Bab 14 - Ara Si Anak Spesial Yang Malang

Bandung.

Hari pertama sekolah Elang berjalan dengan baik dan lancar. Selepas mengantarkan putranya pulang, Nanda pun bergegas ke pabrik untuk bekerja seperti biasanya.

Suasana berbeda tampak di kediaman pribadi Langit dan Kayla. Tengah terjadi keributan yang sebenarnya hal seperti ini bukan pertama kalinya yakni antara Kayla dan Ara.

"ARA !!" teriak Kayla dari meja makan di lantai satu. Sedari tadi dirinya sudah berdandan rapi dan menunggu Ara di meja makan guna bersantap siang sebelum mereka pergi ke kediaman Oma dan Opa Ara yakni orang tua Kayla.

"Bik Sari !!" teriak Kayla memanggil pengasuh Ara.

"Iya, Nyonya." Bik Sari yang sedang berada di dapur tak jauh dari meja makan, langsung bergegas menghadap istri majikannya tersebut yang berteriak memanggilnya.

"Di mana Ara? Aku panggil dari tadi kok tuh anak enggak nyahut juga sih !"

"Non Ara setahu saya masih ada di dalam kamarnya. Tadi sudah saya ketuk pintu kamarnya dan bilang kalau Nyonya nunggu Non Ara untuk turun ke meja makan. Tapi tak ada sahutan. Mungkin Non Ara sedang tidur siang," jawab Bik Sari.

Faktanya, Ara memang masih berada di dalam kamarnya yang ada di lantai dua. Ia sedang malas untuk turun atau pergi ke rumah Oma dan Opanya. Bocah yang mengidap autisme ringan itu tengah melakukan aksi mogok makan dan mogok bicara di dalam kamarnya.

"Dasar anak bandel !!" umpat Kayla dengan nada kesal.

"Tadi di sekolah kata kamu si Ara enggak mau makan atau jajan sama sekali. Cuma minum air putih,"

"Iya, benar Nyonya. Non Ara bersikeras enggak mau makan di kantin. Katanya pengin makan bekal atau masakan buatan Nyonya seperti teman-teman di sekolahnya," jawab Bik Sari apa adanya sesuai yang Ara utarakan padanya ketika di sekolah.

Sebagai pengasuh, ia sudah bersusah payah membujuk Ara untuk makan atau sekedar jajan kue agar perut bocah cantik bermata teduh itu tak kosong. Tentu saja ia khawatir nanti Ara jatuh sakit. Yang akan berimbas dirinya disalahkan oleh majikannya.

Namun Ara tetap lah Ara. Ia tetap bersikukuh tak mau makan apa pun di kantin sekolah. Dan Kayla sudah delivery order makanan untuk di rumahnya. Ia tak ingin repot jika nantinya Ara jatuh sakit seperti dulu-dulu.

Jika disuruh turun ke dapur untuk memasak, tentunya Kayla tak akan sudi. Syndrome tuan putri tentu melekat pada dirinya sejak lahir yang memang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Memasak telur mata sapi saja ia tak bisa. Apalagi harus memasak yang lainnya. Tentu hal itu tidak bisa ia lakukan.

Kulit mulusnya dan kukunya yang selalu ia rawat ke klinik kecantikan, tentu tak sudi jika harus rusak terkena cipratan minyak dan hal-hal lain yang ada di dapur. Membuatnya repot saja, pikirnya. Membuatkan suaminya secangkir kopi atau teh saja tidak pernah.

Apa gunanya ia membayar pembantu jika dirinya juga harus mengerjakan urusan perdapuran ?

"Huft !!" gerutu Kayla.

"Anak itu minta dihukum rupanya,"

Kayla bergegas berdiri dan pergi dari meja makan. Ia menaiki tangga menuju ke lantai dua, tepatnya ke kamar Ara.

Deg...

Bik Sari yang baru pertama kali bekerja di kediaman tersebut begitu kaget mendengar kata hukuman untuk bocah sekecil Ara. Terlebih itu dari ibu kandung Ara sendiri. Ia pun mengikuti Kayla naik ke lantai dua dengan rasa khawatir dan perasaan cemas tak karuan.

Tok...tok...tok...

"Ara !!" teriak Kayla seraya mengetuk pintu kamar Ara dengan kencang.

"Buka pintunya sebelum Mama lebih marah lagi sama kamu !"

