Episode #5

"Gusti Putri, maafkan kami. Tapi, apakah kami tidak salah mendengar apa yang Gusti katakan barusan?"

"Iya, Gusti. Apa kami tidak salah dengar?"

Juwi yang sudah menebak ekspresi itu langsung bangun dari duduknya. Senyum manis pun ia perlihatkan.

"Tidak. Kalian tidak salah dengar. Apa yang aku katakan barusan itu nyata. Aku ingin bertemu dengan Gusti Adipati sekarang juga. Ada yang ingin aku bicarakan."

"Tapi ... Gusti .... "

"Tapi apa? Apakah tidak boleh?" Dengan wajah penasaran, Juwita bertanya. Para pelayan yang ia tanya malah menunduk semua.

Hanya si emban pribadi yang berani mengangkat wajahnya. Lalu, memberikan jawaban untuk Juwita.

"Gusti Putri. Bukannya tidak boleh. Hanya saja, selama ini, hubungan Gusti Putri dengan Gusti Adipati itu ... tidak baik. Sekarang, Gusti adipati sedang tidak enak badan. Apakah .... "

Karena merasa agak takut, emban itu tidak berani melanjutkan apa yang ingin ia katakan. Dia pun hanya menggantungkan kalimatnya tanpa berniat untuk menyelesaikan lagi.

"Dia ... tidak enak badan? Dia sakit?"

"Hm ... kalau begitu, ini waktu yang tepat untuk bertemu dengannya." Juwita malah tersenyum lebar sekarang.

Hal itu semakin membuat para pelayan merasa takut. Dalam pikiran para pelayan, Juwita yang sedang tersenyum sekarang adalah sedang memikirkan cara untuk menyakiti Satya. Karena seperti sebelumnya. Juwita akan bertemu dengan Satya hanya untuk menyakiti hati pria tersebut.

"Gusti Putri. Anda .... "

"Kalian semua tetap tidak ingin membantu aku bersiap-siap sekarang? Apakah aku benar-benar bukan atasan kalian lagi?"

Satu pertanyaan membuat semua pelayan langsung bergerak tanpa berucap. Meski mereka takut dengan kekacauan yang akan majikan mereka lakukan. Tapi mereka tetap tidak bisa berbuat banyak. Karena mereka hanyalah pelayan. Tugas mereka adalah mematuhi apa yang majikan mereka katakan.

Beberapa pelayan sibuk menyiapkan pakaian yang akan Juwita kenakan. Sementara yang lainnya sibuk menyiapkan peralatan kecantikan yang akan Juwi pakai. Sedangkan si emban pribadi hanya berdiri di samping Juwita. Menunggu perintah apa yang akan Juwi berikan.

"Bibi, apakah harus serepot ini? Aku rasa, dua pelayan saja sudah cukup. Tidak perlu sampai lima pelayan hanya untuk mengurus aku sendiri."

Si emban menatap lekat Juwita sesaat.

"Bukannya selama ini, Gusti Putri masih merasa kurang dengan pelayan yang Gusti Adipati siapkan? Gusti Putri bahkan ingin lima pelayan lagi."

"Hah? Apakah benar begitu?"

"Iy-- iya, Gusti Putri. Apakah Gusti Putri lupa akan hal itu sekarang."

Senyum canggung pun Juwi perlihatkan.

"Eh, he ... iya aku lupa. Sejak jatuh ke danau, banyak hal yang aku lupa. Jadi, tolong selanjutnya jangan datangkan banyak pelayan jika hanya untuk mengurus aku ya, Bik. Cukup dua saja sudah."

Lagi. Tatapan bingung sekaligus tak percaya dari si emban terlihat. "Apakah ... Gusti putri yakin akan hal itu?"

"Iya. Tentu saja aku yakin. Karena aku tidak ingin terlalu sibuk seperti ini di saat aku ingin bersiap-siap."

"Baiklah, Gusti Putri. Akan bibi atur ulang peraturan yang ada di istana Gusti putri ini. Kedepannya, semua peraturan lama akan bibi hilangkan. Akan bibi ganti dengan peraturan baru, Gusti."

Usai berpakaian yang menurut Juwi sangat lama, kini dia pun selesai di dandan oleh para pelayan. Rambutnya di sanggul sebagian. Sedangkan sebagiannya lagi tergerai bebas.

Tidak ada yang salah dengan rambut. Tapi saat melihat wajahnya yang berbalutkan make-up tebal. Juwi membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Tunggu! Apa ini dandanan yang sering aku pakai?"

Dua pelayan yang baru saja selesai melakukan tugasnya langsung memperlihatkan wajah takut, plus wajah bersalah. Keduanya menundukkan kepala dengan tubuh yang akan bergetar.

