Bab 10 - Ara vs Elang

Saat pembelajaran berlangsung, Ara terus menatap Elang. Ia sedang tidak fokus pada pelajarannya.

Bocah berbulu mata lentik nan cantik ini sedang fokus pada sosok Elang Perwira Legenda yang duduk di sampingnya. Elang pun merasakan seseorang yang ada di sampingnya ini tengah memperhatikan dirinya. Walaupun dirinya buta, tetapi ia peka dengan sekitarnya. Terlebih saat dirinya terjaga seperti sekarang ini.

"Kenapa kamu ngelihatin aku terus? Apa ada yang salah di wajahku?" tanya Elang tiba-tiba dan hal itu sontak membuyarkan lamunan Ara.

"Hihi..."

"Kakak uta-uta bica tahu uga telnyata. Ini uta na boongan ya," ledek Ara seraya jarinya mencolek-colek mata Elang.

Elang pun hanya diam membiarkan bocah perempuan yang baru ia kenal sekarang ini menuduh jika dirinya buta bohongan. Ia tahu bocah perempuan ini bercanda padanya. Hanya sekedar menggodanya saja. Ia sangat tahu dari nada pembicaraan Ara. Tidak tersirat sama sekali jika Ara menghina maupun mengejek kebutaannya.

Sehingga ia membiarkan Ara terus berceloteh. Bocah yang menurutnya usil tapi lucu. Ia tak marah pada Ara. Sebab ia jarang punya teman seperti ini.

Tiba-tiba Ara mengambil pensil Elang tanpa aba-aba.

Grepp...

Pensil Elang langsung berpindah tangan dengan cepat pada tangan mungil Ara yang begitu lihai.

"Eh, pensilku. Kembalikan," pinta Elang yang terkejut. Namun ia tetap meminta pensilnya dengan baik-baik pada Ara.

"Pinjem dulu bental," ucap Ara. Mendadak entah mengapa di dalam kelas tepatnya di sekolah yang sekarang ini, Ara banyak berceloteh dan berinteraksi dengan temannya seperti saat ini. Padahal dulu-dulu ia tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya di sekolahnya. Lebih banyak diam.

"Kalau kamu pakai pensilku, terus aku nulis pakai apa?" tanya Elang yang berusaha sabar menghadapi Ara.

"Janan pelit !"

"Ental wajah Kakak yang tampan berubah jadi jelek," ucap Ara yang tengah sibuk menggambar sesuatu di kertas miliknya.

"Kamu bisa minta Bu Guru pensil kalau lupa bawa," saran Elang. Sebab memang sekolah juga menyediakan alat tulis cadangan jika ada murid yang tak membawa peralatan sekolah.

"Malas. Minta saja sendili ke Bu Gulu," ucap Ara lirih namun dengan nada menekan.

"Huft !!" keluh Elang.

Hening pun tercipta di antara kedua bocah tersebut yang duduk di bagian belakang. Tiba-tiba Elang pun bersuara kembali setelah mengingat sesuatu.

"Namaku Elang. Namamu siapa?"

"Buat apa tau namaku? Mau culik aku ya? Hehe..." ledek Ara.

"Pasti kamu kurus. Malas culik bocah perempuan kurus. Enggak asyik," balas Elang. Mendadak ia ikut terpancing meledek Ara.

"Kurus-kurus begini, aku kuat tau!" balas Ara yang tak mau kalah.

"Kamu yang ceburin aku ke kolam ya waktu itu?" tanya Elang yang sekedar menebak.

Entah mengapa feelingnya begitu kuat pada bocah perempuan yang duduk di sebelahnya ini sebagai tersangka yang membuat dirinya basah kuyup. Padahal dahulu keduanya belum sempat berkenalan.

"Endak," jawab Ara sengaja berbohong. Ia tak mau mengaku pada Elang jika memang dirinya pelaku atas kejadian di kolam waktu itu.

"Enak ajah nuduh olang cembalangan!"

"Aku lapolin Papaku biar nanti kakak ditangkep. Mau?"

Deg...

Mendengar kata Ayah atau Papa yang keluar dari bibir Ara, mendadak hati Elang mencelos. Ia teringat dengan ayah kandungnya yang bernama Laksono.

