keputusan Satya.
....
Hanya berdiam diri di kamar, Juwi merasa bosan. Ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan malam ini. Berjalan mengikuti langkah. Tanpa terasa, kaki itu malah membawa Juwi ke istana adipati.
"Istana adipati?"
"Ee ... apa aku masuk saja ya? Sekalian memeriksa keadaan adipati tampan itu. Apa dia sudah baik-baik saja sekarang."
Juwita pun celingak-celinguk melihat sekeliling. Cukup sepi istana adipati pada malam hati. Penjaga juga tidak terlalu banyak. Bahkan, kamar Satya tidak ada penjaganya.
"Uh, ini kamar memang tidak akan di jaga saat malam kali yah. Masuk aja deh. Mungkin dia sudah tidur sekarang. Liat-liat bentar. Itung-itung cuci mata."
Sambil tersenyum lebar, Juwi berjalan sepelan mungkin untuk masuk ke dalam kamar Satya. Saat pintu ia buka dengan sangat hati-hati, tidak ada orang di dalamnya.
"Yah, gak ada orangnya. Batal deh gue cuci mata." Juwi bergumam pelan.
Namun, ketika ia memutar tubuh. Dirinya dikagetkan dengan keberadaan seseorang yang ada di belakangnya.
"Aaa!"
Juwi kaget sampai tubuhnya hampir saja terjatuh. Beruntung, pria yang sudah membuat ia terkejut dengan sigap menahan tubuh langsing miliknya agak tidak menyentuh lantai.
"Tu-- tuan. Bu-- bukan. Yang Mulai adipati."
Gelagapan Juwita berucap. Karena saat ini, ia bukan hanya terkejut melainkan juga sangat panik. Kedatangannya yang tiba-tiba, membuat hatinya mendadak merasa takut akan kemarahan Satya.
Namun kenyataan tak seperti yang ia bayangkan. Satya bukannya marah, malah terkesan sangat senang. Wajah yang sebelumnya datar malah terlihat agak merona akibat tatapan mata mereka yang saling beradu.
"Kenapa datang ke sini sekarang? Apakah sudah tidak sabar lagi untuk menyakiti aku?"
"Hah? Menyakiti apa? Aku datang karena aku ... ingin jalan-jalan saja. Tidak berniat ke sini sebenarnya. Namun kaki, entah kenapa malah datang ke sini dengan tiba-tiba."
"Alasan yang tidak masuk akal."
"Eh ... aku tidak beralasan. Itu memang kenyataannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Jamilah JT
mantap sekali
2024-08-25
0
Nitha Ani
malah aqu ikut nyengir/Facepalm//Facepalm/
2024-08-21
0
Sandisalbiah
niat mau ngintip yg ganteng malah je gep.. 🤦♀🤭
2024-07-21
0