Namun pintu kamar Ara tetap tertutup rapat. Kayla yang memang tidak sabaran langsung mengambil ponselnya dan membuka pintu kamar Ara melalui ponselnya. Hanya dirinya dan Langit yang punya akses khusus di seluruh kamar yang ada di rumahnya jika terkunci dengan perubahan kode akses awal.

Ya, Ara sengaja mengganti kode kamarnya agar tidak ada orang yang masuk. Terlebih sang Mama. Ara tengah duduk di lantai kamarnya tepatnya di pojokan. Ia menangis pilu sendirian dan menenggelamkan wajahnya ke sela-sela kedua lututnya.

"Hiks...hiks...hiks..."

Tangis Ara kian deras kala mendengar teriakan ibunya di depan pintu kamarnya.

"Pa_pa," gumam Ara lirih. Suaranya tersendat-sendat dengan sedu sedan tangisnya.

BRAKK !!

Pintu kamar Ara pun akhirnya dibuka secara kasar oleh Kayla setelah ia berhasil memulihkan kode sandi kamar putrinya itu.

"Ara ! Ayo makan !" pekik Kayla menatap tajam seraya berkacak pinggang di depan Ara yang tengah meringkuk di pojokan kamar.

Ara hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.

"Kamu mau mati apa, hah !!"

"Jangan bikin repot semua orang karena tingkah konyol kamu!!"

"Cepat makan dan kita akan pergi ke rumah Opa dan Oma. Kita sudah lama enggak main ke sana," ucap Kayla dengan nada tinggi yang sudah naik beberapa oktaf.

Namun Ara masih tetap bergeming. Ia tak bangun atau pun melihat Kayla. Ia memilih semakin menenggelamkan wajahnya di sela-sela kedua lututnya.

"ARA !!"

"Kamu dengar Mama tidak !" pekik Kayla.

Seketika...

Grepp...

Kayla langsung menarik tangan Ara secara paksa dan kasar.

Ara memberontak dalam diamnya. Mulutnya terkunci seakan enggan untuk berteriak. Namun tangan dan kakinya berusaha berontak dari tarikan kasar sang ibu.

Sedangkan di luar kamar Ara, Bik Sari berdiri dengan harap-harap cemas. Ia tak berani masuk ke kamar Ara. Sebab sebelumnya Kayla memerintahkannya untuk diam dan tak ikut campur urusannya dalam mendidik Ara.

Sebuah mobil sedan hitam mewah milik Langit baru saja tiba di kediamannya. Sopir pribadinya pun turun dari mobil yang ia kemudikan lalu membuka pintu di bagian tengah untuk sang majikan yakni Langit.

Sebelumnya Langit mendapat undangan menjadi dosen tamu di Universitas Diponegoro, Semarang. Semenjak pindah ke Bandung, ia hanya bekerja sebagai dokter forensik. Untuk pekerjaan menjadi dosen di UGM, dengan berat hati ia lepaskan. Namun dirinya masih menerima jika ada undangan seminar maupun menjadi dosen tamu dari universitas lainnya.

Pintu rumah utama pun dibuka secara perlahan oleh Langit. Seketika ia terperanjat mendengar suara kegaduhan yang diduga berasal dari lantai dua kediamannya. Di mana di lantai dua tersebut hanya ada kamar tidur Ara, mini playground, ruang olah raga dan dua kamar tamu yang kosong.

Fisiknya yang lelah setelah bekerja dan perjalanan dari luar kota, seketika lenyap hilang entah ke mana. Berganti rasa cemas tak karuan.

"Ara," gumam Langit yang langsung tertuju pada putrinya yang dikenal sebagai anak spesial atau berkebutuhan khusus. Dalam pikirannya, Langit menduga Ara tengah tantrum atau sedang menyakiti dirinya sendiri seperti yang pernah ia ketahui sebelumnya saat mereka masih tinggal di Jogja. Setelah dirinya baru tersadar ketika Ara divonis autisme ringan.

Tap...tap...tap...

Langkah kakinya bergegas naik ke atas melalui tangga menuju kamar Ara.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

next

2024-10-31

1

karin Ke

karin Ke

ara,, putri Nanda kh kk author🤔🤔🤔🤔🤔🤔

2024-08-10

1

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

tu kaula jahat banget siih.jgn2 arra bukan putri kandungnya sendiri.