Apa kabar dengan Ayah kandungnya ?

Apakah Ayah kandungnya tidak rindu padanya ?

Apa Ayah kandungnya tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini sehingga tidak pernah datang menemuinya ?

Ribuan pertanyaan yang hinggap di hatinya sejak dahulu namun hingga saat ini belum juga ia dapatkan jawabannya. Sungguh sesak dadanya kala mendengar Ara menyebut kata Papa di telinganya.

Rindu. Tentu ia sangat rindu dengan pelukan seorang Ayah yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Bahkan kata sang ibu, Ayah Charlie tak sempat memeluk dirinya yang baru terlahir di dunia ini. Tuhan memanggilnya terlebih dahulu. Meninggalkan kesedihan mendalam bagi ibunya dan juga dirinya.

Malaikat tak bersayap. Ia sematkan pada sosok Ayah Charlie yang belum sempat ia lihat fotonya seperti apa. Dirinya hanya menyapa Ayah Charlie dalam setiap bait doa yang ia langitkan dan juga ketika sedang berziarah ke makamnya.

Sedangkan untuk ayah kandungnya, ia hanya berdoa agar sang Ayah sehat selalu. Bibirnya terasa kelu untuk berdoa meminta agar ayahnya segera datang padanya. Sebab doa utama baginya setiap selesai salat hanya satu. Bisa melihat wajah ibunya, Nanda Maheswari. Wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang rela mempertahankannya dan tak membunuhnya saat masih dalam kandungan. Wanita yang rela dan ikhlas pontang-panting sendirian demi menghidupi dan membahagiakannya.

Suurga di telapak kaki ibu. Cocok disematkan pada seorang Nanda Maheswari di benak Elang Perwira Legenda.

Ia pernah mendengar selentingan omongan tetangganya jika dirinya adalah anak haram. Sebab Ayahnya seorang bule tetapi dirinya berparas pribumi. Tak ada darah bule sama sekali yang terpampang nyata di fisiknya. Itu yang dilontarkan oleh tetangganya yang bergunjing di belakang dirinya dan sang ibu.

Namun ibunya tak pernah membalas omongan tetangganya. Sang ibu selalu meminta dirinya untuk fokus pada urusan belajar dan sekolah. Terkadang dalam kehidupan yang keras ini memang diperlukan rasa cuek dan menutup telinga kita untuk hal-hal tidak penting. Hanya membuang tenaga jika kita terus menanggapinya. Justru semakin membuat besar kepala orang yang menggunjing kita.

Karena kita sebagai manusia hanya memiliki dua tangan dan tak bisa menutup mulut semua orang. Cukup dua tangan tersebut digunakan untuk berdoa pada Tuhan selaku Sang Pemilik Kehidupan di muka bumi ini.

Baginya masa lalu orang tuanya adalah milik ibu dan ayah kandungnya. Ia memilih tidak terlalu peduli dengan omongan orang lain.

Ia hanya percaya satu orang di muka bumi ini yakni ibunya, Nanda Maheswari.

Dirinya juga tak ingin banyak bertanya pada sang ibu tentang ayah kandungnya dan masa lalu yang terjadi antara keduanya. Ia takut melukai hati ibunya.

☘️☘️

Jam istirahat pun tiba, Elang saat ini tengah berada di taman sekolah bersama ibunya. Nanda telah menyiapkan bekal untuk putranya. Ia berusaha memberikan makanan yang bergizi untuk Elang. Jika untuk dirinya, tak begitu penting mau makan apa pun juga ia bisa. Nasi dan sepotong tahu goreng buatnya sudah mewah untuk dirinya sendiri.

"Tara..." sorak ceria Nanda membuka bekal milik putranya. Bekal yang ia buat sendiri dengan tangannya. Ia buat penuh cinta dan kasih sayang untuk Elang Perwira Legenda sepanjang nafasnya masih berhembus.

