"Yang..aku kayaknya gak asing sama wajah dosen kamu deh"
"Masa, dia baru banget ngajar kok"
"Aku inget-inget lagi kayaknya aku pernah ketemu"
"Mirip doang kali"
Sambil membonceng Amy untuk mengantarkan pulang, dia berusaha mengingat dimana dia bertemu Zean. Sebab dia yakin sekali kalau dosen itu pernah dilihatnya, hanya saja dia lupa dimana tepatnya dia bertemu.
Sesampainya di rumah, Eza pun pamitan untuk langsung pergi. Di tidak mampir ke rumah Amy karena harus jaga cafe lagi. Belakangan ini Eza dan Amy sangat jarang menghabiskan waktu bersama. Eza sibuk mengurus cafe nya sedangkan Amy juga sibuk kuliah yang jadwalnya padat. Komunikasi antara mereka pun hanya lewat chat atau sekedar telpon jika merasa saling kangen.
Tak lama setelah Eza pergi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang membunyikan klakson. Amy yang baru mau membuka pintu rumah kemudian kembali menengok kebelakang. Terlihat Zean membuka pintu mobil dan turun menghampiri Amy.
"Hallo.."
"ngapain kamu ke rumah"
"Emang kenapa gak boleh ta?"
"Enggak..sana pulang"
"Judesnya bikin tambah aku makin pengen main kerumah"
Mendengar suara percakapan Amy dan Zean, ibu Amy pun teriak bertanya dari dalam rumah.
"Nduk...kamu ngobrol sama siapa toh, masuk aja ngobrolnya jangan dipintu"
"Iya Bu, bentar cuma tukang paket doang"
"Tukang paket ?aku ?"
"Apaan sih sana pergi ahh.."
Amy mendorong tubuh Zean dan menyuruhnya pergi, dia takut ibunya datang dan mengetahui kalau Zean yang berkunjung. Tetapi Zean tetap tidak mau, dia memaksa untuk tetap masuk. Dan Amy terus mendorong Zean sampai kakinya terpeleset mau jatuh, untungnya tangan Zean sigap menopang tubuh Amy.
Suasana pun menjadi canggung, mereka saling bertatapan satu sama lain. Tubuh Amy seakan freezing diatas pelukan Zean yang menolongnya agar tidak terjatuh. Jantung Amy berdetak kencang, wajahnya memerah.
Kemudian dalam keadaan setengah dipeluk oleh Zean, ibu Amy datang bermaksud untuk memastikan apa yang terjadi antara tukang paket dengan anaknya. Sampai Amy lama tidak juga masuk kerumah. Namun belum sempat mengeluarkan kata-kata, ibu Amy melihat kejadian yang romantis. Sambil tersenyum dan menutup setengah wajahnya ibu Amy berdiri di depan pintu
"Eehh..Bu"
Zean buru-buru melepaskan tangannya dan membantu Amy berdiri. Amy terlihat canggung dan malu dia menggaruk kepala dan berpura-pura merapikan rambutnya.
"Ibu ganggu ya Nak? Maaf ya lanjut aja.."
"Opo sih Bu, apanya yang ganggu orang tadi cuma bantuin Amy mau jatoh kepleset"
"Ya kalo iya juga gak apa My"
Karena kesal bercampur malu Amy pun tak melanjutkan penjelasannya. Dia langsung buru-buru pergi masuk ke dalam rumah. Sedangkan ibunya Amy mempersilahkan Zean masuk.
"Nak Zean ayo masuk, minum dulu biar dibikinin mbak"
"Iya Bu terima kasih"
Zean pun masuk dan duduk diruang tamu, ditemani oleh ibu Amy. Mereka mulai mengobrol sesuatu, ibu Amy menceritakan masa kecil Amy dan segala sifat lucu beserta kelakuan jahilnya dia sejak kecil. Beliau menghimbau Zean agar tetap sabar menghadapi sifat kekanakan Amy jika nanti Zean dan Amy jadi menikah.
"Bu..sebenernya saya kesini tadi mengikuti Amy dari belakang, tadi dia diantar pacarnya"
"Nak..kamu sudah tau pacarnya Amy?"
"Sudah Bu, sejak awal saya sudah tau siapa pacar Amy"
"Maaf ya nak, ini salah kami sebagai orang tua tidak mengatakan dari awal soal pertunangan kalian kepada Amy"
"Gak apa Bu sebelum saya kembali dari Paris saya memang sudah menyelidiki dan mencari info tentang Amy jadi saya tidak kaget"
"Terima Kasih ya nak, tapi ibu janji ibu akan lebih ketat menjaga Amy agar dia tidak berbuat macam-macam"
"Tidak usah Bu, saya yang akan jaga Amy. Untuk sementara waktu saya sedang magang menjadi dosen di kampus Amy, jadi saya bisa lebih punya waktu untuk menjaganya"
Ibu Amy sangat terharu, Zean benar-benar lelaki dewasa yang pengertian. Dia bahkan rela berkorban membagi waktunya untuk menjadi dosen demi untuk melindungi dan memantau Amy. Beliau merasa tidak salah untuk menjodohkan putri semata wayangnya dengan Zean, putri nya akan menjadi wanita paling beruntung jika berhasil menikah dengannya.
