Setelah sampai di bandara, Karel memarkirkan mobilnya dengan asal dan langsung berlarian mencari Ellen. Tangannya merogoh ponsel di sakunya untuk menanyakan dimana keberadaan kakaknya itu.
Setelah melihat foto yang dikirim Ellen, Karel langsung mengedarkan pandangannya. Beberapa detik kemudian, ia pun menemukan perempuan berkepang dua yang memakai topi persis seperti foto yang Ellen kirim beberapa menit lalu.
Kakinya kembali melangkah mendekat kearah Ellen yang hanya diam sepertinya sedang melamun. Sebenarnya ia mau memarahi Ellen karena sudah membuatnya kesal, tapi ia urungkan karena melihat kakaknya seperti sedang tidak baik-baik saja.
"Kak" panggil Karel pelan
Ellen mendongakkan kepalanya perlahan menatap Karel. "Hmm" balas Ellen hanya dengan deheman.
Kebanyakan orang saat baru bertemu setelah sekian lama akan sangat bahagia. Termasuk Karel, yang bahagia bisa bertemu Ellen kembali, tapi gadis itu sangat jauh berbeda saat terakhir kali Karel bertemu dengannya.
Jauh sangat berbeda. Karel tau jika Ellen pun merasa senang bertemu dengannya lagi. Hanya saja Karel tidak pernah berpikir bahwa perubahannya akan sejauh ini.
Melihat Ellen seperti ini rasanya Karel ingin menangis, ia tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Ellen, pasti ia tidak akan kuat. Karel pun langsung menarik Ellen kedalam pelukannya.
"Gue kangen banget sama Lo kak. Kenapa ga balik kesini dari dulu aja? Rasanya gue udah gagal jagain Lo" Karel semakin mengeratkan pelukannya saat Ellen hanya diam saja.
"Ayo pulang, gue capek Rel" setelah membalas singkat pelukan Karel, Ellen perlahan melepaskan pelukannya.
Mereka berdua berjalan keluar dari Bandara dan langsung masuk ke dalam mobil, Karel pun menjalankan mobilnya.
Sesekali Karel melirik Ellen yang sedari tadi hanya diam menatap kearah luar. jika di pikir-pikir ia seperti tidak mengenali Ellen, karena perubahan gadis itu sudah sangat jauh.
Kakaknya yang dulu memang pendiam, tapi sekarang terlihat jauh lebih dingin dan terlihat seperti tidak peduli dengan sekitarnya. Hati Karel terasa sakit melihat kakaknya seperti ini.
Sudah cukup jauh perjalanan mereka, tapi sepertinya ini bukan jalan ke rumah keluarga Dirgantara, lalu kemana Karel akan membawanya pergi, pikir Ellen.
"Ga langsung pulang?" tanya Ellen yang sedari tadi hanya diam.
"Masih inget jalan ke rumah juga Lo kak" kata Karel meledek Ellen.
"Gue ga hilang ingatan sampe harus lupa jalan ke rumah" balas Ellen ketus seraya memutar bola matanya malas.
"Bercanda kak" Karel tertawa mendengar jawaban ketus dari Ellen.
Ellen membuka masker yang sedari tadi di kenakannya dan hal itu tidak luput dari penglihatan Karel.
"Ini kakak gue bukan sih. Gila cakep banget." batin karel dalam hati. Entah sudah berapa lama Karel terus melirik Ellen.
"Gak takut mata Lo pindah ke samping?" tanya Ellen dengan kesal melihat kelakuan Karel yang terus mencuri-curi pandang padanya.
"Lo cantik banget sih. kaya bule, makanya gue ga bisa berhenti liatin muka Lo," balas Karel cengengesan.
"Ehh iya lupa. Lo kan emang bule kaya bapak Lo." Lanjut Karel cengengesan. Ellen hanya mendengus kesal menanggapi ocehan Karel.
Setelah perjalanan yang lumayan panjang akhirnya mereka sampai di sebuah pantai.
Tak ada pembicaraan apapun, Karel langsung keluar dari mobil dan di susul Ellen setelahnya. Keduanya menyandarkan tubuhnya di kap mobil. Masih dalam keheningan belum ada satupun dari mereka yang bicara.
"Kak" panggil Karel pelan
"Hmm"
"Maaf" terlihat rasa bersalah di mata Karel.
"Kenapa?"
"Gue gagal jagain Lo" keduanya berbicara menatap ke arah laut.