Gema tasbih selalu ia langitkan terutama untuk kesehatan dirinya dan juga putranya. Baginya, sehat itu sangat mahal harganya. Dengan sehat, ia bisa bekerja dan melakukan banyak hal bersama putranya tersebut. Membuat kenangan indah sebanyak-banyaknya. Karena kenangan yang tercipta tak harus pergi ke tempat-tempat yang mahal. Ke pasar malam yang murah meriah saja, keduanya sudah sangat bahagia.

"Ayo kita makan sayang," ucap Nanda pada putranya dengan penuh semangat.

"Bunda memang the best pokoknya. Selalu bikinin aku makanan yang enak-enak. Makin sayang aku sama Bunda," ucap Elang seraya memeluk Bundanya dengan penuh senyuman bahagia.

"Eh, anak gantengnya Bunda tumben manja-manja begini sambil peluk Bunda. Hehe..." ucap Nanda seraya terkekeh.

"Ini di tempat umum, Nak. Bunda malu," bisik Nanda seraya tertawa kecil. Ia hanya berniat menggoda putranya saja. Tentunya ibu mana di dunia ini yang tak terharu dipeluk hangat secara tiba-tiba oleh putranya yang tak sungkan untuk mengungkapkan rasa cintanya di depan umum.

Sedangkan dari jarak yang tak begitu jauh, Ara melihat keakraban Elang bersama sosok wanita yang tentunya Ara bisa menebak dari gestur keduanya. Pasti wanita itu adalah ibu Elang.

Dalam hati bocah perempuan yang berbulu mata lentik ini sejujurnya sangat iri pada Elang yang terlihat begitu disayang oleh ibunya. Bahkan dibuatkan bekal dan disuapin. Keduanya saat ini bahkan tengah saling menyuapi. Walaupun Elang tak bisa melihat, tetapi ia bisa menyuapi Nanda perlahan-lahan dengan diarahkan oleh ibunya.

Sedangkan dirinya tak pernah diperlakukan oleh sang Mama seperti itu. Matanya tengah berkaca-kaca menatap kehangatan yang terpancar jelas di depannya saat ini. Sekali kedip pasti air mata itu akan langsung membasahi pipi bocah cantik ini.

Bik Sari tengah kebingungan mencari Ara. Sebab ia tadi sedang buang air kecil. Dan saat kembali ke kelas, ternyata murid dan para orang tua sudah tidak ada karena sedang jam istirahat.

Tes...

Tes...

Air mata itu akhirnya luruh juga di pipi Ara.

"Mama," gumam Ara lirih.

Seketika Nanda menoleh dan tanpa sengaja matanya bersirobok dalam satu pandangan garis lurus yang sama ke tempat Ara berdiri. Keduanya saling bertatapan dalam diam dengan terpisah jarak beberapa langkah saja. Nanda yang duduk di bangku taman sekolah bersama Elang. Sedangkan Ara berdiri di sebelah pohon sambil menatap ke arah Nanda.

Deg...

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Leni

Leni

gadis nyebelin

2024-11-19

1

Neulis Saja

Neulis Saja

gabung aja dgn ibunya elang tapi awas kamu Ara jgn nakal sama elang kasihanlah

2024-10-30

0

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

kasihan ni anak kurang ksh sayang

2024-10-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Perundungan
2 Bab 2 - Bunda Jangan Nangis
3 Bab 3 - Daftar Sekolah
4 Bab 4 - Hinaan
5 Bab 5 - Membacakan Dongeng
6 Bab 6 - Penyesalan
7 Bab 7 - Bertemu Pria Baik Hati
8 Bab 8 - Mulutmu Harimaumu
9 Bab 9 - Hari Pertama Sekolah
10 Bab 10 - Ara vs Elang
11 Bab 11 - Kemiripan
12 Bab 12 - Kawan Lama
13 Bab 13 - Tokcer Banget Euyy
14 Bab 14 - Ara Si Anak Spesial Yang Malang
15 Bab 15 - Emosi
16 Bab 16 - Ara Sakit
17 Bab 17 - Saling Berpelukan
18 Bab 18 - Mantan Kekasih
19 Bab 19 - Sakit Dan Rindu
20 Bab 20 - Tetangga Julid
21 Bab 21 - Tamparan
22 Bab 22 - Benih Cinta Kita
23 Bab 23 - Berbagi Bekal
24 Bab 24 - Siapa Nama Papamu ?
25 Bab 25 - Bermain Bersama
26 Bab 26 - Cinta Terlarang
27 Bab 27 - Who Is She?
28 Bab 28 - Kehilangan Jejak
29 Bab 29 - Rencana Kayla
30 Bab 30 - Bertemu Bu Merry
31 Bab 31 - Musibah Membawa Berkah
32 Bab 32 - Pertemuan Perdana Edo dan Ara
33 Bab 33 - Syok
34 Bab 34 - Pertengkaran
35 Bab 35 - Keluarga Sastro
36 Bab 36 - Menghabisi Atau Dihabisi ?
37 Bab 37 - Elang Rindu Ara
38 Bab 38 - Jogjakarta
39 Bab 39 - Sahabat Rasa Saudara
40 Bab 40 - Kampus Penuh Kenangan
41 Bab 41 - Pertemuan Perdana Setelah Sekian Lama
42 Bab 42 - Cemburu Tak Kasat Mata
43 Bab 43 - Alden Oh, Alden
44 Bab 44 - Porak Poranda
45 Bab 45 - Hampir Tenggelam
46 Bab 46 - Hamil Lagi ?
47 Bab 47 - Sidang Ala Binar
48 Bab 48 - File
49 Bab 49 - Nasehat Binar
50 Bab 50 - Jejak Digital
51 Bab 51 - Drama Megalodon
52 Bab 52 - Map Usang
53 Bab 53 - Kenyataan Pahit
54 Bab 54 - Mertua vs Menantu Kesayangan
55 Bab 55 - Egois
56 Bab 56 - Ara Menghilang
57 Bab 57 - Mencari Ara
58 Bab 58 - Pertemuan Tak Terduga
59 Bab 59 - Momen Terakhir Bersama Charlie
60 Bab 60 - Wasiat
61 Bab 61 - Masih Sebatas Dugaan
62 Bab 62 - Skakmatt !!
63 Bab 63 - Perubahan Elang
64 Bab 64 - Semakin Kacau
65 Bab 65 - Masuk IGD
66 Bab 66 - Janda Tajir
67 Bab 67 - Langit vs Alea
68 Bab 68 - Rekaman CCTV
69 Bab 69 - Maafkan Papa
70 Iklan Sejenak
71 Bab 70 - Tamu di Rumah Komandan
72 Bab 71 - Kondisi Ara
73 Bab 72 - Kecurigaan ?
74 Bab 73 - Golongan Darah
75 Bab 74 - Perselingkuhan
76 Bab 75 - Bersiap Pergi
77 Bab 76 - Menjenguk Ara
78 Bab 77 - Siapa Namanya ?
79 Bab 78 - Permintaan Maaf Elang
80 Bab 79 - Saksi Bisu Malam Itu
81 Bab 80 - Sudah Pindah
82 Bab 81 - Sepucuk Surat
83 Bab 82 - Saran Komandan
84 Bab 83 - Hasil Tes DNA
85 Bab 84 - Mendesak Kayla Berbicara
86 Bab 85 - Talak
87 Bab 86 - Syok
88 Bab 87 - Tahi Lalat
89 Bab 88 - Edo dan Kayla (1)
90 Bab 89 - Edo dan Kayla (2)
91 Bab 90 - Darah
92 Bab 91 - Bed Rest
93 Bab 92 - Menemui Binar
94 Bab 93 - Senyumlah Syukuri Hidupmu
95 Bab 94 - Dilarikan ke Rumah Sakit
96 Bab 95 - Minta Sun
97 Bab 96 - Menceritakan Semuanya
98 Bab 97 - Butuh Kesabaran
99 Bab 98 - Maafkan Bunda, Sayang.
100 Bab 99 - Masih Dalam Kebekuan
101 Bab 100 - Adik Kandung Abang (Saudara Kembar)
102 Bab 101 - Butuh Waktu
103 Bab 102 - Ayah
104 Bab 103 - Berita Viral
105 Bab 104 - Tak Ingin Hancur Sendirian
106 Bab 105 - Resmi Bercerai
107 Bab 106 - Di Ujung Tanduk (Pernikahan Edo dan Silvia)
108 Bab 107 - Bersimbah Darah
109 Bab 108 - Semakin Frustasi (Edo)
110 Bab 109 - Mendadak Drop
111 Bab 110 - Janji Suci Pernikahan
112 Bab 111 - Mega Skandal (Aib Masa Lalu)
113 Bab 112 - Klarifikasi
114 Bab 113 - Operasi
115 Bab 114 - Setelah Operasi
116 Bab 115 - Maaf dan Air Mata Penyesalan
117 Bab 116 - Acara Syukuran
118 Bab 117 - Kebebasan Rahmat
119 Bab 118 - Bias Ara di Masa Lalu
120 Bab 119 - Tabur Tuai
121 Bab 120 - Kebahagiaan Sejati (LADA with ERA)
122 INFO & GA
123 Extra Chapter 1 - Persiapan ke Bali
124 Extra Chapter 2 - The Island of Paradise
125 Extra Chapter 3 - Buah Dari Kesabaran
126 Extra Chapter 4 - Paris Van Java
127 Extra Chapter 5 - Acara Lamaran Yumna dan Alden
128 Extra Chapter 6 - Hamil
129 Last Bonus Chapter - Permata Hatiku
130 Spoiler Next Novel Othor Tidak Solehot
131 Launching Novel Baru
132 Promo Novel Baru
133 PROMO KARYA BARU
134 PROMO KARYA BARU
135 PROMO KARYA BARU
136 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 136 Episodes