2024-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Perundungan
2 Bab 2 - Bunda Jangan Nangis
3 Bab 3 - Daftar Sekolah
4 Bab 4 - Hinaan
5 Bab 5 - Membacakan Dongeng
6 Bab 6 - Penyesalan
7 Bab 7 - Bertemu Pria Baik Hati
8 Bab 8 - Mulutmu Harimaumu
9 Bab 9 - Hari Pertama Sekolah
10 Bab 10 - Ara vs Elang
11 Bab 11 - Kemiripan
12 Bab 12 - Kawan Lama
13 Bab 13 - Tokcer Banget Euyy
14 Bab 14 - Ara Si Anak Spesial Yang Malang
15 Bab 15 - Emosi
16 Bab 16 - Ara Sakit
17 Bab 17 - Saling Berpelukan
18 Bab 18 - Mantan Kekasih
19 Bab 19 - Sakit Dan Rindu
20 Bab 20 - Tetangga Julid
21 Bab 21 - Tamparan
22 Bab 22 - Benih Cinta Kita
23 Bab 23 - Berbagi Bekal
24 Bab 24 - Siapa Nama Papamu ?
25 Bab 25 - Bermain Bersama
26 Bab 26 - Cinta Terlarang
27 Bab 27 - Who Is She?
28 Bab 28 - Kehilangan Jejak
29 Bab 29 - Rencana Kayla
30 Bab 30 - Bertemu Bu Merry
31 Bab 31 - Musibah Membawa Berkah
32 Bab 32 - Pertemuan Perdana Edo dan Ara
33 Bab 33 - Syok
34 Bab 34 - Pertengkaran
35 Bab 35 - Keluarga Sastro
36 Bab 36 - Menghabisi Atau Dihabisi ?
37 Bab 37 - Elang Rindu Ara
38 Bab 38 - Jogjakarta
39 Bab 39 - Sahabat Rasa Saudara
40 Bab 40 - Kampus Penuh Kenangan
41 Bab 41 - Pertemuan Perdana Setelah Sekian Lama
42 Bab 42 - Cemburu Tak Kasat Mata
43 Bab 43 - Alden Oh, Alden
44 Bab 44 - Porak Poranda
45 Bab 45 - Hampir Tenggelam
46 Bab 46 - Hamil Lagi ?
47 Bab 47 - Sidang Ala Binar
48 Bab 48 - File
49 Bab 49 - Nasehat Binar
50 Bab 50 - Jejak Digital
51 Bab 51 - Drama Megalodon
52 Bab 52 - Map Usang
53 Bab 53 - Kenyataan Pahit
54 Bab 54 - Mertua vs Menantu Kesayangan
55 Bab 55 - Egois
56 Bab 56 - Ara Menghilang
57 Bab 57 - Mencari Ara
58 Bab 58 - Pertemuan Tak Terduga
59 Bab 59 - Momen Terakhir Bersama Charlie
60 Bab 60 - Wasiat
61 Bab 61 - Masih Sebatas Dugaan
62 Bab 62 - Skakmatt !!
63 Bab 63 - Perubahan Elang
64 Bab 64 - Semakin Kacau
65 Bab 65 - Masuk IGD
66 Bab 66 - Janda Tajir
67 Bab 67 - Langit vs Alea
68 Bab 68 - Rekaman CCTV
69 Bab 69 - Maafkan Papa
70 Iklan Sejenak
71 Bab 70 - Tamu di Rumah Komandan