"Hmm..Bu apa saya boleh minta tolong sesuatu"
"Tentu boleh nak, apa yang bisa ibu bantu?"
"Saya sebenernya tadi berniat untuk mengajak nonton Amy, tapi sepertinya Amy masih belum mau menerima saya"
Zean menyodorkan dua tiket bioskop yang sudah dibelinya. Tiket itu dijadwalkan hari Sabtu besok jam 17.15 WIB, dia meminta tolong ibu Amy untuk dapat membantu membujuk Amy agar mau datang dan menonton diwaktu yang sudah di jadwalkan.
"Oke..ibu akan bantu, ibu pasti akan mengaturnya nak. Tenang kamu gak usah khawatir Amy pasti datang"
"Terima kasih banyak ya Bu, titip tiket nonton ini ya Bu saya akan tunggu hari Sabtu di Plaza XX "
Setelah meminta tolong Zean pun pergi pamit untuk pulang. Dia sangat berharap ibu Amy benar-benar dapat membantunya untuk bisa kencan nonton bioskop dengan Amy.
...----------------...
Keesokan harinya tepat di hari Sabtu sesuai dengan janjinya kepada Zean. Ibu Amy sudah mengatur strategi kencan antara Zean dan Amy.
"My..hari ini temenin ibu ya"
"Kemana Bu?"
"Film yang ibu tunggu udah rilis nih, ibu mau nonton. Nih tiketnya udah ibu beli"
"harus bgt nonton hari ini Bu?"
"Iya lah tikete udah ibu belikan 2 nih"
"Hmm..yaudah oke"
Akhirnya strategi ibu Amy berhasil, mereka berangkat ke plaza XX untuk nonton bioskop. Ibu Amy pun sudah mengirim pesan ke Zean bahwa rencananya berhasil. Ibunya mengatakan agar Zean menunggu di bioskop tetapi jangan sampai ketahuan oleh Amy.
Sesampainya di bioskop Ibu dan Amy pun masuk ke ruangan. Mereka duduk sesuai dengan tempat duduk yang sudah dipesan di tiketnya masing-masing. Pada saat lampu bioskop sudah dimatikan ibunya pun berbisik kepada Amy.
"My, ibu ke toilet dulu ya kebelet pipis"
"Iyaa oke..mau dianter Bu?"
"Enggak..enggak usah kamu disini ae"
Ibunya pun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya. Saat sudah keluar di pintu ibu Amy menelpon Zean untuk datang ke pintu masuk Studio 1. Ternyata ini adalah strategi lanjutan dari ibu untuk membuat Amy kencan nonton bersama Zean
" Nak..Zean"
Sambil melambaikan tangannya Ibu Amy memanggil Zean yang tampak mencari dia.
"Ini nak..Amy sudah ada didalam, Ibu titip Amy ya"
"Baik Bu, terima kasih banyak ya Bu"
"Sama-sama nak"
Zean pun akhirnya masuk ke studio, dengan membawa 2 minuman dan 1 popcorn besar.
Dia duduk tepat disamping Amy. Namun karena gelap Amy tidak menyadari bahwa ibunya sudah digantikan oleh Zean, filmnya pun seru membuat Amy tidak menoleh ke bangku sebelahnya. Bahkan dia tidak menyadari tangan yang menyodorkan minuman adalah Zean.
Amy terus menikmati tontonan nya dia rupanya sangat menyukai alur cerita film tersebut. Sambil menikmati popcorn dia fokus ke layar bioskop. Zean pun seolah membiarkan Amy fokus dengan filmnya. Dia berpikir jika nanti Amy sadar siapa yang ad disebelahnya pasti Amy akan kabur.
Sampai waktu film akan berakhir Amy baru menyadari bahwa yang duduk di sampingnya bukanlah ibunya. Saat ingin mengambil popcorn nya lagi tak sengaja tangan Amy memegang tangan Zean, hal itu yang membuat Amy sadar. Tangan Zean yang besar jelas bukan seperti tangan ibunya.
Amy sontak menengok ke samping untuk memastikan apakah disebelahnya benar ibunya atau bukan.
"Loh..kok kamu seh"
"Ssttt..gak usah ribut nikmati filmnya aja"
"Opo sehh.."
Amy merasa kesal telah dibohongi, meskipun filmnya bagus tetapi saat mengetahui yang disebelahnya bukanlah ibunya melainkan Zean dia begitu sangat kesal. Amy pun berusaha untuk pergi namun Zean menarik tangannya menahan Amy agar tidak pergi.
Karena sempat ada yang komplain penonton yang terganggu dengan Amy. Dia pun kembali duduk dan terpaksa melanjutkan menonton filmnya.
