"Daddy!" teriak Alana setelah melewati pintu rumahnya. Gadis berambut hitam nan panjang itu terus berlari menuju kamar orang tuanya.
Ia sengaja tidak mampir ke mana pun saat pulang sekolah lantaran ingin membicarakan sesuatu dengan sang Daddy.
"Daddy di mana sih?" gumam Alana.
Baru saja akan menghubungi, ia sudah melihat daddy dan mommynya sedang bermesraan di dalam kamar. Bahkan terlihat sangat intim. Ide jahil pun melintas di kepalanya tanpa diminta.
Alana segera mendorong pintu kamar orang tuanya cukup kasar. "Eh Lana nggak tahu kalau daddy dan mommy sedang persiapan bertempur." Menyengir tanpa dosa.
"Benar-benar kamu ya." Dito menghela napas panjang. Pria itu segera menurunkan sang istri dari pangkuan dan memanggil putrinya mendekat.
"Makanya kalau mau ngerep-ngerep kunci kamar," ledek Alana.
"Kamu ini, mommy sama daddy nggak ngapa-ngapain kok." Pipi mommy Alana seketika memerah. Wanita itu merapikan bajunya kemudian ikut duduk di samping sang putri.
Meski bar-bar dan nakal, Alana tetaplah menjadi kesayangan orang tuanya, terlebih gadis itu adalah anak tunggal. Dari kabar yang beredar katanya Dito tidak bisa memiliki keturunan. Pertanyaannya, kenapa Alana bisa hadir?
"Tumben putri daddy pulang cepat, ada apa?" Mengurai rambut putrinya sedikit demi sedikit agar terlihat lebih rapi. Dibandingkan istrinya, bisa dibilang Dito lebih menayangi sang putri.
"Lana mau mundur dari perjodohan saja Dad. Lana belum siap menikah muda. Lagian kak Kara nggak suka sama Lana."
"Kenapa tiba-tiba Sayang?" tanya sang Mommy.
"Lana nggak mau meninggalkan Avegas dan kak Kara memberikan syarat itu."
Hening, Dito tak bicara apapun. Pria itu hanya fokus merapikan rambut panjang putrinya. Bukan karena tidak mendengar, ia hanya bingung mengambil keputusan. Di sisi lain ia ingin membantu sahabatnya, tetapi ia tidak ingin memaksa Alana.
"Tanpa meninggalkan Avegas kamu bisa kok tunangan sama Angkara. Itu hanya persyaratan dari Angkara bukan orang tuanya," jawab mommy Alana. "Benar bukan Dad?"
"Apa yang dikatakan mommy benar. Tapi kalau memang Alana nggak mau bertunangan atau pun menikah. Daddy akan mencoba bicara dengan om Azka."
"Lana cinta banget sama kak Kara, tapi kak Kara mengatakan nggak mencintai Lana, kak Kara sangat membenci Lana. Apa karena Lana nakal"
"Putri Daddy adalah yang terbaik." Dito tersenyum hangat. Jika Azka mengetahui bahwa Angkara memberikan syarat, tentu saja pria itu akan marah, terlebih Azka pernah ada dalam posisi Alana. Dihadapkan pilihan antara cinta dan posisinya menjadi ketua.
....
"Pergi lagi?"
Alana langsung menyengir. "Pulang sebelum jam 12 malam Mom. Sudah pamitan sama daddy kok."
"Kalau begitu hati-hati, jalanan licin karena habis hujan."
"Siap mommy ku sayang." Alana berlari untuk mencium pipi mommynya sebelum meninggalkan rumah.
Keluar malam dengan jalanan licin sudah tentu membuat siapa saja berhati-hati, begitupun dengan Alana. Terlebih besok adalah pertandingan game antar geng motor.
Di sepanjang jalan, Alana bernyanyi hal random di atas motor. Sesekali melihat kanan kiri agar tak menabrak seseorang yang mungkin akan menyeberang jalan.
Ponsel yang terus berdering mau tidak mau Alana menjawabnya. Mengendalikan motor hanya dengan satu tangan.
"Lo di mana? Nggak usah ke markas, jalanan licin banget," ujar Gio di seberang telepon.
"Sudah setengah jalan ini, lagian kita harus latihan sekali lagi. Nggak lucu kalah sama All Star." Alana terkekeh.
"Hati-hati, gue nggak rela lo sampai kenapa-napa."
"Ah elah parnoan lo, gue ...."
Ciiiitttttttt
Alana langsung merem mendadak kala melihat mobil tiba-tiba keluar dari sebuah gang. Ia bahkan menjatuhkan ponselnya akibat terkejut.
Belum sempat menguasai diri, sebuah motor dari depan menyerempet setir bagian kanan Alana, hingga motornya tergeser ke bagian pinggir dan terseret beberapa meter.
"Sakit banget anjir," gumam Alana setelah mendarat di aspal. Kepalanya baik-baik saja karena menggunakan helm full face, tetapi tidak dengan tangan kanan yang mengeluarkan darah segar.
"Ada orang kecelakaan woi!" teriak tukang bengkel, kebetulan Alana mendarat di sekitar sana.
Beberapa orang langsung menghampiri tetapi tidak sampai menyentuh karena Alana menaikkan tangan kirinya.
"Saya antar ke rumah sakit Neng," ujar abang-abang penjaga bengkel.
"Tolongin motor kesayangan saya saja, Bang. Takut mengganggu pengendara lain," ujar Alana menahan sakit. Sangat beruntung Jalanan tersebut sedikit sepi atau mungkin Alana akan mengalami luka parah.
"Tangganya berdarah Neng, itu sepertinya terkoyak."
"Jangan dijelasin Bang." Alana semakin meringis, ia tak berani melihat tangannya, begitupun untuk menghubungi Daddy atau pun inti Avegas. Darah yang semakin menetes membuat rasa sakit pun kian tak tertahankan. Jaket denim kesayangan Alana terkoyak bagian siku sebelah kanan, lengannya mulusnya memerah dan perih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
sya-sha
bandel sih lana .jadi jatuh kan
2024-02-09
2
Nenti
kalo g salah Alana bukan anak kandung Dito deh
2024-02-08
1
Zuraidah Zainal
Sapa isteri Dito Ye..? Aurora Kah..? kerana yang kubaca dinovel mereka rora Sama Adam...
2024-02-08
1