72 Bab 71 - Kondisi Ara
73 Bab 72 - Kecurigaan ?
74 Bab 73 - Golongan Darah
75 Bab 74 - Perselingkuhan
76 Bab 75 - Bersiap Pergi
77 Bab 76 - Menjenguk Ara
78 Bab 77 - Siapa Namanya ?
79 Bab 78 - Permintaan Maaf Elang
80 Bab 79 - Saksi Bisu Malam Itu
81 Bab 80 - Sudah Pindah
82 Bab 81 - Sepucuk Surat
83 Bab 82 - Saran Komandan
84 Bab 83 - Hasil Tes DNA
85 Bab 84 - Mendesak Kayla Berbicara
86 Bab 85 - Talak
87 Bab 86 - Syok
88 Bab 87 - Tahi Lalat
89 Bab 88 - Edo dan Kayla (1)
90 Bab 89 - Edo dan Kayla (2)
91 Bab 90 - Darah
92 Bab 91 - Bed Rest
93 Bab 92 - Menemui Binar
94 Bab 93 - Senyumlah Syukuri Hidupmu
95 Bab 94 - Dilarikan ke Rumah Sakit
96 Bab 95 - Minta Sun
97 Bab 96 - Menceritakan Semuanya
98 Bab 97 - Butuh Kesabaran
99 Bab 98 - Maafkan Bunda, Sayang.
100 Bab 99 - Masih Dalam Kebekuan
101 Bab 100 - Adik Kandung Abang (Saudara Kembar)
102 Bab 101 - Butuh Waktu
103 Bab 102 - Ayah
104 Bab 103 - Berita Viral
105 Bab 104 - Tak Ingin Hancur Sendirian
106 Bab 105 - Resmi Bercerai
107 Bab 106 - Di Ujung Tanduk (Pernikahan Edo dan Silvia)
108 Bab 107 - Bersimbah Darah
109 Bab 108 - Semakin Frustasi (Edo)
110 Bab 109 - Mendadak Drop
111 Bab 110 - Janji Suci Pernikahan
112 Bab 111 - Mega Skandal (Aib Masa Lalu)
113 Bab 112 - Klarifikasi
114 Bab 113 - Operasi
115 Bab 114 - Setelah Operasi
116 Bab 115 - Maaf dan Air Mata Penyesalan
117 Bab 116 - Acara Syukuran
118 Bab 117 - Kebebasan Rahmat
119 Bab 118 - Bias Ara di Masa Lalu
120 Bab 119 - Tabur Tuai
121 Bab 120 - Kebahagiaan Sejati (LADA with ERA)
122 INFO & GA
123 Extra Chapter 1 - Persiapan ke Bali
124 Extra Chapter 2 - The Island of Paradise
125 Extra Chapter 3 - Buah Dari Kesabaran
126 Extra Chapter 4 - Paris Van Java
127 Extra Chapter 5 - Acara Lamaran Yumna dan Alden
128 Extra Chapter 6 - Hamil
129 Last Bonus Chapter - Permata Hatiku
130 Spoiler Next Novel Othor Tidak Solehot
131 Launching Novel Baru
132 Promo Novel Baru
133 PROMO KARYA BARU
134 PROMO KARYA BARU
135 PROMO KARYA BARU
136 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 136 Episodes