1
Bab 1 - Perundungan
2
Bab 2 - Bunda Jangan Nangis
3
Bab 3 - Daftar Sekolah
4
Bab 4 - Hinaan
5
Bab 5 - Membacakan Dongeng
6
Bab 6 - Penyesalan
7
Bab 7 - Bertemu Pria Baik Hati
8
Bab 8 - Mulutmu Harimaumu
9
Bab 9 - Hari Pertama Sekolah
10
Bab 10 - Ara vs Elang
11
Bab 11 - Kemiripan
12
Bab 12 - Kawan Lama
13
Bab 13 - Tokcer Banget Euyy
14
Bab 14 - Ara Si Anak Spesial Yang Malang
15
Bab 15 - Emosi
16
Bab 16 - Ara Sakit
17
Bab 17 - Saling Berpelukan
18
Bab 18 - Mantan Kekasih
19
Bab 19 - Sakit Dan Rindu
20
Bab 20 - Tetangga Julid
21
Bab 21 - Tamparan
22
Bab 22 - Benih Cinta Kita
23
Bab 23 - Berbagi Bekal
24
Bab 24 - Siapa Nama Papamu ?
25
Bab 25 - Bermain Bersama
26
Bab 26 - Cinta Terlarang
27
Bab 27 - Who Is She?
28
Bab 28 - Kehilangan Jejak
29
Bab 29 - Rencana Kayla
30
Bab 30 - Bertemu Bu Merry
31
Bab 31 - Musibah Membawa Berkah
32
Bab 32 - Pertemuan Perdana Edo dan Ara
33
Bab 33 - Syok
34
Bab 34 - Pertengkaran
35
Bab 35 - Keluarga Sastro
36
Bab 36 - Menghabisi Atau Dihabisi ?
37
Bab 37 - Elang Rindu Ara
38
Bab 38 - Jogjakarta
39
Bab 39 - Sahabat Rasa Saudara
40
Bab 40 - Kampus Penuh Kenangan
41
Bab 41 - Pertemuan Perdana Setelah Sekian Lama
42
Bab 42 - Cemburu Tak Kasat Mata
43
Bab 43 - Alden Oh, Alden
44
Bab 44 - Porak Poranda
45
Bab 45 - Hampir Tenggelam
46
Bab 46 - Hamil Lagi ?
47
Bab 47 - Sidang Ala Binar
48
Bab 48 - File
49
Bab 49 - Nasehat Binar
50
Bab 50 - Jejak Digital
51
Bab 51 - Drama Megalodon
52
Bab 52 - Map Usang
53
Bab 53 - Kenyataan Pahit
54
Bab 54 - Mertua vs Menantu Kesayangan
55
Bab 55 - Egois
56
Bab 56 - Ara Menghilang
57
Bab 57 - Mencari Ara
58
Bab 58 - Pertemuan Tak Terduga
59
Bab 59 - Momen Terakhir Bersama Charlie
60
Bab 60 - Wasiat
61
Bab 61 - Masih Sebatas Dugaan
62
Bab 62 - Skakmatt !!
63
Bab 63 - Perubahan Elang
64
Bab 64 - Semakin Kacau
65
Bab 65 - Masuk IGD
66
Bab 66 - Janda Tajir
67
Bab 67 - Langit vs Alea
68
Bab 68 - Rekaman CCTV
69
Bab 69 - Maafkan Papa
70
Iklan Sejenak
71
Bab 70 - Tamu di Rumah Komandan
72
Bab 71 - Kondisi Ara
73
Bab 72 - Kecurigaan ?
74
Bab 73 - Golongan Darah
75
Bab 74 - Perselingkuhan
76
Bab 75 - Bersiap Pergi
77
Bab 76 - Menjenguk Ara
78
Bab 77 - Siapa Namanya ?
79
Bab 78 - Permintaan Maaf Elang
80
Bab 79 - Saksi Bisu Malam Itu
81
Bab 80 - Sudah Pindah
82
Bab 81 - Sepucuk Surat
83
Bab 82 - Saran Komandan
84
Bab 83 - Hasil Tes DNA
85
Bab 84 - Mendesak Kayla Berbicara
86
Bab 85 - Talak
87
Bab 86 - Syok
88
Bab 87 - Tahi Lalat
89
Bab 88 - Edo dan Kayla (1)
90
Bab 89 - Edo dan Kayla (2)
91
Bab 90 - Darah
92
Bab 91 - Bed Rest
93
Bab 92 - Menemui Binar
94
Bab 93 - Senyumlah Syukuri Hidupmu
95
Bab 94 - Dilarikan ke Rumah Sakit
96
Bab 95 - Minta Sun
97
Bab 96 - Menceritakan Semuanya
98
Bab 97 - Butuh Kesabaran
99
Bab 98 - Maafkan Bunda, Sayang.
100
Bab 99 - Masih Dalam Kebekuan
101
Bab 100 - Adik Kandung Abang (Saudara Kembar)
102
Bab 101 - Butuh Waktu
103
Bab 102 - Ayah
104
Bab 103 - Berita Viral
105
Bab 104 - Tak Ingin Hancur Sendirian
106
Bab 105 - Resmi Bercerai
107
Bab 106 - Di Ujung Tanduk (Pernikahan Edo dan Silvia)
108
Bab 107 - Bersimbah Darah
109
Bab 108 - Semakin Frustasi (Edo)
110
Bab 109 - Mendadak Drop
111
Bab 110 - Janji Suci Pernikahan
112
Bab 111 - Mega Skandal (Aib Masa Lalu)
113
Bab 112 - Klarifikasi
114
Bab 113 - Operasi
115
Bab 114 - Setelah Operasi
116
Bab 115 - Maaf dan Air Mata Penyesalan
117
Bab 116 - Acara Syukuran
118
Bab 117 - Kebebasan Rahmat
119
Bab 118 - Bias Ara di Masa Lalu
120
Bab 119 - Tabur Tuai
121
Bab 120 - Kebahagiaan Sejati (LADA with ERA)
122
INFO & GA
123
Extra Chapter 1 - Persiapan ke Bali
124
Extra Chapter 2 - The Island of Paradise
125
Extra Chapter 3 - Buah Dari Kesabaran
126
Extra Chapter 4 - Paris Van Java
127
Extra Chapter 5 - Acara Lamaran Yumna dan Alden
128
Extra Chapter 6 - Hamil
129
Last Bonus Chapter - Permata Hatiku
130
Spoiler Next Novel Othor Tidak Solehot
131
Launching Novel Baru
132
Promo Novel Baru
133
PROMO KARYA BARU
134
PROMO KARYA BARU
135
PROMO KARYA BARU
136
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!