"Iy-- iya, Gusti Putri. Ini adalah dandanan yang sering Gusti pakai. Apalagi saat ingin bertemu Gusti adipati, Gusti pasti akan memakai riasan wajah seperti ini."

"Iya, Gusti. Maafkan kami yang tidak memberikan kesan tebal di bagian mata Gusti. Karena sekarang .... "

"Oh ya Tuhan." Juwita berucap pelan.

Ia paham ke mana arah pembicaraan dua pelayan itu. Sepertinya, Juwita yang asli sungguh ingin dirinya dibenci oleh suaminya. Sampai-sampai, harus memakai riasan wajah yang sangat tebal dan juga terlihat, sangat menakutkan.

Lalu, hati Juwi berkata. 'Sungguh menakutkan dandanan ini. Tidak layak disebut sebagai dandanan untuk seorang wanita. Ini sungguh menakutkan. Badut saja terkesan lucu dengan dandanan yang tebal. Ini lebih ke ... hantu di film horor.'

"Hah .... " Hembusan napas panjang terdengar dari bibir Juwi. "Sekarang, hapus dandanan ini. Biarkan aku sendiri yang mendadani wajahku sekarang."

Ucapan itu semakin membuat tubuh dua pelayan yang ada di sampingnya bergetar. Bukan hanya bergetar. Keduanya malah kompak menjatuhkan diri untuk bersimpuh di depan Juwita.

"Gusti Putri. Maafkan kami. Kami tidak bermaksud membantah apa yang Gusti putri katakan. Tolong jangan hukum kami, Gusti."

Tentu saja Juwi langsung diserang oleh perasaan bingung. Tapi untungnya, itu hanya untuk sesaat saja. Karena dirinya dengan mudah memahami apa yang sedang terjadi saat ini.

"Oh, bukan-bukan. Bukan itu maksud aku. Kalian tolong bangun dulu. Aku tidak marah dengan kalian berdua. Hanya saja, aku tidak ingin memakai riasan wajah yang seperti ini lagi sekarang. Aku ingin memakai riasan wajah yang baru. Yang ada dalam pikiranku saat ini."

"Riasan wajah yang baru?" Keduanya saling bertukar pandang.

Lagi, dalam pikiran mereka adalah, Juwi akan bertingkah semakin gila lagi sekarang. Riasan baru yang ia maksudkan, pasti semakin menakutkan dari yang sebelumnya ia kenakan.

Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini, Juwi memang sangat membenci Satya.

Sementara itu, Juwi menghapus riasan wajah menakutkan yang saat ini ia pakai. Ia kenakan riasan baru yang langsung membuat mata para pelayan membulat takjub akan perubahannya saat ini.

Riasan tipis yang terkesan natural tapi sangat manis dipandang oleh mata. Karena pada dasarnya, Juwita memang sudah sangat cantik parasnya.

"Gu-- Gusti putri. Gusti ... sangat cantik sekarang. Gusti ... benar-benar ingin bertemu dengan Gusti Adipati?" Si emban pribadi yang selama ini berada di samping Juwi merasa tak percaya dengan apa yang matanya lihat.

Bagaimana tidak? Dandanan natural ini membuat paras cantik Juwita terlihat sempurna. Bahkan, saat bertemu Bagaskara saja, Juwita tidak pernah terlihat secantik ini. Meskipun sebenarnya, Juwi sudah berusaha terlihat sangat-sangat cantik hanya untuk Bagaskara saja.

"Ya ... apa yang salah, Bibi? Aku berdandan seadanya sekarang. Tidak terlalu mencolok, bukan? Aku rasa, ini tidak berlebihan saat ingin bertemu dengan suamiku."

Mereka yang bingung, tetap saja merasa sedikit rasa bahagia. Karena Juwita yang saat ini, sedikit berbeda dari Juwita yang dulu.

"Baiklah, ayo antar aku ke ruangan Gusti Adipati sekarang," ucap Juwi sambil tersenyum manis.

Ucapan Juwita langsung disambut anggukan oleh si emban. Mereka pun beranjak meninggalkan kamar Juwi menuju ruangan Satya. Hanya si emban saja yang datang menemani Juwita. Sementara yang lain, Juwita perintahkan tinggal di istana mereka.

Terpopuler

Comments

Jamilah JT

Jamilah JT

lanjutkan sis

2024-08-25

1

🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️

🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️

lanjut,,, kelihatan nya seruuuuuu

2024-07-28

1

Sandisalbiah

Sandisalbiah

perubahan Juwita sangat mendadak, semoga aja gak di bilang lagi kesurupan

2024-07-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!