Hanya tangan yang terluka tidak membuat Alana harus dirawat di rumah sakit. Malam itu tengah malam, Alana dibawa pulang oleh orang tuanya atas paksaan gadis itu sendiri.
Rumah sakit adalah hal yang sangat Alana hindari, selain tempat orang sakit dan banyak virus, ia benci wanginya. Sangat merusak Indera penciuman.
Yang lebih menakjubkannya lagi, pagi ini Alana telah siap dengan seragam sekolahnya padahal tidak dibiarkan berangkat oleh sang daddy.
"Apa tanganmu tidak sakit sampai harus ke sekolah hm?" tanya Dito setelah putrinya sampai di meja makan.
"Nggak Dad, semuanya baik-baik saja, Lana juga membawa obatnya ke sekolah." Alana tersenyum lebar. Segera menyambar sepotong roti menggunakan tangan kirinya.
"Kalau begitu kamu harus berangkat bersama Kara."
"Nggak mau!" Alana menggelengkan kepalanya.
"Jangan banyak membantah atau daddy nggak akan membiarkan kamu datang ke sekolah!"
Alana menghembuskan napas kasar, ia pun pasrah jika harus berangkat dengan Angkara. Lelaki yang berusaha ia jauhi karena permintaannya sendiri. Andai saja Angkara tidak memberinya pilihan, ia mungkin masih berjuang hingga saat ini, terlebih pertunangan sisa 4 hari lagi.
....
"Jangan lupa menjemput Alana," peringatan Azka ketika putranya hendak meninggalkan rumah. "Pakai mobil saja agar tangganya nggak semakin sakit."
"Kara tahu."
Angkara pun turun dari motornya dan masuk ke mobil yang terparkir rapi di depan rumah orang tuanya. Melajukan dengan kecepatan pelan menuju rumah orang tua Alana. Ia sengaja tidak menjawab panggilan om Dito lantara tahu tujuan pria itu menelepon. Tetapi siapa yang menyangka, om Dito malah menghubungi sang papa.
Angkara memarkirkan mobilnya dengan rapi setelah sampai di rumah om Dito. Menunggu Alana mendekat dan membuka pintu mobil.
Terjadi keheningan di dalam mobil kala keduanya sudah di perjalanan. Angkara berusaha menahan perasannya agar tidak bereaksi berlebihan di depan Alana, sementara Alana sibuk menatap jalanan di luar sana tanpa ada niatan mengajak Angkara bicara. Memang sulit, tetapi Alana harus melakukannya bukan?
"Turunkan di perapatan saja," ujar Alana tanpa menoleh.
"Kenapa?"
"Takut kak Tiara melihat dan cemburu."
"Dia hanya teman."
"Aku nggak peduli." Alana berusaha cuek.
"Alana ...."
"Berhenti Kara, aku sudah bilang diperpatan saja!"
"Kara?" Kening Angkara mengerut, untuk pertama kalinya selama mereka saling mengenal, Alana memanggilnya dengan benar.
"Nama kamu Angkara, nggak aneh aku memanggil Kara." Turun dari mobil dan berjalan santai di perapatan menuju sekolah.
Kebetulan sekali inti Avegas lewat sehingga empat lelaki tampan itu mengawal Alana dengan memelankan motornya tepat di belakang sang ketua. Aksi mereka tentu saja menjadi pusat perhatian beberapa siswa. Banyak yang iri karena Alana selalu dijadikan ratu oleh anggota Avegas. Ada pula yang julid dan menganggap Alana gadis gampangan.
"Cie yang berangkat sama pak ketos, pasti tuh jantung hampir copot," ledek Roy setelah sampai diparkiran sekolah.
"Biasa saja, kan gue sudah move on."
"Secepat itu? Gue nggak yakin." Jevian tertawa kecil, mendapatkannya tatapan tajam dari sang ketua.
Setelah memarkirkan motor dengan aman, mereka pun berjalan beriringan di koridor sekolah sambil membawa tas masing-masing, berbeda dengan Alana yang tasnya berada di pundak Gio.
"Gue kira lo nggak akan masuk sekolah. Secara kecelakaannya baru semalam," celetuk Jayden, meneliti siku hingga pergelangan tangan yang dibiarkan terlihat, lantaran jika memakai lengan panjang, akan terjadi pergesekan dan menimbulkan rasa sakit.
"Gue bukan gadis lemah."
"Iya, lo kan Nyi Roro Kidul."
"Royko!" teriak Alana kesal, terlebih saat Roy berlari sekuat tenaga sambil tertawa.
"Hadir nggak nanti?" tanya Jayden yang menghentikan langkahnya setelah sampai di kelas Alana dan Gio.
"Hadirlah."
"Naik mobil saja kalau begitu, ntar gue bawa mobil," celetuk Gio.
"Siap."
....
"Kara," panggil Tiara.
"Hm."
"Katanya tadi kamu berangkat sama Alana ya? Banyak siswa yang membicarakan tadi."
"Hm."
"Kok bisa?"
"Kenapa nggak bisa?"
"Ya kalian kan nggak satu rumah, kecuali kamu sengaja jemput dia."
"Aku memang jemput dia, Tiara. Mendingan sekarang kamu fokus mengejarkan tugas kimia, sebentar lagi di kumpul sama ketua kelas."
"Oh iya." Tiara berusaha tersenyum meski ia sedikit cemburu Angkara dan Alana berangkat bersama. Ia sudah senang tahu Alana tidak lagi mengejar-ngejar Angkara, tetapi kenapa seolah Angkara juga mulai menghindarinya?
Saat makan siang tiba pun, Angkara tidak lagi ke kantin bersamanya, lelaki itu lebih memilih masuk ke perpustakaan.
"Ada apa dengan Kara? Dia semakin aneh dan gila belajar," gumam Tiara. Tak ingin memikirkan hal lain karena lapar, ia pun bergegas ke kantin dan menemukan inti Avegas tengah seru-seruan.
Tak ada tempat khusus di kantin untuk inti Avegas, karena memang Alana tidak mengklaim apapun.
Tiara langsung memotret momen saat Alana disuapi oleh Gio.
...****************...
Angkara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Yunia Afida
wes gek divaraklan tar kek kara kebakaran jenggot
2024-02-10
1
Yunia Afida
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣kuat tak tertandingi ya
2024-02-10
1
Yunia Afida
dengan panggilan itu, tandanya alana udah menyerah kara,
2024-02-10
1