1
Bab 1 - Perundungan
2
Bab 2 - Bunda Jangan Nangis
3
Bab 3 - Daftar Sekolah
4
Bab 4 - Hinaan
5
Bab 5 - Membacakan Dongeng
6
Bab 6 - Penyesalan
7
Bab 7 - Bertemu Pria Baik Hati
8
Bab 8 - Mulutmu Harimaumu
9
Bab 9 - Hari Pertama Sekolah
10
Bab 10 - Ara vs Elang
11
Bab 11 - Kemiripan
12
Bab 12 - Kawan Lama
13
Bab 13 - Tokcer Banget Euyy
14
Bab 14 - Ara Si Anak Spesial Yang Malang
15
Bab 15 - Emosi
16
Bab 16 - Ara Sakit
17
Bab 17 - Saling Berpelukan
18
Bab 18 - Mantan Kekasih
19
Bab 19 - Sakit Dan Rindu
20
Bab 20 - Tetangga Julid
21
Bab 21 - Tamparan
22
Bab 22 - Benih Cinta Kita
23
Bab 23 - Berbagi Bekal
24
Bab 24 - Siapa Nama Papamu ?
25
Bab 25 - Bermain Bersama
26
Bab 26 - Cinta Terlarang
27
Bab 27 - Who Is She?
28
Bab 28 - Kehilangan Jejak
29
Bab 29 - Rencana Kayla
30
Bab 30 - Bertemu Bu Merry
31
Bab 31 - Musibah Membawa Berkah
32
Bab 32 - Pertemuan Perdana Edo dan Ara
33
Bab 33 - Syok
34
Bab 34 - Pertengkaran
35
Bab 35 - Keluarga Sastro
36
Bab 36 - Menghabisi Atau Dihabisi ?
37
Bab 37 - Elang Rindu Ara
38
Bab 38 - Jogjakarta
39
Bab 39 - Sahabat Rasa Saudara
40
Bab 40 - Kampus Penuh Kenangan
41
Bab 41 - Pertemuan Perdana Setelah Sekian Lama
42
Bab 42 - Cemburu Tak Kasat Mata
43
Bab 43 - Alden Oh, Alden
44
Bab 44 - Porak Poranda
45
Bab 45 - Hampir Tenggelam
46
Bab 46 - Hamil Lagi ?
47
Bab 47 - Sidang Ala Binar
48
Bab 48 - File
49
Bab 49 - Nasehat Binar
50
Bab 50 - Jejak Digital
51
Bab 51 - Drama Megalodon
52
Bab 52 - Map Usang
53
Bab 53 - Kenyataan Pahit
54
Bab 54 - Mertua vs Menantu Kesayangan
55
Bab 55 - Egois
56
Bab 56 - Ara Menghilang
57
Bab 57 - Mencari Ara
58
Bab 58 - Pertemuan Tak Terduga
59
Bab 59 - Momen Terakhir Bersama Charlie
60
Bab 60 - Wasiat
61
Bab 61 - Masih Sebatas Dugaan
62
Bab 62 - Skakmatt !!
63
Bab 63 - Perubahan Elang
64
Bab 64 - Semakin Kacau
65
Bab 65 - Masuk IGD
66
Bab 66 - Janda Tajir
67
Bab 67 - Langit vs Alea
68
Bab 68 - Rekaman CCTV
69
Bab 69 - Maafkan Papa
70
Iklan Sejenak
71
Bab 70 - Tamu di Rumah Komandan
72
Bab 71 - Kondisi Ara
73
Bab 72 - Kecurigaan ?
74
Bab 73 - Golongan Darah
75
Bab 74 - Perselingkuhan
76
Bab 75 - Bersiap Pergi
77
Bab 76 - Menjenguk Ara
78
Bab 77 - Siapa Namanya ?
79
Bab 78 - Permintaan Maaf Elang
80
Bab 79 - Saksi Bisu Malam Itu
81
Bab 80 - Sudah Pindah
82
Bab 81 - Sepucuk Surat
83
Bab 82 - Saran Komandan
84
Bab 83 - Hasil Tes DNA
85
Bab 84 - Mendesak Kayla Berbicara
86
Bab 85 - Talak
87
Bab 86 - Syok
88
Bab 87 - Tahi Lalat
89
Bab 88 - Edo dan Kayla (1)
90
Bab 89 - Edo dan Kayla (2)
91
Bab 90 - Darah
92
Bab 91 - Bed Rest
93
Bab 92 - Menemui Binar
94
Bab 93 - Senyumlah Syukuri Hidupmu
95
Bab 94 - Dilarikan ke Rumah Sakit
96
Bab 95 - Minta Sun
97
Bab 96 - Menceritakan Semuanya
98
Bab 97 - Butuh Kesabaran
99
Bab 98 - Maafkan Bunda, Sayang.
100
Bab 99 - Masih Dalam Kebekuan
101
Bab 100 - Adik Kandung Abang (Saudara Kembar)
102
Bab 101 - Butuh Waktu
103
Bab 102 - Ayah
104
Bab 103 - Berita Viral
105
Bab 104 - Tak Ingin Hancur Sendirian
106
Bab 105 - Resmi Bercerai
107
Bab 106 - Di Ujung Tanduk (Pernikahan Edo dan Silvia)
108
Bab 107 - Bersimbah Darah
109
Bab 108 - Semakin Frustasi (Edo)
110
Bab 109 - Mendadak Drop
111
Bab 110 - Janji Suci Pernikahan
112
Bab 111 - Mega Skandal (Aib Masa Lalu)
113
Bab 112 - Klarifikasi
114
Bab 113 - Operasi
115
Bab 114 - Setelah Operasi
116
Bab 115 - Maaf dan Air Mata Penyesalan
117
Bab 116 - Acara Syukuran
118
Bab 117 - Kebebasan Rahmat
119
Bab 118 - Bias Ara di Masa Lalu
120
Bab 119 - Tabur Tuai
121
Bab 120 - Kebahagiaan Sejati (LADA with ERA)
122
INFO & GA
123
Extra Chapter 1 - Persiapan ke Bali
124
Extra Chapter 2 - The Island of Paradise
125
Extra Chapter 3 - Buah Dari Kesabaran
126
Extra Chapter 4 - Paris Van Java
127
Extra Chapter 5 - Acara Lamaran Yumna dan Alden
128
Extra Chapter 6 - Hamil
129
Last Bonus Chapter - Permata Hatiku
130
Spoiler Next Novel Othor Tidak Solehot
131
Launching Novel Baru
132
Promo Novel Baru
133
PROMO KARYA BARU
134
PROMO KARYA BARU
135
PROMO KARYA BARU
136
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!