"Maafin aku ya..ku terpaksa minta tolong ibu supaya kamu mau nonton bareng aku"
Zean berbisik minta maaf ke Amy, dia merasa tidak enak karena menipu Amy dengan cara ini agar dapat kencan bersamanya. Amy pun tak menjawab sama sekali permintaan Zean, dia merasa kesal karena sudah dicurangi ibu dan Zean.
Setelah 15 menit kemudian film pun berakhir. Semua penonton menuruni tangga tempat duduk bioskop dan keluar dari studio, begitu juga Amy tanpa basa basi dia langsung menuruni anak tangga dan bermaksud hendak pergi pulang. Zean hanya bisa pasrah dengan keadaan dia cuma mengikuti Amy dari belakang.
Amy berjalan sangat cepat, emosinya benar-benar sudah di ubun-ubun. Dia mencoba untuk merogoh kantongnya untuk mengambil handphone miliknya, tetapi lagi-lagi ibunya sudah mengatur semua dengan rapi. Sebelum sampai dibioskop handphone Amy telah dimasukan ke dalam tas ibunya, Amy juga tidak membawa uang sepeserpun. Dia bingung bagaimana caranya dia bisa pulang sedangkan handphone dan uang pun tidak dibawanya.
Seketika dia pun berhenti mendadak dari jalan cepatnya. Zean yang mengikutinya sedari tadi sampai terkaget dan hampir menabrakkan dirinya ke badan Amy. Tiba-tiba Amy berbalik badan dan menatap Zean
"Puas kan wes nipu dan sekongkol sama ibu"
"Kenapa sih marah terus, cepet tua loh"
"Gak usah ngajak becanda sok Sokan gitu deh aku kesel banget sama kamu....Kruyyuukkk"
Seperti tidak sesuai dengan skenario perut Amy berbunyi pada saat meluapkan amarahnya ke Zean. Rupanya dia lapar, Zean pun yang mendengar suara perut Amy spontan tertawa
"Hahaha..Yuk..yuk..yuk kita cari tempat makan dulu yuk tuan putri udahan dulu marahnya"
"Ihhh..apa seh aku gak laper...kruyuukkk"
"udah 2x perutmu bunyi masih juga nyangkal gak laper, udah ayo"
Zean pun menarik tangan Amy dan membawanya ke restaurant untuk makan. Amy yang memang lapar akhirnya menurut saja, dia tidak punya pilihan karena memang hanya Zean yang bisa membantunya.
"Aku pokoknya setelah makan mau pulang"
"Iya..tuan putri, aku anter pulang nanti setelah cacing diperut kamu gak bunyi lagi"
Mereka pun menyantap makanannya dengan lahap. Walaupun berkali-kali Amy memusuhi dan menganggap Zean menyebalkan, Zean tetap sangat baik kepada Amy. Dia sangat perhatian, memotongkan steak untuk Amy dan juga membantu menyiapkan tempat duduk untuk Amy.
Pelan-pelan Amy merasa sikapnya mungkin sudah keterlaluan, dia seharusnya tidak ngambek seperti anak kecil. Toh Zean hanya ingin sekedar nonton dan makan dengannya. Amy pun diam-diam memperhatikan Zean, dia menyadari sebenarnya Zean memang lebih segalanya dari Eza. Tetapi hati Amy tetap masih menjadi milik Eza.
"Mas Zean.."
"Hmm..kenapa?"
"Kamu gak capek ta ngejar aku, cari cewek lain aja seh"
"Enggak..aku maunya kamu"
Jantung Amy berdegup kencang mendengar jawaban Zean.
"Aku gantian tanya boleh ?"
"Apa..?"
"Kamu gak capek ta menghindari aku terus?"
"Capek seh, tapi mau gimana aku kan pacar mas Eza"
Zean mengernyitkan dahinya, dia hanya tersenyum singit mendengar nama Eza.
"Sesuai perjanjian diawal kan, aku akan tetap berusaha buat meyakinkan kamu kalo aku bisa jadi orang yang kamu andalkan, masa 3 bulan ini aku pasti gunakan dengan baik"
"kalo selama 3 bulan ini aku tetap gak mau gimana ?"
"sesuai janji, pertunangan ini kita batalkan"
"oke deal.."
"Tapi kamu dari awal gak sportif gitu"
"gak sportif gimana ?"
"Ya kayak gini kamu aja menghindar terus gak perbolehin aku nunjukin"
"Ya abis kamu tuh ngeselin banget mas bikin aku kesel terus"
"Hahaha..oke aku janji gak bakalan bikin kesel lagi, tapi kamu juga janji gak boleh menolak kalo aku ajak keluar misal atau sekedar anterin kamu pulang dan mampir ke rumah"
"Iyaa..oke dengan satu syarat, jangan sampe ketauan sama Eza dan teman dikampus"
Zean dan Amy pun membuat kesepakatan baru, nampaknya Amy sudah mulai membuka peluang untuk Zean.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Gorillaz my house
Asyik banget, thor! Makin sering update dong.
2024-02-09
0