"Sakit banget ya Rel, di benci dan di anggap pembunuh sama orang yang kita sayang" kata Ellen dengan kekehan.
Karel langsung menatap ke arah Ellen. Dapat Karel lihat terdapat banyak kesedihan di mata gadis itu walaupun Ellen mengatakan itu dengan tawa.
"Maaf ya kak, gue beneran minta maaf sama Lo, gue bener-bener ga guna banget jadi adik Lo" lirih Karel seraya menatap Ellen dengan tatapan menyesal.
Ellen terkejut melihat mata Karel berkaca-kaca yang sepertinya sebentar lagi akan menangis.
"Kenapa jadi Lo yang nangis sih" Ellen tertawa sambil mengusap air mata Karel yang mulai menetes.
"Badan doang gede. Padahal aslinya cengeng banget" lanjut Ellen meledek Karel, tapi mata bocah itu masih saja mengeluarkan air mata.
"Mommy Elena pasti kecewa sama gue, karena gagal jagain Lo" kata Karel sambil menarik ingusnya. Membuat Ellen bingung harus ikut sedih atau malah tertawa.
"Bukan salah Lo. gue yang salah, harusnya Mommy ga nolongin gue. Harusnya gue yang pergi Rel, bukannya malah kaya gini." Gadis itu masih terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Gak! Lo ngomong apaan sih kak" Karel menggenggam tangan Ellen, meremasnya dengan pelan.
"Ini emang udah takdir kak. Mommy nolongin Lo karena emang takdir hidup Lo masih panjang dan jangan sia-siain pengorbanan Mommy Elena kaya gini" lanjut Karel tidak terima dengan apa yang sudah gadis itu katakan.
"Gue sayang sama Lo kak. Kalau Lo capek bilang ke gue, jangan diem aja" kata Karel meyakinkan Ellen. "Percaya sama gue ya" lanjut Karel.
"Lembek gini, gimana gue bisa percaya" tanya Ellen meledek. Karel yang kesal pun langsung mengangkat tubuh Ellen dan mendudukkannya di atas kap mobil.
"Ngapain sih Rel. Turunin gak! Gue tendang ke laut beneran Lo ya!" ancam Ellen tapi tidak Karel dengarkan sama sekali dan malah mengukung Ellen dengan kedua tangannya.
Jika ada yang melihat mereka berdua pasti berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena sejak tadi Ellen terus saja memberontak agar di turunkan.
"Lo ga pengen nangis gitu kak?" Ellen memutar bola matanya malas menanggapi Karel.
"Mom gak suka lihat gue nangis." Ellen memang tidak bohong tentang hal itu.
Dulu Elena memang pernah mengatakan jika dia tidak suka melihat putrinya menangis tapi dia tidak pernah mengatakan jika Ellen tidak boleh menangis.
"Gak suka bukan berarti gak boleh Kak. Lagian Mom juga bakal ngerti keadaan Lo kok." Gadis itu tidak menanggapi ocehan Karel lagi dan berharap bocah itu akan berhenti bicara.
"Orang kalo sedih itu nangis kak, bukannya ketawa. Apa jangan-jangan Lo stress ya makanya gitu" dengan kesal Ellen memukul kepala Karel.
Ia pikir setelah mengabaikan ocehan bocah itu, dia akan berhenti bicara tapi dugaan Ellen salah. Tidak salah bukan jika Ellen memukulnya karena sudah di biarkan malah makin ngelunjak.
"Ahh sakit kak" mengusap kepalanya yang terasa sedikit pusing. "Bercanda doang main mukul aja" walaupun merasa kesal tapi Karel tidak berani memarahi Ellen.
"Masih untung bukan mulut Lo yang gue pukul" bukannya marah Karel malah memeluk Ellen dengan erat.
"Dasar gila! Ngapain peluk-peluk" mencoba melepaskan pelukan Karel.
Sedangkan Karel malah mengambil ponselnya dan mengambil foto diam-diam saat sedang memeluk Ellen yang hanya terlihat bagian belakangnya saja. Setelah selesai Karel langsung mengembalikan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Tadi kan pelukannya gak lama jadi masih kangen" kata Karel melepaskan pelukannya. Membuat Ellen memutar bola matanya malas menghadapi tingkah adiknya itu.
"Yaudah ayo pulang, Mami pasti seneng banget ketemu sama Lo." Ellen mengangguk setuju dan mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke kediaman Dirgantara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments