Episode #7

Sementara Juwi yang sekarang masih tetap berdiri di tempat ia berada sebelumnya. Bahkan, ketika tangan Satya menggenggam erat tangannya, Juwi masih saja tetap tidak beranjak dari posisi sebelumnya.

Sikap aneh Juwi membuat Satya merasa bingung. Cepat ia lepas tangan itu ketika si pemilik tidak menunjukkan reaksi sebagaimana yang ada dalam pikirannya sebelumnya.

Tatapan tajam karena kebingungan pun tak lupa ia perlihatkan. Hal tersebut membuat Juwi merasa agak merinding. Tapi, tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena dirinya juga belum tahu keadaan apa yang saat ini sedang ia alami.

'Gawat. Dia marah? Atau ... apa sih? Perasaan aku ngga ada melakukan kesalahan sebelumnya. Kenapa dia terlihat aneh begini sih sekarang? Dia ngga akan nyakitin aku 'kan yah?' Benak Juwi sibuk dengan pikirannya sendiri.

Sementara itu, Satya terus menatap Juwi dengan tatapan tajam. "Kenapa? Kenapa tidak lari lagi? Kenapa malah diam dan membiarkan aku menyentuh tanganmu? Apa kamu tidak lagi merasa jijik padaku sekarang?"

"Apa ... apakah aku harus merasa jijik padamu? Kenapa? Bukannya kamu tidak menjijikan sama sekali."

Ucapan Juwi malah membuat mata Satya semakin melebar. "Juwita Sari! Putri Juwita Sari yang terhormat. Kenapa anda malah membalikkan pertanyaan yang sudah aku tanyakan padamu? Apa yang salah dengan kamu sekarang?"

"A-- aku ... ti-- tidak ada yang salah. Hanya ... hanya ingin mengubah sikapku saja. Apa itu sebuah kesalahan menurut, Gusti Adipati?"

Lagi. Tatapan lekat Juwi dapatkan dari Satya. Tapi kali ini agak berbeda. Tatapan itu terlihat sayu. Tidak terlihat menakutkan seperti sebelumnya.

Hening seketika. Sampai akhirnya, Satya mengalihkan pandangannya dari Juwita.

"Tidak ada yang salah. Hanya saja, ini seperti bukan kamu, Putri Juwita."

Juwi menatap Satya dengan tatapan lekat pula. Hatinya berkata. 'Iya, aku memang bukan istrimu Gusti adipati. Aku orang lain yang numpang di tubuh istrimu. Tapi, aku ingin menjalin hubungan baik dengan kamu. Karena aku tidak ingin kesalahan yang sudah istrimu buat, aku mengulangnya kembali. Lagian, sayang juga aku sia-siakan lelaki setampan kamu.'

Otak nakal Juwi malah berpikiran soal paras rupawan yang Satya miliki. Ditambah lagi sakit hati karena pengkhianatan sebelumnya. Juwi bisa merasakan apa yang saat ini Satya rasakan. Karena itu, dia ingin berbaikan dengan Satya atas dasar prihatin dengan nasib yang sama-sama mereka alami sebelumnya.

"Gusti Putri. Jika tidak ada lagi yang ingin Gusti bicarakan dengan saya. Maka Gusti bisa kembali. Saya ingin melanjutkan pekerjaan saya sekarang."

"Lha kok mau melanjutkan pekerjaan? Bukannya anda sedang sakit, Yang Mulia?"

Jawaban cepat yang Juwi berikan membuat Satya menatap tak percaya kearah Juwi. Sementara Juwi, dia malah terdiam. Bagaimana tidak? Dirinya masih belum terbiasa dengan dunia baru ini. Jadinya, dia malah terus bertingkah selayaknya ia hidup di dunia normal di mana ia tinggal sebelumnya.

"Ada apa dengan anda, Gusti putri? Ada sangat terlihat jauh dari diri anda sebelumnya. Apakah ada yang salah dengan pikiran anda sekarang?"

Juwita langsung nyengir kuda. Senyum terpaksa yang ia sungging kan terlihat sangat jelas kalau saat ini dirinya sedang merasa tidak nyaman.

"Ah ha ha ... itu ... mm ... iya, Gusti. Sejak jatuh ke danau tempo hari. Ingatan saya jadi sedikit bermasalah. Tapi, bukan berarti saja lupa ingatan. Saya masih bisa mengingat dengan baik semuanya. Hanya saja, saya ... tidak bisa tetap mempertahankan sikap arogan saya sebelumnya. Karena itu, saya putuskan untuk berubah."

Ketika penjelasan panjang lebar yang ia berikan hanya ditanggapi dengan tatapan lekat. Juwi hanya bisa kembali memperlihatkan senyum terpaksa nya itu pada Satya.

'Mati aku kalau salah bicara. Aduh .... Habisnya ini tubuh ngga bisa diajak kerja sama sedikitpun. Kejam banget padaku. Sudah membuat aku meninggalkan tubuh asliku. Eh, malah tidak memberikan aku sedikitpun ingatan yang dia punya. Kan terlalu kejam namanya,' kata Juwi dalam hati.

"Bisakah Gusti putri keluar sekarang? Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."

"A -- "

"Silahkan keluar! Anda tidak perlu merubah sikap anda padaku. Karena apa yang telah aku janjikan tidak akan aku ingkari."

Juwi malah melebarkan matanya. 'Ah! Sudah. Ini manusia kenapa tidak paham juga akan apa yang aku maksudkan? Kesal banget jadinya. Aku ingin dekat, tapi dia malah menganggap aku menyembunyikan udang di balik batu. Benar-benar menyebalkan.'

'Tapi tenang. Bukan Elsy Juwita namanya kalau menyerah. Meskipun diusir, aku akan tetap berusaha dekat dengannya. Karena dia, adalah pria tertampan sejak aku datang ke dunia ini. Dan lagi, tubuh yang aku pinjam ini sudah terlalu banyak membuat ia terluka. Karena itu, aku harus membantu dia menebus kesalahan yang sudah ia buat. Itung-itung sebagai kompensasi atas aku yang sudah meminjam tubuhnya saat ini.' Juwi berkata lagi dalam hati.

"Baiklah, Gusti Adipati. Hamba akan keluar sekarang. Namun, mm ... bolehkah kita makan siang bersama besok?"

"Apa? Makan siang bersama?"

"Iya. Makan siang. Kenapa? Apakah itu salah? Tidak bolehkah kita makan siang bersama, Yang Mulai?"

"Jangan bercanda, Gusti Putri. Jangan permainkan saya."

"Lha hamba tidak bercanda, Yang Mulai. Hamba .... "

'Aduh ... inisiatif ini mungkin terlalu berlebihan. Aku kan baru ingin berbaikan dengannya. Ya Tuhan. Bibir-bibir.' Kesal Juwita dalam hati.

"Iy-- iya sudah kalau anda tidak mau, Yang mulia. Saya tidak akan memaksa. Maafkan hamba yang terlalu lancang sebelumnya."

Membulat lagi mata Satya mendengar kata-kata yang Juwita ucapkan barusan. Plus, wajah tulus yang ia tunjukkan membuat hati Satya tidak akan pernah tega untuk membantah apa yang wanita ini katakan. Cintanya yang besar memang mengalahkan rasa sakit yang ia rasakan atas ulah dari perempuan ini. Karena itu, biar bagaimanapun sakitnya yang wanita ini ciptakan sebelumnya. Hati Satya tetap mencintai perempuan ini.

"Gusti Putri, anda yakin ingin makan siang dengan saya?"

Satu pertanyaan membuat Juwi yang sebelumnya tertunduk langsung mengangkat wajahnya. "Iya, Gusti. Saya yakin. Tapi ... tidak akan memaksa jika Gusti tidak mau."

"Baiklah. Anggap saja aku dipaksa olehmu barusan. Kita akan makan siang bersama besok."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

Seulas senyum terlihat di bibir Juwita. Senyum yang seketika langsung mengguncang hati Satya. Dadanya sontak bergemuruh hebat, hanya karena sebuah senyum kecil saja.

"Terima kasih, Gusti Adipati. Hamba akan menunggu Gusti di ruang makan istana utama besok."

Satya yang sebelumnya terbuai, tentu saja tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih berusaha mengumpul kesadaran sekarang. Perasaan bahagia itu membuat harapan yang sebelumnya hilang muncul kembali.

"Hamba mohon diri sekarang, Yang mulia."

Juwita pergi tanpa menunggu jawaban dari Satya. Namun, baru beberapa langkah, dia malah kembali menghentikan langkah kakinya.

Juwita memutar tubuh untuk melihat Satya kembali. "Gusti Adipati, jika saya boleh memberi saran. Sebaiknya Gusti istirahat saja sekarang. Jangan bekerja dulu. Karena anda sedang sakit kata para pelayan."

Terpopuler

Comments

Jamilah JT

Jamilah JT

lanjut kan

2024-08-25

0

Jamilah JT

Jamilah JT

lanjutkan

2024-08-25

0

Nitha Ani

Nitha Ani

bru aj croll kebawa malah croll keatas lgi lupa kasi like am komen/Facepalm//Facepalm/

2024-08-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!